
Bunyi terompet mengiringi yel-yel, teriakan demi teriakan menggema ke seluruh area, hingga genderang ditabuh dengan dentuman membahana, dan menciptakan suasana haru bercampur bangga, ketika beberapa suporter menatap haru perwakilan mereka yang di sambut menggelegar oleh seorang host di atas panggung, bersamaan dengan ribuan penonton yang memadati acara.
"ERLANGGA NOT RUNNER-UP, ERLANGGA IS NUMBER ONE!"
"Gem! suruh anak buah lo bersuara! masak kita kalah sama musuh bebuyutan! GENGSI LAH!" omel Nita, sembari memukul lengan laki-laki di sampingnya itu.
Gemmi, dengan pandangannya menghunus ke depan, ia masih terlihat santai menyaksikan Jiana dan beberapa peserta lainnya berlenggak-lenggok indah memperlihatkan lekuk tubuhnya nan menawan.
"Tadi lo bilang dukungan lo lebih berguna, tapi nyatanya semua itu hanya omong kosong! pasukan lo bisu, gak bertenaga! kek gak makan tahu gak! LEMAH!" cibirnya kembali.
Laki-laki itu hanya merespon dengan senyuman datar. Namun berbeda dengan Miko, ia yang justru menjawab omelan Nita, "Dukungan Geng PS akan berguna ketika Shasyania yang berada di atas sana!"
"Apa-apaan itu! Lo harus ingat! Jiana di sana juga untuk sekolah kita!" timpal Rissa, ia tak terima akan ucapan Miko.
"Betul! kalau udah kayak gini siapapun perwakilannya kita wajib dukung!" tegas Ririn yang ikut ambil bagian, hingga Gemmi mengangguk setuju, lalu memberi isyarat agar pasukannya mulai bekerja sesuai arahan.
"Wah, SMA ERLANGGA langsung naruh senjata utamanya tuh, berarti Jiana yang akan melawannya!" ucap Dino. Ia ingat betul sosok Freya, yang sempat ia temui sebelum acara.
Rissa tertawa sinis, "Ini adalah kesempatan bagus buat si Jiana balas dendam!"
"Maksud lo?" tanya Baru.
"Jian pernah cerita, harusnya dulu dia yang jadi perwakilan SMA ERLANGGA, tapi karena faktor kondisi jadinya dia gugur. Berarti bisa di pastikan jika ini akan mudah untuknya, apalagi si Jian udah tahu kelemahan lawan!" terang Rissa penuh keyakinan.
"Mantap tuh! asal bisa ngalahin SMA ERLANGGA gue bakal teriakin nama Jiana!" tegas Nita.
Dan di atas sana, Tujuh perwakilan dari masing-masing SMA di Kota J saling beradu wawasan, mereka memperlihatkan kemampuan terbaiknya, berdiri tegap melahap setiap pertanyaan, berharap apa yang mereka berikan menuai hasil memuaskan, hingga menjadi pemenang di sesi pertama.
Namun sayangnya sesi ini bukanlah milik SMA GUARDIANS. Jiana terlalu nervous hingga jawaban yang ia berikan selalu melenceng dan tidak konsisten, hingga menjadi bumerang yang siap menyerangnya balik, ketika para juri mempertanyakan kembali atas apa yang sempat ia lontarkan.
"Si Jiana kenapa tuh! kok ngeblank gitu sih! gak jelas banget jawaban dia!" cela Miko, seraya memukul-mukul pahanya, "ini bakal jadi ledekan empuk bagi pendukung sebelah!"
"HAHAHA, MAKAN TUH REKRUTAN GAGAL!"
"MAU NGELAWAN PAKEK MANTAN, YAA NYAMPAH LAH!"
"MISI SMA ERLANGGA MINDAHIN JIANA YA INI, UNTUK MENGGAGALKAN SMA GUARDIANS!"
Ujaran memancing emosi semakin gencar di suarakan, namun Gemmi memberi sinyal untuk tetap diam.
"Siapa sih yang nyuruh Jiana ambil bagian! tim seleksi di SMA kita buta apa ya!" kesal Dino.
Sebelah tangan Rissa yang memegangi balon tepuk, langsung ia gunakan untuk memukul kepala Dino, "Hargai napa! lo kira gampang di atas sana!"
"Hargai apanya SET.N! kalau gak bisa ya jangan sok-sok buat jadi peserta! Ini malunya bukan di dia aja tapi di kita juga kena!" timpal Wilkan, dengan sorot mata geram.
"Kali ini gue setuju sama ucapan Wilkan, kemampuan Jiana benar-benar di bawah rata-rata, entah ini karena tekanan penonton atau apalah, tapi yang jelas dia kayak gak ada pengalaman sedikitpun!" ungkap Megan.
"Tenang kita masih punya Kak Septi, semoga dia bisa menang di sesi ke dua!" ucap Ririn, memberi harapan.
"Sesi selanjutnya Kak Septi kan? mhhh..., tapi jika juara bertahan SMA MERPATI di taruh di sesi kedua, kira-kira ada kesempatan buat Kak Septi menang gak sih?" resah Nita, "Astaga kalau enggak, berarti SMA kita benar-benar kehilangan harapan untuk jadi Tiga besar! Sial!" imbuhnya, sambil mengumpat kesal.
"Shasyania gimana?" tanya Megan.
Rissa yang masih kesal dengan sosok Shasyania, mulai membuka suara, "Si Jiana yang berpengalaman aja kayak gitu, apalagi Shasyania. Terus dia di panggil H-1 kan? Ck, modal cantik oke! tapi gue masih gak yakin sama wawasan dia! a e a e atas panggung, double malu kita!" omelnya.
"Betul tuh betul! malu banget jadi suporter kalau perwakilannya kayak gitu!" sambar salah satu suporter dari kelas sebelah.
"Santai! adu bacot sesama pendukung itu biasa, kalau udah mainnya kasar baru kita lawan dengan cara yang sama! Tugas sebagai suporter ya emang teriak-teriak meriahkan suasana! Jangan sampai menyalahkan individu! karena secara pribadi, menang ataupun kalah juga gak berpengaruh di kita! lagian apa gunanya menyombongkan keahlian seseorang! Jadi suporter itu yang smart, kalah menang slow aja. Lihatlah ini sebagai hiburan! Kan lucu, nontonin orang-orang yang gak bisa jawab! Tuh...tuh, kalian liat aja tuh muka si Jiana, udah putih kek kapur di tambah grogi keringat bercucur. Ketek dia basah pasti tuh!" cela Gemmi, sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bener juga, pokoknya nanti pas Shasyania, kita harus tetap bersorak!"
"Setuju!"
Jarum jam terus berputar, dan kali ini terlihat jejeran para Juri telah selesai berdiskusi, sampai akhirnya hasil penilaian di sesi ini sudah dalam genggaman seorang host.
Dan di detik itu juga semua pandangan tertuju ke depan, rasa penasaran melesak masuk ke dalam raga, apalagi bagi para peserta, mereka harap-harap cemas ketika host berancang-ancang membaca sang pemenang di seni pertama.
"GISELLA FREYANI ARSENIO"
PREEEEEET! FREEEETT! FREEEETTTT!
DUGGG! DUUUUG! JREEEEENG!
DUUAAAR!
"Sial! kenapa harus SMA ERLANGGA sih!" cetus Nita.
"Terima aja kali! emang perwakilannya di atas Jiana!" sungut Miko, ia berlagak realistis di situasi seperti ini.
Dengan bangganya Freya melambaikan tangan, ia begitu yakin jika kemenangan ini akan bertahan sampai akhir. Apalagi dengan informasi yang sudah ia kantongi, jika sang juara bertahan tak lagi ikut berpartisipasi.
Euforia kemenangan berlangsung beberapa menit, sampai akhirnya sesi ke dua di mulai untuk peserta lain.
"Semoga Kak Septi meraih hasil tertinggi," harapan Nita, bahkan ia sampai berdiri dari tempat duduknya ketika nama perwakilan SMA GUARDIANS di sebutkan.
Dino, laki-laki itu juga ikut berdiri dengan pandangan melebar, saat seseorang dari atas sana sudah mulai menampakkan wujudnya.
"Iiii...itu Dewi SMA MERPATI?"
"Gue rasa enggak! Cantik emang iya, tapi gak sesuai sama julukannya yang begitu membahana!" sahut Ririn.
Seketika Baru menghentikan aktivitasnya, saat ia hendak membuka permen karet merek BIGBOBA, "Tunggu, berarti...berarti dia di taruh di sesi terakhir dan...dan__,"
"Dan Shasyania lah yang melawannya!" sela Nita, sembari merogoh isi tas miliknya. Gadis itu langsung melahap dua permen berhuruf Alfabet yang di percaya memberi asupan vitamin.
"Woii! banyak banget lo bawa beginian! Gak takut overdosis lo?" Wilkan memperingati sambil tertawa geli.
"Tapi menurut gue kita di untungkan di ini," Ririn memotong pembicaraannya yang belum kelar, hingga memancing rasa tidak sabar dari para pendengar, "Kalian ingatkan, Kak Septi itu juara Tiga. Jadi, kalau dia dibedakan sesi sama si runner up dan si juara bertahan, berarti kemungkinan besar di sesi ini Kak Septi pemenangnya, setidaknya dia benar-benar berpengalaman untuk menaklukan soal!" imbuhnya, seraya mengepalkan tangan.
"Betul! meskipun harus mengorbankan Shasyania tapi strategi ini cukup efektif. Gue yakin hal kayak gini udah di perkirakan sama Buk Dayu," ujar Baru, sambil melihat satu persatu kearah teman-temannya.
Sesuai tebakan, di pengunjung sesi kedua, nama Septi Linkara bergema menjadi juara. Riuh tepuk tangan bersahut-sahutan dengan pukulan alat musik yang ditabuh geng PS, perayaan kemenangan terlihat berlebihan ketika beberapa oknum suporter ikut membalas apa yang mereka terima dari kemenangan SMA ERLANGGA sebelumnya.
"MAKANYA JANGAN SENENG DULU! BELUM JUGA JADI PEMENANG UDAH HEBOH! TUH MAKAN! SMA GUARDIANS GAK LEMAH!"
Adu argumen terjadi di antara suporter, hingga mengakibatkan para panita penyelenggara harus turun tangan meredam kekisruhan. Apalagi adu urat saraf tersebut sudah melibatkan siswa-siswa yang susah di atur. Mereka mengatasnamakan perkumpulan mereka sebagai pertahanan sekolah, dengan membentuk sebuah Geng.
"HARAP TENANG! JIKA KERUSUHAN INI MASIH BERLANGSUNG, MAKA PERWAKILAN KALIAN YANG AKAN MENDAPAT IMBASNYA!" Ancaman itu berasal dari Ketua penyelenggara, meskipun tidak adil, tapi kata-kata itu harus ia lontarkan.
Dan terbukti, Gemmi dan Javier langsung mengisyaratkan agar anggotanya tenang, terpaksa? tentu Iya. Tapi mau tidak mau mereka harus mengikuti peraturan.
"Vit, kasih tahu Shasyania kalau sesi ketiga sebentar lagi akan di mulai. Suruh dia bersiap-siap!" Perintah sang Ketos, dengan tangan kanannya yang sibuk menulis di sebuah map.
"Siap!" sahut Vitri, selaku Osis di SMA GUARDIANS.
Tok!
Tok!
Tok!
"Sha..., bentar lagi giliran lo, siap-siap ya!"
"BAIKLAH, TERIMAKASIH!" jawab Shasyania dari dalam ruangan.
"Lepasin Geonevan," protes Shasyania, ketika tangan Nevan masih setia melingkar di pinggangnya.
"Nanti kalau gugup atau gimana, angkat tangan ya," kelakar Nevan.
"Kalau kamu ragu atau gimana, jangan nonton ya," sahutnya tak kalah nyeleneh, lalu ia melirik ke arah cermin.
"Juara bertahannya cantik banget ya," ujar Nevan. Entah itu pertanyaan atau informasi, yang jelas Shasyania tidak menanggapi dengan suara, gadis itu hanya tersenyum sembari melangkahkan kakinya menjauh.
.
.
.
.
.
.
~Cuma mau bilang terimakasih untuk para pembaca yang masih setia baca cerita ini, Seneng banget kalau ada yang merespon, atau dengan dukungan yang kalian beri, aku selalu liat kok🤗, dan untuk dunia kepenulisan, apalagi sampai mengarang cerita hingga menjadi novel ini memang hal baru untukku jadi maklumi ya kalau ada salah atau kurang berkenan😄, yang jelas semua berproses, dan aku pasti belajar. Sekali lagi makasi ya, salam online😂~