
Gerombolan siswa yang tengah asik nangkring di depan kelas kini mulai terdiam, beberapakali bisikan-bisikan dengan arah pandang menatap gadis yang berjalan sendirian itu sukses menyita perhatian mereka.
"Hai... sendirian aja, mau kemana? ck! cantik banget sih tuh muka!"
"Shasyania? itu nama kamu kan?"
"Jadi pengen ngemilikin!"
"Udah punya cowok belum? sama gue aja mau gak?"
Perasaan risih mulai ia rasakan, Shasyania tidak suka bila seseorang terlalu frontal menyapanya, bahkan rasa tidak nyaman semakin menjadi-jadi, ketika orang-orang itu mendekat dengan tatapan yang ia anggap seperti menelisik ke seluruh tubuhnya.
"Gue cowoknya! mau apa lo hah?" suara bariton itu mampu membuat senyum yang awalnya menghiasi wajah nakal para siswa itu seketika lenyap, berganti dengan netra mata bergetar sembari membuang muka tidak percaya.
"Ini yang terakhir! ngerti?" Tangannya mencengkram kerah baju salah satu diantara mereka, menariknya ke depan lalu menghempaskan begitu saja, dan tanpa menunggu jawaban ia sudah melangkah maju, dan mengisyaratkan agar Shasyania berjalan bersisian dengannya.
"Mau ke mana?"
"Mau ke kamar mandi," sahut Shasyania, sembari menengok laki-laki yang kini berada disampingnya, "mmhh, kamu mau ke mana?"
"Mau nganterin tunangan, takut ada yang gangguin lagi...."
"Tapi, aku ini mau buang air kecil, lagian kalau kamu nungguin, bisa-bisa kamu jadi buah bibir...."
"Tidak masalah!"
"Ehh..., enggak-enggak!"
"Kenapa enggak? aku tungguin di luar, kecuali kamu kasih izin, baru aku tungguin nya di dalam!"
"Ihhh... Enggak Geonevan! kamu kembali aja ke kelas. Banyak yang liatin tuhh...."
"Gak perduli!"
"Kembali ke kelas...."
"Enggak!"
"Kembali!"
"Cium dul___,"
Manik matanya melebar, bahkan tangan Shasyania bergerak cepat untuk menutup mulut Nevan, "Essssttt... ini kan di sekolah, jangan bicara sembarangan!"
Bukannya diam, laki-laki itu justru mencium telapak tangan yang masih membekap mulutnya, lalu matanya tersenyum jahil menatap keterkejutan Shasyania.
Beberapa murid yang menyaksikan adegan tersebut dibuat heboh, baru kali ini mereka melihat ada seseorang yang begitu berani menutup mulut Nevan, dan lebih anehnya lagi laki-laki itu justru diam tanpa perlawan.
"Ini gue gak salah liat kan? itu Geonevan?"
"Widih..., baru juga gue baca berita dia bareng Zia, kok sekarang malah sama puteri sekolah kita?"
"Mereka mirip sih! tapi gak mungkin kan mereka orang yang sama!"
Shasyania kalah dengan perlawanan Nevan, hingga ia kembali memutuskan untuk berjalan ke depan.
"Yank!"
"Sayang...."
"Mmhh?"
"Jalannya gak usah cepat-cepat gitu! santai aja... kayak dikejar sama siapa aja."
"Aku gak mau dilihatin banyak orang."
"Kenapa gitu?"
"Entar para penggemar garis keras kamu malah nyerang aku lagi...."
"Bahkan seujung jari pun gak akan aku biarkan mereka menyentuhmu!" pungkasnya, hingga Shasyania berbalik badan ketika menyadari suara Nevan begitu ditekan, dan tersimpan kekesalan di sana.
"Ng... enggak-enggak, aku cuma bercanda."
"Aku serius!" tegas Nevan.
...----------------...
"Kantin yok?" seru Nita, saat bel istirahat berbunyi.
"Bareng kita aja ke WB!"
"Ogahh..., yang ada kita bakal sesak nafas di sana!"
"Betul kata Nita, lagian itu perkumpulan para cowok, kita ke sana malah di pikir aneh-aneh lagi!"
"Yasudah, kalau gak mau!" seloroh Wilkan, lalu ia mengikuti langkah Gemmi dan Miko yang terlebih dahulu meninggalkan kelas.
"Rin, Shasya dari tadi kok gak balik-balik ya?"
"Bener juga... kita susul aja gimana?"
.
.
.
Perpustakaan yang biasanya sunyi dan minim kebisingan kini malah semakin berdengung dengan bisikan-bisikan halus, hingga mengganggu pendengaran para staf penjaga di sana.
"Kalian yang berisik harap keluar!"
Sudah tiga kali nada perintah itu terdengar, namun hanya beberapa menit situasi tersebut mulai kondusif sebelum akhirnya kembali berisik.
Ya, semua karena dua orang yang tengah asik duduk berhadapan dengan pembatasan meja, tangan mereka menggenggam sebuah buku yang kini mereka serap ilmunya. Tapi bukan ketekunan itu yang menjadi buah bibir melainkan sosok mereka yang sukses menyita perhatian seisi ruangan.
"Geonevan..., aku mau makan mie instan."
"Gak boleh! gak baik! biar nanti pulang sekolah aku aja yang buatin mie! Lebih sehat dan tentunya enak!"
"Gak bisa, karena rencananya... sepulang sekolah kelompok aku mau langsung buat tugas Buk Siska."
"Kapan ya? ummhh, sepertinya udah lama...."
"Kapan?"
"Empat hari yang lalu...."
"Yasudah, ayo ke kantin sekarang!"
"Emangnya di kantin ada yang jual mie instan?"
Dengan alis berkerut Geonevan tampak berpikir, ia benar-benar tidak tahu tentang hal tersebut, "Entahlah, yang jelas aku carikan, kalaupun tidak ada berarti kamu harus makan yang lainnya. Intinya aku sudah berusaha memenuhi keinginan mu yank! Tapi ingat! setelah hari ini, besok, dan dua hari lagi kamu gak boleh makan mie instan! Mengerti?"
"Baiklah, aku ingat! Jaraknya cuma empat hari ahaha...."
"Seharusnya seminggu, tapi aku tahu kamu pasti tidak setuju!"
.
.
.
"Rin! liat kearah pukul dua!"
"Shasyania sama Geonevan? kok bisa?"
"Gue juga mau nanya itu!!!"
"Suruh mereka ke sini gak?"
"Coba aja!"
Ririn langsung melambai-lambaikan tangannya ke atas dan gerakannya tersebut kemudian dibalas anggukan kepala oleh Shasyania. Namun belum juga memangkas jarak menuju tempat di mana dua sahabatnya duduk, kini di hadapannya sudah terlihat seorang kakak kelas tengah menyapanya hangat.
"Hai, Shasya!" sapa Septi, bersama rekan disampingnya.
"Ohh, hay...." sahut Shasyania, sembari memandangi satu-persatu kakak kelas itu.
Tanpa basa-basi lagi Septi sudah meminta sebuah lembaran kertas yang tengah di pegang Yuki, lalu menyodorkannya pada Shasyania, "Oh ya Sha, ini formulir pendaftaran buat olimpiade sains, kali aja lo minat! Tadi gue nyariin lo ke kelas, tapi gak ada, dan kebetulan sekali kita bertemu di sini jadi, ini... di lihat-lihat aja dulu!" jelasnya, dan pandangan gadis itu beralih kearah Geonevan.
"Betul tuh Sha! kalau lo ikut yaa, itu bakal nambah kekuatan kita! lagian untuk ceweknya masih belum ada tuh yang bisa mengimbangi...," bukannya menjelaskan lewat suara, Yuki justru menunjuk orang yang ia maksud dengan lirikan matanya, "apalagi ya... lo itukan masih kelas sebelah. Ini peluang bagus Sha!"
"Kapan ngumpul formulirnya Kak?"
"Secepatnya Sha! sekarang juga boleh!"
Sebelum menjawab, terlebih dahulu Shasyania melirik kearah Geonevan. Laki-laki itu tersenyum dengan anggukan kepala, "Baiklah, sekarang juga aku isi."
Dua gadis itu mengernyit heran melihat interaksi kedua orang dihadapan mereka, sebelum akhirnya Septi kembali ingat akan tugasnya, "Bagus! kalau gitu lo ikut kita keruang Osis ya, tenang... urusan jam istirahat nanti kita yang bakal tanggungjawab misal lo lambat masuk kelas!"
"Gue ikut!"
Septi dan Yuki serempak menatap laki-laki yang sedari tadi berada di samping Shasyania, hingga dua gadis itu sama-sama tersenyum canggung, "Tentu, lagian lo kan anggota sains, jadi kita perlu berdiskusi sebentar!" sahut Septi.
Sebelum meninggalkan kantin, Shasyania menyempatkan diri untuk memberi isyarat pada Ririn dan juga Nita jika ia harus pergi mengikuti kakak kelas itu.
"Ohh... gue tahu Rin! Shasya dan Geonevan pasti disatuin buat olimpiade, gak heran sih jika mereka akan sama-sama terus!"
"Tapi bukannya itu lebih menyakitkan gak sih? berdua menghabiskan waktu tanpa sadar perasaan akan terus-menerus tumbuh, namun pada akhirnya harus sadar jika orang itu tidak bisa dimiliki!"
"Udah jangan bilang gitu! intinya ya... sebelum janur kuning melengkung, harapan Shasyania masih terbuka lebar! Dan kita harus membantunya mendapatkan celah!!!" seru Nita, bahkan dengan penuh semangat ia menusuk pentol baksonya hingga air dalam mangkok itu muncrat.
.
.
.
"Tunggu dulu ya...," ujar Nevan, sembari mengelus-elus pucuk kepala Shasyania.
Nevan dan Septi terlihat menjauh, karena saat mereka berada di ruangan Osis, tiba-tiba saja Guru pembimbing meminta dua orang itu untuk memasuki ruangannya, hingga kini di ujung meja hanya menyisakan Shasyania dan juga Yuki di sana.
"Sha... Gemmi mana?" bisik Yuki, mendekati Shasyania.
"Enggak tahu Kak."
"Lo udah gak sama dia lagi?"
"Sama dia gimana ya?"
"Itu...loh maksud gue... lo itukan deket sama dia, terus sekarang kok sama Geonevan?"
"Aku cuma temenan sama Gemmi."
"Ohh... maaf-maaf gue kir__, ahh enggak-enggak! Terus sama Geonevan temenan juga?"
"Geonevan, umhhh..., " Shasyania tampak berpikir untuk mengatakan seperti apa hubungan mereka, dan Yuki semakin tidak sabaran untuk mendengar penjelasan gadis di hadapannya, "dia itu... pacar aku Kak."
Tidak lagi berbisik, kini Yuki justru bersuara lantang, "Hah? Apa? Pa...pacar? Geonevan? Seriusan?"
"Iyaa kak."
"Sumpah!!! dia itukan tipikal cowok yang susahnya minta ampun kalau dideketin! Bahkan udah banyak cewek yang ditolak mentah-mentah!! terus sekarang lo bisa pacaran sama dia, bahkan ini termasuk cepat! lo kan baru pindah ke sini! Wah...wah keren! Hebat lo!! Ternyata pangeran sekolah kita udah ada pawangnya!!!"
"Setau kakak, Geonevan nolak mereka gimana ya?"
"Ck! mau orang itu bersujud dihadapannya juga dia gak perduli, ya lewat-lewat aja gitu, dan parahnya lagi ya... kalau dia sampai dipegang, bihhh ucapannya langsung nyakitin!!! Jujur aja, gue juga pernah tertarik sama dia, tapi begitu tahu dia orangnya kayak apa, Gue mundur alon-alon.... Dan berlabuh ke Gemmi ahahaha!!!"
"Tapi Sha..., bukannya gue gak percaya ya, tapi pengen aja liat secara langsung! Jadi gini... cobak nanti lo pegang tangan Geonevan, apa dia bakal nepis atau gimana? Sumpah gue pengen liat sisi lain dari seorang Geonevan!!!"
Tantangan diterima, saat laki-laki itu sudah duduk di sampingnya, Shasyania langsung menempelkan tangannya di punggung tangan Nevan, dan menyadari itu, Nevan langsung beralih menautkan jari mereka sebelum akhirnya mencium tangan itu sekilas.
Yuki yang melihat adegan tersebut bergegas menutup mulut, pandangan matanya melebar, lalu perlahan-lahan jempol tangannya terangkat keatas, hingga membuat Shasyania terkekeh.
"Kenapa yank?"
"Ohh... enggak, enggak apa-apa kok...."