
Setelah gelar juara di peroleh, sambutan demi sambutan silih berganti berkumandang. Shasyania menjadi idola baru yang begitu di kagumi di SMA GUARDIANS.
"HEI-HEI, YANG TADI GEMBAR-GEMBOR BILANG SMA GUARDIANS KENA JEBAKAN MANA? KALIAN LIAT GAK SEKARANG JUARANYA MILIK SIAPA?" salah satu siswi bersuara lantang, saat para pendukung SMA ERLANGGA perlahan membubarkan diri.
"IYAA NIH! MAKAN TUH KEMENANGAN PALSU!"
"MAKANYA JANGAN SOK IYE DULU! MALU KAN SEKARANG HAHAHA!
"TADI JUGA ADA YANG BILANG MISI SUKSESKAN? SUKSES YANG MANANYA KAMPRET! KOAR-KOAR BILANG REKRUTAN GAGAL! SINI-SINI BILANG LAGI, BIAR GUE TUTUP TUH MULUT PAKEK SEPATU!"
"REKRUTAN PERTAMA EMANG SENGAJA BUAT SMA ERLANGGA CENGAR-CENGIR, TAPI LIAT REKRUTAN TERAKHIR, SUKSES JUGA KAN BUAT KALIAN KETAR-KETIR!"
"Sudah-sudah jangan diributin lagi!"
"GAK BISA GITU DONG! PERAYAAN INI HARUS DIRAYAKAN TUJUH HARI ENAM MALAM DEPAN MUKA SUPORTER KAMPUNGAN MILIK SMA ERLANGGA!
"Keras banget sih mainnya!"
"HARUS! INI NAMANYA HARGA DIRI! APALAGI SEMESTER LALU MEREKA DULUAN YANG NYARI RIBUT!
"Woi, minggir-minggir! kasih ketua gue lewat!" seru Miko, laki-laki itu berlagak seperti bodyguard yang bertindak memberi ruang untuk Gemmi terus berjalan ke depan.
"Buset gede banget tuh buket!"
"Aaaaaa...Gemmi sosweet banget sih!"
"Mereka pacaran ya?"
"Si Gemmi juga pindah kelas kan? jangan-jangan karena Shasyania!"
"Iri banget deh!"
"Serasi kok!"
"Kemarin sama Geonevan sekarang sama Gemmi, jangan semuanya di embat dong!"
"Cantik mah bebas!"
"Pantes chat gue gak pernah di bales! ternyata udah punya gebetan baru, huuhh!"
"Kayaknya mereka pacaran deh, sempet gue liat Gemmi bonceng tuh cewek!"
"Oh iya! Bahkan di pesta Dariel, mereka berdua datangnya barengan kan!"
"Fix ada something!"
Para siswi asik bergosip ria, mereka menerka-nerka hubungan di antara kedua remaja yang terlihat saling menatap.
"Gue yang naik atau lo yang turun?" suara bariton Gemmi terdengar begitu jelas, namun orang yang ia ajak bicara justru terdiam, "baiklah! karena gue terlahir sebagai laki-laki gentleman, jadi biarkan gue yang menghampiri!" imbuhnya, seraya melangkahkan kaki mendekati anak tangga.
"Rin Rin, jangan bilang tuh anak mau nembak si Shasya!" resah Nita sampai mengguncang bahu sahabatnya, pandangan gadis itu lalu mengedar mencari sosok Nevan, "Rin, Geonevan gak nonton ya?"
"Mana gue tahu Nita!" sahut Ririn, "tapi iya sih, dari tadi gue gak liat dia!"
"Kenapa dia gak nonton sih!" kesal Nita, sampai berdecak bibir.
"Yaelah Nit, yang suka itukan bukan dianya, jadi gak ada alasan buat manusia dingin itu untuk nontonin Shasyania! lagian sekarang gue jadi mikir, ketimbang Shasya sama tuh orang mending dia sama Gemmi aja!"
"Lo gimana sih! Shasya sukanya kan sama Geonevan! gue akui Gemmi gak kalah menarik tapi lo tahukan, tuh anak banyak banget punya gebetan bahkan mungkin pacar, jadi gue gak rela jika Shasyania dapetin orang kayak gitu!"
"Terus lo pikir Geonevan yang tak terjamah itu bisa Shasyania miliki? Lo mau Shasya terus di rendahin sama dia! yang ada Shasyania bakalan menderita sama tuh orang! Makan hati mulu dengerin ucapan dia!" oceh Ririn.
"Gue yakin Geonevan bakal berubah, pesona Shasya gak mungkin terus-menerus dia tolak!"
"Ehh Urnita Qiolin, si tukang biro jodoh! denger ya! yang nyari Geonevan bukan hanya Shasyania! gue yakin barisan wanita cantik selalu menggerayangi dia, tapi sampek sekarang gak ada tuh yang bisa menaklukkannya! Jadi realistis aja, cari yang pasti dan Gemmi salah satunya!"
"Itu karena yang lain emang bukan jodohnya!"
"Terus Shasyania jodohnya gitu? Penguasa langit lo sampek yakin banget!" cibir Ririn, "gue dukung Shasyania sama Geonevan, tapi makin ke sini rasanya makin susah, Shasyania bukan orang yang mesti mengemis-ngemis cinta, dia bisa mendapatkan yang lebih baik, dan tentunya juga menyayangi dia!"
"Pokoknya kita dukung dulu dia sama Geonevan!"
"Tunggu, kenapa kita yang jadi perang urat saraf sih!" heran Ririn, saat ia merasa dirinya dan Nita mulai melibatkan emosi di setiap perkataan mereka.
Eron yang di tanya lalu mengalihkan pandangannya kesamping, namun kursi yang sedari tadi di duduki oleh Nevan terlihat kosong tanpa adanya sosok itu lagi.
"Kapan dia perginya? kok main ngilang aja tuh anak!" sentak eron.
"Lah, harusnya dia ngeliat ini!" kekeh Dariel, dengan pandangan menghunus menyaksikan sebuah drama di depan sana.
Gemmi sudah berdiri tepat di hadapan Shasyania, sekilas ia tersenyum, lalu telunjuknya mengarah agar padangan gadis itu melihat bunga yang tersusun indah menjadi sebuah buket besar.
"Lo tahu itu bunga apa?" tanyanya, memancing respon Shasyania.
"Bunga bangkai kan?" sahutnya bergurau, hingga Gemmi mendengus tidak percaya seraya membuang muka.
"Baru Lima detik yang lalu gue terpesona sama kehebatan lo, tapi sekarang lo bikin gue ragu!" jawabnya santai, dengan satu alis terangkat ke atas, "kita ulang lagi ya. Bunga apa?"
"Bunga sedap malam," sahutnya, yang kembali terdengar mengada-ada.
Ingin Gemmi mengumpat kesal, namun sebisa mungkin ia tahan, laki-laki itu tahu Shasyania tidak sebodoh itu sampai tidak tahu, hingga pandanganya kembali menatap gadis di hadapannya lalu, "mungkin karena efek sering di rayu makanya lo mengelak mulu! yasudahlah, ketimbang gue makin mati gaya di sini, mending langsung aja. Ini berisikan seribu tangkai bunga lotus, bunga yang memiliki makna perjuangan, meskipun hidup di dalam lumpur tapi bunga ini terus berjuang untuk memperlihatkan keindahannya ..."
Ucapannya ia jeda, sembari menggigit bibir bagian bawah, "Hmmm seharusnya kata-kata ini akan terdengar lebih indah saat lo kalah, dan usaha gue gak akan sia-sia buat lo terharu."
"Kamu menginginkan kekalahan?"
"Tidak! bukan seperti itu! awalnya gue pikir lo akan kesulitan di kondisi seperti ini, dan gue gak mau lo bersedih karena itu, jadi ketika gue memberi ini, gue berharap lo seperti bunga lotus, meskipun berada di keadaan paling sulit sekalipun, lo tetap menegakkan kepala, berjuang, hingga keindahan lo terpancar bagi orang-orang yang tepat. Tapi sekarang karena lo menang, maknanya jadi kurang kerasa, namun ketulusan gue masih tetap sama, dan ini untuk lo Shasyania," imbuhnya, dengan senyum mematikan, hingga lesung pipi yang menghiasi sebelah pipinya terlihat jelas memancarkan kesejukan.
"Terimakasih Gemmi, terimakasih atas dukungan ini," ujar Shasyania.
"Kalau gue maju satu langkah gimana?"
"Maka aku akan mundur selangkah."
Tawa Gemmi terdengar nyaring, di sela-sela perkataannya, "Kali ini mungkin lo masih bisa menghindar, tapi besok atau nanti lo bisa aja mati langkah," terangnya.
Mereka berdua sukses menjadi objek dari beberapa orang yang masih berada di dalam Aula. Tak jarang ada teriakan-teriakan iri bahkan menggoda, namun kedua orang itu memilih untuk mengabaikannya. Hingga sebuah suara terdengar dari arah belakang Shasyania.
"Shasyaa...," seru Anggi, gadis itu tidak sendiri, di belakangnya ada Tiga orang yang mengikuti, "selamat yaa," imbuhnya, sambil menghambur memeluk Shasyania.
Seakan tidak mau kalah, Wiwin ikut bergabung dalam dekapan hangat kedua sahabatnya itu, "Sha, entar kamu ikut foto bareng ya," ajaknya yang terdengar memelas.
"Tapi Win, aku bukan lagi bagian dari MERPATI."
"Siapa bilang? kamu selalu bagian dari kita. Kamu menang untuk siapa itu tidak penting, yang jelas persahabatan kita tetap sama, dan MERPATI akan tetap menerima kehadiranmu Sha!"
"Betul banget! ikut aja Sha, semua pasti senang jika kamu bergabung!" Yoga menimpali perkataan Nanda, mereka berdua menyakinkan jika semua masih tetap sama.
"Heemm!" Gemmi berdehem.
"Oh iyaa, kenalin ini Gemmi teman sekelas aku yang baru," Shasyania mulai mengenalkan Gemmi, dan lirikan matanya mengisyaratkan agar laki-laki itu mau menjabat uluran tangan para sahabatnya.
"Gemmi!" sahutnya tajam.
Setalah Wiwin menjabat tangan Gemmi, gadis itu sengaja menyenggol lengan Shasyania dengan ekspresi menggoda, "Ciye ciye, udah punya nih!" bisik nya.
Shasyania menggeleng cepat, namun Wiwin bukan tipe orang yang mudah percaya.
"Gak usah malu Sha, udah wajar kok, lagian dia manis mana ganteng lagi, badannya juga T O P B G T!"
"Pacar sha?" tanya Anggi.
"Bukan!" tegasnya, karena ia tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman.
"Calon! gue calon pacarnya!" pungkas Gemmi, dan perkataannya itu mengudang reaksi tidak suka dari Nanda dan Yoga.
Gemmi melihat Shasyania akan bersuara, namun ia terlebih dahulu mencuri haluan, "Tidak seorang pun mengetahui ke depannya bakal gimana! Ucapin aja terus mana tau malaikat lewat dan keinginan gue jadi nyata!" Laki-laki itu menyadari jika ucapannya kembali tidak di sukai oleh dua orang lainnya, "Kalian suka sama Shasyania kan? Wajar! sebagai lelaki naluri kita kuat untuk menyukai lawan jenis, apalagi model kek Shasyania. Jadi mari sama-sama berjuang!" imbuhnya dengan nada menantang.
Seakan kehabisan kata-kata Yoga dan Nanda tidak menanggapi ajakan Gemmi, mereka mengalihkan pembicaraan dan menatap sahabatnya yang lain.
"Yok kita foto dulu! kasian yang lain pada nungguin lama," ucap Yoga, seraya menuntun para sahabatnya untuk berjalan menuju tempat dimana suporter dan peserta SMA MERPATI berkumpul.
"Cih kurang sopan! untung mood gue lagi bagus!" ketus Gemmi.