
Dengan tampilan fashionable, seorang Wanita kalangan atas terlihat duduk sendiri di sebuah restoran, hingga beberapa detik kemudian seorang pelayan datang menghampiri.
Tangannya lalu menjulur menerima buku menu, dan tanpa membuang waktu lagi, kedua manik matanya menelisik, mencari makanan yang sekiranya menggugah selera.
Di iringi alunan musik harmoni, ketentraman terasa begitu nyata dalam ruangan itu, sampai derap langkah tergesa-gesa mendekat dan membuatnya tersenyum sumringah.
"Sayang, kamu sampai lebih cepat dari yang Mommy kira, tapi kenapa Freya belum datang juga?"
Tidak ada sapaan atau bahkan senyuman dari wajah itu, hingga Zivana mengernyit bingung.
"Duduk sayang, mari kita makan bersama."
"Mom, are you calling me just for this? Are you kidding me?"
Zivana tersentak dengan ucapan putranya, "Reaksi mu berlebihan Nevan. Ini hal biasa yang sering kita lakukan!"
"Tidak! kali ini cara Mommy salah, seakan terjadi sesuatu hingga aku ke sini dengan pikiran kalut! Dan jujur saja, saat supir menjemput dan membawaku ke area ini, aku sudah sangat kecewa dengan apapun alasan Mommy!"
"Tenanglah sayang! Iya Mommy salah, Mommy minta maaf, hal seperti ini tidak akan Mommy ulangi lagi, jadi sekarang duduklah!" pinta Zivana, tetapi putranya seakan tidak mendengar, "kenapa masih berdiri? Duduklah Nevan!"
Bukannya menjawab, Nevan justru menggerakkan tangannya untuk mengusir pelayan yang masih berada di antara mereka.
"Maaf Mommy, tapi Nevan harus pergi."
"Ehh...eh kok pergi?" ujarnya cepat, "sayang, Freya sebentar lagi akan datang. Dan katanya dia masuk tiga besar lagi, jadi mari kita rayakan itu!"
"Tidak Mom!"
"Kalian marahan? sudahlah Nevan, lupakan itu untuk sementara," bujuk Zivana, "nanti setelah acara makan selesai, kalian bisa melanjutkannya kembali!" imbuhnya bergurau.
"Mommy sudah tahu kalau aku tidak suka di paksa!"
"Jelas Mommy tahu! tapi sebelumnya kamu tidak pernah mempermasalahkan hal seperti ini, lagian cuma untuk makan, jadi luangkanlah waktumu!"
"Dulu dan sekarang berbeda Mom!" tegas Nevan, "kini ada seseorang yang perlu aku jaga perasaannya!" imbuhnya, yang sudah bergegas untuk pergi.
"Nevan?" Zivana memanggil putranya dengan nada bertanya, "hubunganmu dengan Freya sudah terjalin lama, jangan bersikap terlalu keras padanya, ingat dia itu wanita!"
Tanpa rasa ragu Nevan melangkah lebih mendekat, "Di sana tunangan ku sendiri, dan di sini Mommy menyuruhku untuk menemani wanita lain? apakah aku setega itu, Mom? Tidak! jadi maaf, Nevan tetap harus pergi!" pamitnya, dan tak lupa juga ia mengecup pipi Zivana, sebelum benar-benar beranjak menjauh.
"Tunangan?" cicit Zivana, beberapa detik ia masih menimang-nimang apa yang barusan ia dengar, sampai akhirnya ia yakin. Namun saat kembali ingin bertanya, sayangnya raga Nevan tak lagi di sana.
"Antar ke sekolah!"
Baru saja sang sopir akan menyantap makanan, Tuan mudanya sudah datang memberi perintah, hingga sopir itu menurut patuh.
Langkah Nevan kembali terhenti, ketika di pintu keluar sebuah panggilan meneriaki namanya.
"NEVAN!"
Seperti tidak ada alasan untuknya bertahan, ia kembali mengayunkan kaki. Tapi di sana, Freya juga tidak ingin berdiam diri, gadis itu langsung berlari mengejar Nevan, dan meraih tangannya.
"NEVAN TUNGGU!"
Tak!
Geonevan menepis tangan itu dengan cukup keras, seakan-akan ia jijik jika bagian tubuhnya di sentuh tanpa persetujuannya. Mulut tidak mengeluarkan sepatah kata, namun matanya menjawab jika ia tidak ingin di ganggu.
Freya mengiba memainkan ekspresi, "Bahkan untuk waktu yang sebentar, lo gak bisa kasih ke gue Van? Salah gue apa? sampai lo bersikap seperti ini! Kenapa lo jadi semakin dingin!"
"Dingin? Lo pikir gue Mesin, yang bisa lo atur suhunya! dan ingat, jangan pernah memanfaatkan situasi seperti ini lagi, apalagi sampai minta bantuan sama Mommy gue! Jika lo pikir dengan dukungannya lo bisa mengatur gue, lo salah! Gue bukan anak kecil yang harus menuruti keinginan seseorang! apalagi sampai menentang diri gue sendiri!"
"Tapi tante Zivana menyukai gue Van, jad__,"
"Ohh, lo mau ngajarin gue tentang cara menyenangkan hati orang tua? atau cara berbakti? cih! GENDENG!" cela nya, "asli! gue semakin jijik dengan orang-orang seperti ini! Lo bilang Mommy gue suka sama lo kan? ya lo deketin aja dia, kenapa harus gue, karena sedikitpun gue gak ada rasa suka sama lo! bahkan sekecil upil lo pun enggak!"
Refleks setelah ucapan itu Freya langsung menaikkan smartphone miliknya, lalu ia menggunakan benda itu sebagai cermin. Sibuk mencari upil yang Geonevan maksud, sampai ia tak menyadari jika sosok itu sudah lenyap dari pandangannya.
Begitulah Geonevan, ia tipe orang yang tidak suka di paksa. Memiliki pendirian yang kuat, sikapnya arogan dan bermulut pedas, tapi jika sesuatu yang awalnya ia tolak mentah-mentah lalu ia setujui begitu saja, berarti ada alasan kuat di balik itu semua.
"NEVAN...!!!" jerit Freya, ia merasa dipermainkan. Kakinya tidak berhenti menghentak-hentakkan lantai, sampai beberapa karyawan menatap prihatin.
"APA KALIAN LIHAT-LIHAT! MAU DIPECAT AH?"
Sebuah ancaman merupakan senjata pamungkas milik seorang Gisella Freyani Arsenio, gadis manja yang terkenal begitu di sayangi oleh kedua orang tuanya.
...****************...
Kembali lagi ke SMA GUARDIANS, Shasyania terlihat mengetik pesan, sepertinya ia tengah memberi informasi agar Ningrum tidak perlu menjemput.
GREB!
Seseorang tengah memeluknya dari arah belakang. Mendapat serangan mendadak membuat instingnya menyala untuk melindungi diri.
Bermaksud ingin menyiku, namun sayang gerakannya terbaca, dan justru berhasil dikunci, tampaknya orang yang berada di belakangnya itu cukup mahir untuk menangkis serangan.
"Sayang, ini Nevan!" ujar laki-laki itu cepat, sebelum gadis dalam dekapannya ini lebih memberontak, "selamat ya, dan ini...," sambungnya, seraya mengendurkan pelukan dan memberi Shasyania tas kresek putih berukuran besar yang sedari tadi ia tenteng.
Empat pasang mata yang tak jauh dari sana juga melihat interaksi kedua orang itu, Dariel dan Eron sama-sama menepuk jidat melihat barang pemberian Geonevan.
"Jir! baru kali ini gue malu punya sahabat kayak Nevan!" pungkas Dariel, sambil menghela nafas panjang.
"Makasi!"
Tidak dengan menatap, Shasyania seperti menghindari pandangannya dari Nevan.
"Ini baru pembuka, yang lainnya masih ada, jadi ayo?" ajaknya dengan uluran tangan.
"Maaf gak bisa."
"Aku harus pergi bersama Gemmi!"
Hujaman anak panah terasa menusuk, ketika Geonevan mendengar penuturan Shasyania.
"Gemmi?" ulangnya memastikan, dan di jawab anggukan kepala, "tapi bukanya kita sudah ada janji?" terdengar intonasi bicara Nevan sedikit berubah.
"Maaf aku harus pergi!"
"Tidak! jangan pergi!" cegahnya.
Shasyania berusaha melepas cengkraman Nevan, yang masih memegang pergelangan tangannya.
"Kenapa? bukanya lo setuju jika kita akan makan bersama, kenapa jadi seperti ini?"
"Aku mau menjenguk Oma di rumah sakit! Gemmi memberitahu, dan tadi juga Oma menelpon!"
Masih dengan perasaan tidak rela, namun Nevan berusaha menerima, ia sadar betul betapa berjasa nya orang itu bagi Shasyania.
"Baiklah, gue akan antar!"
"Tidak perlu, sudah ada Gemmi!"
Hembusan nafas berat kembali terdengar dari mulut Nevan, ia berusaha mengontrol diri, "Kalau begitu izinkan gue mengantar sampai tempat parkir!" tanpa menjawabnya Shasyania membiarkan Nevan mengikuti.
Dan dari pantulan kaca mobil, Gemmi bisa melihat jika Shasyania menghampiri, namun alisnya juga ikut terangkat, ketika melihat sosok Nevan juga ikut mendekat.
Gemmi tak menyapa dan Nevan pun tak melirik, mereka seperti dua orang yang tak saling menyadari kehadiran satu sama lain. Pandangan Nevan hanya tertuju pada Shasyania, ia membukakan pintu dan menutupnya kembali, lalu tanpa basa-basi mobil itu menjauh meninggalkannya yang masih mematung di tempat semula.
Cukup kalut dengan situasi tersebut, membuat Nevan bergegas menuju mobilnya. Ia mulai menyalakan mesin, namun tiba-tiba dari arah luar seseorang laki-laki mengetok jendela kacanya dan meminta izin untuk masuk.
Bruk!
Dariel yang sudah berada di dalam langsung menyenderkan punggungnya nyaman, lalu mulai membuka suara, "Van, lo menganggap gue sahabat gak sih?" keluhnya, "atau jangan-jangan lo meragukan kemampuan gue! Yaelah Van, dari kita bertiga, gue yang paling memahami urusan cinta! Gue bukan orang yang pelit ilmu, gue mau berbagi apalagi untuk sahabat gue ini! Bertanyalah Van, jangan bertidak kaku, apalagi mengulang hal seperti tadi!"
"Keluar, gue gak ada waktu dengerin ocehan lo!"
"Ck, lo perlu bimbingan gue, Van! jadi mulai sekarang gue resmi jadi Guru cinta lo!" tegasnya, "dan sebagai Guru yang baik, tentu gue gak mau anak didik gue sampek kayak tadi. Amatir!"
"Gak jelas lo!"
"Gak jelas yang mana? gue tadi liat ya! lo ngasih kresek putih ke Shasyania, apa-apaan itu! lo orang terpandang Van, jadi ngapain lo ngasih begituan?"
"Itu isinya coklat kampret!"
"Jadi lo borong satu Toko buat beli coklat?" tebaknya, "Wah! tapi maaf Geonevan Akhilenzyn Eldione, gue gak terharu tuh! Bukannya romantis, lo malah terkesan gak niat tahu gak! ngasih coklat emang gak salah, tapi cara lo mengemasnya itu salah! Jadiin buket kek, apa kek! inovatif dikit napa!"
"Gak sempet!"
Dariel tersenyum jail, "Gak sempet karena lo merasa hadiah awal lo gagal kan? takut bersaing iya kan? Ngaku, Van!" tebaknya sekali lagi, "Gue juga tahu lo nyiapin buket bunga buat Shasyania, kasih aja napa, lagian jenis bunganya juga beda!"
"Enggak! karena setalah gue pikir-pikir ketimbang ngasih bunga yang cuma berakhir jadi sampah, mending gue kasih yang lebih bermanfaat! Yang bisa dimakan!"
"Bisa aja ngelesnya bang!" ledek Dariel, "hmm, tapi kali ini kita libur dulu untuk membahas urusan asmara, karena tadi Kakaknya Eron udah sampai di Indo. Sekarang dia ngundang kita ke restorannya buat nyoba menu baru, lo ikutkan? itung-itung nambah resep baru!"
"Gue gak ikut, titip salam aja!"
"Wah, mood lo lagi hancur ya? udahlah Van, ditolak sekali gak masalah, itu hal biasa! Cewek emang gitu, semakin kitanya di tolak, maka semakin dia menginginkan kita untuk mengejar, jadi slow aja!"
"Kalian jalan dulu, nanti gue nyusul!"
"Oke baiklah! aman-aman lo nyetir, jangan ngebut! takut kena razia!"
Sepeninggalan Dariel, Nevan bergegas merogoh kantong celana dan mengambil smartphone miliknya, lalu ia terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Hallo Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong cari Rumah Sakit atas nama pasien Raimar Zailen dirawat, dan beri informasi secepatnya!"
Suara dari seberang telepon tak langsung menjawab, karena pria itu masih heran dengan perintah Tuannya, karena Atom mengetahui betul siapa orang yang tengah Nevan cari. Namun Atom tetaplah seorang bawahan, yang bertugas untuk melayani keinginan majikan, hingga ia hanya mampu untuk patuh. Toh keinginan tersebut masih dalam batas wajar, dan tidak akan memantik amarah Tuan besar Toreno.
"Baik Tuan Muda!" Tiga kata itu cukup untuk Nevan mematikan sambungan telepon, dan kembali menyalakan mesin mobil, lalu melaju membelah jalanan.
Drrrrrrrrrtt!
Drrrrrrrrrrt!
Seperti yang di inginkan Nevan, saat ia sampai di persimpangan jalan di pusat Kota, panggilan yang ia butuhkan tertera memenuhi layar smartphone miliknya.
"Iya katakan!"
"Maaf Tuan Muda, pasien atas nama Raimar Zailen tidak dirawat di rumah sakit manapun!"
"Baiklah, terimakasih Atom!"
Tut!
Panggilan itu terputus, dan ekspresi wajahnya seketika berubah. Tangannya mencengkram erat setir kemudi, hingga kuku jarinya berubah memutih.
Suasana hatinya benar-benar hancur, dan saat itu juga Dariel tengah memanggil melalui sambungan telepon.
Nevan mengira jika kedua sahabatnya itu pasti tengah menunggu, dan dengan alasan itu juga ia mengabaikan panggilan tersebut.
Sampai di mana saat Dariel mengirim beberapa foto yang berhasil membuat pupil mata Nevan membesar, dadanya terasa memanas ketika menyaksikan siapa orang yang tengah tertangkap dalam jepretan tersebut.
"Sakit? rumah sakit? Ck! alasan!" pungkasnya tajam.