
Berdiri di atas panggung dengan ribuan pasang mata tengah memandang. Banyak ekspresi yang Shasyania tangkap di sana, mulai dari kagum, bingung, terkejut hingga haru menjadi satu, namun tak sedikitpun membuatnya ragu, dalam setiap langkahnya menyusuri lantai hitam legam tersebut.
Berbalut kebaya modern, dipenuhi detail brokat berwarna peach, Shasyania tampil anggun, dan tak hanya itu, model rambutnya yang tergerai bergaya blow out juga menambah kesan elegan, hingga ia sukses menyihir ribuan pasang mata untuk tetap betah menatapnya.
"Waaaaaahhh!"
Satu kata bersamaan keluar dari dalam mulut Nita, Ririn, Dino, dan juga Baru, kali ini mereka benar-benar terpukau menyaksikan perwakilan SMA GUARDIANS.
"Lo masih mules?" tanya Gemmi, saat ia melihat ekspresi seorang Nita, gadis itu seakan tidak mau di ganggu. Ia memilih untuk diam dan mengabaikan pertanyaan tersebut.
Suara riuh tepuk tangan, teriakan, bahkan tak jarang pula ada yang sampai mengabadikan momen lewat ponsel. Suasana yang sedari tadi sudah terdengar heboh bertambah pecah ketika Shasyania melambaikan tangan ke segala penjuru ruangan.
"Sekarang gue gak takut lagi! kalau kayak gini juara bertahan pun gue jabanin!" Seru Dino.
Rissa yang berada tepat di sampingnya langsung menutup kuping, "Jangan sombong dulu lo, entar malu kalau kalah lagi!"
"Cuihhh! kalah pun gak masalah yang penting semua orang tahu dan mereka mengakui kalau wakil kita kali ini gak kalah cantik! dan yang terpenting SMA GUARDIANS gak cuma modal sosmed!" tegas Nita.
Setiap suporter pasti memiliki pandangannya tersendiri, terlepas dari itu silih berganti para perwakilan SMA lainpun mulai menampakkan wujudnya. Suasana semakin meriah kala semua peserta sudah berjejer indah dengan posisi terbaiknya.
"Jadi itu juara bertahannya SMA MERPATI?" tanya Dino, dengan mimik wajah tidak percaya.
"Kok gue gak yakin ya, kalau itu orangnya?" sahut Ririn.
"Mmmhh..., mungkin karena ada Shasyania makanya aura dia jadi biasa aja," ucap Nita.
"Gue merasa bodoh karena mencari berlian di tempat orang lain, padahal di tempat sendiri lebih berkilau!" seru Dino, sembari mengingat bagaimana usahanya yang ingin berkenalan dengan perwakilan SMA MERPATI.
"Lo gak perlu merasa bodoh karena hal itu udah termasuk bagian dari dalam diri lo!" cela Rissa.
"Seketika gue merasa sangat rendah saat mendengar sindiran dari biangnya bodoh!" sahutnya yang tak kalah menyakitkan.
"Itu yang gaun merah perwakilan SMA mana ya? hitam manis banget sesuai tipe gue!" ujar Wilkan.
"Merah? bukanya itu pink ya?"
"Ehh Miko dari kapan merah sama pink itu sama! anj.r jangan bilang lo buta warna!"
"Sialan! yang mana yang lo maksud? itu yang di ujung kan?"
"Somplak itu mah namanya ungu muda!" bentak Wilkan, "yang gue bilang itu sebelah kirinya Shasya!" imbuhnya menjelaskan.
Miko tidak lagi menanggapi, pandangannya kembali terarah ke depan menyaksikan acara.
Adanya sinyal dari para juri, seorang host pun mulai membacakan nama peserta untuk melangkah kaki ke depan, dan mereka mulai bersiap menerima segala bentuk pertanyaan. Hingga tibalah kesempatan bagi Shasyania.
"Sial perut gue mules lagi!" keluh Nita.
"Sana keluar lo sebelum bikin satu ruangan mabok!" pinta Megan, dengan suara memerintah.
"Yaelah lemah banget sih lo!" ejek Gemmi.
"Gue gak lemah ya! ini karena gue terlalu menghayati!"
"Menghayati kok sampek mo boker! aneh lo!" cela Miko di barengi tawa mengejek hingga Wilkan pun ikut bergabung.
"Kalian bisa diem gak sih?" sentak Ririn yang mulai terlihat geram, "dukung ya dukung aja gak usah banyak bacot. Ke ganggu nih gue!" imbuhnya dengan menekan setiap kata.
Gemmi yang setuju dengan ucapan Ririn mulai memberi kode agar teman-temannya diam dan kembali fokus menyaksikan acara.
"SHASYA GUE YAKIN LO PASTI BISA!" teriak Nita, sembari mengatupkan kedua tangannya, ia terus memanjatkan doa berharap agar sahabatnya itu mendapatkan kemudahan.
Shasyania sudah berdiri dengan satu kaki lebih menjorok ke depan, terlihat jenjang hingga menambah kesan elegan pada kebaya yang ia kenakan. Dengan anggukan kepala ia menandakan jika dirinya sudah siap.
Berdebar? tentu saja, meskipun ini bukan hal pertama bagi Shasyania, namun detak jantungnya selalu terpacu ketika adrenalin nya meningkat, namun sebisa mungkin ia harus mengontrol diri, hingga berhasil menguasai situasi.
Dan sekarang hal yang Shasyania lakukan adalah bagaimana cara agar ia mampu memperlihatkan citra dirinya. Kemampuan awal yang selalu ia terapkan kala berada di keadaan seperti ini. Suaranya yang tegas penuh keyakinan ia keluarkan, hingga siapa saja yang mendengar dapat menyimpulkan jika tak ada sedikitpun nada getar ataupun ragu di sana.
Body language Shasyania juga mempengaruhi orang-orang untuk bereaksi dengan apa yang ia ucapkan, karena respon positif dari para audiens mampu memberi semangat lebih untuknya, dan dia juga dapat memupuk rasa percaya diri, hingga di pertanyaan selanjutnya ia akan lebih nyaman dalam menegaskan setiap jawaban.
Di bawah sana, Gemmi yang merasa sekolahnya sudah berada di atas angin mulai meregangkan otot, "Woiii bisa gak mahkotanya langsung di kasih aja?" Seru Gemmi, yang sengaja mematik emosi dari kubu sebelah.
"Jangan sombong dulu Gem! takut kena mental!" ujar Ririn memperingati.
"Lo gak liat? dari segi manapun Shasyania udah beda level sama peserta lain!"
"Setuju! sebenernya gue gak ekspek dia bakal sejago ini. Kelas dia benar-benar berbeda cuyy!" sahut Baru dengan cepat.
"Bener banget!" timpal Dino dengan dua jempol terangkat ke atas.
"Otak Shasya terbuat dari apa ya? kok bisa ya sehari belajar hasilnya udah kayak gini?" ucap Nita, yang masih terlihat bingung hingga mencari jawaban dari orang sekitarnya.
Gemmi menggelengkan kepala, "Gue yakin ini bukan efek sehari belajar! Mukul musuh sampek pingsan aja perlu latihan dan teknik khusus, apalagi masalah otak!" bantahnya, yang terdengar masuk akal hingga yang lain ikut sependapat.
"Yappps! di sini pengalaman berbicara," sela Dino, "jangan-jangan sebelumnya Shasya udah pernah jadi peserta!" imbuhnya dengan nada menggebu-gebu.
Berbeda dengan pendukung lainnya yang terlihat bersemangat, suporter SMA MERPATI justru diam dengan raut wajah sendu, ada rasa getir di hati mereka ketika melihat Shasyania dengan hebatannya menyapu bersih sesi ketiga.
"Kemenangan ini bukan lagi milik kita," lirih Anggi, yang langsung mendapat rangkulan bahu dari Wiwin.
"Meskipun bukan untuk SMA MERPATI, tapi kita masih bisa bangga karena dia masih sahabat kita," ujar Nanda, tepuk tangannya menandakan jika ia turut berbahagia atas pencapaian Shasyania.
Suara-suara sorakan kian memenuhi ruangan, bersautan dengan Ledakan-ledakan confetti yang ikut bergemuruh menerbangkan beberapa kertas berwarna-warni. Ragam ekspresi terpancar di sana, perasaan lega dari kubu suporter GUARDIANS tak bisa di sembunyikan lagi, meskipun kompetisi belum usia namun perayaan juara sudah mereka gencarkan.
Hingga tibalah di sesi penentuan juara, penampilan akhir yang sudah di tunggu-tunggu oleh para penonton dan suporter, bahkan ada beberapa orang yang nyaris menangis, menyaksikan Tiga orang wanita cantik yang sedang berdiri berjuang memantaskan diri untuk meraih mahkota.
Namun, saat giliran Freya terlihat jelas jika penampilannya turun drastis dari sesi pertama, ini karena moodnya yang sudah hancur. Tangannya mengepal keras, hatinya terasa tercabik-cabik, semua rencananya berantakan, ingin rasanya berlari namun semampu mungkin ia tahan, dan semakin lama ia berada di atas panggung maka semakin terkikis rasa percaya diri dalam dirinya, hingga pendukung SMA ERLANGGA hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.
Rasa percaya diri yang hilang mampu membuat konsentrasi buyar, hingga semua terasa menyerang padahal itu hanya sebuah sinyal jika kita belum sepenuhnya bisa mengontrol diri.
Kompetisi Puteri Sekolah adalah ajang bergengsi di kota J. Setiap awal semester kompetisi ini akan menjadi salah satu yang paling di tunggu-tunggu, karena tidak hanya para peserta yang dapat beradu argument, para suporter pun ikut ambil bagian dalam menegaskan jika sekolah merekalah yang terbaik.
"WOW! KALI INI KITA MEMILIKI JUARA BARU! KARENA DI ATAS SINI HANYA ADA SATU PERWAKILAN DARI SMA ERLANGGA DAN DUA PERWAKILAN DARI SMA GUARDIANS, KIRA-KIRA SIAPA YA JUARANYA?" ucap lantang seorang host, hingga memancing beragam emosi dari para pendukung.
"Juara satu Shasyania, juara dua Kak Septi dan juara tiganya kasih aja sama SMA ERLANGGA, itung-itung giveaway!" seru Nita, dengan suara yang hanya bisa di dengar oleh teman di sampingnya.
"DAN DI TANGAN SAYA SUDAH BERISIKAN NAMA DARI SANG PEMENANG, SIAPAKAH DIA? PENASARAN YAA?" imbuh seorang host, seraya menjulurkan sebuah microphone ke arah pendukung.
"Udah buruan kasih tahu gak usah mengulur-ulur waktu! Durasi baca nih!" (soalnya kata yang di tulis udah Dua ribu lebih)
"Gak penasaran lagi tuh!"
"Juaranya udah jelas!"
Para host pun saling melirik memberi kode, agar mereka bersamaan membaca sang pemenang.
"DINESCLARA SHASYANIA!"
PREEEETT! PREEETT! PEETTT!
DUG! JRENG! DUG JRENG!
DUARRR! DUAARRR!
KREEEEKK!
"Anj.r bass nya robek!" sentak Ririn, ketika melihat bass yang di pukul Miko rusak.
"Nah, siap-siap ganti rugi kalian!" pungkas Nita, memanas-manasi suasana.
"Ngapain gati rugi, ini barang emang harus di pukul keras, kalau rusak ya dibuang!" selorohnya dengan tatapan malas.
"Gak bisa gitu dong! ini namanya merusak properti sekolah! Mana milik anak marching band lagi. Ingat mereka akan lomba!"
Wilkan menatap jengah, "Apa hubungannya mereka lomba sama ini rusak?" tanyanya dengan nada menyebalkan, "ohh gue ngerti, kalian pikir ini barang kami ambil dari sekolah? Gue tahu alat-alat ini emang di khususkan untuk anak marching band tapi semua alat yang di bawa Geng PS itu milik pribadi! Baru dibeli kemarin! Ngerti?"
Nita cengengesan sembari menggaruk tengkuk lehernya, "Bilang dong dari awal jadinya kan ga__,"
"Diem dulu napa! Gue lagi ngerekam nih!" Bentak Baru, seraya mengusir orang-orang yang menghalangi kamera handphonenya.
"PROSES PENYERAHAN MAHKOTA AKAN DI SERAHKAN LANGSUNG OLEH SANG JUARA BERTAHAN DARI KOMPETISI SEBELUMNYA, YAKNI DARI SMA MERPATI. MARI KITA SAMBUT DIN__,"
Salah satu host sampai mengecek kembali kertas yang ia pegang, iya takut salah ucap, namun ternyata bacaan yang ia liat tetap sama, dengan gerakan cepat ia memberi isyarat kepada rekan sebelahnya untuk mengecek kembali, dan terlihat mereka saling berbisik. Namun dari arah belakang seorang panitia memberi kode agar mereka melanjutkan acara, dan tak lupa juga memberi sinyal bahwa semua yang tertulis sudah benar.
"MAAF MEMBUAT KALIAN MENUNGGU, DAN MARI KITA SAMBUT SANG JUARA BERTAHAN DARI SMA MERPATI YAKNI, DINESCLARA SHASYANIA, AGAR MENYERAHKAN MAHKOTANYA KE JUARA BARU YAITU DINESCLARA SHASYANIA PERWAKILAN SMA GUARDIANS!"
"Apa-apaan nih? kok Shasya jadi dua? atau hanya nama yang sama tap...tapi kok bisa?" seru Nita yang masih terlihat bingung.
"ASTAGAAA kenapa kita bisa melupakan ini!" teriak Ririn, "bukanya Shasya pindahan dari SMA MERPATI, berarti dialah orang itu!"
Berbeda dengan teman sekelasnya yang terlihat heboh di kursi bawah, Nevan dan Eron tampak santai, hanya Dariel yang menganga dengan mulut terbuka.
"Dari awal gue emang merasa gak asing sama mukanya, dan sekarang gue ingat, semester lalu saat kompetisi ini berlangsung di SMA ERLANGGA gue liat Shasyania berdiri persis di atas panggung memenangkan mahkota, jadi gue gak lagi dejavu," tutur Eron.
"Jirrr kok gue gak ingat ya?"
"Lo gak ikut! Gue sama Nevan di paksa Freya buat dukung dia, tapi Nevan gak ke sana, jadinya gue sendirian."
"Kok lo gak ngajak gue?"
"Lo lupa, semester awal lo kan operasi usus bu__"
Dengan gerak cepat Dariel membekap mulut Eron, "Iyaa...ya gue ingat!" pungkasnya.
Kembali ke atas panggung, seorang perwakilan dari SMA MERPATI tengah berdiskusi dengan host, entah apa yang mereka bicarakan namun terlihat kedua host itu menyambutnya dengan anggukan kepala.
"BAIKLAH KITA MULAI PENYERAHAN MAHKOTA DI WAKILKAN SALAH SATU PESERTA DARI SMA MERPATI!" ujarnya dengan suara yang memenuhi seisi ruangan.
"BERARTI JUARA KALI INI TETAP BERTAHAN YA? MESKIPUN DENGAN STATUS YANG BERBEDA!" Canda seorang host.
"BENAR! HANYA SEKOLAHNYA YANG BERBEDA, NAMUN MASIH DENGAN ORANG YANG SAMA!" timpal rekannya di barengi dengan gelak tawa.
"UNTUK DINESCLARA SHASYANIA, KAMI PERSILAHKAN UNTUK MELAKUKAN FIRST WALK SEBAGAI JUARA, SETELAH ITU BERIKAN SAMBUTAN KEPALA SELURUH PENDUKUNG ANDA YANG HADIR DI SINI!"
Penuh percaya diri Shasyania berjalan anggun sembari memperlihatkan senyum terbaiknya, dan hal itu berhasil membuat orang-orang terpana hingga memegangi dada.
"TERIMAKASIH KEPADA SELURUH ORANG YANG TELAH HADIR MENDUKUNG SAYA, TERUTAMA KEPADA SELURUH JAJARAN SMA GUARDIANS YANG MEMPERCAYAI SAYA SEBAGAI SALAH SATU PERWAKILAN DALAM KOMPETISI INI, DAN TIDAK LUPA JUGA TERIMAKASIH UNTUK TEMAN-TEMAN KELAS SAYA YANG BEGITU BERSEMANGAT MENDUKUNG SAYA, HINGGA MELUANGKAN WAKTU UNTUK MENEMANI SAYA BELAJAR DAN MEMBERI KRITIK MEMBANGUN. SEKARANG PERJUANGAN KITA MEMBUAHKAN HASIL, GELAR JUARA INI BERASIL KITA RAIH, KEMENANGAN INI MILIK SMA GUARDIANS DAN KEDEPANNYA SAYA BERJANJI AKAN TERUS BERUSAHA MEMBERI KEMAMPUAN TERBAIK SAYA BAGI SMA GUARDIANS. MARI KITA BEKERJASAMA UNTUK MERAIH GELAR-GELAR SELANJUTNYA. TERIMAKASIH!"
Taburan bunga mengudara, Geng PS mulai beraksi. Semua pendukung berdiri bahagia dengan alat yang mereka tabuh, hingga perlahan-lahan sebuah buket bunga yang sangat besar memasuki Aula, dan terlihat sosok Gemmi yang begitu gagah menjadi sang penunjuk arah, kakinya berhenti berayun ketika sampai di pembatas panggung.