Mine ?

Mine ?
32 : Mine?



Suara hentakan sepatu terdengar begitu nyaring di atas lantai dansa, dengan di iringan lagu jaz terlihat beberapa pasangan bergerak lincah mengikuti irama, maju dan mundur, berpegangan tangan hingga berputar-putar penuh tawa.


"Sempurna!" Tatapan mata Gemmi begitu lekat, memandang wajah gadis yang jaraknya begitu dekat dengan dirinya, bahkan hembusan nafas dari laki-laki itu mampu menerpa halus kulit wajah Shasyania.


"Grogi? jangan salting gitu napa! baru juga permulaan," goda Gemmi dengan suaranya yang begitu ngebas, "gue tahu, lo mengagumi wajah gue kan? udah gak usah mengelak lagi semua sudah tergambar jelas!"


Begitu percaya dirinya seorang Gemmi menebak isi kepala dari Shasyania.


"Ngaco!" sahutnya tegas, dengan tatapan mata yang tak kalah tajam.


Gemmi terkekeh mendengar jawaban singkat dari Shasyania, hingga tangannya bergerak cepat memencet pangkal hidung mancung milik gadis yang kali ini menatapnya semakin tajam, seakan siap menelan Gemmi hidup-hidup.


"Lo kenapa?" tanya Dino saat melihat Baru sedari tadi sibuk meneguk minuman beralkohol, bahkan itu merupakan gelas kelimanya.


Baru hanya menggelengkan kepala, ia bisa menghindar dari pertanyaan Dino, namun raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa pedih yang tengah menyayat hatinya.


Berbeda dengan Baru, Nevan justru terlihat menikmati kesendiriannya, ia duduk di sebuah mini bar sambil meneguk minuman berwarna merah.


"Gila cantik banget tuh cewek! tapi sial si Gemmi jadi pawangnya!"


"Bukan hanya Gemmi, Dariel juga ikut bagian tuh!"


Mendengar obrolan dari beberapa pengunjung membuat Nevan bereaksi dengan senyum mengejek, "Dasar tidak tahu diri!"


Saat merasa suasana semakin membosankan Nevan memilih untuk keluar mencari angin segar. Ia duduk bersandar di sebuah bangku taman sambil menatap beberapa bintang di atas sana dan itu merupakan pilihan terbaiknya. Saking asiknya menikmati suasana sampai membuatnya tidak menyadari jika ada panggilan masuk.


"Lo gak pernah dansa ya?"


"Iya, ini yang pertama."


"Pantes! kaki gue sampai sakit semua karena injakan lo nih," sindir Gemmi, "badan ramping tapi pas nginjek BUSEEETDAH rasa sakitnya kayak ketiban beban 5kg!" imbuhnya melebih-lebihkan.


"Semua atas kemauan kamu kan? jadi nikmati rasa sakit dari apa yang sudah kamu pilih!" tegas Shasyania hingga membuat Gemmi menelan ludah.


"Hey Shasyaaa...!"


Ririn yang berada di samping Nita langsung menutup kuping, "Kontrol dikit itu suara bisa gak sih? ini tuh kita lagi di ruangan bukan lagi di hutan!"


"Yaelah Rin..., lo kayak gak tau aja, rumah si Nita kan di antah berantah! volume segitu udah paling rendah bagi dia!" Gemmi ikut menyindir sambil menaikkan satu alisnya.


"Berisik!" sergah Nita, "cantik banget kamu Shaa," pujinya.


"Kamu juga cantik Nit!"


Gemmi berdecak bibir, seperti tidak terima dengan ungkapan Shasyania, "Gak usah basa-basi lo Sha! dia cantik dari mananya cobak? bahkan skin care terbaik aja gak bisa membantu muka borosnya!"


"Heehh lo pikir lo ganteng? muka dekil gitu aja bangga! Senjatanya cuma lesung pipi doang!" omel Nita yang tampak semakin kesal, ia mendesis sambil mengambil sodoran minuman dari seorang pelayan.


"Yang penting ada nilai plus dari tubuh gue! lo tahu sendiri kan berapa cewek yang udah terkapar-kapar karena pesona gue! Gue ini hitam manis EKSOTIS! produk langka nih BOS! otak lo yang seukuran biji kedelai mana ngerti!"


Gemmi terus memancing kekesalan dari seorang Nita, hingga dengan jengkelnya gadis itu langsung menginjak kaki Gemmi yang sudah terasa sakit tersebut.


"Kampret!" Gemmi meringis kesakitan.


Setelah meneguk habis isi gelas yang ia pegang, Nita langsung menarik tangan Shasyania dan Ririn bersamaan, ketiganya meninggalkan laki-laki yang masih tertunduk menahan rasa sakit di sekujur kakinya.


"Shaa gue serius lo itu cantik banget! dan lo lihat itu gak?" Nita menunjuk seorang gadis di depan sana, yang memakai dress berwarna merah muda, "dia adalah Kak Septi anak IP__,"


Teplakk!


Sebuah pukulan membuat tangan Nita yang sedari tadi menunjuk-nunjuk langsung turun seketika, "Lo mau jelasin apa sih Nit sampai nunjuk segala! nanti di liat di kira kita nyari masalah lagi!" sentak Ririn memperingati, ia tidak mau sampai ada yang salah paham.


"Gue cuma mau jelasin jika Shasyania ini cantik di tambah dia memiliki aura kuat untuk memenangi kontes Putri Sekolah, dan orang yang gue tunjuk barusan adalah perwakilan sekolah kita tapi cuma sampai juara Tiga dan itupun masih di bawah SMA ERLANGGA," cibirnya dengan memperlihatkan mata malas.


Ririn menghela nafas, "Yaelah lo masih bahas soal itu? Udahlah kalau shasya nya gak mau jangan di paksa Nit!"


"Tapi kan kasian Rin!"


"Kasian apanya? cantiknya? heh denger ya! bukanya malah gak bagus jika Shasya melakukan sesuatu tapi bukan karena kemauannya sendiri, dan itu lebih kasian ke Shasya nya tahu!"


Nita yang mendengar penjelasan Ririn langsung mengangguk mengerti. Ia setuju jika hal yang di paksa tidak akan berujung baik.


"Tapi gue denger juga katanya si Jiana ikut daftar!"


Nita yang mendengar itu langsung memperlihatkan sorot mata terkejut, "Jiana? yaa gue akuin dia cantik, putih bersih malahan tapi masih kalah jauhlah sama Shasyania!" tegasnya.


"Denger-denger katanya di sekolah lamanya dia juga finalis cuma kalah hoki aja pas hari H!"


"Dan yang ini gue yakin dia ngibul garis keras!"


Drrrrtttt! drrrrrttt!


Suara telephon berdering membuat Shasyania segera merogoh tas genggam yang sedari tadi ia bawa. Kakek Toreno, itulah nama yang tertera di panggilan tersebut.


"Hallo selamat malam Kakek...."


"Hallo Shasya..., bagaimana kabar kamu?"


"Kabar Shasya baik Kek, bagaimana dengan Kakek?"


"Tentu saja baik, Oh iya Kakek dengar kamu menghadiri pesta Dariel, apa kamu dan Nevan berangkat bersama?"


Shasyania menggigit bibir bawahnya, ia bingung harus menjawab apa.


"Shasyaa?"


"Ohh Maaf Kek, Shasya dan Nevan berangkat sendiri-sendiri, itu karena Shasya ada kesibukan jadinya tidak bisa berangkat bersama."


"Loh tapi kenapa Nevan bilang ke Kakek jika kalian berangkat bersama?"


Deg!


Perasaan mencekam mulai menjalar di sekujur tubuh Shasyania.


"Nevan di sana kan? tolong berikan telpon ini padanya, katakan Kakek ingin berbicara!"


Ini adalah hal yang paling ingin Shasyania hindari, kerena bertemu Nevan sama halnya dengan menantang adrenalin, namun sialnya situasi selalu memaksanya untuk mendekati laki-laki itu. Pandangan matanya mengedar mencari sosok Nevan, ini akan lebih sulit mengingat ramainya orang yang berada di pesta tersebut.


"Kek, baterai handphone Shasyania mau habis, Shasya matikan dulu ya? nanti setelah bertemu Nevan Shasya akan hubungi kembali."


"Baiklah Kakek tunggu."


Panggilan itupun terputus dan dengan langkah tidak karuan Shasyania mencari keberadaan seorang Geonevan.


Hampir Sepuluh menit Shasyania tak kunjung melihat Nevan sampai akhirnya sebuah suara membuatnya menemukan titik temu atas apa yang tengah ia cari.


"Geonevan ganteng banget kan! tapi sayang galaknya minta ampun. Tadi pas gue liat dia di bangku taman, niat gue cuma nawarin minuman tapi gue malah di semprot habis-habisan! tapi gue malah makin sayang..., gimana dong?" ucap salah satu tamu undangan kepada kumpulan temannya.


Tidak lagi menunggu, Shasyania langsung bergegas keluar mencari letak taman tersebut. dan dari arah belakang sebuah punggung terlihat bersandar, Shasyania yakin jika itu benar Geonevan. Langkahnya sedikit tersendat, namun ia tidak memiliki pilihan lain lagi.


"Geonevan...," sapa nya.


Sekilas mata Nevan menatap lalu berdiri tegap mengayunkan kaki meninggalkan Shasyania.


"Geonevan tung__,"


Belum sempat Shasyania berucap, laki-laki yang tadinya sudah berjalan menjauh tiba-tiba berhenti.


Tatapan mendelik penuh amarah, "LO! jangan pernah berdiri di samping gue lagi! Parasit!" bentak seorang Geonevan Akhilenzyn Eldione.


Suara itu membuat Shasyania berdiri kaku, air matanya tiba-tiba keluar, "Maaf aku cum__,"


"Cuma apa haahh? Menggoda siapa saja agar lo di kasiani? menjerat orang-orang dengan memanfaatkan wajah lo itu? Bahkan Kakek gue sampai terperdaya! itu yang lo maksud? ohh atau itu yang sedari awal lo mau?" selidiknya tajam, "lo masih ingatkan tentang semua yang pernah gue katakan? itu masih berlaku sampai sekarang! Gue gak pernah main-main dengan ucapan gue MENGERTI! Jadi, jika lo masih menginginkan ibu lo tersenyum maka jaga sikap lo ke gue! jangan sok akrab!"


"Apa salahku?" Entah keberanian dari mana Shasyania berani bersuara.


Nevan menggeretakkan giginya, "Lo nanya lo salah apa? Siapa lo sampai buat posisi gue tergeser? Bahkan karena lo Bokap gue juga ikut kena sasaran! sebelum ada lo hidup gue damai tapi semenjak lo hadir semua seperti petaka!"


"Tapi itu bukan salahku dan jangan libatkan Ibuku untuk urusan ini!"


"Cihhhh! Gak sadar diri banget lo ya! PERGI! sebelum kesabaran gue habis!"


Dengan sekuat tenaga Shasyania menahan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya, "Kakek menelpon dia mau bicara."


Kedua tangan Shasyania menghapus jejak air mata di wajahnya, lalu setelah ia merasa cukup tenang, tangannya kembali merogoh tas dan mengambil benda pipih tersebut.


Panggilan tersambung.


"Hallo Shasya..., sudah bertemu dengan Nevan? di mana dia?"


Shasyania menyodorkan handphone miliknya kepada Nevan, nau tidak mau laki-laki itu menerima.


Nevan mengatur deru nafasnya sebelum ia bersuara, "Hallo Kek," panggilan tersebut di alihkan menjadi panggilan vidio hingga membuat Nevan berdecak kesal.


"Kemana saja kamu? kenapa Shasya lama sekali mencari keberadaan mu? kamu bilang pada Kakek jika kalian berangkat bersama tapi kenapa tadi Shasya bilang kalian berangkat sendiri-sendiri?"


Nevan hanya terdiam ia bingung harus mengatakan apa lagi.


"Yasudah Kakek maafkan kamu, tapi setelah ini jangan berbohong lagi! ingat dia tunangan mu sudah menjadi kewajiban mu untuk melindunginya! kamu mengerti Nevan?"


Lama panggilan itu berlangsung, andaikan saja handphone Shasyania tidak memberi peringatan jika baterainya sedang low mungkin panggilan itu masih terhubung dan Nevan pasti lebih banyak lagi mendapatkan ceramah online dari sang Kakek.


Selesai dengan urusan itu Nevan langsung menaruh handphone milik Shasyania di bangku taman lalu ia kembali berjalan menjauh.


Sepeninggalan Nevan, Shasyania tertunduk lesu, hatinya terasa begitu sakit karena di salahkan atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat, semua karena keadaan, jika saja ia memiliki pilihan maka ia juga tidak mau di tempatkan di situasi seperti ini.