Mine ?

Mine ?
07 : Terikat



"LO!!!" tunjuk Nevan, ketika ia melihat Shasyania di meja makan.


Atom sadar dengan nada yang kurang bersahabat itu hingga ia langsung pasang badan untuk menghindari situasi semakin memanas, "Maaf Tuan Muda, Nona Shasya berada di sini atas perintah Tuan Besar, dan beliau juga memerintahkan agar kalian berdua berangkat bersama," jelasnya.


Mimik kesal dari wajah Nevan seketika berubah menjadi raut keterkejutan, hingga sekilas ia membuang muka lalu kembali menatap dengan tampangnya yang sinis, "Apa kau bilang? ck! dan kenapa harus aku haaah? bukanya kau sendiri yang menjemputnya, jadi kau juga yang harus mengantarnya! Dan dengar! jangan lagi libatkan aku dalam urusan konyol ini!!!" tegasnya, ia begitu kesal sampai niatannya untuk sarapan tiba-tiba sirna.


"Tidak bisa seperti itu Tuan... semua ini atas perintah Tuan Besar, oleh karena itu Tuan Muda harus mematuhinya! lagipula ini juga merupakan hari pertama Nona Shasyania berada di sekolah barunya, jadi kehadiran Tuan Muda sangat di perlukan!"


"Heiii kau pikir dia anak kecil? sampai harus aku temani?" tanya Nevan dengan tatapannya yang mencela, "kau urus saja dia sendiri! MENYEBALKAN!" bentaknya, seraya mengayunkan kaki menjauh.


"Selamat pagi Tuan Muda... sarapan dulu Tuan," ucap Murti.


"Tidak, terimakasih! selera makan ku sudah hilang! Parasit!"


Saat Nevan sudah tidak lagi terlihat dari pandangan mata, barulah Shasyania berani mendongakkan kepala menatap Atom, "Pak, saya bisa berangkat sendiri, jadi jangan memaksanya lagi... saya mohon," lirihnya.


Sebenarnya Shasyania tidak tahu menahu jika ia dijemput untuk di ajak ke rumah Eldione, karena Shasyania pikir Atom menjemputnya tadi pagi untuk langsung mengantarnya ke SMA GUARDIANS, hingga ke salah pahaman semakin menumpuk diantara Geonevan dan juga Shasyania.


"Tidak Nona! karena ini merupakan perintah Tuan Besar, jadi semua harus di lakukan sesuai keinginannya! Nona tenang saja...."


Ucapan Atom membuat Shasyania terdiam, situasi ini sungguh membuatnya serba salah, terlebih lagi saat keheningan itu mulai terusik ketika dari arah luar teriakan kekesalan kembali menggema.


"WOI ATOM! APA-APAAN KAU? KEMBALIKAN KUNCI MOBILKU!" seru Nevan.


"Iyaaa... tapi hanya jika Tuan Muda berangkat bersama Nona!" sahutnya yang semakin memancing kekesalan Nevan.


"Arrggh!!! menyebalkan! kau benar-benar membuat kesabaran ku telah hilang!" Dengan penuh emosi Nevan menendang sebuah guci antik di depannya, hingga salah satu serpihan itu terpental ke arahnya sendiri.


PRRAAANG!!


"Tuan Muda! apa anda baik-baik saja?" tanya Atom saat melihat darah menetes di tangan Nevan.


"JANGAN MENYENTUHKU!" elak Nevan dengan tatapan nyalang, ketika beberapa pelayan berusaha mendekatinya.


"Dan lo! buruan! gue gak mau sampai terlambat!" serunya tajam, sambil menunjuk ke arah Shasyania.


Dengan tubuh sedikit bergetar Shasyania berjalan mendekat, ingin rasanya menolak, namun ia juga tidak mau jika suasana semakin mengeruh.


.


.


.


.


.


Mobil yang di kendarai Nevan melaju kencang, dan sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, tak ada kata pembuka atupun sekedar mencairkan suasana, dan ini bukan lagi perasaan canggung tapi lebih ke arah mencekam, karena diamnya seorang Geonevan lebih menakutkan daripada ucapan kasarnya.


Entah letak SMA GUARDIANS yang begitu jauh atau karena Nevan yang menghindari kemacetan, karena hampir sejam mereka di jalanan namun belum juga sampai pada tempat tujuan.


"Ini sepertinya bukan jalan menuju ke SMA GUARDIANS," ucap Shasyania, sembari mengedarkan pandangan ke sisi kiri.


"Tahu apa lo!"


"Cukup jelas, apalagi dari plang di depan sana!"


"Cih! kalau gitu lo turun aja di sini!"


"Tidak bisa, karena ini bukan SMA GUARDIANS!" ungkap Shasyania.


Nevan melirik dengan mata tajamnya, "Gue bilang turun! Ya turun!!! lo denger gak? gue gak mau jika orang-orang di sekolah sampai liat cewek macam lo turun dari mobil gue! jadi lo turun di sini!"


"Inikan masih jauh Geonevan!"


"Ya cari taksi atau semacamnya lah! apa mesti gue ajarin? Lo tinggal suruh mereka antar, urusan selesai... beres kan!" sarkasnya, sembari mengeratkan cengkraman di stir kemudi, "ckckck... ternyata kepintaran lo cuma untuk bersandiwara yaa? udah berapa banyak lo makan korban hah? cih menjijikkan!" cela Nevan.


Shasyania diam, ia malas untuk meluruskan sesuatu yang ia anggap tidak ada gunanya untuk di jelaskan, tapi di sisi lainnya Nevan, ia seperti tak dianggap ketika pertanyaannya tidak dihiraukan.


"Kenapa? kena mental lo sampai gak bisa jawab! Sudahlah... buruan turun!"


Shasyania yang memang tidak ingin memperkeruh suasana akhirnya mengikuti keinginan Nevan, dan ia bergegas membuka pintu mobil.


Broomms!


Lagi dan lagi laki-laki itu meninggalkannya di pinggir jalan, bahkan sebelum ia sampai pada tempat tujuan.


"Aduhh sepi lagi...." resah gadis itu.


Shasyania mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari kendaraan umum yang mungkin saja lewat dan memberinya tumpangan, namun sudah sepuluh menit waktunya terbuang sia-sia, area yang begitu sepi membuatnya berharap-harap cemas, ia berdoa agar tidak sampai terlambat di hari pertamanya bersekolah.


                     ****************


"Woiiii... ITU GEONEVAN! SUMPAH GAES... GANTENG BANGET."


"Tumben kesiangan!"


"Gila! itu tuh... yang namanya rupawan tiada tanding!"


"Maooo pingsan!"


"Geonevan gue mau kok jadi selirnya!"


"Lo bilang jadi selir? ehh sadar... jadi pembantunya aja lo gak lolos seleksi tau!!!"


"GUE MAU JADI TUKANG PARKIR DI HATI LO GEONEVAN...!"


"Kalau gue sih tahu diri aja ya, bisa satu sekolah dengannya aja udah buat gue bersyukur!"


"Bener banget tuh! hanya dengan mengatakan jika seorang Geonevan satu sekolah dengan kita aja... rasanya udah mampu mengangkat derajat dan martabat keluarga tahu!"


"Mhhh... apa dia bangun kesiangan ya? Tumben banget jam segini baru sampai sekolah!"


"Turun yok samperin?"


"Enggak ahh, takut gue!"


"Jangan macam-macam lo, kagumi secara jauh aja!"


Para siswi begitu heboh dan histeris ketika melihat sosok laki-laki tampan yang menjadi pangeran di SMA GUARDIANS.


Segala hal dalam diri Nevan memang selalu menjadi pusat perhatian, orang-orang akan menyapanya ramah dan berharap mendapat respon positif dari laki-laki itu, bahkan hanya mendapat tatapan mata saja sudah mampu membuat mereka bersyukur, setidaknya mereka pernah terlihat di pandangan mata seorang Geonevan.


"Gila ya, pesona Geonevan Akhilenzyn Eldione emang gak pernah luntur!" ujar Dariel yang sudah berjalan di samping Nevan.


"Gimana mau luntur, selain modal tampang dia juga modal uang! Yaaa gak heran gue mah!" imbuh Eron, "tapi... tumben-tumbenan lo berangkat siang Van, jangan bilang ini efek ngitung bintang!" tebaknya, yang langsung mendapat geplakan kepala dari Nevan.


Melihat keakraban yang terjalin antar sahabat itu membuat seorang siswi langsung menjerit, "GEONEVAN... GEONEVAN GEPLAK KEPALA GUE AJA... GUE RELA, GUE IKHLAS, GUE PASRAAAAAH...!" teriakan nyaring dari atas gedung tersebut langsung mengundang perhatian murid lainnya tak terkecuali Dariel.


"BUKAN GITU RIEL... LO SALAH, JUSTRU ISI OTAKNYA BERSYUKUR KARENA BISA KELUAR DARI TEMPURUNG KUMUH!!!" cela Eron tidak mau kalah.


"Ohh ya Van, lo mau gak gue buatin acara meet and great?" kelakar Dariel, "lumayan tuh lo jadi artis viral!"


"Gak guna! Buang-buang waktu berurusan sama orang-orang gak penting!"


"EEH LO PADA DENGER GAK? GEONEVAN GAK MAU TUH BERURUSAN SAMA KALIAN! ENGGAK PENTING KATANYA! JADI... DARIPADA TERIAKAN-TERIAKAN KALIAN GAK PERNAH DI ANGGAP SAMA SANG IDOLA, MENDING SEKARANG KALIAN GABUNG KE FANS CLUBS GUE AJAAA! GIMANA TERTARIK?" tawar Dariel, ia begitu asik menikmati suasana ricuh tersebut.


"GEONEVAN LEBIH MENAWAN!"


"GEONEVAN SELALU DI HATI!"


"ENGGAK ADA LAGI SELAIN GEONEVAN DI DENYUT NADI GUE!"


"MESKI LANGIT RUNTUH HATI GUE HANYA TERUNTUK GEONEVAN! TIDAK AKAN PERNAH AMBRUK APALAGI BERGESER!!!"


Teriakan para siswi itu membuat Eron semakin tertawa, apalagi melihat salah satu sahabatnya yang di tolak secara mentah-mentah.


"An.jir! mereka tetap milih lo Van! gimana nih!" ungkap Dariel.


"Sampah banget tahu gak!" ketus Nevan.


"Sekali-kali nikmati kali Van, seru tahu!"


"Ck! mainan gue jauh lebih berkelas dari pada mereka!" sahutnya, seraya mengayunkan kaki menyusuri koridor sekolah.


Pujian atau hinaan tidak akan pernah ada bedanya untuk para penjilat.


.


.


.


.


.


  


XI IPA 1, kelas yang terkenal akan hunian siswa-siswa tampan apalagi seorang Geonevan juga berada di dalam sana, sungguh membuat para siswi akan betah berlama-lama di dalam kelas, tentunya betah memandangi wajah paripurna Nevan.


"Oiii...ooiii... udah pada tau belum? katanya hari ini ada murid baru di kelas kita!" ucap Ririn, sang sekretaris kelas.


"Makin rame nih kelas, moga-moga sih cewek!"


"Cowok apa cewek Rin?"


"Woiii Ririn jangan diem aja napa sih, jawab!"


"Gue harap cewek! mata gue udah pedih liat ciwi-ciwi di kelas ini pada jadi cabe semua." 


"Jaga tuh congor!"


"Si Ririn di tanya malah sibuk ngapus papan mulu, jawab nih pertanyaan kita!"


"Kalau Guru keburu datang dan papan belum bersih mau lo pada bantuin gue ngepel WC? "


Dariel yang mendengar kegaduhan itu mulai bertindak, "Cewek apa cowok?" tanyanya, sembari merebut penghapus papan dan tangannya bergerak menghilangkan noda hitam tersebut.


"Enggak tahu Riel, tadi pas nyari Guru gak begitu kedengaran, tapi cobak tanya si Andri, kayaknya dia denger tuh!"


Para pasukan kepo pun beramai-ramai menuju bangku sang Ketua kelas, dengan raut wajah penasaran, "Woi Andri! murid barunya cewek apa cowok?"


"Cewek!" jawabnya singkat, dia memang terkenal Ketua kelas irit bicara.


Ruangan kelas semakin gaduh, beberapa siswa bersorak gembira, seperti memenangkan sebuah undian.


"Yesss... semangat gue jadi nambah berkali-kali lipat! moga-moga cantik... kesempatan bagus nih buat gue!" seru Dariel, baru sebentar ia membantu Ririn membersihkan papan, kini laki-laki itu langsung melenggang menjauh tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Eron yang melihat itu langsung mengernyit geli, "Kontrol tuh muka mesum! geli banget gue liatnya."


"Wajar Ron... wajar!"


"Mhhhh gimana kalau kita taruhan?" ajak Eron.


"Taruhan apa?"


"Lo harus pacarin murid baru itu, jika lo bisa maka akan gue kasih koleksi gundam limited edition gue!"


"Wah beneran nih? oke...oke gue setuju!" penuh semangat Dariel hendak menjabat tangan Eron.


"Deal ya? lo gak boleh curang!" tegas Eron.


"Deal!" ucap Dariel, "ehh tunggu-tunggu... jika gue kalah lo dapat apa dong? bukannya gue pesimis nih ya! Cuma nanya aja!"


"Ya sama, jika lo kalah maka gue dapat gundam terbaik lo!"


"Kampret lo!" decak Dariel, tapi sejurus kemudian, "yasudah lah... lagian gue yakin bakal menang!"


"Apapun kondisi cewek itu taruhan ini tetap jalan!" tekan Eron kembali.


"Iya... gue gak bakal mundur!"


Dan di sisi lain, Nevan yang mendengar itu hanya terdiam, ia seakan tidak perduli dengan sesuatu yang membuat seisi kelas bergemuruh, tangannya malah asik memainkan smartphone miliknya.


Hingga jam pelajaran pun di mulai, dan terlihat Ibu Siska tengah mengucapkan sepatah dua patah kata mengenai kehadiran murid baru di kelas itu.


"Oh iya, katanya murid baru ini sudah mengenal salah satu di antara kalian, berarti proses adaptasinya akan lebih mudah, Ibu harap kalian semua juga menyambutnya dengan ramah yaaa?" kata Buk Siska, hingga beberapa murid saling menatap bingung.


"Geonevan...! dia bilang mengenal kamu," ucapan itu seketika membuat Nevan menatap heran, dan seluruh siswi perempuan berdecak kesal.


"Kalau begitu kamu berperan penting untuk membantunya dalam proses pengenalan lingkungan sekolah, dan bagi kalian yang penasaran Ibu akan suruh dia langsung masuk lalu memperkenalkan diri... Jadi silahkan nak...."


Nevan langsung mengepalkan tangannya kesal, ia tidak menyangka jika Shasyania akan begitu berani mengaku sebagai kenalannya, "Cih! berani juga dia!"


Tap!


.


.


Tap!


Tap!


Semua pandangan mata mengarah ke depan saat langkah kaki itu terdengar semakin mendekat.