
Cuaca di Kota J hari ini mendung berawan, dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Beberapa murid memilih untuk tetap berdiam di dalam kelas, dan hanya menggunakan jasa titip untuk membeli makanan yang akan mengganjal perut mereka di saat jam istirahat masih berlangsung.
"Jangan coret semua anj.r!" Gemmi melayangkan protesnya kepada Wilkan, yang masih terlihat asik menggambar pola abstrak di gips yang tengah terbalut di tangannya.
"Diem dulu napa! jangan merusak isi dari mahakarya gue! bisa aja hasilnya gak maksimal nih!"
"Wah..., dia gambar tit.t tuh Gem!" jerit Miko, hingga Gemmi memicingkan matanya tajam.
"Sialan lo!"
"Sembarangan lo Ko! lo liat dulu sini, mana ada gue gambar tit.t! Pikiran gue masih waras buat bedain mana tempat yang layak buat gambar begituan!" bentak Wilkan, yang langsung melayangkan bogem mentahnya ke lengan Miko.
"Yeee gue kan cuma nebak aja tadi! Gambar lo kurang jelas sih," selorohnya memberi penjelasan kepada kedua orang tersebut.
"Itu gips kapan di lepas sih? gregetan gue liatnya," tanya Ririn, karena ketiga orang itu sangat berisik di belakang bangkunya.
"Entar juga gue lepas."
"Emang tangan lo udah baikan?"
"Yaelah buat nonjok orang juga tangan gue masih sanggup!"
"Gue percaya itu! karena dia adalah ketua Geng PS! Bagaimanapun kondisinya, sekalipun tangan dia masih di gips itu gak akan mengurangi rasa sakit akibat pukulan maut dari seorang Gemdominic!" seru Miko, menyombongkan kekuatan sang ketua.
"Preeeettt kuat? tapi kok tepar? mana tangannya di balut lagi!" ledek Nita, hingga membuat Gemmi refleks menatap gadis yang tengah memasang wajah cemooh kepada dirinya.
Reaksi itu membuat Nita tiba-tiba terdiam menelan ludah, ketika sorot mata Gemmi semakin tajam, hingga tanpa sadar membuatnya bergidik ngeri menyaksikan ekspresi bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.
Tingkah Nita seketika kikuk di tambah dengan cengar-cengir yang begitu kaku, "Bercanda Gem bercanda! lo mah gitu baru keluar dari Rumah Sakit langsung sensitif!"
"Takut kan lo? baru di pelototi gitu aja udah jiper!"
Sindiran dari Wilkan tersebut membuat kedua alis Nita terpaut sebal, sampai gadis itu mendesis kesal.
"Ehh... nanti pulang sekolah kita beli perlengkapan buat besok yuk?" seru Ririn, namun tak ada satupun yang merespon ajakannya, hingga ia beralih menatap Shasyania, "Sha..., lo ikut kan entar?"
Shasyania yang sedari tadi sibuk membersihkan sampah kuaci di mejanya langsung melirik, "Maaf Rin, aku gak bisa ikut."
"Yahh gak seru dong!"
"Oh yaa Sha, jaket putih milik lo itu bukanya produk NJL yang baru rilis kemarin ya? wah keren banget lo bisa langsung dapet!" ucap Dino, sambil meminta ijin untuk memegang produk yang selalu menjadi incarannya.
"Ohh iya Din."
Bukannya bermaksud untuk irit bicara, namun Shasyania bingung harus menanggapi seperti apa, karena berkata jujur juga tidak mungkin.
"Orang kaya mah bebas apalagi model-model kayak gitu emang paling pas di pakai Shasyania!" ujar Baru menimpali.
"Masuk terus dasar caper!" sentak Nita.
Suasana berisik di tambah dengan derasnya air hujan menyatu sempurna, hingga menciptakan suara bising bagi orang yang tengah memerlukan ketenangan untuk tidur siang di dalam kelas. Iya dia adalah Dariel, laki-laki itu menelungkup kan wajahnya di sela-sela lipatan jaket.
Kantuk berat tengah melanda matanya, akibat kemarin malam setelah pesta ia melanjutkan bersenang-senang di tempat karoke bersama teman wanitanya.
Kegaduhan itu seakan tak cukup untuk mengetes kesabaran Dariel, hingga sebuah ketukan pintu ikut menariknya kembali sadar dari mimpi yang sempat hadir, dan tidak hanya dia, bahkan seluruh murid di dalam sana juga harus memfokuskan perhatian mereka pada objek hidup yang tengah memasuki ruangan tersebut.
Di depan sudah terlihat Buk Dayu selaku Guru BK dan Tiga orang Kakak kelas lainnya berdiri tegak, dan tentunya semua murid sudah tahu siapa orang-orang itu, mereka adalah siswi yang tergolong aktif untuk kegiatan sekolah, apalagi yang paling menonjol adalah siswi dengan rambut tergerai panjang berwarna hitam alami, dia adalah Septi Linkara, perwakilan Puteri sekolah SMA GUARDIANS.
"Kelas XI IPA 1, di sini ada siswi yang bernama Dinesclara Shasyania?" tanya Buk Dayu, namun mata wanita itu seakan memperlihatkan jika sebenarnya ia sudah mengetahui kalau siswi yang ia maksud memang berada di kelas tersebut.
"Shasyania..., sekolah ini memerlukan partisipasi kamu! jadi Ibu harap kamu mengikuti Ibu menuju ruang kesenian di lantai Tiga."
Hanya menganggukkan kepala tanpa bertanya, itulah yang dilakukan Shasyania. Gadis itu berjalan mengikuti keempat orang di depannya.
"Wah ada apa nih?"
"Gue rasa si Shasya bakalan di suruh ikut gabung buat lomba besok!" tebak Baru, laki-laki itu langsung menuju bangku Nita dan Ririn.
"Rin gimana nih?"
"Gimana apanya? Bukannya lo yang sedari dulu ngebet banget pengen si Shasya ikut dalam lomba itu!"
"Iya tapi gak gini juga! ini mah namanya mendadak apalagi lombanya itu besok! Mana mungkin Shasya bisa menyesuaikan diri dalam sehari!"
"Gue sepemikiran sama lo Nit! cantiknya Shasyania emang gak usah di ragukan lagi tapi kemampuan dia kan belum teruji, apalagi dalam lomba kayak gini! Bisa-bisa mental dia tertekan besok!"
Dino yang sudah berada di perkumpulan tersebut juga mengangguk setuju, "Iya! dan gue malah jadi kasian sama si Shasya! Kalau gak ada persiapan sama sekali bisa aja setelah lomba ini dia bakalan malu ketemu orang!"
"Kenapa harus malu?" sentak Gemmi.
"Mmmhh, malu karena mungkin aja kan dia gak bisa jawab atau malah grogi di atas panggung! Dan lagian lawan-lawannya besok pasti udah berpengalaman semua! setidaknya mereka udah pernah di ajari sebelum lomba! Nah kalau si Shasya sehari mana mungkin! syukur-syukur dia bisa jawab kalau diem aja bisa-bisa jadi bahan sorakan dan tentunya itu akan membuat mental dia seketika down!"
"Gue gak akan biarin hal itu terjadi!" tegas Gemmi, lalu pandangannya mengarak ke Wilkan, "Wil!"
"Yes Gem?"
"Buat pengumuman di group PS, besok semua anggota harus hadir di SMA GUARDIANS! suruh mereka bawa perlengkapan untuk dukung Shasyania! Jangan sampai ada yang gak dateng atau mereka akan berhadapan sama gue!"
"Siaapp!"
"Betul! besok gak akan ada yang berani meremehkan Shasyania! Siapapun yang menantang maka mereka akan mendapat tatapan tajam dari mata elang milik geng PS!" seru Miko.
"Bisa atau enggaknya dia menjawab besok, pokoknya semua harus bersorak meneriaki nama Shasyania! Bila perlu tabur bunga sekalian! Mengerti!" pungkas Gemmi.
"Siap mengerti, siap laksanakan ketua!" ujar Wilkan dan Miko bersamaan.
"Ehh tapi...tapi ada yang bilang gak bisa hadir nih Gem!"
"Siapa?"
"Adi, katanya ibunya lagi di rawat intensif!"
"Oh..., kalau mereka memiliki alasan kuat, maka ijinkan untuk gak hadir!" sahut Gemmi.
"Okee!"
"Rin meskipun Shasyania mendapat dukungan tapi perasaan gue masih ketar-ketir nih! Lagian kenapa nyuruhnya mendadak gini sih!" resah Nita.
"Nih...nih gue tahu alasannya," ujar Ririn seraya memperlihatkan smartphone miliknya.
"Wah pantes! ternyata Kak Ayu sakit jadi mereka butuh pengganti cepat!" seru Dino.
Asik berdiskusi sampai mereka tidak menyadari kehadiran Guru yang sudah memasuki ruangan kelas. Dan hal itu sukses membuat murid-murid itu berlari dan langsung duduk manis di bangku masing-masing.
~Mohon dukungannya ya agar lebih semangat up, karena satu dukungan pun sangat berarti bagi penulis agar imajinasinya lancarš¤£~