
Sepasang tangan silih berganti memegang kipas yang terbuat dari anyaman bambu. Gerakan mengibas-ngibaskan dilakukan agar bara api yang terdapat di sebuah wadah berukuran persegi panjang tersebut tetap menyala.
"Kamu mau jagung rebus apa bakar?" tanya Shasyania, saat dirinya dan Nevan menunggu antrian di salah satu pedagang kaki lima.
"Enggak, aku gak beli," sahutnya, namun lirikan mata Nevan bukanya mengarah ke Shasyania, melainkan pada dua laki-laki yang sedari tadi asik mencuri-curi pandang kearah gadisnya.
Kilatan amarah ia perlihatkan, dan tak pelak hal tersebut membuat orang-orang itu langsung membuang muka dengan gestur tubuh panik.
Dia milikku, mungkin seperti itulah yang ingin Nevan sampaikan, hingga tanpa basa-basi ia langsung bergerak cepat untuk merangkul pinggang Shasyania.
"Dingin," dalihnya dibuat-buat.
Bersamaan dengan itu asap yang tidak terlalu pekat mulai menyeruak masuk ke dalam indra penciuman, dan menghantarkan aroma menggoda yang berasal dari jagung bakar dihadapannya.
"Jagung rebus, jagung bakar neng?"
"Jagung bakar satu yaa...."
"Tunggu!" cegah Nevan ketika si penjual mulai mengambil salah satu jagungnya, "biar saya yang pilih," sambungnya sembari memilah kwalitas terbaik yang ia rasa pantas untuk di makan Shasyania.
Melihat Nevan memasang wajah serius hanya karena perkara jagung, membuat Shasyania mendekat sambil mengetes kemampuan dari seorang Geonevan, "Kenapa harus dipilih, bukannya semua sama saja?"
"Beda sayang...! Nih liat nih, warna kulitnya aja berbeda-beda. Kamu tahu, jagung yang kulitnya masih berwarna hijau cerah itu menandakan jika jagungnya masih segar, dan jika masih tertutup rapat seperti ini, itu juga menandakan kwalitasnya masih bagus, dan aku yakin, rasanya pasti jauh lebih enak!" jelas Nevan, sembari menyodorkan jagung pilihannya, "bakar yang ini saja!" pintanya pada si penjual.
"Tapi Geonevan, setiap aku beli di sini rasanya masih tetap sama, tidak pernah mengecewakan."
"Benarkah?" tanyanya agak ragu.
"Iyaaa...."
"Baiklah-baiklah," sahut Nevan seraya menggerakkan kepala, lalu pandangannya mengarah ke salah satu pedagang lainnya, "sayang, kamu diam di sini dulu ya, aku ke sana bentar buat beli minuman, oke?"
"Oke, ta...tapi," ujar Shasyania sembari merogoh isi tas yang ia bawa, "mhhh ini Geonevan, uang untuk beli minuman," jelasnya, ada rasa canggung ketika ia menyerahkan selembar uang, Shasyania takut jika Nevan menyalah artikan maksudnya.
Dan benar saja laki-laki itu langsung menaikkan sebelah alisnya, dengan tatapan menyelidik, "Aku masih memiliki uang jadi simpan saja itu!"
"Bukan begitu Geonevan, sekarang aku tanya nominal uang paling kecil yang kamu bawa berapa?"
"Seratus ribu."
Satu langkah mendekat, lalu ia mulai bercerita, "Sesuai pengalamanku belanja di sini Geonevan, kita harus membawa uang pas untuk membeli sesuatu yang kita mau, jika uang kita lebih dan pedagang tidak memiliki kembalian, maka sebagai gantinya mereka akan menyuruh kita untuk mengambil barang-barang yang lain dengan nominal yang sama, dan secara tidak langsung memberi solusi dengan cara menghabiskannya" jelas Shasyania, dan ia bisa menangkap raut kebingungan dari wajah Nevan, "mungkin itu tidak berarti bagimu, tapi menurutku lebih baik kita membeli sesuatu yang memang kita butuhkan, tanpa menghabiskannya hanya kerena rasa kasian. Kalaupun dikaitkan atas dasar membantu, aku rasa itu juga keliru. Kenapa? karena jika kita mengikuti keinginan tersebut, maka itu sama saja seperti kita terperangkap dalam strategi mereka."
Setiap kata dari mulut Shasyania seperti alunan lagu bagi Nevan, terdengar jelas dan begitu lembut, "Terimakasih! dan yaa! di manapun ada peluang pasti akan di manfaatkan, mau benar ataupun salah itu tidak penting. Sungguh bisnis!"
"Ini kamu marah sama aku?"
Nevan tersentak dengan pertanyaan Shasyania, "Tidak, tidak sama sekali! kenapa aku harus marah? justru sebaliknya aku sangat berterimakasih!"
"Ohh..., soalnya nada bicaramu sedikit berbeda," ungkap Shasyania. Meskipun akhir-akhir ini sifat Nevan berubah hangat, namun tetap saja ketika menyadari laki-laki itu marah maka secara tidak langsung membuat Shasyania takut, di tambah lagi bayang-bayang kekesalan dalam diri Nevan waktu awal-awal mereka bertemu masih melekat jelas di ingatan Shasyania.
"Maaf...," sesal Nevan, ia tahu ada kegetiran dalam tatapan Shasyania, dan ia juga sadar perlakuannya dulu pasti masih membekas.
"Neng ini...," ucap sang penjual sembari menyerahkan satu bungkus tas kresek bergaris hitam putih dengan jagung bakar di dalamnya.
Proses transaksi selesai, dan sekarang mereka sama-sama menuju pedagang lainnya, sebelum beralih mendekat ke area pantai.
"Ini serius kamu mau duduk dan makan di sini?"
"Yank kamu gak liat di sekeliling kita penuh dengan orang-orang pacaran, dan kamu mau kita bergabung di antara mereka? Ohh tidak-tidak!" ujar Nevan sembari mengedarkan pandangannya menatap sepasang remaja yang tengah asik memadu kasih.
"Kita hanya duduk Geonevan."
"Tidak, aku tidak mau!" tegasnya, "cuaca di sini juga tidak mendukung. Kita bisa masuk angin jika berlama-lama di sini!"
"Hanya sebentar, sampai aku menghabiskan ini."
"Harus sekali di sini?"
"Iyaa..., lagian pemandangannya bagus, hamparan laut dengan sinar bulan, aku suka!"
Seakan mengerti atas kegigihan Shasyania, hingga Nevan mulai setuju namun tetap dengan rencana yang ia susun. Tangan kanannya meraih sebuah handphone lalu menggeser-geser untuk mencari sebuah nama.
"Hallo Tuan Muda?"
"Tolong segera bawakan aku mobil ke pantai XXX!"
"Siap Tuan Muda."
Kurang lebih sepuluh menit, sampai akhirnya sebuah kendaraan roda empat dengan merek tiga huruf sudah terparkir di hadapan kedua remaja itu.
"Ada lagi yang Tuan Muda butuhkan?"
"Tidak terimakasih, dan ini kunci motorku!"
"Siap Tuan Muda." sebelum menjauh, terlebih dahulu pria itu menunduk hormat.
Cklek!
"Kenapa diem? ayo masuk!"
"Apa ini tidak berlebihan? dan bagaimana jika seseorang keberatan dengan sebuah mobil yang masuk ke area pantai?" resah Shasyania, bahkan ia sampai menarik jaket Nevan.
"Aku jamin itu tidak akan terjadi, jadi masuklah! Nikmati pemandangannya sambil makan jagung bakar," ucapnya, sembari tersenyum.
Dua anak remaja tengah berada di dalam mobil yang sama, namun dengan sudut padang berbeda. Yang satu asik menikmati makanan dengan pandangan lurus ke depan, dan satunya lagi asik melihat orang makan hingga sesekali tawa kecil lolos dalam mulutnya.
"Sering makan seperti ini? mhh maksudnya makan di sini, ah bukan...bukan, lebih tepatnya duduk lesehan di pasir sambil makan jagung, sering?"
"Dulu iyaa, tapi setelah Kelas tiga SMP sudah jarang, apalagi SMA, paling cuma beli dan makannya di rumah saja."
Nevan memicingkan matanya, "SMP sudah pacaran?"
"Tidak," terlihat senyum sendu di ujung bibir Shasyania, "aku ke sini bareng Ayah, kami sering beli jagung lalu memakannya bersama."
Kreetek!
Suara yang tidak bisa di dengar oleh siapapun, namun Nevan bisa merasakannya, karena itu berasal dari dalam dirinya. Iya, itu adalah gambaran dari hati Nevan yang retak ketika mendengar penuturan Shasyania.
Pasukan oksigen terasa kurang hingga ia perlu mencari ruang, agar mampu menetralkan rasa sakit yang terasa seperti irisan belati yang tengah menyayat sesuatu dalam dirinya.
Ia takut untuk berucap, ia takut untuk bertanya, hingga akhirnya memilih untuk diam dengan segala keresahan yang menyelimuti hati. Dan untuk kesekian kalinya ia kembali menggerutui egonya.