
Mendapat undangan dari orang yang sangat berpengaruh di Kota J merupakan suatu kebanggaan bagi seorang Violin, bahkan belum usai euforia kebahagiannya setelah bertemu Zivana, kini di hari yang sama, ia juga mendapat pesan singkat yang mengatakan bahwa sosok desainer terkenal pemilik NJL Group itu ingin membuat janji dengannya.
Namun saat bertemu, perasaan senangnya justru lambat-laun terkikis oleh rasa getir, binar di matanya pun mulai berubah menjadi pancaran ketegangan, saat dua orang penting dihadapannya menanyakan sesuatu yang bersifat rahasia untuknya.
Violin menunduk kepala, ia mencoba memutus kontak mata antara dirinya dengan pasangan suami-istri dihadapannya, hingga mulai berucap, "Sekali lagi maafkan saya Mrs Zivana, saya rasa.. saya tidak bisa mengatakan hal tersebut, karena saya harus merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui tentang riwayat pasien saya. Saya tidak bisa memberitahunya kepada anda, kecuali atas persetujuan dari pasien itu sendiri atau untuk kepentingan peradilan," lugasnya, meskipun dengan nada bergetar.
Berulangkali Zivana mencoba membujuk Violin, bahkan ini termasuk yang ketiga kalinya, namun ia juga pantang menyerah, sebelum rasa penasarannya terjawab, "Saya mengerti Dokter Violin, tapi pertimbangkanlah sekali lagi... Shasyania bukan orang asing di keluarga Eldione, dia akan menggantikan posisi saya nantinya. Shasyania menantu sekaligus putri bagi kami, jadi apapun yang berhubungan dengannya, apalagi masa lalu yang masih saja mengusiknya, tentu saja hal tersebut harus kami ketahui!"
Violin tampak menimang-nimang ucapan Zivana, namun ia juga tidak ingin bertindak gegabah, apalagi ini sangat berbahaya untuk karir dan juga keselamatannya, "Ini terlalu beresiko, masa lalu Shasyaliona berkaitan dengan keluarga Zeiqueen. Aku tidak boleh mengatakan hal tersebut!" batinnya.
"Jadi bagaimana Dokter Violin, anda bisa membantu saya, kan?" kembali Zivana bertanya, hingga lamunan wanita dihadapannya langsung buyar seketika.
"Maaf Mrs Zivana, ini sangat beresiko untuk karir saya. Mohon pengertiannya dari anda," lirihnya sendu, dengan kepala yang masih menunduk.
Kini Zivana mulai paham akan situasi tersebut, ia yakin kasus Shasyania bukanlah kasus biasa, hingga ditutupi sebegitu kekehnya oleh Violin, terlebih lagi jika dipadu-padankan soal pergantian nama Shasyania, yang dirasanya juga mempunyai kaitan erat dengan trauma yang dimiliki gadis itu.
"Ada rahasia besar dibalik ini semua!" pikir Zivana, seraya menautkan jari-jari tangannya membentuk kepalan, lalu ia letakkan di atas meja sebagai penyangga, ketika tubuhnya sedikit ia condongkan ke depan, "Dokter Violin, bukankah sebagai Dokter... anda bertanggung jawab penuh atas kesembuhan pasien anda sendiri? dan apa anda tahu.. Shasyania putriku, dia belum sepenuhnya sembuh! Dia masih dibayangi masa lalu yang mencekam, yang mengusiknya setiap waktu! Dia tidak bisa menceritakannya pada saya, meskipun ingin... tetapi dia selalu tidak bisa! karena rasa takut untuk kembali membayangkan masa-masa itu lebih menguasai dirinya dan membuatnya histeris!! Selaku orang tua.. saya sangat terpukul melihat itu semua!" tekan Zivana, "sekarang katakan Dokter Violin, apa saya harus memaksanya untuk bercerita? apa itu bisa membuatnya lebih terbuka? atau justru memperburuk keadaannya? Tolong beri saya saran Dokter Violin...."
"Jangan memaksanya lagi Mrs Zivana...."
"Kalau begitu, apa anda tetap tidak bisa membantu saya, Dokter Violin? setidaknya pertimbangkan ini untuk kesembuhan Shasyania! Anda jelas lebih tahu dari saya mengenai kesehatan mental bukan? dan tentunya tahu.. dampak terburuk apa yang bisa ditimbulkan jika hal itu tidak segera kita tangani!"
Ucapan Zivana langsung menusuk ke relung hatinya, terlebih lagi Shasyania adalah mantan pasien yang mampu menguras emosinya kala itu. Ketidakadilan yang diterima gadis kecil itu seringkali membuatnya menangis iba. Hingga Violin mulai goyah, dan berniat membatu Zivana.
Deron yang menyaksikan kebimbangan Violin mulai ikut bersuara dan menegaskan kekuasaannya, "Anda tenang saja Dokter Violin, saya jamin karir dan keselamatan anda tidak akan terusik! Identitas anda terjaga seratus persen! Saya tidak akan menyeret nama anda dalam masalah ini. Anda bisa pegang janji saya tersebut!" tegas Deron, dengan suara baritonnya, hingga Violin langsung mengangguk setuju.
Dan sebelum bercerita, terlebih dahulu Violin mengatur deru nafasnya, ia bahkan sampai memejamkan mata, untuk kembali menguak kisah tersebut, hingga dirasa sudah tenang, barulah ia berkata, "Masa-masa itu, masa di mana saya bekerja untuk keluarga Zeiqueen... dan kali pertama saya bertemu dengan pasien termuda saya... dia adalah gadis kecil yang bernama Dinesshena Shasyaliona...."
Deron dan juga Zivana sama-sama terkejut mendengar nama keluarga Zeiqueen, hingga membuat rasa penasaran dibenak mereka semakin menggebu-gebu.
"Kejadian itu sudah sangat lama.. tapi tidak akan membuat saya lupa akan detail peristiwanya. Gadis kecil dengan trauma mendalam, akibat kejadian mengerikan yang sempat ia alami. Dia diculik hingga hampir saja diperkosa oleh komplotan penjahat bayaran!"
Zivana langsung mencengkram kuat lengan Deron, suara tangisan pun mulai lolos dari dalam mulutnya, hingga hal tersebut membuat Violin menjeda ceritanya.
"Saat kejadian itu.. maut juga hampir merenggut nyawanya.. ketika dia terjatuh dari jurang yang begitu dalam, namun berkat kuasa Tuhan, dia bisa selamat, dan dihari pertama saya merawatnya, terlihat jelas jika mentalnya sudah sangat terguncang, luka-luka disekujur tubuhnya pun belum mengering sepenuhnya. Bahkan saat mengajaknya untuk berkomunikasi.. itu masih sangatlah sulit, dia lebih banyak diam, dengan pikiran menerawang.. sampai kata-kata pertama yang selalu ia katakan adalah menanyakan kabar sahabatnya.... Vanvan! yaaa, saya masih ingat betul nama itu."
"Vanvan?" ulang Zivana, pada nama yang tidak asing untuknya.
"Iyaa Vanvan, Shasyaliona selalu berkata jika orang itu adalah sahabat yang telah menolongnya, dan orang itu juga yang bersamanya menghabiskan waktu di hutan."
"Honey... berarti? berarti Shasyania adalah?" lirih Zivana.
"Tenangkan dirimu dulu honey, kita harus mendengar semuanya, permasalahan ini harus jelas!" nasehat Deron, sembari memberi isyarat agar Violin kembali melanjutkan ceritanya.
"Berangsur-angsur komunikasi diantara kami pun mulai berjalan lancar.. Shasyaliona terus meminta Ayahnya untuk mencari informasi tentang keberadaan Vanvan, ia juga menceritakan kalau Vanvan terkena tembakan, tapi saat ayahnya melakukan proses pencarian.. bahkan sampai bertanya pada wartawan dan aparat setempat, maka tidak ada ditemukan bukti yang menyatakan ada bocah laki-laki yang ikut serta menjadi korban. Dan semenjak hari itu.. orang-orang mulai menganggap Vanvan hanyalah wujud halusinasi yang Shasyaliona ciptakan sendiri, sampai perkataan tersebut semakin memperburuk situasi psikologis Shasyaliona. Gadis itu mulai menyalahkan diri, ia terus berteriak mengatakan jika Vanvan telah dibunuh karena dirinya, ia meminta maaf sepanjang hari, sampai keluarga Zeiqueen memutuskan untuk menaruh Shasyaliona di ruangan kedap suara, tidak membiarkannya keluar, padahal udara segar akan membantu kesembuhan gadis itu, tapi keluarga Zeiqueen menentang hal tersebut, mereka tidak ingin memancing rasa curiga.. saat orang-orang berkunjung di kediaman mereka."
"BRE.GS.K!" umpat Deron, ia mulai tersulut amarahnya.
"Penculikan? hutan? lalu terjatuh ke jurang? bukannya itu.. peristiwa yang dialami Zia?" ungkap Zivana, dengan nada amarah, "pantas saja Zia melupakan anakku! ternyata bukan dia yang menjadi korbannya! tapi itu putri kami! Dia yang mengalami ketidakadilan itu! Dia yang menderita! Dan dia juga yang terluka... hingga dialah yang trauma!!!" seru Zivana, sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Lalu matanya mendongak menatap suaminya, "Honey, ternyata Shasyania... dia... dia gadis yang Nevan cari! huuu..huu.. apa yang telah aku lakukan honey... aku turut salah dalam permasalahan ini! Keberadaan Nevan yang tidak tercium media, itu semua karena aku yang telah mengutus Hugo untuk menghilangkan bukti keberadaan putra kita! Aku tidak menyangka tindakanku itu akan berujung seperti ini...."
Deron mengelus punggung istrinya, ia ingin menenangkan Zivana, dan membiarkan wanita itu mencurahkan segala keluh kesahnya.
"Waktu itu, kita lambat mengetahui kebenaran jika Nevan telah hilang di hutan.... Karena Charlee, orang yang mengajaknya berkemah, dia menutupi semuanya... dan saat Charlee jujur, kita langsung mengerahkan pasukan agar segera menemukan keberadaan Nevan, tapi keluarga Zeiqueen, mereka pastinya sudah tahu jika gadis itu diculik, tapi mereka tak ada usaha untuk mencarinya! Bahkan Nevan sudah curiga saat pertama kali Zia ditemukan, dia mengatakan tidak mungkin secepat itu.. apalagi Hugo belum memberi informasi pada keluarga Zeiqueen mengenai titik jatuhnya gadis itu, Hugo baru akan menghubungi bala bantuan.. tapi konferensi pers sudah dilakukan keluarga Zeiqueen mengenai Zia yang telah di temukan! Firasat putraku ternyata benar!! Namun saat itu... justru aku yang tidak mengindahkan ucapannya!" Zivana semakin terisak, mengingat kembali kejadian tersebut.
"Hssstt...hssst.. honey, hey... jangan menyalahkan dirimu, saat itu kita mengira jika gadis yang bersama Nevan adalah Zia, jadi kamu tak salah honey. Yang terpenting sekarang.. kita sudah mengetahuinya, dan Nevan telah bertemu dengan Shasyania. Mereka tidak akan terpisah lagi, bahkan sebelum mereka menyadari kebenaran ini, mereka sudah terikat oleh rasa yang begitu dalam...."
"Kita harus menjaganya honey... kita harus melindunginya!!! Dan yaa, aku rasa tindakan Nevan yang tiba-tiba mau ikut ke jamuan makan bersama keluarga Zeiqueen, adalah niatannya untuk mengetahui kebenaran tentang Shasyania, terbukti dari pertanyaannya pada Jazlan waktu itu. Yaaa, semuanya mulai jelas sekarang, aku juga mulai merasa kemiripan Shasyania dan Zia, itu bukanlah sekedar kebetulan semata, honey...."
"Iyaaa... berarti kemarin, Nevan mengunjungi kediaman Zeiqueen, itu juga untuk mengorek informasi" timpal Deron, "dan yaa honey, apa kamu sudah membaca berita? tentang postingan Meiriam, hal tersebut menggiring opini jika putra kita memiliki hubungan khusus dengan Zia!"
"Aku akan menyuruh Briana untuk mempersiapkan klarifikasi, kita akan membantahnya dan mengatakan jika Nevan sudah memiliki tunangan!"