Mine ?

Mine ?
65 : Patuh



Pagi-pagi sekali, bahkan alarm yang selalu ia setel pun belum berbunyi, namun deringan telepon dan notifikasi chat yang tertera di layar handphonenya terus menggangu, hingga ia menggeliat menggosok-gosokkan mata.


Niat hati ingin memaki terhenti, ketika Nevan mendengar penuturan dari seseorang yang tengah berbicara di seberang sana.


"Baiklah!" sahutnya, dan setelah kata itu Nevan langsung menggerakkan tangannya untuk melempar benda pipih tersebut ke arah kasur, lalu ia mengayunkan kaki menuju kamar mandi.


Iya, kamar mandinya, karena Nevan kembali berada di kediaman Eldione, setelah Shasyania memenangkan perdebatan kemarin.


Disaat kebanyakan orang tertidur nyenyak, lain halnya dengan Nevan, ia justru harus mengguyur tubuhnya hingga sayup-sayup bunyi gemericik air terdengar di dalam ruangan, bersamaan dengan uap panas yang mengepul di dinding kaca.


Dan sekarang, Nevan terlihat lebih cepat untuk menyelesaikan ritual mandinya, bahkan saat ia keluar dari kamar mandi, suara ketukan pintu dari arah luar mengiringi langkahnya untuk mendekat.


Cklek!


Dengan tangan mengudara, ia memberi perintah agar pelayan itu tetap diam. Nevan sudah sangat paham, sampai ia tidak perlu lagi mendengar informasi tersebut untuk yang kedua kalinya.


Turun menyusuri anak tangga, dan di bawah sana beberapa orang sudah siap akan tugas mereka.


"Sarapannya sudah siap Tuan Muda," kata salah satu pelayan.


Nevan menjawab dengan gelengan kepala.


Seperti tidak ada waktu untuk berhenti, Nevan terus mengayunkan kaki kearah luar. Masuk ke dalam mobil, dan melaju dalam kegelapan yang masih membalut jarak pandang di depan sana, sampai akhirnya fajar menyingsing menerangi Bumi.


...****************...


Kelas XI IPA 1


"Weh udah jam segini tapi Nevan belum datang juga? Gak biasanya dia kayak gini!" ucap Eron, sembari melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya, "Reil udah lo hubungi?"


"Udah Ron, tapi sama aja gak ada respon!"


"Sakit kali ya!" tebak Eron, dan sekelebat cara juga mulai terpikirkan, "ehh kenapa gak telpon orang rumahnya aja!" serunya, seraya merogoh kantong celana.


Dariel mendekat ke arah speaker, ia mulai menguping pembicaraan yang tengah berlangsung tersebut.


"Pergi dari pagi? ada urusan apa ya?" Dariel tengah menerka-nerka, sembari memainkan bibirnya.


"Yang jelas itu pasti urusan penting! Tahu sendiri orang kaya kek gimana, apalagi sekelas keluarganya Nevan, pokoknya adaaaa aja kesibukannya!"


"Lo ngomong kayak gitu, seolah-olah keluarga lo gak berada aja!" singgung Dariel.


Eron terkekeh mendengar ucapan tersebut, dan mulai merangkul bahu Dariel, "Tapi kesibukan gue kan masih bisa dihitung jari. Naaah Nevan, apapun itu harus siap! bahkan di suruh balik saat kita di Paris pun dia seperti gak ada pilihan lain selain nurut!"


"Bener juga sih! Berarti jadi orang kaya susah, jadi orang miskin double combo susah! Mending dah di tengah-tengah kayak gue!"


"Tengah-tengah apaan? lo sok merendah?"


Mereka bersaut-sautan membela diri, di selingi tawa di setiap gurauan mereka.


"Si Gemmi and the geng kenapa tuh? kayak orang uring-uringan!" ujar Nita pada kedua sahabatnya.


"Habis mabok lah! apalagi. Bau alkoholnya juga masih ke cium!" sentak Ririn seraya mengibas-ngibaskan tangannya ke udara, "lo yakin gak mau pindah Sha? yakin lo kuat duduk sama dia?" imbuhnya, yang beralih menatap Shasyania dengan raut wajah menyelidik.


Ucapan Ririn seperti sebuah ide dalam benak Nita, hingga tanpa basa-basi lagi ia langsung menyarankan solusi, "Iya! gimana kalau untuk sementara ini, lo duduk aja sama Geonevan! Bukannya gimana ya Sha, takutnya lo ikut mabok nyium aroma tiga sekawan itu!" bujuknya, "emang lo mau sakit konyol karena mereka? apalagi sampai masuk UKS, enggak kan?" sambungnya, sembari mengedip-ngedipkan mata ke arah Ririn.


"Mata lo sakit Nit?" sambar Ririn, ia mulai khawatir dengan kondisi Nita, karena memang sedari awal Ririn cuma mengeluarkan apa yang ia pikirkan, tanpa bermaksud menjalankan misi mereka untuk mendekatkan Shasyania dan Geonevan.


Kekhawatiran Ririn seakan tak berarti, ketika Nita membuang muka dengan ekspresi sebal, dan gadis itu justru menepuk-nepuk lengan Shasyania, "Untuk hari ini gapapa ya kalau lo duduk sama Geonevan, lagian ini demi kesehatan jasmani lo Sha!" jelasnya antusias, "Lo itu masa depan SMA GUARDIANS, jadi sudah sepantasnya gue sebagai anggota melindungi si bibit unggul, sampai nantinya menghasilkan bibit unggul lainnya!" tegasnya, bahkan sampai mengepalkan tangan.


"Tapi..., kenapa meja dia kosong melompong gitu yaa? bukannya ini udah jam!" ucap Ririn.


"Bener juga...!" sahut Nita, "tunggu-tunggu jangan bilang Geonevan gak masuk! Waduhhhh kenapa saat ada kesempatan malah kayak gini sih!" batinnya.


"Uuugggghhhh!!!"


Enam pasang mata menatap bersamaan ke sumber suara, dan mendapati Gemmi menelungkup wajah dengan tangan memegangi perut.


"Kamu kenapa Gem?"


"Perut...! perut gue sakit!"


"Enggaklah!"


"Ohh ini pasti akibat dari minuman yang lo minum kemarin kan?"


"Sssssssshhhhttt!"


Kali ini Wilkan dan Miko saling bersaut-sautan menahan rasa sakit, yang berasal dari area perut dan kepala mereka.


"Ini kenapa kalian menjelma jadi laki-laki lemah sih! Katanya Geng terkuat..., tapi sekarang malah nunduk nutup muka make lengan!" cela Nita.


"Bacot!" bentak Gemmi.


"Kalian bisa nahan atau perlu ke UKS?" tanya Shasyania.


"Gak usah, ini cuma sakit sesaat! dan tolong ambil obat di saku jaket gue!" pinta Gemmi.


"Kalian minum berapa botol sih? sampai efeknya kayak gini," cibir Ririn.


Shasyania mendapat obat yang di maksud Gemmi, dan ia mulai membuka satu-persatu untuk diberikan pada ketiga laki-laki itu.


Namun ada satu kendala, ketika sang ketua Geng PS justru membuka mulut, bukannya menerima dengan uluran tangan, ia malah menganga dengan keinginan Shasyania lah yang langsung memasukkan obat tersebut.


"Aaaaaaaaa!!!" Matanya lekat memandang gadis itu, besar harapannya agar mendapat belas kasihan.


Atas dasar membantu Shasyania bersedia mengikuti kemauan Gemmi, hanya memasukkan kapsul tanpa mendorong dengan bantuan air, hingga Gemmi terpaksa menelan dengan keadaan susah payah.


"VAN! GUE KIRA LO GAK MASUK!" seru Dariel, saat melihat sahabatnya itu masih berdiri di depan pintu.


Entah karena nada yang dihasilkan Dariel begitu menggelegar, atau karena ruangan tersebut cukup sunyi ketika kalimat itu dilontarkan, hingga semua orang langsung menatap Nevan dengan aura dinginnya yang tengah memasuki kelas.


"Tumben lo datang jam segini Van!"


Nevan hanya menaikkan dagu sebagai jawaban.


"Sha, jadi pindah ke tempat Geonevan?" ujar Nita sembari menyenggol Shasyania.


"Mending jangan deh! lo liat kan ekspresi Geonevan tadi? gak tepat banget jika Shasyania ujug-ujug langsung minta duduk samping dia!" bisik Ririn di telinga Nita.


"Yaa..., tapi kapan lagi ada waktu selain sekarang!"


"Pasti ada! yang jelas bukan sekarang!"


"Iyaa sekarang aku pindah," sontak ucapan Shasyania membuat kedua gadis itu menggeleng bersamaan.


Dan gerakan mereka kalah cepat, karena saat ini Shasyania sudah berhasil meraih tasnya, lalu mengikis jarak untuk sampai ke bangku Nevan.


"Aku boleh duduk di sini?"


Dariel dan Eron termenung, melihat Shasyania yang tengah berdiri sembari memandang Nevan.


"Untuk apa?" sahut laki-laki itu tanpa melirik, pandangannya masih fokus pada smartphone miliknya.


"Van, Van...! kasih aja, lagian lo gak liat tuh si Gemmi lagi sakit-sakitan. Gak baik kalau Shasyania sampai ikut terjangkit!" timpal Dariel.


Masih belum ada jawaban, sampai akhirnya Eron yang menyarankan Shasyania untuk duduk tanpa menunggu lagi persetujuan dari Nevan.


.


.


.


.


.


*Tetap tinggalkan dukungan kalian yaa.... Terimakasih 😊*