Mine ?

Mine ?
41 : Its Mine



Shasyania merasa suasana ini sama persis seperti saat pertama kali ia menjadi murid baru di SMA GUARDIANS, di mana saat itu pagi harinya di mulai dengan sebuah mobil yang terparkir di depan rumah, lalu seorang Atom menawarkan diri untuk mengantarnya ke sekolah.


Hingga akhirnya laki-laki itu kembali berbohong, dan malah mengantarnya ke kediaman Eldione. Dan untuk kedua kalinya juga Shasyania melihat seorang Geonevan menyusuri anak tangga, dengan tatapan mata yang tak pernah lepas darinya.


Belum sempat Nevan mengatakan sepatah dua patah kata, sebuah suara sudah terdengar hingga menuntun mereka mengedarkan pandangan ke sisi kiri ruangan tersebut.


"Kakek?" ucap mereka bersamaan.


"Apa itu respon yang tepat untuk seseorang yang sudah lama tidak kalian lihat?" protes Toreno, yang tengah berpura-pura kesal.


"Ahh... bukan begitu Kek, hanya saja aku sedikit kaget karena Mommy mengatakan jika Kakek akan pulang sete__,"


"Sudahlah yang jelas Kakek sudah di sini dan kalian berdua kemari lah!" ucap Toreno, sembari merentangkan kedua tangannya, "selama Kakek tidak ada, kalian berdua akurkan?" imbuhnya seraya memeluk erat kedua remaja itu.


Nevan dan Shasyania kompak terdiam tanpa merespon pertanyaan tersebut.


"Wah..., sepertinya sesuatu telah terjadi!" tebak Toreno, lalu ia mengendorkan pelukannya dan beralih menatap Shasyania, "apa Nevan menyusahkan mu?"


"Tidak Kek."


"Meragukan!" pungkasnya, "karena wajah Nevan juga terlihat mencurigakan! Pasti ada yang kalian sembunyikan!"


"Wajahku biasa-biasa saja Kek. Jangan mengada-ada!" elak Nevan.


Toreno tertawa melihat reaksi cucunya yang begitu serius, "Baiklah! tapi kamu harus ingat Shasya, jika laki-laki ini menyusahkan mu, maka jangan segan-segan untuk mengadu ke Kakek! karena Kakek akan memihak padamu!"


"Ini namanya berat sebelah!" keluh Nevan.


Beberapa menit mereka beradu argument, sampai akhirnya Toreno mengajak kedua cucunya untuk sarapan bersama.


"Hari ini kamu tidak usah membawa mobil Nevan, karena Atom akan mengantar kalian berdua ke sekolah!"


"Baiklah Kek," sahut Nevan tanpa drama penolakan.


Toreno yang sudah menghabiskan isi piringnya kembali berbicara, "Kakek di sini hanya Tiga hari, dan kebetulan nanti sore jadwal Kakek kosong. Jadi Kakek mau kalian berdua luangkan waktu untuk menemani Kakek bersenang-senang ala anak remaja!"


Dengan raut wajah santai Nevan melirik sang Kakek, "Kakek mau ke club?"


"Sembarangan kamu Nevan! mana mungkin di usia Kakek yang sekarang Kakek bisa bermain ke tempat seperti itu lagi!" cetusnya, "kalau kamu ada ide Shasya?"


"Ng... mungkin kita bisa buat acara barbeque?"


"Nah itu sangat menarik! Baiklah kita akan melakukannya!" seru Toreno begitu bersemangat, "Atom!"


"Iya Tuan?"


"Siapkan segala keperluan untuk pesta barbeque!"


Nevan terdengar menghela nafas, "Buat sesederhana mungkin Kek. Jangan berlebihan!" sarannya.


"Iya, dan hanya akan ada kita bertiga!"


...****************...


Sesuai titah sang majikan sekarang Atom tengah mengantar kedua remaja itu menuju sekolah. Dan terlihat beberapa kali Atom mencuri-curi pandang untuk melihat interaksi yang terjalin di kursi penumpang.


"Pinjam handphone lo!"


"Buat apa?"


"Mau save nomer penting!"


Tatapan Nevan masih lurus ke depan. Tangan kirinya menjulur untuk menerima benda pipih yang tengah di serahkan oleh Shasyania.


Meskipun tidak memperhatikan secara jelas, namun Shasyania yakin jika tadi Nevan sempat tersenyum ketika menatap handphone yang berada di dalam genggamannya.


"Ini...," ucapnya mengembalikan.


Tiba-tiba saja Nevan menggeser pantatnya lebih mendekat ke kiri, lalu menyenderkan kepalanya di bahu Shasyania. Mengetahui gadis itu terkejut hingga membuatnya bersuara, "Hanya sampai sekolah, karena gue kurang tidur."


Ekspresi terkejut masih terpancar di wajah Shasyania, dan tidak hanya dia, bahkan Atom di depan sana juga sama terkejutnya hingga ia tersedak dengan ludahnya sendiri.


"Uhuk...uhuk...uhuk!"


Atom berusaha keras agar bentuk itu tak lagi menyerang, namun semakin ia tahan malah semakin parah, "Sial apa yang harus aku lakukan!" batinnya.


"Apa kau sedang mengejekku Atom?"


"Tidak Tuan Muda!"


"Menepilah untuk minum! Jangan sampai kondisimu itu mengundang petaka."


"Baik Tuan Muda!"


Nevan memberi perintah dengan keadaan kepala masih menyender mencari posisi ternyaman. Dan tangannya pun bergerak aktif meraih jemari Shasyania untuk ia genggam.


Suasana itu membuat Shasyania terdiam kaku dengan isi kepala di penuhi dengan praduga. Hingga tanpa terasa mobil yang di kendarai Atom sudah memasuki kawasan SMA GUARDIANS.


Seperti biasa area sekolah masih sangat sepi di pagi hari. Langkah mereka sama namun tak beriringan. Shasyania berada Satu meter di depan Nevan dan gadis itu terkesan sengaja untuk memangkas jarak di antara mereka berdua.


"Tung__," belum selesai Nevan bersuara, Shasyania sudah terlihat membalikkan badan.


"Apa yang sedang kamu rencanakan Geonevan?"


Nevan langsung mengerutkan keningnya bingung. Ia heran dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh gadis di hadapannya itu.


"Tidak ada."


"Tidak mungkin!" bantah Shasyania, "kenapa sikapmu bisa berubah bahkan hanya dalam hitungan hari? dan ya... Geonevan mungkin kamu tidak tahu tapi ekspresi kebencian mu masih teringat jelas di ingatanku, dan sekarang tiba-tiba saja sikapmu berubah! jelas itu mencurigakan!" Shasyania begitu lugas mencurahkan isi dalam pikirannya.


"Apa semua perlu alasan?"


"Karena gue udah mulai menerima perjodohan ini."


"Kenapa?"


"Karena menolak juga kita tidak bisa kan?" pertanyaan dibalas pertanyaan itu membuat Shasyania tersenyum datar.


"Benar kita masih belum memiliki celah untuk menolak, dan karena itu juga aku merasa seperti aku mengikuti kata orang untuk menjalani hidupku sendiri. Tapi tetap saja Geonevan perubahan mu ini membuatku was-was! Rasanya lebih baik aku menghadapi kekesalan mu saja ketimbang sikapmu yang sekarang!" jelas Shasyania, lalu ia membalikkan badan meninggalkan Nevan yang masih mematung di tempatnya.


Suasana kelas XI IPA 1....


"Yes besok kita gak belajar!" seru Dino.


"Ron nanti pulang sekolah kita ke barbershop yok!"


"Enggak! baru juga Tiga hari yang lalu gue potong rambut."


"Kira-kira style gimana ya yang bisa menarik perhatian cewek?"


"Botak!" sahut Eron.


"Lo aja yang botak!"


"Lagian lo heboh banget dari tadi, padahal cuma jadi tim sorak!"


"Gini nih kalau punya sahabat mati rasa! Gue kasih tahu ya, besok itu ajang buat kita nunjukin eksistensi! Kapan lagi sekolah lain ke sekolah kita kalau enggak besok!"


"Lo masih konsisten sama taruhan kita kan? belum juga kelar udah nyari mangsa baru!"


Dariel menggeledah kolong mejanya, "Nih!"


"Apaan nih?"


"Bukalah goblok!"


"Riel ini serius?"


"Serius lah!"


"Jadi lo nyerah? semudah itu? bahkan lo belum sepenuhnya beraksi!"


"Kemarin lo di pesta kan? dan gue yakin lo juga melihatnya!"


"Tapikan masih ada Jiana!"


"Enggak minat gue!"


"A.jir gue kira bakal seru! Tahu begini mending sekalian taruhan mobil!"


"Rin...rin! Besok kita pakek atasan bebaskan asal luarnya isi almamater?"


"Iya!"


"Besok sekolah kita harus menang dari SMA ERLANGGA! Biar gue bisa bales semua ejekan mereka Enam bulan yang lalu! Apalagi sekarang di adainnya di sini. Kita menang suporter, jadi kita wajib bikin lawan keder!" seru Nita yang begitu menggebu-gebu.


"Akhirnya besok gue bisa liat dewi nya SMA MERPATI!"


"Terus kalau udah liat lo bangga gitu? Milik SMA lain lo sanjung- sanjung!" protes Ririn.


"Yaakan gue penasaran Rin! katanya tu cewek berkarisma banget dan cantiknya aduhaiiii! apalagi ya, dia juga Tiga kali berturut-turut menang di kompetisi ini! Jadi gak salahkan gue bereaksi kayak gini!" tandas Dino.


"Kalau gue sih lebih ke sayang aja ya, seharusnya tahun ini SMA kita juga bisa nunjukin kalau di sini juga ada dewi yang gak kalah saing! Tapi sayangnya orang yang bersangkutan malah gak minat buat ikut serta," keluh Baru seraya melirik kearah Shasyania.


"Kali ini kita sepemikiran Ru!" sahut Nita, sembari menepuk punggung Baru.


"Iya gue juga sependapat!" timpal Dino, "lo gak minat Sha? padahal lo sangat berpotensi loh! dan gini ya! meskipun di sana di bilang ada dewi tapi bisa ajakan lo lebih cantik dari dia!"


Shasyania melirik menatap kedua bola mata Dino, "Jangan liat gue kayak gitu Sha! sumpah gak tahan!"


Plak!


"Apaan sih lo!" bentak Baru.


"Tapi gue denger katanya kompetisi kali ini sedikit berbeda! Sekarang masing-masing sekolah mengirim Tiga perwakilan, dan terdapat Empat ronde penilaian di sana!" jelas Ririn.


"Maksudnya gimana tuh Rin?"


"Jadi gini, di ronde Satu, Dua, dan Tiga setiap sekolah masukin salah Satu perwakilan mereka. Terus ronde ke Empat itu berisikan perwakilan dengan nilai tertinggi, dan di ronde itu juga mereka akan di adu kembali! Jadi gue rasa peluang untuk kita menang lebih tinggi! Misal nih ya..., Kak Septi dan perwakilan lainnya bisa sapu bersih setiap ronde berarti kan mereka yang akan di pertemukan di ronde terkahir, jadinya siapapun yang menang tetap aja juara Satu, Dua, dan Tiga milik SMA GUARDIANS."


"Yaelah..., iya kalau kita yang nyapu bersih entar malah kita yang dilibas habis gimana?" Gestur tubuh Dino seakan memperlihatkan betapa pesimisnya ia dalam kompetisi ini.


"Lo ini!" bentak Nita, "tapi..., kalau di pikir-pikir rada ragu juga sih! karena Jiana ikut serta!" imbuh Nita, sembari melirik perkumpulan narsis itu meskipun di sana tidak terdapat Jiana, karena ia sedang sibuk berlatih untuk mempersiapkan kompetisi besok.


"Kenapa? diakan cantik! putihnya juga gak ada obat!"


"Yaa sih...., tapikan gak secantik...," tunjuk Nita dengan ujung matanya, "dan gue harap otak Jiana ada isinya!" pungkasnya tajam.


Asik mengobrol sampai sebuah notifikasi terdengar dari handphone mereka.


"Shasya lo udah masuk group kelas?"


"Udah Nit!"


"Group sekolah?"


"Kalau itu belum."


"Gue undang ya? sini pinjam handphone lo sebentar, karena ada kata sandi yang harus di masukin buat masuk ke group!"


Mata Nita melebar ketika melihat isi pesan teratas Shasyania yang mengatakan hai kepada seseorang, dan saat Nita memencet foto profil itu terlihatlah gambar Geonevan dengan nama kontak its mine.