
Beranekaragam jenis lauk pauk tersaji di meja makan tersebut, begitu menggugah selera apalagi aroma yang keluar dari masakan itu seperti menari-nari di sekitaran rongga hidung, seakan memberi isyarat agar segera di santap habis.
Tapi Jazlan, pria selaku kepala rumah tangga di kediaman itu belum juga menyentuh makanannya, dan malah terkesan ingin memulai obrolan bersama sang putri tercinta.
"Ziaa, dua hari ini... kamu tidur di mana, Princess?"
"Di hotel, Papi."
Suasana mendadak menjadi hening, ketika Jazlan memperlihatkan tatapan menyelidik kearah putrinya, "Apa rumah ini kurang mewah, hem? hingga membuatmu tidak nyaman menghabiskan waktumu di sini?" tanyanya penuh penekanan, sambil menyeruput secangkir minuman hangat yang sudah menjadi rutinitasnya.
"Bukan seperti itu, Papi."
"Lalu seperti apa Zia? coba jelaskan! Papi ingin mendengar semua keluh kesah mu!" sudutnya, dengan pandangan menghunus ke depan.
Zia diam seakan bisu, dan hal tersebut membuat Jazlan kembali bersuara, "Kamu tahu sendiri Zia, bukan hal seperti ini yang Papi harapkan darimu! setelah sekian lama akhirnya kamu pulang juga, tapi kehadiranmu di rumah ini bahkan bisa di hitung dengan hitungan jari!" sungutnya tajam, "Zia putriku... jika ada yang kamu inginkan maka katakan! Papi bisa memberimu apapun!"
Mengutip kalimat terakhir yang diucapkan Jazlan membuat gadis itu tersenyum tipis, sangat tipis bahkan seperti mendesis dan sejurus kemudian ia mulai tertarik untuk menegaskan perkataan yang baru saja ia dengar, "Benarkan itu? apapun?" ulangnya penuh arti.
"Tentu saja, apapun! akan tetapi semua itu juga harus masuk akal! dan tidak merugikan keluargamu!"
Helaan nafas dalam seraya membuang muka kearah lain telah menyiratkan semuanya. Zia sudah menduga jawaban seperti apa yang akan terlontar dari mulut pria yang tadinya berkata seakan dirinya bisa memberikan segalanya, namun ternyata semua masih sama, selalu terselip batasan yang mengekang, untuk menjelaskan makna dari kata apapun.
"Lupakan Papi! aku tidak membutuhkannya lagi!"
Meriam yang berada di samping putrinya langsung mencondongkan kepala, "Ziaaa!" cicitnya memperingati, ia takut ucapan putrinya tadi kembali mematik amarah sang suami, hingga sebisa mungkin Meiriam berusaha untuk mendinginkan suasana, karena berkaca dari pengalaman sebelumnya ketika ayah dan anak itu memulai argumentasi maka bisa dipastikan akan berujung perselisihan.
Namun Jazlan, pria itu seperti belum usai dengan perkataannya, karena memang topik utama dari pembahasan yang ingin ia sampaikan belum sepenuhnya terucap, "Oh iyaaa Zia, apa kamu sudah mendengar berita tentang Nevan?"
Tak!
Pisau dan garpu yang baru saja ia pegang langsung ia letakkan kembali dengan suara nyaring membentur meja, lalu Zia beralih mengambil gelas minuman dan meneguk habis isinya, gadis itu terlihat begitu acuh tak acuh hingga Meiriam lah yang menanggapi ucapan suaminya.
"Berita tentang Nevan? dia kenapa suamiku?"
Jazlan sepenuhnya sadar dengan tingkah-laku yang diperlihatkan Zia, namun pria itu masih ingin berdamai dan sebisa mungkin bersikap tenang, "Saat ini Nevan berada di Kota ini, tapi sayangnya sesuatu yang kurang menyenangkan menimpanya kemarin malam, hingga mengakibatkan dia harus di rawat di rumah sakit."
"Astaga! lalu bagaimana keadaanya sekarang?"
"Kita akan memastikannya nanti! Dan untukmu Zia, Papi ingin setelah ini kamu langsung menjenguk Nevan, karena Papi yakin dia pasti akan senang sekali ketika meli__,"
Srrrrrrt!
Ucapan Jazlan terhenti, ketika terdengar suara decitan kursi yang didorong secara paksa, dan memperlihatkan Zia yang tiba-tiba saja berdiri dari posisi duduknya, "Terimakasih untuk sarapan hari ini!" pungkasnya, seraya bersiap melangkah pergi.
"Ziaa, kamu mau ke mana sayang? bahkan kamu belum menyentuh sarapan mu!"
"Perutku sudah terisi, Mami... dan itu cukup."
Mendapati respon penolakan yang begitu ketara tersebut membuat Jazlan langsung meletakkan kedua tangannya di atas meja, tampaknya kesabarannya kini telah berada diambang batas.
"Ziaa.... Bahkan diantara saudaramu, kamulah yang paling Papi sayangi!! itu karena kamu putriku satu-satunya! Princess dalam hidupku! tapi sekarang.. apa begini caramu memperlakukan Papi, hah? tolong jelaskan pada Papi, Ziaa!! apa salahnya jika Papi ingin kamu menjenguk Nevan? dia itu laki-laki yang baik, setara dan pantas untukmu! Dan ingat ini selalu Bralinzhea Aurora Zeiqueen! jangan pernah kamu melupakan siapa dirimu! Kamu berhak dan sangat layak untuk mendapatkan apapun yang sudah menjadi standar keluarga Zeiqueen! Maka camkan itu baik-baik!!!"
Bukannya menanggapi ucapan Jazlan yang semakin meninggi, Zia justru berusaha untuk mengendurkan genggaman tangan Meiriam yang masih mencengkram di pergelangan tangannya.
"Kamu membuat Papi tidak habis pikir dengan mindset mu, Ziaa! Inikah nilai-nilai kesopanan yang masih tertanam dalam dirimu? bahkan dengan keluarga mu sendiri? Ck.. beranjak dewasa bukannya semakin mengerti tapi malah berbanding terbalik menjadi tak terkendali! dan percayalah Zia... Papi sangat tidak suka jika harus membentak mu seperti ini! Tapi mau bagaimana lagi, jika Papi biarkan... maka kamu akan seperti dulu... bergaul dengan orang-orang yang hanya berdampak buruk untuk masa depanmu!"
"Papi cukup! hentikan!!! Bahkan jika Papi tahu, sampai sekarang pun aku masih mengingat perkataan kalian, dan inilah hasil dari didikan itu, aku mempraktekkannya! Yaaaa, aku melakukannya persis seperti yang kalian mau! Apa kalian lupa? kalianlah yang selalu mengatakan bahwa jangan pernah memperlakukan orang asing seperti keluarga, maka itulah yang aku lakukan sekarang! Karena bagiku Nevan beserta keluarganya tidak lebih dari orang asing! jadi.. tidak ada keharusan untukku memberi simpati! Dan jika setelah penolakan ku ini kalian masih ingin membuat hubungan dengan mereka, maka silahkan!! tapi jangan harap aku akan terlibat dalam urusan itu! sampai kapanpun tidak!"
"Apa yang barusan kamu katakan Bralinzhea!"
"Aku membicarakan sesuatu yang sudah aku putuskan! Yang tidak dapat diubah lagi! Dan itu merupakan hak ku!"
"BRALINZHEA!!!"
"Turunkan nada bicaramu Bralinzhea! Kini kau begitu melukai perasaan Papi mu ini! dan dimana kau belajar berkata seperti itu, hah?"
"Aku tidak perlu belajar untuk mengutarakan sesuatu yang aku rasakan!" tegasnya tak kalah menantang, sembari melenggang pergi menuju lantai dua.
Brak!
Jazlan mematung tidak percaya, jika dirinya akan kembali melihat aksi pemberontakan putrinya, namun sekejap kemudian ia juga diliputi rasa menyesal karena telah membentak Zia, hingga sejurus kemudian Jazlan memberi perintah pada seorang pelayan untuk segera memanggil Zia agar kembali melanjutkan sarapan bersama mereka.
Namun belum juga pelayan itu mengiyakan perintah majikannya, Zia sudah tampak menyusuri ruang tamu lengkap dengan setelan yang selalu menutupi jati dirinya.
"Ziaa, mau ke mana kamu?"
"Aku perlu udara segar!"
Jawaban tersebut sontak membuat Jazlan langsung berseru, "TUTUP SEMUA PINTU! JANGAN BIARKAN PUTRIKU KELUAR DARI RUMAH INI!!!"
"Papi!"
"Duduk!"
"Aku ti__,"
"Menurut lah Ziaa! jangan memaksa Papi untuk bertindak kasar padamu!"
"Lakukan!"
Jazlan semakin geram hingga bersuara, "Bawa dia masuk! dan hantarkan makanan ke kamarnya!"
Zia yang masih tidak terima kembali berucap lantang, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Jika saja aku memiliki satu alasan kuat untuk keluar dari rumah ini, maka di hari itu juga aku akan angkat kaki, dan memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan nama besar yang tersemat dibelakang namaku!!!"
Uraian kata yang diucapkan Zia membuat Meiriam langsung berlarian menuju putrinya, dan memeluk tubuh itu begitu erat, Meiriam sangat takut jika Jazlan semakin tenggelam dalam amarahnya, hingga tanpa pikir panjang lagi ia langsung menuntun Zia menuju lift, untuk sesegera mungkin menghilang dari jarak pandang suaminya.
"Papi memaafkan mu Zia.... Dan Papi harap ini yang terakhir! Papi tidak ingin lagi mendengar ucapan seperti tadi, karena percayalah.. yang kedua kalinya tidak akan berujung baik! Bukan maksud Papi mengancam tapi itu untuk kebaikanmu sendiri, Ziaa!"
Selepas perdebatan di meja makan, suasana sarapan menjadi semakin tak nyaman, hingga menit demi menit berlalu akhirnya semua selesai dengan hidangan di atas piringnya masing-masing.
"Meiriam, persiapkan semuanya.. kita akan mengunjungi Nevan, jadi pastikan tak ada lagi penolakan!" tekan Jazlan kepada istrinya.
.
.
.
.
.
[ Karena pembaharuan aplikasi Minggu lalu, tepatnya di hari minggu, jadinya Bab yang seharusnya publish malah jadinya hilang, saat itu mood ku langsung hancur, buat ulang kayak rasanya ahhhhh gimana gitu, apalagi ada dialog yang aku lupakan. Dan beberapa masalah juga terjadi termasuk kesalahan teknis, itu sungguh EMEJING!
Dan maaf juga karena di part ini tokoh utama gak muncul, sebenarnya di bab yang hilang tokoh Nevan dan Shasyania ada di sini, tapi pas buat ulang malah kayak gini hasilnya, dan part mereka jadinya aku buat terpisah, up selanjutnya hanya selisih beberapa menit.
Mhh oke segitu aja. Abaikan jika dirasa kurang penting! ]