Mine ?

Mine ?
116 : Berikan doa terbaik



Layaknya replika hidup yang kini tengah berdiri di hadapannya, begitulah Jazlan menatap kehadiran Shasyania, tanpa berkedip, bahkan nafasnya pun tercekat seolah-olah oksigen di sekitarannya telah menipis, ia membisu dengan netra mata bergetar, satu kakinya pun melangkah mundur akibat keseimbangan tubuh yang mulai goyah, hingga Meiriam bergerak sigap untuk memegang lengan suaminya.


Deg!


Bayangan dan ingatan yang ingin ia hindari, tetapi kini justru terpampang nyata oleh pandangan mata, karena jika dihitung dari beberapa tahun terakhir, maka Jazlan akan selalu menghindar dan seakan mencari-cari alasan ketika dirinya harus memasuki kamar putrinya. Seperti kata pepatah, tak ada asap kalau tak ada api, begitulah Jazlan, sebabnya hanya karena sebuah foto yang tercetak besar di atas ranjang Zia.



Bak pinang dibelah dua, fakta itu juga yang membuat Jazlan tidak bisa menampik jika kemiripan mereka memang terlihat begitu ketara, namun besarnya tekanan dan segala konspirasi di dalam keluarga membuatnya terus menyangkal dan beralibi jika semua itu hanyalah kebetulan semata.


Dan sekarang, baik Jazlan maupun Shasyania mereka berdua sama-sama mematung tanpa kata, dengan pikiran berkecamuk oleh suguhan drama yang kini berlangsung di hadapan mereka.


Tap!


.


.


Tap!


Tap!


Bahkan kebisingan dari suara langkah kaki yang berlari mendekat tidak jua berhasil membuat tiga orang itu menoleh, karena Jazlan, Shasyania dan juga Meiriam, mereka masih asik tertegun diam.


"Keluarga Zeiqueen?" seru Deron, sembari mengatur deru nafasnya yang memburu, "waah.. ini merupakan suatu kehormatan, karena kalian sudah menyisihkan waktu untuk menjenguk putra kami Nevan," sambungnya, yang masih terlihat menetralkan kondisi fisik, akibat baru saja memacu batas kecepatannya bersama sang istri.


Dan di pihak Jazlan, rasanya tak elok jika ia hanya berdiam diri tanpa merespon, maka setelah dirinya mendapat sambutan ramah, pria itu langsung menoleh ke sumber suara, "Ohh tentu saja, hubungan diantara keluarga kita memang seharusnya tetap terjaga, dan itu juga merupakan hal yang penting untuk kami!" ucapnya, walaupun masih dengan mimik wajah canggung.


Zivana tersenyum menanggapi ucapan tersebut, lalu tangan kanannya mulai bergerak mengarah ke dalam ruangan, "Mari... silahkan masuk, kita lanjutkan perbincangan kita di dalam saja," pintanya, lalu sejurus kemudian pandangannya teralih pada sosok Shasyania yang masih berdiri di ambang pintu, "sayang, Nevan mana?" imbuhnya, sembari merangkul bahu Shasyania.


"Oh... emm.. itu, Nevan di kamar mandi, Mommy...."


.


.


.


Dan setelah Deron mengajak Jazlan dan Meiriam duduk, maka sepersekian detik kemudian ia terlihat memberi isyarat kepada sang istri, dan hal itu membuat Zivana langsung mengangguk paham.


"Sayang... nanti setelah Nevan keluar, kamu ajak dia jalan-jalan ke taman oke? tapi sebelum itu... Mommy ingin kamu menyambut tamu kita dulu, mhhh kamu bisa kan?" tanyanya lembut sambil mengusap-usap bahu Shasyania.


"Iyaaa Mommy, tentu," jawabnya, lalu perlahan namun pasti Shasyania mulai mengayunkan kaki jenjangnya untuk mendekat kearah keluarga yang dulunya pernah terasa hangat namun entah kenapa dengan seiringnya waktu berjalan malah berubah tak tersentuh dan terasa asing.


"Selamat siang Tuan ___,"


"Hem!"


Belum sempat Shasyania menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu terdengar Deron berdehem. Dan sepertinya pria itu berniat untuk meralat ucapan yang hendak dilontarkan oleh Shasyania, "Shasya, jangan memanggil dengan sebutan seperti itu nak, kedudukan keluarga kita setara dengan mereka, jadi Daddy mau.. kamu memanggilnya dengan sebutan Uncle," pintanya, dengan arah mata yang mulai mengarah pada Jazlan.


"Anda tidak keberatan, kan? jika putriku ini memanggil anda dengan sebutan Uncle? Seandainya pun ternyata anda keberatan, maka itu akan sangat menyinggung perasaan saya sebagai seorang Ayah!" tegas Deron, dengan dua kata yang memang sengaja ia tekan dalam pengucapannya.


"Putri?" bukannya memberi jawaban Jazlan justru balik bertanya dengan ekspresi kebingungan.


"Calon menantu? tunggu... jadi maksud kalian?" timpal Meiriam, ia semakin dibuat penasaran dan menjadi tak sabaran untuk mendengar lebih jelas lagi.


Deron yang bermaksud untuk kembali menjelaskan tiba-tiba mengurungkan niatan ketika dari arah lain Zivana memberi kode jika bagian itu merupakan perannya, "Iyaa... calon menantu di keluarga Eldione! untuk putra semata wayang kami... Nevan!"


Meiriam mengernyit dengan garis dahi yang berkerut, dan sebisa mungkin ia ingin menampik sesuatu yang baru saja ia dengar, "Ta..tapi kenapa? kenapa mendadak seperti ini?"


"Ini tidak mendadak, Mrs Meiriam... sebetulnya hubungan diantara mereka sudah terjalin lama, bahkan sedari kecil, akan tetapi karena sebuah kesalahpahaman.. hingga membuat putraku salah menilai seseorang. Anda masih ingat bukan saat putraku menangis-nangis sesenggukan karena Zia melupakannya?" tanya Zivana, yang sengaja menunggu respon dari lawan bicaranya, "dan yaa.. saya yakin anda masih mengingatnya dengan jelas, karena anda selalu membicarakan hal tersebut! Tetapi kini, semuanya perlu diluruskan Mrs Meiriam. Dan wajar saja jika dulu putrimu Zia tidak mengingat Nevan putraku, karena memang.. diantara mereka berdua tidak pernah ada kenangan spesial, dan kebenarannya adalah... Zia memanglah bukan sosok gadis yang tengah dicari Nevan!"


"Apa?"


"Iya Mrs Meiriam, dan kemarin dibalik peristiwa yang menimpa Nevan, ternyata ada sebuah makna yang tersirat di dalam peristiwa tersebut, hingga tanpa di duga berhasil menguak sebuah fakta yang telah tersimpan rapat, dan kini semua sudah jelas, gadis yang dicari Nevan memang bukanlah Zia putri anda.. melainkan Shasyania putriku!"


Meiriam tersentak bukan kepalang, namun Jazlan pria itu seakan tidak mendengar pemaparan dari Zivana karena dia masih sibuk dengan isi pikirannya sendiri sembari terus menatap Shasyania.


Cklek!


Hingga terdengar suara pintu terbuka, yang kini telah menampakkan sosok Nevan dengan senyum merekah, sebelum akhirnya berangsur-angsur pudar berganti dengan tatapan nyalang.


Ayunan kaki panjangnya terhenti, ketika Shasyania datang menghampiri bersamaan dengan gelengan kepala.


Greb!


Gadis itu menggenggam erat pergelangan tangan Nevan, dan hal tersebut membuat laki-laki itu sadar jika di situasi seperti ini Shasyania lebih membutuhkan ketenangan daripada harus menyaksikan sebuah pertikaian.


Hingga tanpa sambutan ramah atas kunjungan yang memang dikhususkan untuknya, Nevan hanya sekilas menunduk kepala, tanpa ungkapan basa-basi untuk sekedar pemanis, sampai sejurus kemudian, mata itu menyadari sesuatu yang janggal atas lirikan Jazlan pada kekasihnya.


"Jangan menatap tunangan ku seakan-akan dia ini putrimu Uncle!" sarkasnya, dengan intonasi ditekan.


Deg!


Ucapan tersebut seperti aliran listrik yang menjalar di sekujur tubuh Jazlan, entah kenapa kalimat yang dilayangkan Nevan begitu menohok di indera pendengarannya.


Keadaan menjadi hening, dan situasi itu dimanfaatkan oleh Nevan untuk kembali bersuara, "Tanpa mengurangi rasa hormat, bisakah aku keluar dari ruangan ini bersama tunangan ku? aku perlu meregangkan otot-otot ku yang tiba-tiba saja mengeras!" tanyanya, yang terdengar seperti tak ingin menerima sanggahan.


Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, keinginannya tersebut langsung disambut anggukan kepala oleh kedua orang tuanya.


Bahkan sampai punggung itu menghilang dari balik pintu, Jazlan masih menatap kepergian Shasyania begitu lekat, rasanya seperti ia tidak rela jika gadis itu menghilang dari jarak pandangnya.


"Tadi.. siapa namanya?" tanya Jazlan, dengan arah mata yang masih menghunus kearah pintu.


"Dinesclara Shasyania...."


"Dinesclara Shasyania?"


"Iyaaa, dia juga satu sekolah dengan Nevan! Dan awalnya pun pertunangan mereka itu diputuskan oleh Papa saya, karena beliau sangat menyukai kepribadian Shasyania, selain berprestasi dia juga begitu mengagumkan, dan siapa sangka.. hubungan yang berawal atas persetujuan sepihak tersebut justru itulah yang akhirnya membuat rahasia diantara mereka terkuak, yaaa.. salah satunya adalah tentang rasa yang memang sudah terjalin lama! Ini sungguh sebuah takdir dan kekuatan cinta!"


Zivana mengangguk menyetujui ucapan Deron, lalu ia juga ikut menimpalinya, "Dan maaf atas ketidaktahuan kami sebelumnya, hingga menganggap gadis yang dicintai Nevan adalah Zia putri kalian, tapi sekarang semua sudah jelas.. dan kami ingin meluruskan kesalahpahaman tersebut."


Saling bergantian untuk menjelaskan, itulah yang dilakukan kedua orang tua Nevan, bahkan kini Deron terlihat tengah merogoh sesuatu di balik kantong jasnya, "Sebenarnya kami juga berniat untuk berkunjung ke kediaman kalian, untuk meluruskan semuanya sambil menyerahkan ini," ucapnya, seraya menyodorkan sebuah kartu undangan kepala Jazlan.


"Jika kalian berkenan maka datanglah ke acara pertunangan Nevan dan Shasyania, berilah doa terbaik untuk mereka berdua," ucapnya bersama seulas senyum.