
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
Suara dari kamera handphone saling bersahut-sahutan, terkadang kilatan cahaya pun terlihat untuk memperjelas objek yang mereka tangkap.
"Kalian berdua bisa diem gak? Malu nih!" sindir Yoga, tak henti-hentinya ia terus memperingati, namun masih saja orang yang bersangkutan meneruskan aksinya.
"Kamu tuh yang diem! Gak usah ngurusin kita!" hardik Wiwin, dengan tatapan yang masih fokus ke arah layar pipih yang tengah ia genggam.
Nanda mendesah dan ikut menatap kedua gadis itu, "Mulai dari parkiran sampai sini semua kalian foto. Apa itu kurang cukup?"
Dengan telunjuk bergerak ke kanan dan kiri Anggi sudah menjawab pertanyaan Nanda.
"Taruh handphone kalian dan mulai pesan makanan!" suara ngebas yang mampu membuat Wiwin dan Anggi menurut patuh. Tak kenal maka tak sayang tampaknya tidak terlalu berlaku untuk mereka berdua, karena belum mengenal saja mereka sudah sangat jinak dengan seorang Geonevan.
"Hemm!" Nanda berdehem agar perhatian kembali terarah padanya, "untuk pesan makanan biar aku saja, kalian cukup makan! Dan aku jamin semua makanan di sini enak. Kalian tidak akan memiliki celah untuk mencelanya!"
Keempat orang yang mengenal Nanda langsung mengernyit heran, sikap Nanda yang biasanya ramah dan ceria tiba-tiba menghilang, dan kini tergantikan dengan sosok yang begitu pendiam, terlihat seperti dibuat-buat agar terkesan berwibawa.
Berbeda dengan Geonevan ia memang terkesan dingin terhadap sekitar, namun kali ini di balik sikap diamnya ia juga tengah meredam kesal, bukan tanpa alasan karena laki-laki itu sadar, dirinya di acara ini hanya pendatang, maka sebisa mungkin ia mengikuti selama itu masih mampu ia tahan.
"Gilaa!!! ini restorannya keren abiizzz sumpaahhh! mmmhhh..., yang punya ini keluarganya pasti seneng banget, udah makan sepuasnya, setiap hari, tanpa perlu bayar pula!" seru Wiwin, pandangannya terus mengedar mengangumi interior yang tertata megah dalam ruangan tersebut.
"Papa Nanda yang notabenenya kerja aja bisa bawa keluarganya makan di sini dengan potongan harga, kurang memanjakan apalagi cobak. Pokoknya nanti setelah lulus aku mau ngelamar kerja di sini neh!" ujar Yoga penuh semangat.
"Gaji Papa kamu pasti gede kan Nan? buktinya kado ulang tahun kamu aja di kasih mobil!" timpal Anggi seraya tersenyum simpul.
Sebelah tangan Nanda memegang bahu Anggi, "Rahasia...," jawabnya, dengan ekspresi menjengkelkan.
Dengan gerakan cepat Anggi menjauhkan tangan yang masih menempel di bagian tubuhnya, "Sok kamu Nan!" sahutnya, sembari melengos malas.
Tanpa memperdulikan mereka yang masih asik dengan obrolannya, Nevan justru melirik Shasyania lalu memegang tangan gadis itu untuk segera menatapnya, "Mau pesan sesuatu?" tanyanya sembari menyodorkan buku menu.
Berbinar-binar kebahagiaan jelas tergambar dari mata Shasyania, hingga tanpa pikir panjang lagi ia langsung menelisik beberapa menu makanan yang sekiranya menggugah selera, "Ini sama ini boleh?"
"Tentu," sahut Nevan dengan senyum menghiasi wajahnya. Lagi dan lagi ekspresi tersebut mampu membuat Shasyania terpaku, dan entah mengapa sekarang melihat senyum Nevan seakan menjadi candu.
"Sssttttt..., dia bisa di bungkus gak sih?" celetuk Wiwin, mulutnya sampai terbuka dengan mata menatap lapar seorang Geonevan.
"Ka...kalau aku bo...boleh mesen juga gak?" sambar Anggi, ia sampai mengatupkan kedua tangannya.
"Iya," sahut Nevan, seraya kembali menatap Shasyania.
Merasa tak terima dengan sikap dermawan Nevan, hingga Nanda mulai melayangkan protes, "Tunggu! emangnya kamu bawa uang berapa sampai mau mentraktir mereka?"
"Gak usah banyak tanya!" sahut Nevan, yang tak kalah menohok hingga Nanda diam dengan perasaan kesal.
Beberapa menit menunggu sampai akhirnya semua pesanan mereka tersaji memenuhi meja. Tegukan demi tegukan air liur mulai terdengar, sembari tangan bergerak cepat ingin menyantap hidangan tersebut.
"Tunggu-tunggu! Jangan di makan dulu ya, aku mau foto," pinta Anggi yang langsung mengangkat smartphone miliknya, "yaa sekarang kalian bisa menikmatinya," ujarnya mempersilahkan.
"Ingat tag aku Ngi! Biar semua temen di kelas pada liat!" pinta Wiwin.
"Dione sucare apa ya namanya tadi?" tanya Anggi, yang mulai lupa dengan nama restoran yang ia kunjungi.
"Katrok banget! Masak sama namanya aja lupa, inikan restoran terkenal!" sentak Yoga.
"Gak usah mencela juga kali! kalau tahu ya kasih tahu!"
"Namanya Dione Square Restauran! Bisa nulisnya gak? kalau enggak sini biar aku aja yang buat!" pinta Yoga berniat memberi pertolongan.
"Dione?" batin Shasyania. Belum usai rasa terkejutnya, kali ini seseorang dengan setelan jaz berwarna hitam menghampiri meja mereka.
Menunduk hormat, itulah yang pria itu lakukan ketika berada di dekat Nevan, "Tuan __,"
"Kembali! dan jangan ganggu waktu makan ku!"
Ucapannya kembali terpotong ketika Nevan melirik dengan tatapan mengganggu, "Manajer baru?"
"Maaf Tuan Muda?" tanyanya kembali, karena pria itu kurang paham dengan pertanyaan Nevan.
"Saat aku katakan pergi maka pergi! Jika aku memerlukan sesuatu maka akan aku katakan!" tegasnya, "aku tahu kau ingin bersikap sopan, tapi kau juga harus ingat jika aku ini memiliki privasi. Jejeran manajemen di sini pasti sudah tahu bagiamana diriku, aku tidak suka di layani saat aku tidak memintanya! jadi belajarlah dan jangan ulangi lagi!" pungkas Nevan.
"Maaf atas sifat lancang saya ini Tuan Muda," ujarnya sembari pamit undur diri.
Setelah kejadian itu, hanya suara pantulan sendok terdengar, tanpa adanya sepatah katapun yang berdengung.
Citra rasa dari masakan jelas tidak bisa di ragukan lagi, namun ketimbang makan-makanan enak dengan rasa canggung, mereka lebih memilih menyantap makanan kali lima dengan perasaan nyaman.
Bahkan sampai beranjak dari restoran tersebut mereka masih minim komunikasi, Wiwin dan Anggi terlihat seperti cacing kepanasan, ingin rasanya mengungkapkan sesuatu namun kembali mereka tahan.
"Kalian mau ngomong apa?" tanya Shasyania, yang sudah menangkap gerak-gerik tak biasa dari kedua sahabatnya.
"Emmm...emmm it...itu, mau bi...bilang makasi," ucapnya terbata-bata.
"Geonevan, katanya mereka mau bilang terimakasih," ujar Shasyania yang langsung membuat kedua gadis itu mematung.
"Iya sama-sama," sahut Nevan, dan kesempatan itu tidak di sia-siakan Anggi untuk berusaha mengakrabkan diri, "Kenalin nam__,"
"Udah tahu, Anggi dan dia Wiwin."
Apakah semua laki-laki tampan bersikap seperti ini? kurang lebih seperti itulah yang dipikirkan Anggi dan Wiwin terhadap sikap Nevan.
"Haha... hehehehe...," Anggi terkekeh, namun sesegera mungkin ia harus mengakhiri kecanggungan ini, dan mulai mencari jawaban dari rasa penasaran yang sedari sore hari mengusik pikirannya, "emm..., dan itu Geonevan, apa sebelumnya kita pernah kenal? soalnya aku merasa pernah liat kamu, tapi lupa di mana."
"Enggak!" singkat, padat, dan jelas, Nevan menjawab keinginan tahuan seorang Anggi.
BIB!
BIB!
Klakson mobil Nanda berbunyi, mengisyaratkan agar kedua gadis itu cepat menuju ke arahnya, "Yasudah kalau gitu kita duluan ya, kalian hati-hati di jalan. Dan sekali lagi makasii," seru Wiwin seraya berjalan menjauh bersama Anggi.
"Enak ya jadi Shasya, pindah sekolah langsung ketemu sama bibit-bibit unggul," ucap Wiwin.
"Dia juga bibit unggul, makanya yang nempel orang-orang kek gitu semua. Gak heran aku mah! tapi..., dengan Shasya punya banyak teman kayak gitu, jadinya kesempatan buat kita menggaet laki-laki tampan juga terbuka lebar tahu!" pungkasnya penuh percaya diri.
"Mau langsung pulang apa gimana yank?" tanya Nevan, saat dirinya akan memasang pelindung kepala untuk Shasyania.
"Baru jam tujuh, gimana kalau kita ke pantai deket sini? Jagung bakarnya enak!"
"Mau jagungnya apa pantainya?" tanyanya usil.
"Dua-duanya!"
"Baiklah, tapi sebelum itu peluk dulu dong!" Nevan merentangkan tangan, seakan sudah siap menerima pelukan hangat dari Shasyania.
"Isi syarat segala," meskipun terdengar akan menolak, namun ucapan dengan gerakan tubuh Shasyania seperti tak sinkron, perlahan namun pasti ia mulai mendekatkan diri dan memeluk laki-laki di hadapannya.
"Uhh gemes!" ucap Nevan, seraya menggerakkan tubuhnya yang tengah di dekap oleh Shasyania.
.
.
.
.
.
*Like, komen dan vote meningkat jadi semangat pun juga meningkat. Terimakasih ya bagi kalian yang masih setia baca cerita ini, aku selalu liat dan sekali lagi makasi🤗*