Mine ?

Mine ?
58 : Maaf



Berawal dari kecerdasan, ketekunan, dan kerja keras Toreno di usia mudanya sudah mampu mendirikan sebuah perusahaan, bahkan sekarang perusahaan itu masih terus mengembangkan sayapnya menjejali berbagai macam bidang industri di setiap Negara, barang dan jasanya selalu bertaraf internasional, hingga tak ayal perusahaannya semakin hari semakin berkembang pesat.


Berhasil mendaftarkan namanya menjadi salah satu orang tersukses merupakan suatu pencapaian yang selalu ingin ia gapai, berdiri di kaki sendiri tanpa embel-embel latarbelakang keluarga, Toreno di usia mudanya memberanikan diri untuk tidak mengunakan hak istimewanya sebagai keluarga Cavan, dan berusaha mendirikan perusahaannya yang sekarang ini sudah dikenal dengan sebutan Dione Crop. Terus bersaing meskipun saat ini belum berada di posisi puncak, namun ia yakin dengan kerja keras maka semua akan berhasil dalam genggamannya.


Cabang perusahaan Dione Crop yang terbesar terletak di Kota J, dengan luas mencapai 360 hektare yang terdiri dari Tujuh gedung dan salah satunya merupakan gedung pencakar langit. Tak sembarang orang bisa mengunjungi area tersebut, karena aksesnya yang begitu ketat, terlihat dari gerbang utama beberapa petugas keamanan selalu memantau keadaan.


Dan sekarang di area parkir terlihat generasi ketiga dari calon pewaris tunggal perusahaan Dione Crop, yang tengah berjalan menuju lobby utama.


"Selamat siang Tuan Muda," semua karyawan menyapa penuh hormat, ketika mereka berpapasan langsung dengan Nevan. Orang-orang jelas mengetahui siapa sosok itu karena keluarga Eldione selalu menghiasi sampul majalah atau bahkan media sosial dengan pencapaian yang mereka tuai.


Pintu lift yang berada di lantai paling tertinggi gedung itu terbuka, hingga menampakkan seorang Geonevan yang langsung di sambut ramah oleh dua orang wanita, dan tanpa bertanya lagi mereka segera mempersilahkan Nevan untuk memasuki pintu bercorak emas tersebut.


"Siang Kakek," kali ini ia yang menyapa hingga orang yang bersangkutan langsung menghentikan aktivitasnya.


Tanpa menatap atau bahkan menyapa balik, Toreno bergegas menutup laptopnya, lalu berdiri melangkahkan kaki menuju sofa yang terdapat di tengah-tengah ruangan.


"Ada sesuatu yang ingin Kakek tanyakan?" ungkap Nevan, ia juga ikut mendaratkan pantatnya dan sekarang posisi mereka saling berhadapan.


"Kau tahu kelemahan mu Nevan?"


Tok!


Tok!


Tok!


Pembicaraan terjeda kerena seseorang dari balik pintu tengah meminta izin untuk memasuki ruangan.


"Selamat siang Tuan Toreno, Tuan Muda__"


"Taruh dan langsung keluar!"


"Baik Tuan Toreno."


Ruangan itu kembali sepi, dan Nevan bersiap untuk menjawab pertanyaan tadi, "Emosiku Kek," sahutnya, sembari menekuk kedua lengannya untuk bertumpu di atas paha.


"Dulu waktu kau kecil Kakek memberimu izin untuk berlatih bela diri agar kau bisa menjaga diri dan mengontrol emosi, tapi sekarang justru kau tidak terkendali!"


"Maafkan aku Kakek."


"Itu bukan masalah minta maaf lalu kembali kau ulangi, ini tentang sesuatu yang harus kau kendalikan! Apalagi nanti dalam urusan bisnis, kelemahan mu itu akan sangat mudah untuk dimanfaatkan Nevan! Di luar sana rival mu banyak, sekali mereka mendapat celah maka itu bagaikan peluang emas yang akan terus mereka gempur, dan jangan berpikir jika kau dari keluarga Eldione jadi kau bisa seenaknya untuk bersikap...."


"Tidak seperti itu Kakek," sela Nevan


"Jangan potong ucapan Kakek! Dengarkan!" sergah Toreno, "sudah berapa kali setiap kau emosi kau ingin membunuh seseorang? Itu bukanlah tindakan yang benar Nevan! kau ini tahu hukum kan? jangan berpikir semua bisa di beli dan apapun yang kau lakukan itu adalah hal yang benar. Tidak seperti itu Nevan! Terlepas dari apapun alasanmu tetaplah itu bukan hal yang patut kau jadikan alasan. Tindakan-tindakan seperti itu hanya akan terus menyeret mu untuk melalukan lebih. Bangga menjadi kuat hingga siapapun ingin kau libas! itu bukanlah cerminan dari keluarga Eldione, di sini kita bermain menggunakan akal! cerdik dalam memanfaatkan situasi itulah yang terpenting! Otot tanpa otak maka ego yang bertindak! Kakek tidak suka dengan cara pikir seperti itu! Kau paham Nevan? Jangan buat catatan kriminal untuk menghilangkan rasa percaya orang padamu, Jika kau sendiri tidak bisa mengontrol diri jadi bagaimana bisa kau menjadi seorang pemimpin? Berpikirlah yang cerdik, masalah itu bisa kau selesaikan dengan taktik. Dan Kakek rasa kau cukup pintar untuk mengetahui itu!"


Nevan tertunduk mendengar segala ucapan Toreno, guratan-guratan penyesalan karena telah membuat sang Kakek kecewa jelas membuatnya terpukul, "Iya Nevan mengerti Kek."


"Kakek harap itu yang terakhir dan selebihnya bermainlah dengan halus, buat citra diri yang bisa membuat seseorang segan akan dirimu! Kontrol emosi agar orang-orang yakin jika kau itu seorang pemimpin yang tidak mudah di kalahkan, jangan sampai nantinya emosimu itu berujung bumerang. Kau paham Nevan?"


"Iya, Nevan paham Kek."


"Kakek percaya padamu!"


Suasana mulai mencair bisa dilihat dari Toreno yang sudah mulai meneguk minuman untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokannya, "Bagaimana kabar Shasya?"


"Dia baik-baik saja Kek."


"Baguslah! dan ya Kakek memiliki tugas untukmu," setelah mengatakan itu Toreno langsung bergegas menuju mejanya, dan terlihat ia mencari sesuatu dari tumpukan berkas-berkas yang tersusun rapi di sana, "ini..., ini adalah beberapa target perusahaan, proyek-proyek itu harus kita menangkan dan Kakek rasa kemampuanmu sudah sangat berkembang jadi Kakek sengaja mempersiapkan ini untukmu. Pelajari dan beri hasilnya sehari sebelum Kakek kembali ke Inggris, jika inovasi mu bagus maka akan Kakek pertimbangkan untuk kita eksekusi."


"Baik Kek."


Hampir lima jam lebih waktu yang Nevan habiskan di sana, karena tidak hanya mengunjungi sang Kakek, Nevan juga di minta untuk ke ruangan Daddy-nya, sudah dipastikan mereka berdua pasti akan berbincang santai sebelum memulai kegiatan mingguan yaitu mengajari Nevan tentang perkembangan perusahaan.


...****************...


"Shasya kamu yakin Ibu tinggal?"


"Iya Ibuk, Shasya gak papa kok, Ibu jangan cemas," tutur Shasyania, ia berusaha menghilangkan rasa cemas yang tergambar jelas di raut wajah Liliana.


"Tapi kamu sendiri Nak, Ibu jadi gak tenang ninggalin kamu di rumah."


Shasyania semakin mendekat dan mengelus punggung tangan Liliana, "Shasya gak sendirian Buk, Ibuk liat sendiri kan di sini lagi banyak anak-anak yang bertamu," jelas Shasyania, sambil menunjuk beberapa anak tetangga yang tengah asik mengerjakan soal yang sudah ia ajari cara penyelesaiannya.


"Tapi nanti malam?"


"Buk..., Shasya tahu kok pesanan Ibu di toko lagi banyak-banyak nya. Ibuk jangan khawatir, kemarin hanya musibah Buk, dan orang-orang itu juga sudah di tangkap."


"Ibu akan telpon Nak Nevan!"


"Loh, kenapa Ibuk nelpon dia?"


"Nak Nevan bilang akan jagain kamu jadi Ibuk butuh bantuannya sekarang, karena jujur saja Ibu tidak tenang jika meninggalkan kamu sendirian!"


Tangan Liliana langsung meraih benda pipih di atas meja, lalu dengan cepat jarinya mencari kontak Nevan, "Nomer yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan, cobalah beberapa saat lagi!" Sekali percobaan namun malah suara operator yang bersuara, dan itu membuat Liliana ingin mencoba kembali namun aksinya dihentikan Shasyania.


"Jangan Buk, mungkin saja dia lagi sib__"


Suara Shasyania terpotong ketika smartphone miliknya bergetar lalu memperlihatkan seseorang dengan nama its mine tengah melakukan panggilan.


Alisnya berkerut, ia merasa tak pernah menyimpan nama kontak tersebut sampai akhirnya Liliana menegur putrinya yang terlihat melamun.


"Shaa kenapa diam aja? angkat Nak! siapa tahu penting."


"Halloo?"


"Lagi di mana?" suara begitu familiar terdengar dari seberang sana, dan Shasyania tahu itu milik siapa.


"Di rumah."


"Tiga puluh menit lagi gue ke sana," Shasyania hanya diam, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa, "hallo? Shasya?"


"Ohh...iya yaa!"


"Baiklah, kalau gitu sampai nanti."


"Iyaa sampai nanti."


Shasyania menunggu Nevan mematikan panggilan, namun malah waktu yang tertera di atas layar masih berlangsung tanpa adanya suara di antara mereka berdua.


"Hallo?"


"Lo yang matiin."


Tut!


"Siapa Shaa?" tanya Liliana, namun tak kunjung mendapat jawaban hingga ia mengulang kembali, "Shasya siapa tadi yang nelpon?"


"Ng...Ge... Geonevan Buk!"


"Nak Nevan mau ke sini?"


"I...yaa Buk."


"Hmmm baguslah," ujar Liliana, ia langsung bergegas mengambil beberapa barang yang sudah ia bungkus rapi, "kalau begitu Ibu tinggal dulu ya Sha, jaga diri kamu, kalau ada apa-apa hubungin Ibu!"


"Iya Buk," sahut Shasyania sembari mencium punggung tangan Liliana.


Berjalan menjauh dari putrinya, sampai ingatannya kembali terulang saat kemarin Nevan bertamu kerumahnya.


.


.


.


flashback...


Tok!


Tok!


Tok!


"Iyaa tunggu," sahut Liliana saat mendengar pintu rumahnya di ketok dari arah luar.


"Nak Nevan?"


"Iyaa Bu Ini Nevan."


"Si...silahkan masuk Nak," ucapnya ramah sembari mempersilahkan Nevan masuk hingga duduk di ruang tamu, "tunggu sebentar ya Nak Ibu buatin minuman dulu."


Ingin menolak namun Nevan rasa itu adalah tindakan yang kurang sopan, sampai akhirnya ia hanya diam sambil menggerakkan pergelangan kakinya.


"Ini Nak."


"Makasii Buk," sebagai tanda terimakasih Nevan langsung meneguk habis es jeruk nipis yang di berikan Liliana, dan itu membuat wanita paruh baya tersebut memikirkan jika anak remaja di hadapannya ini tengah kehausan.


"Mau Ibu buatkan lagi?"


"Tidak Bu, tidak usah ini saja sudah cukup," jawabnya cepat.


"Nak Nevan ke sini cari Shasya kan? tapi Shasya nya belum pulang."


"Iya Buk, hmmm biar Nevan tunggu aja." jawabnya ramah, "ohh ya, kelihatannya Ibu mau keluar ya?"


Liliana melihat pandangan mata Nevan yang tertuju pada beberapa kantong kresek yang sebetulnya memang ia persiapkan untuk di bawa ke Toko, "Ohh itu ya Nak, Ibu biasa jualan roti jadi perlengkapan ini mau Ibu bawa ke Toko," jelasnya.


"Kenapa jualannya sore Bu? dan Nevan dengar Ibu sering tidur di Toko? Ibu selalu lembur?"


"Enggak Nak, itu karena kebanyakan pesanan di ambil pagi hari, jadi Ibu mesti ada di toko untuk menyambut para pembeli yang mau mengambil pesanan, jadinya Ibu sering tidur di sana."


Nevan mengangguk-angguk paham, "Lain kali Nevan mampir ya Bu? kebetulan juga Nevan suka lihat orang masak atau apapun yang berhubungan dengan makanan," jelasnya yang tampak antusias.


"Wah benarkan? kapanpun akan Ibu tunggu kedatangannya," sahut Liliana yang juga tak kalah semangat.


"Hmm..., dan ada yang ingin Nevan tanyakan Bu," kali ini wajah laki-laki itu terlihat tegang, bahkan sebelum bertanya ia terlihat menarik nafas lalu menghembuskan nya gusar, "apa Shasya pernah cerita tentang Nevan Bu?"


"Oh iya Nak, Shasya bilang Nak Nevan orangnya baik, banyak bantu Shasya di sekolah, Ibu senang dengarnya Nak, karena jujur saja awalnya Ibu sedikit takut. Pertemuan pertama kalian di rumah Nak Nevan sedikit membuat Ibu khawatir, tetapi dengan penjelasan Shasyania Ibu jadi tenang, walaupun masih ada rasa mengganjal seperti beberapa hal sengaja ditutupi dari Ibu, tapi Shasyania selalu meyakinkan kalau semua baik-baik saja dan katanya teman-temannya juga memperlakukan Shasya dengan baik.


Deg!


Nevan langsung di buat beku dengan penjelasan Liliana. Nafasnya tercekat, rasa nyeri di bagian dadanya mulai terasa, dan tanpa berpikir panjang tiba-tiba ia sudah berlutut dengan kedua lutut kaki sebagai tumpuan.


"Loh kenapa begini Nak? berdiri Nak, jangan seperti ini Nak Nevan."


"Tidak Bu, Ibu harus mendengarkan penjelasan Nevan," tanpa merubah posisinya, ia lalu mulai menjelaskan, "sebelumnya maafkan Nevan Buk, Nevan benar-benar bersalah karena dari awal Shasya sekolah sifat Nevan sama Shasya sangat keterlaluan, bahkan di hari pertamanya sekolah Nevan sengaja meninggalkan Shasya di jalanan sepi."


Mulut Liliana sedikit terbuka, ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


Sakit, itulah yang Liliana rasakan saat mendengar penuturan Nevan, "Kenapa Nak? apa Nak Nevan berpikir jika putri Ibu yang bersalah? mengertilah posisi Shasya Nak..., dia tidak bersalah, ini juga sama sulitnya untuknya. Bahkan saat pengawal Nak Nevan meminta dan menjelaskan keinginan Tuan Toreno, Shasyania terlihat tertekan, dan sebagai seorang Ibu, jujur saja sangat sakit rasanya mendengar jika putrinya diperlakukan seperti itu," ucap Liliana sambil menahan rasa panas di pupil matanya, ia tidak bisa membayangkan kejadian apa lagi yang sudah menimpa putrinya, hingga di hari ketika Shasyania pulang dengan keadaan basah tanpa sepatu berputar kembali di ingatannya.


Liliana tampak mengontrol deru nafasnya yang mulai membuatnya nyeri, "Apa waktu putri Ibu pulang dengan keadaan basah kuyup juga karena dikerjai?"


"Basah kuyup?" tanya Nevan seraya mendongakkan kepala mendengar penuturan Liliana. Tidak sedikitpun Nevan mengelak, ia menyadari jika itu pasti terjadi karena teriakan-teriakan nya yang mengatakan Shasyania parasit hingga memancing kekesalan temannya yang lain.


Bahkan setelah Liliana selesai menceritakan tentang kejadian itu, Nevan kembali jujur mengenai apa saja yang sudah ia perbuat pada Shasyania, semua ia ceritakan tanpa satupun yang ia tutupi.


"Kenapa Nak?" lagi-lagi Liliana bertanya hal yang sama, ia benar-benar tidak terima jika putrinya di perlakukan tidak adil, "putri Ibu juga tidak menginginkan semua ini terjadi! Kehilangan sosok Ayah yang selama ini selalu melindunginya apa itu pilihannya Nak? posisi dia serba salah, jika putri Ibu tidak menuruti keinginan Tuan Toreno maka semua biaya pendidikannya akan di cabut, dan...dan Ibu juga salah, seharunya Ibu tidak membiarkan dia berada di posisi seperti ini!"


"Kehilangan dan di paksa untuk beradaptasi di lingkungan baru dengan segala macam tuduhan, putri Ibu ternyata mendapat tekanan yang begitu besar. Shasyania bukanlah anak yang lemah, tapi...tapi ancaman Nak Nevan membuatnya tidak bisa melawan, Dia baru saja kehilangan sosok Ayahnya, dan jika di ancam lagi dengan kehilangan keluarganya yang lain dia pasti akan ketakutan. Sekarang dia hanya punya Ibu, dan jika Ibunya di gunakan sebagai ancaman jelas dia akan takut! Anak Ibu memiliki ketakutan Nak, Sudah memiliki ketakutan! kenapa Nak Nevan begitu tega? kenapa Nak?" tidak tertahankan lagi, buliran air mata mulai membasahi pipi Liliana.


"Shasya maafkan Ibu...! Dari kecil selalu saja putri Ibu di paksa oleh keadaan, dia mengorbankan dirinya bahkan setelah dewasa dia juga di hadapkan dengan sesuatu yang lagi-lagi tak bisa ia tolak. Shasyania bukan anak yang lemah tapi kenapa dia terus saja berada di kondisi seperti ini. Menjadi bayangan dari sosok orang lain, dan sekarang di tuntut dalam hubungan yang dia sendiri tidak di hargai...!" tangisan Liliana pecah, dan semakin membuat Nevan merasa bersalah.


Nevan mulai menggenggam tangan Liliana, ia terus bersimpuh, "Nevan yang salah Bu, Nevan yang seharunya meminta maaf. Nevan akan menjaganya!"


"Tidak usah Nak, Ibu akan membawanya pergi, kami tidak akan lagi berurusan dengan keluarga Eldione."


"Tidak Bu, jangan! Nevan mohon, Nevan janji akan menjaganya! tolong beri Nevan kesempatan."


Lama Liliana terdiam, dan Nevan terus berusaha meyakinkan wanita yang masih berkutat dengan isi pikirannya.


"Sekarang semua terserah Shasyania, jikapun keputusannya pergi maka Ibu harap Nak Nevan tak lagi menahan," pungkas Liliana, rasa tidak terimanya pada Nevan mulai sedikit mereda. Keberanian laki-laki itu untuk jujur juga patut dihargai.


"Ini nomer telpon Nevan, Nevan harap Ibu mau menyimpannya."


"Baiklah," sahutnya sembari melirik jam di pergelangan tangannya, "jika Nak Nevan mau menunggu Shasya maka tunggulah di sini."


"Baik Bu terimakasih."


.


.


.


flashback off....


"Dia benar-benar menjaga Shasyania, setidaknya ucapan Nak Nevan bisa di percaya," batin Liliana.