
"Dri! Andrii!!! kita harus ke ruang Guru sekarang juga!" pungkas Ririn, dengan wajahnya yang terlihat panik.
"Lo kenapa Rin? baru masuk udah heboh gitu?" tanya Dino.
Gadis itu memegangi dadanya, untuk mengatur deru nafasnya yang memburu, "Tadi.. gue sama Nita nyariin si Shasya, tapi dia gak ada di mana-mana, bahkan di semua toilet yang kita cek, dianya tetep gak ada!!!" jelas Ririn, dengan raut ketegangan yang semakin menguasai dirinya.
"Terus?" Dengan entengnya Dino bertanya. Ia masih belum paham tentang kepanikan yang tergambar di wajah Ririn dan juga Nita.
"Bego! lo gak ingat.. kejadian yang dialami Shasya tadi? bisa ajakan dia sampai berbuat nekat! maka dari itu ayo Dri, kita ke ruang Guru sekarang! Jangan sampai hal-hal yang mengerikan terjadi!!!"
"Tunggu bentar, gue ngitung tugas kalian dulu, kali aja ada yang belum ngumpul!" jawab Andri.
Baru yang tadinya sibuk memainkan smartphonenya langsung berdiri, hingga bergegas menarik tangan Ririn, "Sini, bareng gue aja!"
Belum sempat mereka melangkah keluar, terlebih dahulu speaker yang terpasang di dalam ruangan kelas berbunyi, "PENGUMUMAN, BAGI SELURUH MURID AGAR SEGERA BERKUMPUL DI LAPANGAN UPACARA!" suara itu di ulang sebanyak tiga kali, hingga membuat para murid berhamburan menuju lapangan.
"Ada apa nih? ada apa?"
"Wah!! kelihatannya bakal pulang awal kita!"
"Asik gak belajar!"
Suara-suara itu berasal dari beberapa murid yang terlihat sudah berbaris rapi sesuai kelas mereka, dan di depan sana juga sudah terlihat sosok Bapak Baron, selaku Kepala Sekolah di SMA GUARDIANS, beliau berdiri tegap sambil memegangi sebuah mikrofon.
"Lohhh... itu bukannya Shasyania kan? dia ngapain di sana?" tanya Megan.
"Sial-sial! perasaan gue gak enak nih!" lirih Rissa.
Banyak pertanyaan yang mengusik pikiran anak kelas XI IPA 1, ditambah lagi ketika mereka melihat Shasyania berdiri tegak di samping Pak Kepsek dan jajaran Guru lainnya.
Saat mendapat laporan jika semuanya sudah siap, maka Kepsek itupun angkat bicara, "Selamat siang anak-anak?"
"Siang Pak!"
"Apa kalian tahu alasan dibalik kalian semua berkumpul di lapangan ini? Siang hari, panas-panasan?"
Semua murid kompak menjawab tidak tahu mengenai alasan kuat di balik apel yang mereka lakukan dikala terik yang semakin menyengat area ubun-ubun mereka.
"Bapak akan jelaskan! Kalian tahu? tindakan kekerasan adalah perilaku yang sangat tercela! Merusak Moral bangsa! Generasi muda!! dan Bapak selaku Kepala Sekolah merasa sangat malu mengetahui tindakan seperti itu telah berlangsung di area sekolah ini! di SMA GUARDIANS kita, bahkan itu dilakukan oleh anak-anak kelas Dua Belas! bukanya menjadi contoh yang baik untuk adik-adik kelasnya, mereka justru mencoreng citra sekolah!!!" Suara Pak Baron begitu berwibawa mulai bergema, hingga semua orang di lingkungan itu terdiam tanpa berani berkutik sedikitpun.
"Jika diantara kalian merasa bisa, atau mampu untuk membuat seseorang terpengaruh akan omongan kalian, maka pergunakan kemampuan itu untuk hal yang positif!! Yang menghasilkan feedback baik! cobalah mulai menjadi pemimpin yang bijak, yang bisa mengarahkan orang kearah yang lebih baik, bukan malah menggunakan kemampuan itu untuk mengumpulkan massa, propaganda! hingga membentuk suatu kelompok yang bisanya hanya menindas dan menyakiti orang! Apa bagusnya menjadi penindas? menebarkan kebencian untuk menimbulkan kebencian lain? itu tidak berguna!!! putuskan rantai kebencian tersebut! SMA GUARDIANS tidak memiliki tempat untuk murid seperti itu! jadi Bapak harap... mulai sekarang ubahlah pemikiran sempit, tidak berguna, yang hanya bisa merugikan orang sekitar! dan marilah kita menjadi pribadi yang lebih baik! di kagumi karena memberi dampak positif! Dan jangan pernah malu untuk mengakui kesalahan. Jadi, bagi kalian yang merasa telah melakukan tindakan kurang mengenakkan tadi, maka Bapak minta kesadaran diri kalian untuk maju ke depan! Akui kesalahan kalian!! dan di sini juga Bapak harapkan kesadaran dari para jajaran Guru, agar lebih membimbing dan mendidik setiap karakter murid! jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali! SMA GUARDIANS MENENTANG KERAS AKSI PERUNDUNGAN!!!"
Setelah mendengar pidato tersebut, para murid mulai berbisik-bisik di barisan mereka.
"Wah-wah, kelihatannya para penindas salah membidik lawan nih!" ucap Nita.
"Setuju! dan ketika Shasyania melapor, bahkan Kepsek yang langsung turun tangan!" ungkap Ririn.
"Betul... biasanya paling yaa cuma di panggil ke BK aja, tapi ini langsung di permalukan di hadapan umum! Malu banget gak tuh?" sindir Baru, dengan suara yang sengaja ia keraskan.
"Gue seneng liatnya! ini pembalasan yang pantas untuk para penindas yang sok keren, dan menganggap kekuasaan mereka adalah hal yang harus dituruti! Tapi sekarang mereka harus mulai mengerti, jika lawan mereka tidak semuanya diam dan menerima begitu aja! Bila perlu gak usah lagi tuh, ada Geng-gengan di sekolah ini!" tandas Dino.
Beberapa murid lainnya yang belum mengenal Shasyania juga ikut berbisik-bisik.
"Dia yang dibully? salahnya apa cobak?"
"Cantik banget sumpah!"
"Tunggu-tunggu, dia murid baru ya? kok gue gak pernah liat sih!"
"Anak kelas berapa tuh we?"
"Secantik apa sih? gue gak liat nih! mata gue rabun jauh!"
"Makanya kalau punya duit beli kaca, jangan kuota teroooos!!!"
"Lah... ternyata My angel and my queen gue sekolah di sini yaaak!"
"Dibully karena cantik gak tuh? wah kasian banget!"
"Itu Bralinzhea bukan?"
Pak Baron memberi waktu bagi murid yang bersangkutan untuk maju, tapi sampai beberapa menit berlalu belum juga ada itikad baik dari mereka, hingga memaksa Kepsek itu kembali bersuara, "Kelihatannya kalian masih enggan untuk bertanggungjawab atas kesalahan yang telah kalian perbuat ya! Apa perlu Bapak panggil nama kalian satu persatu? bukti sudah sangat nyata, dan jika siswi di sebelah Bapak ini berniat melaporkan kalian ke jalur hukum, maka Bapak tidak akan menghentikannya!" ancam Pak Baron, "dia adalah murid baru di sekolah kita, bukannya kalian merangkul tapi malah justru menindasnya! Jika kalian tidak bisa menyumbangkan prestasi untuk sekolah, setidaknya jadilah murid yang tertib peraturan! buat kesan baik sebelum kalian lulus!" tekannya sekali lagi.
"Waduh... gue ketinggalan cerita nih. Woi Ririn... bisa lu ceritain gak.. ada masalah apa tadi?" tanya Dariel, bahkan ia rela menyelip ke barisan para siswi, untuk menggali informasi.
"Itu tadi.. geng Barbar melabrak Shasyania di kelas!"
"Wah, masalahnya apa? Gila si geng kampret buat sensasi lagi? tapi baguslah... sekarang mereka kena batunya!" ungkap Dariel.
Dan dari barisan kelas lainnya suasana ricuh dengan omongan para murid mulai terdengar bersaut-sautan.
"WOIII.... MAJU KALIAN PARA PENINDAS! BIARKAN KAMI MELIHAT TAMPANG KALIAN!"
"Kelihatannya mereka dirasuki roh iri dengki!"
"Jelas iri lah! karena mereka merasa tersaingi!"
"Iri sih iri... tapi gak gitu juga kalik!"
"Hidup kalian seperti di negeri wakanda! Gak tahu aturan!!!"
"Mereka pasti bibit gagal dari Bapaknya!"
"Kirim aja mereka ke Negara perang! Biar berguna tuh hidupnya!"
"Ide bagus!! pergunakan skill kalian di Negeri antah berantah!"
"Kaum menjijikkan!!!"
"Sok berkuasa! Padahal duit masih minta-minta!!!"
"Otaknya di dengkul sih!"
Petugas sekolah bahkan tidak sanggup meredam suara teriakan demi teriakan dari para murid, ucapan-ucapan itu berusaha untuk mendorong para pelaku agar segera mempertanggung jawabkan kesalahannya, dan semakin lama protes dari para murid semakin terdengar menggema. Sungguh sangsi sosial yang mengerikan.
"GAK TAHU DIRI KALIAN!"
"MEMALUKAN! DI DIEMIN MALAH MAKIN NGELUNJAK!"
"UDAH... BAWA AJA KEJALUR HUKUM!"
"SOK KUAT!"
"MAJU KALIAN!! JANGAN BERSEMBUNYI!!!"
"PASUKAN PENINDAS TIDAK PANTAS DI SMA GUARDIANS!"
"Hanya OTOT tanpa OTAK!"
"PENINDASAN HARUS DIBERANTAS SAMPAI KE AKAR-AKARNYA, BANYAK KORBAN TAPI HANYA SEBAGIAN YANG BERANI ANGKAT BICARA!"
"HUKUM PAK! HUKUM MEREKA!!JANGAN BIARKAN MURID SEPERTI ITU BERKELIARAN DI SMA GUARDIANS!"
"INI MENCORENG NAMA SEKOLAH PAK!"
Pak Baron mengangkat satu tangannya, "HARAP TENANG! dan untuk siswi yang bersangkutan mohon segera maju!!!"
Suasana itu semakin membuat mereka terdesak, hingga beberapa menit kemudian terlihat dari barisan kelas XII, sekitar enam siswi berjalan menuju ke depan, dan bersamaan dengan itu murid lainnya mulai bersorak mengejek, dengan meneriaki mereka.
.
.
.
Hampir satu jam lamanya para murid berkumpul di lapangan tersebut, sampai akhirnya mereka kembali memasuki ruang kelas masing-masing.
Dan di ruangan XI IPA 1, beberapa murid terlihat memberi Shasyania semangat, meski tidak secara langsung, tapi dari gestur mereka terlihat mendukung.
Namun berbeda dari yang lainnya yang mendukung dari jarak jauh, kini seorang siswi justru terlihat langsung menuju meja Shasyania, "Haii Shasyania... pasti tadi.. lo langsung ngelapor kan? Umhhh... maksud gue.... Itu bagus!!! Sangat keren!" ucapnya mencoba berbasa-basi.
"Iyaa...," sahut Shasyania singkat sembari tersenyum.
"Iyaa.. ya hee...he... keren" seperti orang grogi, Nita bingung harus menanyakan apa lagi, ia hanya mampu cengar-cengir dengan mulut terbuka lalu kembali tertutup, gadis itu tampak berpikir untuk mencari topik yang lebih menarik.
"Kamu mau duduk? Sini duduk aja...."
Ajakan tersebut seketika membuat Nita mengangguk cepat, ia langsung mendaratkan bokongnya di samping Shasyania, gadis itu tersenyum dan kembali bingung untuk memulai obrolan diantara mereka.
"Anj.r kenapa gue jadi degdegan gini sih! Pesonanya benar-benar mematikan!" Nita membatin heran.
.
.
.
"Gue gak habis pikir, berani-beraninya tuh orang langsung lapor!" geram Jiana, matanya terus menghunus memandangi Shasyania.
"Mhhh... gue rasa tuh anak dari keluarga berpengaruh deh!! Lo pikir aja... laporannya langsung di tindak lanjuti, bahkan sama Kepsek sendiri!" imbuh Rissa.
Jiana mendengus tidak terima, dan mencengkram bukunya, "Tapi kita gak boleh diem gitu aja! pokoknya dia gak boleh sampai lolos!! kita mesti main halus pakek taktik sekarang!" usul Jiana. Ia begitu tidak terima atas kekalahannya hari ini.
.
.
.
"Van..., lo kenal ya sama si Shasya?" tanya Eron.
Diamnya Nevan membuat kedua sahabatnya jadi tambah yakin jika memang benar laki-laki itu mengenal sosok Shasyania, bahkan ingatan waktu Nevan membentak Shasyania ketika pelajaran olahraga kembali berputar di ingatan mereka.
"Mmh kelihatannya... keluarga dia juga berpengaruh di sekolah ini ya?" pancing Dariel, agar Nevan bersuara.
"Iyaa, mungkin setara keluarga Nevan kali," ucap Eron menimpali.
"Kalian tau kenapa dia sampai dibully tadi?"
"Karena gangguin pacar kakak kelas!!!" sambar Jiana, ia ikut nimbrung padahal kehadirannya tidak diundang.
Nevan seketika mendelik, dan hal itu membuat Jiana menjauh, karena ia tahu Nevan tidak suka dengan kehadirannya.
Tangan Nevan mengepal, bahkan kuku-kuku tangannya sampai memutih, "Kalian suka sama dia?" tiba-tiba Nevan bertanya, hingga membuat Dariel dan Eron menganga tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Dariel yang suka Van, bukan gue!" pungkas Eron, seperti orang yang takut di salahkan.
Hingga kaki Dariel pun refleks menendang betis Eron, "Ngasal lo!"
"Kalian masih ingatkan sama mainan yang pernah gue bilang? Nah.. itulah dia!"
Lagi dan lagi ucapan Nevan membuat kedua sahabatnya menatap tidak percaya.
"Tunggu-tunggu... mainan? Mainan gimana nih? lo ma___," ucapannya tidak lagi ia lanjutkan, ketika Dariel memberi isyarat lewat gelengan kepala.
"Yaa mainan buat senang-senang gue lah! kayak ngasih kecoa, jadi hantu, ya supaya dia takut! biar gak gangguin pikiran gue lagi!"
Begitulah Geonevan, meskipun ia terkenal pintar, namun terkadang sikap jahilnya seperti anak kecil.
"Yaelah, gue kira apaan...," sahut Dariel sambil tertawa.
"Emang lo mikirnya apa?" selidik Nevan.
"Mmmhh mmm, nggg eng...enggak, gu..gue... Ya sama mikirnya gitu, cuuma di tambah satu lagi misal kayak hmmm mmm...,"
"Apaan sih gak jelas banget lo!" cela Nevan.
Kali ini Eron yang berusaha menjadi penyelamat, "Misal kayak menyembunyikan sepatunya iya kan? gitu kan Riel, maksud lo?" ucap Eron, seraya mengedipkan mata.
"Nah betul! itu... itu tuh yang gue maksud!"
"Serukan? nanti kita coba! sekarang biarkan dulu dia bernafas lega," pungkas Nevan.