Mine ?

Mine ?
103 : Menghargai



Semenjak Shasyania meminta waktu untuk sendiri, maka selama itu Nevan tidak pernah mengganggunya, termasuk di sekolah, mereka seringkali berpapasan namun tak pernah saling menyapa.


Diam kembali menjadi tembok kokoh di antara mereka berdua, seakan tak ada usaha keras untuk menghancurkan pembatasan yang tak kasat mata tersebut.


Hingga percikan perselisihan itu mulai terbaca oleh Ririn dan juga Nita.


"Sha... mhhh, umhhh.. lo sama Geonevan marahan ya?"


"Enggak kok," sahutnya, namun dengan gerakan tangan yang masih asik menjawab soal matematika dari Pak Gunar.


"Bukannya kami sok ikut campur yaa, cuma aneh aja gitu.. udah beberapa hari ini gue perhatiin... kalian berdua.. berasa diam-diaman gitu...."


Tebakan Nita membuat Shasyania berhenti dari aktivitas menulisnya, dan mulai menatap kedua sahabatnya, "Nih, kalian buat dulu.. sebelum Pak Gunar balik ke kelas. Dan nanti.. kalian juga angkat tangan yaa, biar dapet nilai," ungkapnya, yang terkesan mengalihkan pembahasan diawal mereka, sembari menyodorkan buku latihan berwarna merah muda tersebut.


"Shaaaa...."


"Tenang aja Nit, kami baik-baik aja kok," sahut Shasyania, yang kembali berusaha untuk mengelak, "ohh iya, setelah selesai menyalin itu.. kalian jawab soal yang aku buat ini yaa, contoh soalnya sama kok kayak yang di kasih Pak Gunar, cara kerjanya juga sama persis, tinggal turutin aja! Kalian harus tahu, biar nanti gak bingung kalau ditanya...."


"Baiklah Buk Guru Shasyaaaa..," gurau Nita dan juga Ririn.


"Ehhh... tunggu dulu, kalian udah tahu belum soal film yang lagi booming akhir-akhir ini?" tanya Ririn, dengan tangan dan matanya yang masih sibuk mengcopy paste jawaban Shasyania.


"Ohhh iyaa..yaaa gue tahu! kemarin kakak gue sama pacarnya nonton! Nyebelin banget tahu gak! mereka spoiler mulu! rasanya pengen gue remas tuh mulut!"


"Nah... gimana kalau sepulang sekolah kita nonton?"


"Wah ide bagus tuh!" jerit Nita, yang langsung bersorak setuju, "ahaa... sekalian kita ajak para cowok biar makin rame gimana? Dan lo Sha, ajak tuh Geonevan.. nonton film horor bareng pasangan seru pasti!" sambungnya, seraya mengedipkan satu mata untuk menggoda Shasyania.


"Jelas seru... apalagi sepanjang film peluk-pelukan ciyeeeee! Dekapan Geonevan nyaman banget pasti!" ejek Ririn yang tak mau kalah.


.


.


.


.


.


"Apaaaaaaa?"


"Woi!! kontrol dikit tuh suara bisa gak sih? sakit nih kuping gue!" bentak Dariel, dengan satu tangan menepuk-nepuk telinganya, yang mulai memberi efek mendengung.


"Sumpah? serius? demi apa lo Geonevan nolak?" bukannya mengikuti perintah, Nita malah kembali mengeluarkan suaranya yang menggelegar.


"Ck! kalau gak percaya.. gih lo tanya sendiri!!!"


"Yaaahhh... padahal Shasyania ikut loh!" timpal Ririn.


"Namanya juga sibuk!"


"Gak-gak, gak bisa dibiarin nih! Rin, yok kita langsung tanya Geonevan! gue mau pastiin!"


"Okee!"


Kedua gadis itupun berniat mencari keberadaan Nevan, namun baru dua langkah menjauh, mereka langsung serempak berbalik badan, "Oh iyaaaaa Dariel yang cakep plus imut, Geonevan ada di mana ya?" tanyanya, dengan mimik wajah tersenyum namun terselip juga rasa malu di sana.


"Ruang laboratorium! Shasyania juga ada di sana! mereka lagiiii... lagi apa ya namanya itu? yaa pokoknya yang berhubungan sama olimpiade sains! intinya gitu!" tandasnya.


"Thank you for the information!"


"Sok-sokan bahasa inggris lo! tapi yaaaa... your welcome!!!"


"Yang penting bener!" seloroh Nita, lalu sepersekian detik kemudian gadis itu mencondongkan tubuhnya untuk lebih mendekat kearah Ririn, "Rin, yang gue omongin tadi bener kan?"


"Bego lo!"


...----------------...


"Yeess! kalau pasukan kita kayak gini peluang meraih mendali utama semakin tinggi nih! ayoo bernyanyi! Melambung jauh.. terbang tinggi.. bersama mimpi.... Terlelap dalam lautan MENDALIIIIII," sergah Yuki sambil mengcover sebuah lagu, dengan manik mata silih berganti menatap Shasyania dan juga Geonevan.


"Dasar biduan!"


Septi tak mau ikut berkomentar tentang aksi temannya itu, ia lebih tertarik bertanya pada kedua adik kelasnya, "Ini kalian berdua mau langsung masuk kelas atau ke kantin dulu? Ke kantin aja gimana? barengan sama kita! lagian kalau lambat juga gak masalah, kan ada pengecualian bagi murid yang lagi persiapan olimpiade!"


Bukannya menjawab Nevan malah bergegas membereskan buku-bukunya, dan bersiap untuk meninggalkan ruangan.


"Aku langsung ke kelas aja kak," jawab Shasyania, ia yang sadar tengah di tunggu Nevan langsung berdiri, lalu mengayunkan kakinya ke arah pintu keluar.


Hingga di luar ruangan sudah terlihat dua orang gadis yang sedari tadi menunggu kedatangan Geonevan, dan ketika melihat sosok itu, mereka mulai memangkas jarak untuk lebih mendekat.


"Geonevan, lo beneran gak ikut nonton? padahal Shasyania ikut loh! iyaa gak Sha?" todong Nita, tanpa basa-basi terlebih dahulu.


Sejenak Nevan melirik Shasyania, namun ia juga tidak bisa menunda rencana yang sudah ia susun untuk berkunjung ke kediaman Zeiqueen, hingga mau tidak mau ia harus menolak ajakan ini, "Lain kali aja, hari ini gue sibuk," jelasnya.


Jawaban Nevan lebih panjang dari biasanya, namun tetap saja kalimat tersebut memiliki makna yang sama, yakni penolakan.


Dan mendengar penolakan dari Nevan, membuat Shasyania berpikir apa perubahan sikap Nevan sekarang ini karena ucapannya yang menginginkan waktu sendiri, hingga membuat laki-laki itu mulai menjaga jarak diantara mereka.


Dan sejujurnya, masih sangat sulit untuk Shasyania menerima pemikiran Nevan terhadap sosok sang Ayah, bahkan luka kehilangan orang yang begitu ia sayangi belum sepenuhnya sembuh total, namun kini ia malah kembali mengetahui tentang tuduhan tak mendasar Nevan.


Shasyania berpikir ini sangat tidak adil bagi Ayahnya, yang sebenarnya pergi usai menyelamatkan satu nyawa, namun jasanya seakan tak berarti dengan tuduhan yang dilayangkan Nevan.


Belum lagi rasa gagal yang seringkali menyelinap masuk ke relung hati Shasyania, Ayahnya adalah sosok penyemangat yang akan selalu yakin dengan mimpi-mimpinya, namun belum sempat ia menyaksikan senyum kebanggaan, bersama rentangan tangan yang akan menyambut keberhasilannya nanti, justru kenyataannya malah sosok itu terlebih dahulu berpulang, dan hanya menyisakan sejuta kenangan yang akan terus membuatnya merasa rindu.


Pemikiran-pemikiran tersebutlah yang membuatnya enggan untuk memulai obrolan bersama Nevan, Shasyania merasa ia perlu waktu untuk berdamai dengan situasi tersebut.


Dan di sisi lain, Nevan mati-matian menahan diri untuk tidak memaksakan kehendak, ia takut jika Shasyania malah semakin kecewa, namun jelas, baginya diam dan membiarkan sang waktu menyembuhkan masalah mereka, bukanlah pilihan yang tepat.


Dua pemikiran yang sulit untuk disatukan, namun itulah perbedaan, kadangkala orang-orang terlalu sibuk merasa dirinya paling benar hingga menutup semua akses untuk mereka menerima jalan tengah, sampai situasi yang awalnya mudah terselesaikan menjadi semakin rumit oleh keadaan.


...****************...


"Shaa, tadi kamu nonton sama siapa saja nak?" tanya Liliana, ketika mereka tengah berada diruang tamu.


"Teman-teman dari SMA GUARDIANS Buk."


"Temen-temen? terus nak Nevan gimana? apa dia gak ikut?"


"Iyaaa."


Liliana mencerna jawaban Shasyania, dan terlihat jelas jika akhir-akhir ini ada yang mengganggu pikiran putrinya, maka dari itu Liliana berinisiatif untuk mengajak Shasyania mengobrol mengenai kesehariannya.


"Hmmm, rasa-rasanya udah beberapa hari ini Ibu gak liat nak Nevan main ke sini lagi Shaaa, tapi.. kalau diingat lagi siapa sosoknya itu, wajar saja sih, dia pasti sangat sibuk, belum lagi menghadiri pertemuan penting keluarganya, setau Ibu sih gitu...."


"Iyaaa Buk."


Dua kata dari Shasyania membuat Liliana semakin yakin, jika benar putrinya dan Nevan tengah mengalami suatu masalah hingga jarak diantara mereka begitu ketara.


"Kenapa Shaa? kamu baik-baik saja kan nak? sini coba cerita sama Ibu...."


Ucapan Liliana mengundang genangan di pelupuk mata Shasyania, ia bahkan sampai memalingkan wajah untuk sesegera mungkin menyeka air mata, namun dengan sigap Liliana langsung merangkul bahu putrinya.


"Buk..., Ge..geo...nevan, dia sudah berpikir yang enggak-enggak tentang Ayah, Shasyania gak bisa menerimanya Buk, ini sangat menyakitkan untuk Shasya. Ayah pergi di saat Shasya belum bisa membuktikan diri, Shasyania selalu bermimpi jika suatu saat nanti bisa membahagiakan kalian berdua, tapi nyatanya... Ayah udah gak ada!!! Shasya gak bisa lagi liat Ayah dan peluk Ayah... Shasya sayang Ayah Buk, Shasyania mau liat Ayah merasa bangga, dan tersenyum melihat impian Shasya yang sudah terwujud. Karena setiap kali Shasya cerita, Ayah selalu bilang Shasya pasti bisa! Shasya kangen Ayah Buk, Shasya cuma gak terima! Shasyania gak terima dengan tuduhan yang dilayangkan untuk Ayah!"


Kini Liliana mengerti masalah apa tengah terjadi diantara kedua remaja itu, dan sebisa mungkin ia berusaha untuk meredam kekecewaan Shasyania, "Shaa, Ibu tahu Shasya sayaaaaang sekaliii sama Ayah! tapi Shaaa... menyalahkan nak Nevan seperti ini, itu juga bukanlah tindakan yang benar nak...."


"Tapi Buk, Geonevan berpikir__,"


"Ibuk tahu Sha, Ibuk tahu semuanya!"


Shasyania melonggarkan pelukannya dengan tatapan penuh tanya, yang membuat wanita paruh baya itu langsung menjelaskan semua.


"Shasya tahu? jauh sebelum hari ini, nak Nevan sendiri yang sudah cerita langsung ke Ibuk, dia menceritakan semua, Seeemuanyaaa... bahkan nak Nevan sampai bersujud meminta maaf atas segala perlakuannya padamu.. pada Ibuk dan juga pada Ayah. Hari itu Ibuk juga marah, kesal, tapi Ibu memberi kesempatan untuknya menjelaskan, dan setelah mendengar sudut pandangnya Ibu mulai memahami keadaan nak Nevan, ini sama beratnya untuknya Shaa. Bisa kamu bayangkan nak, apa-apa saja yang sudah dialaminya sebagai satu-satunya pewaris keluarga Eldione, dia pasti banyak dituntut untuk menjadi seseorang yang begitu tangguh, tidak mudah terperdaya, dan ketika tiba-tiba saja ada orang yang merenggut hak Ayahnya, itu pasti membuatnya merasa kesal juga kan Sha?" Liliana menjeda ucapannya, sembari mengusap jejak air mata di pipi Shasyania,


"Ikatan yang dibuat diantara kalian juga sama mengejutkannya untuknya Shaa, hingga membuat nak Nevan berpikir yang tidak-tidak, tapi yang terpenting sekarang.. dia telah mengetahui kebenarannya kan Shaa? dia sampai bersujud, dan itu tidaklah mudah untuk seseorang yang terlahir dengan latar belakang sepertinya. Nak Nevan sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya, bukankah itu harus kita hargai juga, mhh?"


Diamnya Shasyania membuat Liliana kembali bersuara, "Ibu tanya sekarang, apa Shasya sudah mendengar penjelasan dari nak Nevan?" dan lagi-lagi Shasyania hanya diam, sembari menyeka air matanya, "Shasya tidak memberi nak Nevan kesempatan untuk menjelaskan semuanya.. benar begitu? apa Ibu benar nak?" Liliana terus bertanya untuk melihat reaksi putrinya.


"Iyaa Buk, Shasya tidak memberi Geonevan kesempatan untuk menjelaskan...."


Liliana mengangguk paham, seraya mengelus kepala putrinya, "Meskipun Ibu yakin.. Shasyania pasti tahu akan hal ini, tapi Ibu harus menjelaskannya lagi, karena amarah selalu mampu membuat seseorang tidak bisa berpikir jernih. Jadi dengar ini nak, dalam hubungan.. komunikasi adalah hal yang paling penting, dan ketika tidak memberi salah satu kesempatan untuk bicara dan menjelaskan semua, itu merupakan keputusan yang sangat keliru nak!" tegas Liliana, "salah dan benar tidak selalu menjadi inti dalam perdebatan, karena terkadang.. mampu memahami untuk saling mengerti, adalah jawaban dari permasalahan itu sendiri!" pungkasnya.


"Maafin Shasyania Buk...."


"Berkubang dan berlarut-larut dalam kesedihan, bukan hal itu yang diinginkan Ayah untuk hidupmu Shasya, berbahagialah untuk membuat kami bangga!! Ibu gak maksa Shasyania harus bersama nak Nevan, tapi menghindari permasalahan yang hanya akan membuatmu semakin bersedih seperti ini, itu juga bukanlah pilihan yang tepat nak!"


"Iyaa Buk.. Shasya mengerti...."


"Kita di sini saling menguatkan Shasya... kadang Ibu juga bisa keliru.. dan Shasyania lah yang memberi Ibu masukan, seperti itulah sekarang, yang terpenting kita mau berusaha untuk memperbaiki semuanya, iyaa nak?"


"Iyaa Buk, makasi... dan besok setelah Shasya pulang dari kantor NJL, Shasya akan langsung menemui Geonevan."


"Selesaikan permasalahan kalian dengan kepala dingin, tapi... jangan terlalu dingin juga, entar kalian malah membeku lagi," gurau Liliana.