
(Mode flashback)
Selepas hari itu aku mulai jarang bertemu dengan Shasyania, bukan karena bosan, melainkan karena kewajiban ku sebagai generasi muda di keluarga Eldione.
Ya, keluargaku mulai melibatkan ku dalam pertemuan bisnis penting, meskipun tidak di ruangan yang sama, tapi aku dapat menyaksikan dan tentunya belajar, tentang bagaimana cara mengatasi persoalan internal maupun eksternal yang terjadi di perusahaan, hingga mampu memberi solusi dan keputusan terbaik, seperti yang sering dilakukan Kakek dan juga Daddy.
Dan kini dua bola mataku masih fokus menatap layar proyektor, yang memperlihatkan ekspresi ketegangan dari raut wajah participants meeting, lalu bersamaan dengan itu aku juga mulai mencatat poin-poin penting, hingga membuat solusi yang akan aku sampaikan nanti ketika Kakek dan Daddy memasuki ruangan ini.
"Bagaimana Nevan? kamu sudah siap untuk pelajaran kali ini? tadi kamu dengar sendiri kan ada beberapa masalah di masing-masing cabang. Nah, sekarang Kakek mau dengar solusi dan cara kerja mu!"
Ini tidak seperti menyelesaikan soal matematika, tidak juga seperti teori sejarah, aku masih harus belajar untuk menjadi pemimpin yang layak nantinya, hingga pantas menduduki singgasana tertinggi di Dione Crop, dan beruntungnya aku, kerena Daddy selalu memberiku arahan.
Dan sama seperti ku, Daddy juga terus memantaskan diri, selalu bekerja keras dengan hasil yang nyata, aku kagum dengan sosoknya. Selain Kakek, Daddy juga merupakan role model yang selalu aku contoh.
Hingga semakin beranjak umurku, maka keterlibatan ku dalam rapat mulai di perhitungkan, terkadang aku juga berada di ruangan yang sama, dan sesekali di minta untuk mengeluarkan argumentasi. Kata Kakek itu hal yang bagus, untuk menyakinkan relasi agar tetap percaya dengan kemampuan Dione Crop kedepannya.
Bahkan seperti sekarang ini, di saat waktu baru menunjukkan pukul Tiga pagi, aku sudah diminta agar segera berangkat ke kantor untuk mengikuti zoom meeting bersama relasi bisnis yang berada di luar Negeri, itu dilakukan untuk mendiskusikan cabang baru yang akan segera dibangun di sana.
Kerena perbedaan siang dan malam jelas membuat kami harus menyesuaikan waktu, apalagi ini bisnis yang menguntungkan, maka dari itu aku selalu dituntut siap, dan terus mengasah pengetahuan di dunia bisnis. (kegiatan ini juga ada di eps 65, Nevan bangun pagi untuk mengikuti meeting)
...****************...
Liburan semester telah berakhir, dan kini aku resmi menyandang sebagai siswa kelas XI IPA 1, dan sekarang tidak hanya tugas sekolah, bahkan tugas perusahaan pun ikut membuat otakku bergerak, apalagi kini Dione Crop semakin melebarkan sayapnya di berbagai sektor bisnis.
Hal itu juga yang membuat ku kian susah bertemu Shasyania, aku ingin melihatnya? tentu! bahkan sangat. Namun semampunya aku tahan, hingga rindu itu semakin menumpuk dan terasa nyeri.
.
.
"Hey...sayang, besok Mommy dan Daddy akan berangkat ke London, dan yaa Nevan, kamu sudah siapkan hadiah untuk Daddy mu sayang?"
"Yes Mom, tentu! Daddy bekerja sangat keras Mom, hingga kini berhasil mendapat posisi Direktur utama!"
"Yaa...sayang, Mommy sangat bangga dengan Daddy! dan kamu juga harus mulai mempersiapkan diri, karena nanti saat Daddy mu naik jabatan lagi menjadi CEO, maka kamu yang akan menjadi Direktur utama! kamu harus langsung mendapat posisi itu, maka jangan pernah mengecewakan kepercayaan Kakek dan juga Daddy mu! Kamu punya potensi besar, dan kita harus saling menguatkan sayang. Mommy yakin Kakek pasti bangga dengan kalian berdua!"
Seperti kata pepatah, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil, begitulah perjuangan Daddy, ia rela pulang pergi untuk urusan bisnis, dan menegakkan dirinya sebagai pemimpin berwibawa yang akan terus membawa Dione Crop menjajal posisi teratas.
Dan untuk Mommy, dia juga selalu setia menemani Daddy, meskipun Mommy memiliki bisnis tersendiri dalam dunia fashion, namun ia selalu memegang teguh jika seorang istri harus selalu berada di samping suami, hingga tak segan-segan untuk ikut perjalanan bisnis.
Melihat kekompakan kedua orang tuaku, hingga membuatku berkhayal jika suatu hari nanti aku dan Shasyania juga seperti itu. Saling mendukung, saling menguatkan, menjadi keluarga bahagia penuh cinta kasih, dan tentunya aku akan lebih sering mengajaknya berlibur, menghabiskan waktu bersama di sela-sela perjalanan bisnis.
"Ahhh...padahal dia belum mengenalku tapi aku sudah memikirkan masa depan dengannya...."
...----------------...
Terlahir sebagai orang kaya memang suatu anugerah, dan mempertahankannya juga merupakan perjuangan yang susah, aku tidak ingin usaha yang dibangun Kakek dan juga Daddy menjadi sia-sia, maka dari itu aku selalu belajar untuk lebih waspada dengan karakter manusia, apalagi waktu kecil aku beberapakali sempat di manfaatkan.
Dan setelah kesibukan yang begitu padat akhirnya kini mulai renggang, aku bisa bernafas lega, kepercayaan dari para relasi sudah kami dapatkan, dan sekarang hanya perlu menjalankan dan terus menuju rantai teratas.
"Liburan semester ini, gimana kalau kita ke Paris?"
"Paris? aah mending ke Thailand aja gimana? gue pengen nyoba makanan mereka, enak-enak banget katanya, mana cewek di sana bening-bening lagi!"
"Mikir yang bening, pas pulang malah batang yang lo bawa...waahaha..haha!"
"Sialan lo Ron!"
"Gue mau ke Paris!"
"Wah...ada apa nih? kelihatannya babang Nevan pengen banget tuh ke sana...."
"Pokoknya gue mau ke Paris!"
"Ehh tunggu-tunggu....bukannya band legendaris itu juga mau manggung di sana ya? Ohhh... lo mau nonton itu Van? kalau ya. Oke gue ikut ke Paris!"
"Mmmhhh..., kayaknya tujuan Nevan bukan itu deh Ron! lo liat aja tuh ekspresi dia!"
"Bacot lo! gue bayarin kalian selama di sana!"
"Woowww...emejing! kalau begitu gak ada penolakan lagi! gue juga ikuuuuuutt!!!"
......................
Dan setelah penerimaan rapot semester satu aku segera menuju tempat parkir, begitu rindunya ingin melihat Shasyania, hingga ku kendarai mobil menuju SMA MERPATI.
Aku melihatnya namun tak bisa mendekat, selain karena Shasyania tidak mengetahui tampilan ku yang seperti ini, orang-orang di sampingnya juga semakin mempersempit ruang geraknya, bahkan hanya untuk bertegur sapa.
Shasyania layaknya magnet dalam pusaran besi, begitu kuat daya tariknya hingga orang-orang rela bertekuk lutut.
Dan ketika senja menghiasi langit barulah aku mendapat kesempatan, kini ia terlihat sendirian di tepi pantai, usahaku mengikutinya sejauh ini ternyata membuahkan hasil, sekarang waktunya tiba untukku bersamanya.
Lengkap dengan kostum dan topeng aku mengayunkan kaki mendekat, namun semakin jarak di antara kami terkikis aku justru melihatnya menangis.
"Hhmm..."
Ia menengok dengan alis bertaut, lalu sejurus kemudian mulutnya terbuka, "Ehhh...kamu Aa kan?"
Aku mengangguk kepala, dan kulihat ia bergerak untuk menyeka air mata yang sempat membasahi area wajahnya.
"Wah gak nyangka ya bisa ketemu di sini...."
Ku tulis kalimat menanyakan kenapa ia menangis, namun ia jawab dengan kata-kata singkat.
"Gak apa-apa kok...."
Shasyania tak banyak bicara dan aku pun tak banyak menulis, kami diam dengan tangan sama-sama bergerak membentuk pola di pasir pantai. Ku lirik ia menggambar rumah, dan belum sempat aku memujinya, ia bergerak lebih cepat untuk menghapusnya. Aku yakin sesuatu tengah mengusik benaknya.
"Matanya tidak bisa berbohong, tapi apa? bukan! lebih tepatnya siapa? siapa yang tengah ia pikirkan? kenapa sorot matanya begitu sedih?" aku membatin dengan segala pertanyaan yang mulai memenuhi kepala.
Meskipun ada tanda tanya besar dalam diriku, tapi bukan berarti aku menyerah, aku akan tetap memperjuangkan Shasyania, seperti rencana yang sudah ku susun, jika aku akan menyatakan perasaanku di Kota Paris, kesan romantis sudah terpikirkan, meskipun penolakan mungkin saja terjadi dan selalu membuatku ketakutan, tapi tekad ku sudah bulat, aku akan menyelesaikan keresahan ku ini.
Niat hati ingin berangkat lebih awal sedikit tertunda, diakibatkan cuaca di Kota Paris yang kurang bersahabat, hingga akhirnya liburan semester tinggal seminggu lagi dan aku harus secepatnya berangkat, karena tidak hanya dikejar waktu, aku juga di kejar keinginan untuk segera membuatnya menjadi milikku.
Ku susun rencana secara matang bahkan berlatih semalaman di depan cermin dengan selembar foto Shasyania dalam genggaman tangan, semua aku lakukan sesuai rencana, aku berniat membuat panggilan vidio dengan latar menara Eiffel, dan tak lupa juga dengan ratusan bunga dan tentunya yang paling penting adalah kuda putih, aku ingin menyatakan cinta seperti yang Shasyania impikan, lalu ku kirim tiket untuknya.
Namun rencana tetaplah rencana, baru juga menginjakkan kaki di bandara Charles De Gaulle, panggilan dari Atom membuatku kesal.
"Kau bilang Kakek baik-baik saja, terus kenapa aku harus pulang? sudahlah aku tidak bisa!"
Tut!
Aku mematikan sambungan tersebut, dan bergegas meminta penjelasan pada Mommy, ku cari kontaknya hingga panggilan terhubung.
Aku kembali di buat tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar, Mommy menyuruhku pulang bahkan keputusan itu sudah dibuat secara tegas oleh Kakek, sampai Daddy pun tidak bisa membujuknya.
Aku kesal? jelas kesal, bahkan sangat! Liburan ini sudah aku rencanakan, jika gagal maka akan sangat sulit untukku kembali mencari waktu, bahkan tidak hanya itu, ini adalah hal yang di impikan Shasyania. Kesan romantis ku retak menjadi kepingan harapan.
"Bagaimana ini? jika aku kembali menunda apa semua akan baik-baik saja? aku ingin semua sempurna! tapi...aaaahh menyebalkan!!! Shasyania bisakah kamu menunggu? tidak-tidak! begitu banyak yang menginginkannya! Sial, kenapa harus seperti ini! Benar-benar tidak adil!" aku tenggelam dalam pikiranku, sampai seseorang menyandung kakiku dan membuatku tersadar.
...****************...
Di keadaan lelah fisik dan juga pikiran akhirnya aku sampai di kediaman Eldione, jet lag jelas aku rasakan apalagi penerbangan bolak-balik yang baru saja aku alami.
Namun belum juga melepas penat, sayup-sayup ku dengar beberapa pelayan bergosip ria, dan tak sengaja aku mendengar omongan mereka.
"Lah..., buktinya mereka jadi kaya kan?"
"Tapi dia kan meninggal, jadi apa untungnya?"
"Tahu gak, sepertinya ini skenario yang udah mereka rencanakan deh! kalian ingat kan pertamakali supir itu datang, bahkan kita yang udah berpuluh-puluh tahun kerja di sini gak pernah tuh dapet kepercayaan dari Tuan besar, tapi dia baru juga beberapa tahun udah jadi kesayangan, dan sekarang, setelah mati, bahkan kita harus menyambut keluarganya yang sebentar lagi akan di jamu makan malam. OKB mereka, apalagi katanya ya..., istri si sopir minta setengah harta keluarga Eldione, dan karena Tuan besar merasa bersalah jadi menerimanya gitu aja, dan yang paling parah Tuan Deron pun sampai di coret dari harta waris, karena haknya udah berganti jadi milik istri si sopir! Bener-bener tipu daya ini!"
"Iyaaa...iyaaaa... dari awal kedatangan sopir itu aku juga udah curiga tuh, dia pandai bersilat lidah, mengambil hati Tuan Besar dan juga Tuan Muda! benar-benar berbahaya!"
Tubuhku seketika kaku, masih belum mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
"SUPIR SIAPA YANG KALIAN MAKSUD? SIAPA AHH? PAMAN DANES?" aku menampakkan diri, dan menyuruh mereka menceritakan secara detail.
Hatiku seperti tersengat, dan di dalam kamar aku menangis pilu atas kepergian Paman Danes, tetapi aku juga kecewa melihat bukti yang membenarkan jika Kakek akan segera memberi harta untuk keluarga itu, bahkan aset Daddy juga akan berpindah tangan.
Dari dulu aku diajarkan untuk mempertahankan hak ku, tapi kini aku melihat hak orang tuaku dirampas seperti ini, dengan cara memanfaatkan musibah yang mereka alami.
Ini tidak adil, bahkan sangat tidak adil untuk Daddy ku, dia sudah bekerja keras dan sekarang semua haknya dirampas secara paksa.
Aku kecewa, lagi-lagi aku merasa dimanfaatkan, terlalu mudah percaya padahal dia sudah ku anggap sebagai keluarga, meskipun aku sedih karena dia sudah tiada, tapi istri dan anaknya justru memanfaatkan keadaan ini, dan menyulut api kebencian dalam diriku.
Kerja keras Daddy dan kesetiaan Mommy akan segera lenyap, perjuangan mereka seakan tak berarti di mata Kakek. Aku marah, dan tidak terima dengan keadaan ini.
"AAAAAAAAAAHHH!!! BA.GSAAAAAAT! KENAPA HARUS SEMUA? APA INI BENAR-BENAR RENCANA KALIAN? SIALAAAAAAN! KALIAN MERUSAK KELUARGAKU! TAK BISA AKU TERIMA!!! JIKA INI MENIMBULKAN KERETAKAN DALAM HUBUNGAN KEDUA ORANG TUAKU DAN KAKEK, MAKA AKAN AKU BUAT KALIAN SENGSARA!!!" aku marah atas ketidakadilan untuk Daddy ku, dan aku juga sedih karena semua rencana ku harus batal karena peristiwa menyebalkan ini.
...----------------...
Tok!
.
.
Tok!
Ceklek!
"Selamat malam Tuan Muda, Tuan Besar menyuruh anda segera turun... karena kedua tamu sudah berada di meja makan."
"Aku tidak sudi!"
"Maaf Tuan Muda, saya diperintahkan untuk menjemput anda, dan jika anda melawan maka saya akan membawa anda secara paksa!"
"Apa lagi yang mereka inginkan hah? apa harta dan hak Daddy ku belum cukup juga? BRE.GSEK! Dan kau tahu mereka juga menghancurkan rencana ku!!! jika saya gadisku tak menjadi milikku maka mereka akan ku buat hancur!!!"
"Saya mohon tenang Tuan Muda, lebih baik anda bersiap, saya akan tunggu di sini!"
BRAAAAKK!
Ku tendang pintu cukup keras, rasanya ada emosi yang ingin aku luapkan, namun saat sampai di depan cermin foto Shasyania lah yang membuatku tenang.
"Aku merindukan mu...aku merindukan mu Shasyania.... Tuhan, aku mohon jadikan dia milikku, jangan biarkan orang lain merebut nya, jangan hancurkan rasaku... aku serius, bahkan sangat-sangat serius akan dirinya... tapi sesuatu terjadi dan menyita waktuku...tolong jaga dia... bersamanya aku tenang, begitu nyaman...hatiku terus-menerus menginginkannya... biarkan dia bersamaku... aku pasti mencarinya, jadi jangan lepaskan dia dari jangkauanku...aku mohon.... aku ingin melihatnya... Aku sungguh teramat sangat mencintainya...."
.
.
.
Setelah pergolakan dalam diri, kini aku menyusuri anak tangga dengan rencana memberi orang-orang itu sambutan kasar, namun saat mataku menatap kearah meja makan, betapa kagetnya aku melihat sosok itu.
"Tidak...ini tidak mungkin!"