Mine ?

Mine ?
12 : Penilaian



"Katanya Pak Sadim ngasih materi roll back roll lagi kan yaa?" tanya Rissa, saat semua murid kelas XI IPA 1 berkumpul di lapangan sekolah.


"Iya..., dan isi tambahan teknik tiger sprong gitu kalau gak salah," sahut Megan, sambil mengingat-ingat ucapan dari guru olahraganya minggu lalu.


"Jurus aing macan kali!"


"Duh! enggak SD, SMP, SMA olahraganya itu itu mulu deh perasaan! Apalagi ya... selalu ajaaa digunain pas ujian praktek!" keluh Megan.


"Bilang itu-itu mulu tapi teteeeep... aja lo gak bisa-bisa!" sindir Dino.


Mendapat tanggapan nyesek membuat Megan melirik laki-laki tersebut dengan tatapan sinis, "Heh! kayak lo jago aja! ingat yaa Din! lomba lari aja lo masih kalah sama gue! Lemaaaaah!!!"


"Yaelaaahh itu kan... karena laki-laki di ciptakan untuk mengalah! Apalagi untuk cewek kayak lo, kalau terus gagal bakal gak semangat hidup lagi dong! Gue cuma memupuk amal baik!!!" elak Dino, dengan kalimat yang lebih memanaskan suasana.


"Sialan lo!"


"Bacot lo! iyaa... ngomong aja mengalah di awal tapi nyatanya meninggalkan di akhir!" sentak Rissa. Sepertinya ia tengah mengorek luka lama, hingga mengatakan hal tersebut begitu tegasnya.


"Eetttsss... ada pengecualiannya dong, kalau ceweknya kayak Shasya, enggak mungkin lah gue tinggalin!! Diem seharian juga gue betah liatin dia terus." Tiba-tiba saja dari arah samping Baru datang menimpali.


"Lo nya betah, tapi dianya yang enek tahu! Ngaca diri dong!" ejek Megan seraya tersenyum remeh.


"Iri lo?" sergah Baru dengan nada menyindir.


"Enggak! ngapain juga gue iri! model kayak lo jugaan yang natap!" sahut gadis itu sembari menarik tangan Rissa menjauh.


.


.


.


"Ehh Nita! baju lo kok beda sih? jangan bilang ini efek murid baru, jadinya lo berasa baru juga? Mau narik perhatian tapi gak mikir-mikir situasi lo ya!" ungkap Ririn, ketika ia menyadari baju yang digunakan sahabatnya nampak berbeda.


"Ck, bukan gitu! Ini tuh gara-gara Kakak gue Rin! dia salah ngambil baju makanya ketukar kayak gini!"


Ririn memijit dahinya, "Gue gak habis pikir sama tingkah lo berdua! Tapi yang penting sekarang... lo mesti lapor dulu sana sama Pak Sadim, biar lo gak di hukum entar!" pinta Ririn.


"Anterin gue dong, pleaseeee... lo kan sekretaris kelas Rin! Mau yaaa mmhhh?" bujuk Nita, sambil memperlihatkan matanya yang berseri-seri.


"Ya... tapi alasannya apa dulu dong?"


"Bilang aja kalau baju gue tadi kecipratan air kubangan!"


"Lo kira jalanan menuju sekolah ki__,"


"Yasudah-sudah, bilang aja baju gue bolong akibat setrikaan!"


"Nah! ini lebih masuk akal!"


"Sip!"


"Jalan dong! kenapa malah diem aja?"


"Barengan!"


"Ayok!"


"Loh, kok sekarang malah lo yang diem?"


.


.


.


Saat semua asik dengan gengnya. Jiana terlihat gelisah sendirian, namun hal itu justru berbanding terbalik dengan Shasyania, ia malah terlihat santai duduk di atas batu.


Semedi kali yaa?


"Riss, samperin Shasya yuk! biar dia jadi temen kita," ajak Megan.


"Gak mau ahh! kebanting jauh kita kalau berdiri samping dia! Bisa tekanan batin gue tiap hari dibandingin sama tuh anak!" tolaknya, seraya mengangkat bahu ke atas.


Megan mengangguk setuju dengan ungkapan tersebut, lalu ia kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari rekan baru, "Gimana kalau si Jiana, Riss? dia juga kelihatan sendirian tuh," bujuknya sekali lagi.


"Nahh... kalau dia gue setuju! meskipun terlihat sombong setidaknya dia itu temenan sama Geonevan!"


Duo gadis itupun mendekati Jiana, hingga akhirnya mereka berbincang bersama dan berujung bergosip ria.


"Jian, lo kenal sama Geonevan dari kapan?" tanya Rissa dengan gaya sok akrab sembari merangkul bahu Jiana.


Gadis itu sedikit mengernyitkan alis, lalu sejurus kemudian ia tersenyum penuh arti, "Oh ituu di..., ah yaaa!!! waktu acara jamuan makan, biasalah perkumpulan orang-orang kaya yang berpengaruh!" dusta nya.


Rissa dan Megan mengangguk paham, sambil merasa bangga akhirnya mereka bisa berkenalan dengan orang yang dipikirkannya akan mengangkat derajat pergaulan mereka.


.


.


.


"Hay Shasya..., sendirian aja nih?" sapa ramah seorang Dariel, "oh yaa... gue jadi lupa ngenalin diri. Nama gue Dariel," imbuhnya sembari menjulurkan tangan.


Belum sempat Shasyania menjabat tangan laki-laki itu, sebuah suara sudah menggema dan terdengar seperti nada membentak.


"Segitu doang selera lo Riel!" sentak Nevan, seraya menatap tajam sahabatnya.


Orang-orang di sana langsung melirik ke sumber suara, dan betapa terkejutnya mereka jika ternyata suara itu berasal dari seorang Geonevan. Laki-laki yang biasanya tidak akan memulai perdebatan jika tidak di ganggu duluan.


"Kenapa lo ngomong gitu Van?" tanya Dariel, dan dari ekspresinya ia tampak tidak terima atas ucapan Nevan.


"Karena dia PARASIT!"


Kata Parasit itu menusuk jelas ke setiap telinga orang-orang yang berada di sana. Bisikan-bisikan pun mulai terdengar dengan lirikan sinis menatap Shasyania.


Ada yang tampak heran dan ada juga yang terlihat berbinar dengan senyum mengembang ceria. Para siswi itu akhirnya tidak perlu khawatir lagi, jika seorang Geonevan akan tertarik dengan murid baru tersebut.


Dari cara Nevan berbicara dan bersikap, jelas tergambar jika ia begitu membenci seorang Shasyania, namun jika di telisik lebih dalam kearah matanya, maka ada tatapan luka yang tengah menyayat hatinya.


"Wah!!! serem banget kalau berurusan sama Geonevan! gue mundur!"


"Gue yakin, mereka pasti punya masalah besar nih!"


"Kasian... tapi gue gak cukup berani buat bela dia!"


"Kalau udah berurusan sama Geonevan gue juga bakalan mundur!"


"Ck! gue yakin dia pasti sempet godain Geonevan, makanya Geonevan risih gitu!"


"Ck...cek... belum juga seminggu jadi putri sekarang udah jadi babu aja!


"Betul, belum juga seminggu di sanjung-sanjung, sekarang malah di cela!"


Dan kembali Dariel merasa bingung akan tingkah laku Nevan. Tidak biasanya orang itu mencari masalah terlebih dahulu, apalagi sampai ikut campur tentang urusan asmara sahabatnya.


Niat hati untuk bertanya kembali malah terhenti, ketika punggungnya ditarik dari arah belakang, "Udah jangan di tanya lagi! lagian Pak Sadim udah dateng tuh," ujar Eron sembari menarik bahu Dariel.


.


.


.


Pelajaran olahraga....


Dengan sikap tegap, dibarengi suara lantang Andri memimpin barisan, hingga waktu dan tempat diambil alih oleh Pak Sadim untuk memberi informasi tentang materi hari ini.


"Sekarang Bapak mau mencari nilai! kalian pemanasan dulu, lari sebanyak lima kali putaran, dan setelah itu berkumpul di sana!" ucap tegas Pak Sadim, "dan untuk kamu ketua kelas, nanti setelah lari ajak dua teman kamu untuk mengambil matras di gudang sekolah!"


"Siap Pak!"


"Anj.rr kok nyari nilai sih! bukanya sekarang latihan dulu," keluh Baru.


"Latihannya kan udah minggu lalu blok!"


"Duh! gue kan gak masuk!"


"Jalanin aja napa! kelebihan bacot lo!" sergah Dino.


"Iyalah! karena gue gak mau jadi bahan ledekan anak-anak, kampret!" pungkasnya tidak kalah tajam.


"Sialan, lo pikir gue beti__,"


"Hei kalian yang di belakang! kenapa ribut?"


"Maaf-maaf Pak, saya terlalu bersemangat Pak!"


"Alasan!" sungut Pak Sadim, lalu matanya kembali terarah untuk menatap lembaran yang tengah ia pegang, "Absen satu... Andri Wicaksana!" ucap Pak Sadim, "silahkan kamu peragakan roll tiga kali, back tiga kali dan yang terakhir gaya tiger sprong!" imbuhnya memberi instruksi.


"Siap Pak!"


Andri mempraktekkan aksinya lumayan mahir, hingga tak ada celah untuk temannya mengejek.


"Gak seru banget si Andri, masak gak ada lucu-lucunya sama sekali! ngebadut kek!"


"Batu... lo suruh melucu mana bisa an.jir!" sentak Baru.


Mereka yang tengah menunggu giliran terlihat duduk di pinggir lapangan, berharap sesuatu yang lucu terjadi hingga mereka bisa tertawa puas.


"Absen dua, Larissa Anya Geralnini!"


Merasa terpanggil, akhirnya Rissa mengayunkan kakinya mendekat kearah matras. Stay cool, namun dibalik diamnya itu, sesuatu tengah bergejolak dalam sanubarinya, "Tuhan berkati leherku," lirih gadis itu dalam hati.


"SEMANGAT NINI..., OPA MENDOAKAN MU DI SINI!" ucapan semangat dari seorang Dariel, yang lebih terkesan mengejek.


Dan Rissa pun memperlihatkan aksinya...


"WOIII LO NGAPAIN TUH RISS? ANJ.R PICEK MATA GUE LIHATNYA!"


"RISSA... LO MAU HEADSTAND YA? TAPI BETIS LO KOK MASIH JONGKOK?"


"MAU BAB GAYA BARU YAA?"


"NINI HATI-HATI, JANGAN TERLALU MEMAKSAKAN DIRI! AWAS ENCOK LOH! TUKANG URUT MAHAL! KARTU BPJS NINI BELUM OPA URUS!!!"


"LEMESIN AJA RISS!!! TAKUT SARAF-SARAF LO KEJEPIT!"


"ITU LO LAGI TUTORIAL NUNGGING CANTIK YA RISS?"


"RISSA... MENDING LO BERHENTI! KASIAN GUE LIATNYA!"


"WOI-WOI, JANGAN DI SURUH BERHENTI WOI! FOTO DULU! FOTO DULU!"


"KAGAK ADA YANG BAWA HP SOMPLAK!"


"EHH...EH LIAT!!! DIA TERJENGKANG ASLI NGAKAK!"


Di tertawa kan di depan umum, sungguh membuatnya ingin menghentikan waktu dan menghilang tanpa jejak, namun semua hanya harapan yang tak mungkin bisa menjadi kenyataan "Rasanya gue mau pingsan Tuhan!" lirih Rissa, yang sudah merasa sangat dipermalukan.


Urat malu di dalam diri Rissa benar-benar terguncang dan muncrat keluar, hingga memancarkan aura lawak bagi para cecunguk yang tak ada henti-hentinya untuk menertawakan aksinya sedari tadi.


"JANGAN PURA-PURA PINGSAN NINI! OPA TAHU NINI GADIS YANG KUAT! TAHAN BANTING!! ANGKAT GALON AJA BISA, MASAK SEGITU AJA PINGSAN... AHH, NINI MAH AKTING MULU!!!" kelakar Dariel.


"Kalian yang dari tadi ribut mending latihan dulu sana! jangan sampai kayak absen dua ini. Bapak saja sampai gak ngerti dari tadi dia ngapain! susah kasih nilai!" ucap Pak Sadim sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "sudah-sudah, kamu berdiri! lanjut Absen tiga!" imbuhnya.


"Yaaahh... udah nilai akademik nol, sekarang nilai non akademik juga nol! Bapakmu pasti bangga Riss!!!" ucap seorang siswa yang tengah menyindir sembari bertepuk tangan.


"Ahahah gue rasa harta keluarga dia gak bakal turun-temurun lagi nih!"


"Riss...," teriak sendu seorang Megan, ketika Rissa berjalan mendekat kearahnya, "asli...sumpah! gue malu banget liat lo tadi Riss!" bukannya memberi semangat, Megan justru ikut mencibir saat Rissa akan duduk disebelahnya.


"Diem lo!" pungkas Rissa.


Berjarak beberapa jengkal dari gadis yang tengah bersemu malu tersebut, kini juga terlihat dua orang gadis yang masih saja asik tertawa, "Duh, gimana nih, mulut gue rasanya gak bisa berhenti buat ketawa! tapi gue juga takut kalau nanti kena karma!" bisik Ririn pada sahabatnya Nita.


"Ketawa ya ketawa aja kali, mata lo udah berair gitu ya lepasin aja! Jangan di tahan-tahan!" sahut Nita, sambil kembali tertawa keras. Ia begitu puas seakan memiliki dendam pribadi pada sosok Rissa.


"Absen lima Belas, Abimanyu Nugraha Nubirou!!"


Biru bersiap memperlihatkan aksinya...


Dan belum juga semenit, Pak Sadim sudah bersiap untuk menegur aksi dari siswa tersebut, "Ehh! kenapa kamu geser matrasnya? yang bergerak itu tubuh kamu bukannya itu!" sentak Pak Sadim, "kalian ini... anak IPA 1, kenapa dari tadi gak ada yang benar hahh? absen satu juga salah, tapi lebih mendingan daripada absen-absen setelahnya! Kalian mau kena hukum? Apa gimana? makanya kalau di ajari, di kasih teknik jangan mengangguk-angguk paham! masuk telinga kiri keluar telinga kiri. Jadinya mental semua! yasudah lanjutkan! nilai yang Bapak kasih juga akan sekedar saja!"


"Woii Baru...! kenapa lo terlentang?"


"Dia pikir di suruh tidur kali!"


"Keberatan perut tuh!"


"Gaya katak terjengkang!!!"


.


.


.


"Absen tujuh Belas, Meganior Amora!"


"SEMANGAT DORA TUNJUKKAN JIKA KAMU LEBIH PINTAR DARIPADA BOOTS!"


Hingga Megan memperlihatkan aksinya...


"WAH... RAMBUTNYA KETARIK TUH!"


"DUO SAHABAT GAGAL BERAKSI! GAK RISSA GAK MEGAN SAMA SAJA, PINTER NYA CUMA NYEROCOS DOANG!"


"MEGAN MENRISSA-RISSAKAN DIRI!"


"BESOK-BESOK YANG CEWEK MESTI POTONG RAMBUT DULU TUH! BILA PERLU DIGUNDULI BIAR GAK GANGGU!" ejek Eron.


"WOI MEGAN ASET LO KEJEPIT TUH! JANGAN DI PAKSAIN MEGAN! NANTI MELEDAK KASIAN ANAK LO KELAPARAN!!!"


.


.


.


"Absen sembilan belas, Freyeron Azigar Osmond!"


"WAH-WAH TAMPAKNYA SEKARANG KADAR KEGANTENGAN LO BAKAL BERKURANG RON!" teriak Dariel.


Yeron pun mulai beraksi...


"Iyaa pertahankan... Roll kamu bagus, tapi backnya kok kayak kura-kura terbalik? ulang sekali lagi!" perintah Pak Sadim.


"YERON... TANGANNYA KURANG NEMPEL KE TELINGA TUH!"


"JANGAN DI KASIH TAHU SOMPLAK! BIARIN DIA MELUCU!"


.


.


.


"Absen dua puluh empat, Urnita Qiolin!"


"WAH SI MALAS MAJU NIH!" ucap remeh seorang Dino, sampai akhirnya Nita memperlihatkan kebolehannya.


"Nah ini...ini baru yang benar! contoh dia! gerakannya sempurna!" puji Pak Sadim, hingga membuat Nita menatap sombong dengan alis naik turun.


"Gila... jago banget lo Nit!" seru Ririn.


"Iya...iyalah! Gue emang bego di pelajaran, tapi gue jago di olahraga! Gue sikat rata lo semua!!!"


...----------------...


"Sekian dulu untuk hari ini. Minggu depan kalian akan belajar teknik-teknik bermain bola basket, dan kalian harus memperhatikannya! karena dua minggu lagi Bapak akan mencari nilai! Dan untuk kalian yang merasa hari ini nilainya kurang bagus, maka perbaiki di penilaian berikutnya mengerti?" jelas Pak Sadim.


"Lapor Pak, kelas XI IPA 1 kedatangan dua murid baru Pak, dan kemungkinan mereka belum masuk di absen Bapak," ungkap Andri.


"Loh... kok Bapak belum menerima absen barunya?"


"Pindahnya baru kemarin Pak."


"Oh gitu. Yasudah angkat tangan bagi murid baru!" pinta Pak Sadim, "nah untuk kalian berdua... hari ini Bapak gak akan cari nilai, karena bisa saja kalian belum tahu tekniknya. Tapi untuk minggu depan kalian sudah harus ikut seperti murid lainnya... mengerti?"


"Siap mengerti Pak!" jawab kompak Shasyania dan juga Jiana.