
Lebih telat dari pagi sebelumnya Nevan memasuki ruang kelas. Ia menggantungkan tasnya di bangku dan memasukan jaket ke kolong meja. Tangannya bergerak cepat merogoh kantong celana untuk mengambil sebuah handphone, sampai akhrinya seorang satpam sekolah mengalihkan pandangannya ke depan.
"Heii kalian berdua! cepat pungut sampah di depan kelas!" ucap tegas satpam bernama Ijong.
Sikap Nevan acuh tak acuh, fokusnya kembali teralih ke layar pipih miliknya. Berbeda dengan yang di lakukan Shasyania, ia justru langsung turun dari bangku untuk melaksanakan tugas yang telah di perintahkan oleh Ijong.
"Heeii kamu kenapa duduk saja SINI MAJU bantuin temen cewek kamu! sebagai laki-laki harusnya kamu malu masak kalah sama cewek!"
"Maksud lo apaan?" sentak Nevan tidak suka, "kalau gue yang bersihin itu terus gunanya sekolah bayar petugas kebersihan untuk apa? makan gajih BUTA!"
Pandangan Ijong yang sedikit minus membuatnya tidak menyadari jika orang yang tengah ia suruh adalah seorang Geonevan dan gadis yang tengah berjongkok memungut sampah berserakan itu adalah seorang Shasyania, siswi pindahan yang sempat menggemparkan seluruh staf SMA GUARDIANS karena dua orang paling berpengaruh di sekolah itu mencatatkan dirinya sebagai wali Shasyania.
"Asem nih nasib!" batin Ijong yang terlihat seketika linglung, "gi...gini loh maksud saya..., sampahnya kan berserakan mungkin saja itu karena kucing atau anjing yang lewat, jadi saya minta bantuan kalian jika sekolah ini bersih kan bagus..., belajarnya jadi enak... tidak terganggu lalat gitu loh...," ralat Ijong memperbaiki ucapannya secara perlahan-lahan.
Setelah mengatakan itu Ijong langsung berjongkok membantu Shasyania, "Sudah dik ini biar saya saja yang membuangnya, kamu bisa kembali ke bangku," ujar Ijong begitu ramah. Dalam hatinya ia terus berdoa agar kesalahannya ini tidak mengundang petaka.
"Tidak Pak, biar saya saja!" sahut Shasyania. Ia berdiri namun ketika ia hendak mengangkat benda tabung tersebut sebuah tangan juga terlihat sedang memegangi sisi lain tong sampah.
Tanpa bicara Nevan menarik benda itu kearah luar, hingga secara tidak langsung membuat Shasyania mengikuti langkahnya.
Andai saja tong sampah itu tidak ada di antara mereka berdua, maka sudah pasti terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah berpegangan tangan menyusuri lorong sekolah.
Ijong masih berdiri di belakang sambil menggerutui kesalahannya, ia ingin sekali melarang namun ia juga takut untuk berucap.
Berdampingan namun tak saling berucap, begitulah keadaan mereka berdua hingga sampai di tempat pembuangan sampah. Suasana yang masih sepi mampu membuat Nevan bernafas lega setidaknya tidak ada teriakan yang membuat kupingnya berdengung sakit.
Ruang kelas XII IPA 1
"Ehh katanya Pak Damar ngadain ulangan Kimia tuh!" seru Baru. Laki-laki itu terlihat gusar karena berita yang baru saja ia dengar.
"Emang paling santai pas kelas satu! kelas dua bikin pala gue mumet gak jelas!" sentak Dino.
"Dapet info dari mana lo?" tanya Dariel.
"Tuh si Alex kelas IPA 3!"
Nita yang mendengar percakapan itu langsung mengurungkan niatnya untuk mengunjungi meja Shasyania, ia berbalik arah mendekati Ririn.
"Rin...rin! katanya Pak Damar ngadain ulangan Kimia tuh! tadi si Alex ngasih tahu Baru! lo kan deket tuh sama si Sisil IPA 3 sana suruh dia bocorin soal!"
"Emang kalau lo tahu soalnya terus lo bisa jawab gitu?" tanya Ririn sambil menurunkan tangan Nita yang bertengger di pundaknya.
"Iya..., enggak juga sih hehe," jawabnya cengengesan, "kalau gitu suruh dia fotoin jawabannya!"
Ririn mengeluarkan handphone dari dalam tas. Ia menekan salah satu app berwarna hijau lalu mencari nama Sisil di kontak pertemanan, hingga sebuah pesan terkirim.
Ririn : Sil fotoin jawaban ulangan kimia lo ya!
Sisiliu : Bayarannya apa nih?
Ririn : Awas lo di ulangan matik!
Sisiliu : Bercanda gue mah! pms lo ya? pasti gue fotoin kok... woles!
Ririn : Oke makasih.
Sisiliu : Oke sama-sama.
Ririn : 😊
Sisiliu : Basa basi banget lo!
...Pesan telah di baca...
"Gimana beres?" tanya Nita dengan tatapan penasaran menunggu jawaban sahabatnya.
"Bereeeesss!" sahut Ririn dengan senyuman mengembang.
"Pelajaran pertama hari ini apa ya? lupa gue!"
"Van...van! si Javier kemarin nelpon gue nanyain kontak lo!" ucap Dariel memberitahu.
"Ngapain? dia mau nyari masalah lagi? belum kapok juga tuh anak!" sahut Eron cepat dengan tangan yang sudah mengepal.
Masih belum ada jawaban dari Nevan, sampai beberapa detik kemudian, "Kemarin dia ke rumah gue bareng orang tuanya."
Penjelasan Nevan membuat kedua sahabatnya terkejut. Tersimpan banyak pertanyaan yang ingin mereka berdua lontarkan atas pernyataan Nevan tersebut.
"Mereka minta ganti rugi?" tebak Dariel.
"Bukan, mereka minta maaf terus berharap kejadian itu tidak sampai mempengaruhi perusahaan keluarganya."
"Cih menjijikkan!"
"An*jir mau ditaruh di mana tuh muka! berlagak sok berani tapi akhirnya ngemis juga!" ejek Eron.
"Mukanya juga udah bonyok gara-gara si Nevan, gue rasa setiap dia lihat muka nih orang, pasti kencing di celana tuh anak!" Dariel mencibir sembari tertawa terbahak-bahak. Obrolan seru mereka harus terhenti ketika Guru sudah memasuki ruangan.
Pembelajaran di mulai...
"Sesuai pembahasan di Bab Tiga, Ibu tugaskan kalian untuk membuat teks berita dengan tema bebas, tapi tetap harus ada unsur 5W + 1H! Nanti kalian jabarkan di depan kelas, sekalian Ibu mau nyari nilai bagi siapa saja yang mau bertanya maupun dapat menjawab!"
"Jaman sekarang mah gampang semua tinggal di googleling!" celetuk Dino. Hingga suaranya terdengar sampai ke depan.
"Iyaa kalian boleh mencari referensi dimana saja, tapi kalian juga harus paham dengan apa yang kalian buat! jangan main salin menyalin tanpa pemahaman!" ujar Buk Siska mengingatkan.
Semua murid terlihat sibuk mengerjakan tugas.
"Ehh Rin! itu si Sisil kan?" tanya Nita saat ia melihat gadis itu tengah berjalan melewati kelasnya, "gilee encer juga otak tuh anak! lo udah di kirim foto jawabannya kan?"
"Belum! kata dia ulangan kali ini berkelompok."
"Berkelompok berapa orang?"
"Tiga orang!"
"Wah kita sama siapa nih?"
"Sama siapa aja gak masalah toh juga kita udah punya contekan!"
Nita tersenyum simpul, "Betul juga! ahh kalau gini kan enak otak jadi bisa shut down."
"Udah lo diem sekarang! kerjain tuh tugas!"
"Nih ya gue kan buat berita tentang bencana, jadi gua kasih lo berdua lembaran pertanyaan pokoknya kalian entar bebas mau pilih yang mana asal jangan melenceng dari apa yang gue kasih ini!" pinta Rissa seraya menyodorkan sebuah kertas.
"Cerdik juga lo!" puji Jiana.
"Gue juga udah siapin pertanyaan nih! kita harus bekerja sama!" jelas Megan.
"Banyak banget lo buat pertanyaan!" sentak Rissa sambil membalikkan lembaran yang Megan berikan.
"Gue juga mau kasih ke anak yang lain, biar kelihatan pintar di depan nanti!"
"Awas malah jadi blunder lo!" tutur Jiana.
"Ibu rasa waktunya sudah cukup! jadi mari kita mulai untuk mencari nilai. Sini sini siapa yang udah selesai mari maju! Orang yang pertama Ibu kasih nilai tambahan!"
"Van maju Van!" seru Dariel sambil mendorong bangku Nevan dari arah belakang.
"Males gue! lo aja sana!"
Dengan jahilnya Dariel malah menaikkan tangan Eron, hingga Ibu Siska menunjuknya.
"SIALAN LO!" hardik Eron.