Mine ?

Mine ?
42 : Misi pendekatan



Sejauh satu meter dari tempat Nita berdiri, Ririn juga tengah menatap isi pesan dari benda pipih yang tengah ia genggam, sampai akhirnya gadis itu berjalan mendekat lalu dengan gerakan kilat tangannya berayun memukul bahu Nita.


Plak!


"Bau mulut lo udah menyebar kemana-mana tuh! Tutup gih!" cibir Ririn ketika melihat sahabatnya itu menganga dengan mata membulat sempurna, "lo liatin apaan sih? sampek gitu banget!"


Ririn yang semakin penasaran berniat langsung melirik, namun gerakan matanya kalah cepat dibandingkan gerakan tangan Nita yang sudah membalikkan smartphone tersebut.


Melihat reaksi spontan Nita membuat Ririn mengernyitkan dahi. Ia yakin sekali jika sesuatu sedang di sembunyikan darinya, "Liatin apaan sih lo? bok.p ya?" ulangnya bertanya, namun kali ini di tambah dengan sedikit tuduhan.


"Ngasal banget tuh monyong! gue lagi masukin sandi buat gabungin Shasya ke group!" elak Nita, "nih Sha handphone lo," imbuhnya seraya menyerahkan kembali benda tersebut kepada sang pemilik.


"Jangan-jangan lo lagi nyari kontak cowok di hp Shasya ya?" tuduh Dino.


"Udahlah Nita..., jangan maksa gitu buat nyari cowok!" timpal Baru, yang terkesan memancing keributan.


"Berisik!"


Gestur tubuh Ririn pun masih memperlihatkan jika ia masih belum percaya, sampai akhirnya ia kembali memperkeruh keadaan, "Iya! pasti lo lagi menyembunyikan sesua__,"


Kletak!


Nita menaruh buku di meja dengan sedikit keras hingga membuat Ririn seketika berhenti berbicara. Dan saat pandangan mereka bertemu, Nita lalu mengisyaratkan sesuatu dengan isyarat mata.


Asik saling bertukar isyarat, tiba-tiba handphone yang tengah di genggam oleh Ririn bergetar, memperlihatkan panggilan suara dari seorang Andri, dan tanpa menunggu lama lagi Ririn sudah menggeser tombol berwarna hijau.


Tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan di balik telepon, hanya terdengar di akhir panggilan Ririn mengatakan Oke dan setelah itu ia terlihat menatap sahabatnya Nita.


"Nit! gue butuh bantuan lo!" Tanpa menunggu jawaban dari Nita, Ririn langsung menarik tangan gadis yang memiliki rambut sebahu tersebut.


"Lo main narik narik tangan gue aja! Bantuin apa dulu nih?"


"Ambil buku paket di meja Buk Sinta!"


"Tunggu!" Nita berhenti tepat di luar ruangan kelas mereka, lalu ia memasang wajah serius.


"Yaelah ni bocah isi mikir segala! Cepetan keburu bel nih!"


"Lo tadi bilang di suruh ngambil buku paket kan? jadi kita memerlukan tenaga cowok buat bantuin tugas kayak gini!"


Ririn menepuk dahinya kesal, "Banyak alasan banget sih lo! si Andri gak bisa bantuin gue karena dia masih rapat Osis!"


"Kita minta bantuan Shasya!"


Mendengar jawaban Nita membuat Ririn semakin kesal hingga menghela nafasnya malas, "Haaaahh! sejak kapan Shasya ganti gender jadi laki sih?"


"Ck...! makanya dengerin dulu penjelasan gue! jadi...."


Terlebih dahulu Nita menengok ke segala arah sebelum membisikkan sesuatu di telinga Ririn, hingga membuat gadis itu bereaksi dengan mulut terbuka membentuk huruf O.


"Seriusan lo?"


"Serius!" seru Nita dengan keyakinan penuh, "dan gue rasa nih, orang yang paling pantas bersama Geonevan ya si Shasya! Dari segi apapun mereka emang paling serasi. Dan kita harus bantu mereka! bagaimanapun juga kita perlu membalas kebaikan Shasyania!"


"Gue setuju! tapi caranya gimana? bukannya Geonevan gak suka sama si Shasya?"


"Tahu dari mana lo? emang pernah nanya sendiri ke orangnya?"


"Ya enggaklah! tapi kan gosip yang tersebar kayak gitu!"


"Mhhh iya sih..., tapi kita gak boleh pesimis hanya karena itu! Gue yakin seratus persen jika Geonevan terus di deketin sama cewek modelan Shasya lama-lama juga dia bakal luluh! yang penting usaha aja dulu!"


"Bener juga..., tapi lo jangan kenceng-kenceng nyebutin merek! entar di dengar sama fans barbar tuh cowok habis kita berdua!"


Nita mengangguk setuju, "Oh iyaa..., oke-oke sekarang kita sebut dia dengan nama Gogo!" ujarnya memberi ide, "pertama-tama hal yang mesti kita lalukan adalah memberi kesempatan untuk mereka berdua, yaitu dengan cara mengambil buku paket bersama."


"Lo yakin mereka berdua bakal mau?"


"Si Shasya gue yakin sih yes, tapi si Gogo mmmhhh kita perlu alasan yang lebih terencana!" ucap Nita dengan telunjuk mengelus-elus dagu, "gimana kalau kita bilang itu suruhan dari Buk Sinta? bilang aja Buk Sinta yang merekomendasikan dia, atau gini aja..., bilang buku paketan kali ini ada kesalahan cetak di halaman berapa gitu, jadi perlu orang yang lebih teliti untuk mengecek sebelum akhirnya di seb__,"


Ririn menutup mulut Nita dengan telapak tangan, karena ia merasa sangat malas untuk mendengarkan saran dari sahabatnya itu, "Gak usah ngasih ide! Ide lo blibet semua!" cibir Ririn.


"Terus ide cemerlang lo apaan?"


"Bilang aja butuh bantuan dia!"


"Iya, ini juga gue mau jalan!"


Tatapan mata Nita menyelidik, saat Ririn masih terdiam di tempatnya, "Jalan Rin! diem-diem bae kayak patung!"


"Iya tapi jalannya barengan!"


"Takut lo ya?" tebak Nita.


"Lo juga takutkan? jadi gak usah saling mengejek karena di sini kita saling mendukung untuk menjalankan misi!"


"Iya...iyaa tahu!"


Rasa berdebar-debar di benak kedua gadis itu semakin terasa, apalagi saat posisi mereka semakin mendekati bangku sang target incaran.


"Hallo...," sapa Ririn ramah, namun sampai beberapa menit kemudian tak juga ia mendapat respon yang positif.


"Hay Geonevan...," kali ini Nita yang berusaha, hingga mata Nevan melihatnya dengan tatapan bertanya.


"Mmmhh..., ja...jadi gini, ki...ta butuh ban...ban tuan lo. To...tolong ambilkan bu...ku paket di me...ja...," seakan-akan menjadi gagu seketika hingga membuat Nevan merasa acuh tak acuh dan langsung membuang muka.


Reaksi tersebut malah semakin membuat Ririn dan Nita berkali-kali lipat di landa rasa gugup.


Ririn yang sudah tampak menyerah berniat menarik tangan Nita, namun gadis itu justru tetap diam dan terlihat satu langkah lebih mendekat ke bangku Nevan.


"Geonevan kita perlu bantuan lo untuk ambil buku paket bareng Shasyania di meja Buk Sinta kare__," Begitu lantangnya Nita bersuara bahkan sebelum ia selesai menjelaskan laki-laki di hadapannya itu sudah terlihat membuka suara.


"Oke!" potong Nevan.


Satu kata dari mulut Nevan berhasil membuat Nita dan Ririn ternganga tidak percaya. Mereka tidak menyangka jika akan semudah itu untuk meminta bantuan dari seorang Geonevan.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan lagi, mereka segera beralih mendekat ke meja Shasyania.


"Sha..., kita perlu bantuan lo!" seru Ririn.


"Iya?"


"Lo ambil buku paket yang ada di meja Buk Sinta ya?"


"Baiklah!"


"Tapi gue gak bisa ikut karena Ririn lagi bocor nih! dan gue harus anterin dia ke toilet" ujar Nita, dan ungkapannya itu langsung mendapat tatapan heran dari Ririn.


"Terus aku sama siapa? Buku paketnya gak mungkin sedikit kan?"


"Iya lo bener! dan lo akan di bantuin sama Geonevan," tunjuk Nita dengan ujung matanya, "gue yakin sekali saat ini Shasyania pasti lagi girang banget!" imbuhnya membatin.


"Baiklah kalau gitu aku jalan sekarang," ucap Shasyania.


Ia lalu mengayunkan kakinya menjauh, dan saat sampai di ambang pintu terdengar langkah kaki mengikutinya dari arah belakang, hingga langkah itu semakin mendekat dan akhrinya mereka berjalan beriringan menyusuri setiap koridor sekolah.


"Shasya, lo udah tahu seluruh area sekolah ini?" tanya Nevan, memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Aku cuma tahu dari denah saja."


"Lo gak nyaman ya?"


"Sedikit tapi abaikan saja."


Nevan sadar betul tatapan dari beberapa siswi pasti membuat gadis di sampingnya tidak nyaman, apalagi di tambah dengan bisikan-bisikan halus yang berisikan praduga tak mendasar.


"Wah mereka berdua tampak serasi ya?"


"Samasekali enggak!"


"Tuh cewek ganjen banget nempel-nempel Geonevan mulu!"


"Gue rasa kita salah paham deh! Geonevan juga gak kelihatan risih tuh!"


"Mereka juga pernah di hukum bersama kan?"


"Sudah-sudah masuk kelas jangan sibuk bergosip mulu!"