
"Sound system oke kan?"
"CEK-CEK ULANG SEMUANYA! ACARA AKAN DIMULAI TIGA PULUH MENIT LAGI!"
Kompetisi Puteri antar sekolah kali ini lebih mendapat sorotan, lantaran dari segi tata letak semuanya sudah di set begitu megah, hingga para suporter dari masing-masing sekolah pun sudah memenuhi aula yang berada di SMA GUARDIANS.
Berbagai macam atribut terlihat memeriahkan suasana, semua di lakukan untuk mendukung sang kebanggaan sekolah, bahkan tak jarang suara dari gas terompet saling bersautan dengan yel-yel penuh semangat.
Hingga tiba-tiba kepungan asap berwarna merah merayap layaknya kebakaran. Peristiwa itu sontak memicu kepanikan dari lautan manusia yang sudah memadati ruangan.
Berdiri, dengan ancang-ancang berlari seketika terhenti, saat segerombolan pria memaksa masuk dengan langkah mengintimidasi.
"GEMMI!"
Teriakan itu mengundang pandangan laki-laki dengan balutan jaket bertulisan GOODBOY, ia tersenyum tipis lalu dengan telunjuk mengudara, Gemmi memerintahkan ratusan orang di belakangnya untuk mengikuti arah kakinya berayun.
"MAAF UNTUK PARA PENDUKUNG YANG BARU SAJA HADIR, SILAHKAN SETENGAHNYA KELUAR DAN MENUJU AULA SEBELAH, KARENA RUANGAN INI SUDAH SANGAT PENUH. DI HARAPKAN PARTISIPASINYA UNTUK MEMAHAMI KONDISI."
Seorang host mengintruksikan dari atas panggung, karena banyaknya orang yang di bawa Gemmi memang tidak akan bisa bergabung di sana.
Sebenarnya, Aula yang di sediakan SMA GUARDIANS berkali-kali lipat lebih luas dari pergelaran kompetisi sebelumnya, namun tetap saja terasa kurang, karena semangat dari masing-masing pendukung juga ikut bertambah, hingga mengakibatkan penumpukan yang harus segera mendapat jalan keluar, dan salah satunya dengan cara mempersiapkan ruangan lain lagi untuk para suporter agar mereka masih bisa menyaksikan kompetisi tersebut walaupun tidak secara langsung melainkan dengan cara menatap layar lebar yang sudah di persiapkan.
Ririn yang berjalan menuju pintu keluar, tak sengaja berpapasan dengan laki-laki yang tengah menjadi objek perhatian karena aksinya yang nyeleneh, "Woi Gem! banyak banget lu bawa orang! mau tawuran lo? Mana bawa terompet, snare, tenor, bass, simbal. Ini semua alat-alat anak marching band kan?" todong Ririn, seraya menunjuk-nunjuk anggota Geng PS yang kompak memakai baju warna putih dengan sablon wajah Shasyania.
"Ini namanya loyalitas tanpa batas!" terang Gemmi, dengan tangan kiri mendorong bahu Ririn, lalu laki-laki itu kembali berjalan lurus hingga barisan paling depan.
"Bangun kalian! tugas ini biar gue ambil alih! lagian teriakan kalian gak cukup kuat buat nyemangatin perwakilan sekolah kita!" tegasnya, seakan tidak ingin mendapat penolakan.
Beberapa orang berdiri dengan keterpaksaan. Melawan juga tak mungkin, mereka menghindar meskipun komat kamit masih terus terlontarkan dari setiap kecapan bibir.
"Sial dia pikir cum__,"
"Sudahlah jangan protes!"
Penuh rasa kesal orang-orang itu keluar ruangan, dan posisi mereka segera di akuisisi oleh Geng PS.
"Jahat lo Gem! mereka juga pengen nonton di sini kali!" protes Nita, yang sudah berada di samping Gemmi, dengan sebuah syal bertulisan SHASYANIA IS NUMBER ONE.
"Mereka penonton bisu! Lo liat aja entar, semangat dari gue lebih di butuhkan di sini!"
Nita memutar bola matanya malas, ia merasa aksi Gemmi kali ini sedikit berlebihan.
"Bar, sebelum di mulai kita ke sana dulu yok?" ajak Dino seraya menunjuk ke arah belakang panggung.
Baru melirik sembari berdecak bibir, "Lo pikir kita bakal di kasih masuk?" sungutnya.
"Yaelah..., bilang aja kita nganter minuman! Udahlah pokoknya gampang, lo mau ikut enggak?"
"Enggak!"
"Nit lo mau ikut?"
"Boleh juga!"
Saat dua orang itu berdiri, smartphone dalam tas Nita bergetar hingga membuatnya terhenti sejenak.
"Bentar Din, si Ririn nelpon nih," ucapnya, sebelum ia menggeser tombol berwarna hijau.
"Iya kenapa?"
"BALON TEPUK NYA LO TARUH DI MANA?"
Refleks Nita menjauhkan benda pipih itu dari gendang telinganya, karena terasa mulai berdengung karena ulah Ririn.
"Jangan ngegas gitu napa! kuping gue sakit nih! cari di ko__,"
"Gak ada di kolong meja! isinya sampah semua!"
"Lah perasaan tadi pagi gue taruh di sana deh!" cicitnya.
"Perasaan-perasaan mulu lo! udah tau dari dulu perasaan lo gak pernah bener!" cibir Ririn, "buruan di ingat, keburu telat nih! Awas aja kalau sampek gue gak di kasih masuk!"
"Lo nyari ini?" tanya Baru, sembari menunjuk tas berwarna merah yang berisikan benda yang tengah di cari oleh Ririn.
"Kenapa bisa ada di lo?" jerit Nita.
Terdengar helaan nafas dari seberang sana, hingga membuat Nita kembali menoleh ke arah sambungan telepon.
"Hmmm jadi gini Rin, ternyata barangnya udah di sini, lo buruan ke sini yuk? hati-hati ya," jelasnya lembut.
Tut!
Panggilan di putus sepihak, dan bisa di tebak jika Ririn benar-benar kesal dengan tingkah laku Nita.
"Jelasin!" titah Nita menatap Baru.
"Tadi pagi gue sama Dino liat Pak Ijong bawa barang ini keluar, jadi sebelum di buang, gue minta balik!" jelas Baru.
Luapan kekesalan dalam diri Nita seketika sirna, usai mendengar penuturan Baru.
"Udah bereskan? jadi ayok!" Seru Dino, yang sudah terlihat berjalan di depan, kemudian di susul oleh Nita. Beberapa meter berjalan sampai akhrinya mereka tepat berada di sebuah pintu besar.
Berdiri dengan jempol dan jari telunjuk mengusap-usap dagu, saat melihat sebuah kertas tertempel di depan pintu bertuliskan, RUANGAN KHUSUS PANITIA DAN PESERTA.
"Gimana nih, gak bisa masuk kita! mana lupa beli minuman!" seru Dino.
Nita melirik ke samping saat mendengar suara yang ia kenal.
"Ehh kak Jojo," sapa nya ramah.
"Nita, ngapain di sini?" tanya laki-laki bertubuh tinggi menjulang, dengan alis yang begitu tebal. Ya, Dia adalah Johannes Ikrana Oktavianus, Ketos SMA GUARDIANS.
"Ohhh ini Kak, aku mau ke dalem nganter..." Nita mengikis jarak, hingga mengisyaratkan agar Ketos itu sedikit menunduk.
Entah apa yang ia bisikkan, sampai akhirnya di izinkan untuk memasuki ruangan tersebut.
"Sok iye banget lo isi aku kamu!" ejek Dino, "dan ya, tadi lo bilang apa sama si Ketos tebar pesona itu sampai dia langsung ngasih kita masuk gitu aja?"
"Mau tau aja lo urusan cewek! Nah itu ruangan SMA GUARDIANS, buruan jalan!"
Nita merasa tidak ada langkah kaki yang mengikutinya dari arah belakang, hingga membuatnya membalikkan badan.
"Woii Dino! ngintip apaan lo?" tuduh Nita, saat ia melihat Dino menggunakan kedua telapak tangannya layaknya teropong di jendela kaca.
"Sssstt! diem lo!"
"Ruangan SMA GUARDIANS di sana! jadi lo ngapain di sini?"
Tidak adanya jawaban dari laki-laki itu, membuat mata Nita menyelidik membaca apa yang tertempel di pintu ruangan tersebut.
"Ohh..., jadi niat lo kesini sebenarnya mau lihat perwakilan SMA MERPATI! Lo bilang sepenuhnya dukung Shasyania tapi nyatany__,"
"Bisa diem gak sih? gue cuma penasaran aja gimana bentukannya tuh orang! Dan ya, gak usah meragukan dukungan gue! karena memang benar sepenuhnya hanya untuk Shasyania. Di sini gue cuma mau memastikan jika Shasyania gak kalah saing sama tuh orang!"
"Iya... iya percaya gue mah," sahut Nita, dengan nada yang sengaja ia ragu-ragu kan.
Saat membalikkan badan, Nita tak sengaja membentur seseorang. Akibat dari benturan itu membuat tubuhnya dan tubuh orang tersebut terhuyung ke belakang.
"SIALAN! JALAN PAKEK MATA DONG!" Bentak gadis dengan balutan gaun berwarna silver, yang memiliki belahan paha super tinggi hingga memperlihatkan kulitnya yang mulus tanpa bintik-bintik hitam sedikitpun.
"Ohh... maaf-maaf gue gak sengaja," sahut Nita, sembari menjulurkan tangan hendak membantu.
Tangannya di tepis keras. Pandangan gadis yang berada di bawahnya itu langsung menatap lurus dengan mimik wajah tiba-tiba berubah sendu.
"Nevaannn," rengek Freya, ia berharap laki-laki yang berjalan semakin mendekat itu membantunya.
Bukannya Nevan, melainkan Eron yang terlihat menekuk satu kaki lalu menggenggam pinggang Freya dan bergegas membantunya berdiri. Tak ada kata terimakasih, gadis itu malah lebih mendekat, hingga sengaja menempelkan tubuhnya ke lengan Nevan.
Tanpa permisi terlebih dahulu, tangannya sudah mengambil minuman yang berada dalam genggaman Geonevan.
Nita, Dino, dan Eron seperti terhipnotis menyaksikan drama percintaan yang sedang berlangsung di hadapan mereka.
Tubuh diam, mata menatap dan pikiran berkelana memikirkan tentang hubungan yang tengah terjalin di antara kedua insan tersebut.
Drrrrrtttt! Drrrrrttt!
"Nit, handphone lo bunyi tuh!" ucap Dino menyadarkan lamunan Nita.
"Ahh...ehh iyaa..ya," ucapnya gelagapan, namun tangannya bergerak aktif menerima panggilan dengan nama Ririn yang tertera di dalam sana.
"Lo di mana? buruan ke sini sebelum Gemmi nyuruh anak buahnya yang lain buat ambil tempat lo!"
"Sekarang gue ke sana!" sahutnya, lalu tangan kanannya menarik lengan Dino.
"Mau ke mana? kita belum ketemu Shasyania," protes Dino.
"Tempat kita mau di sabotase sama Geng PS!"
Mengerti akan situasi tersebut, Dino tak lagi melawan. Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong.
"Yang tadi itu perwakilan sekolah mana ya?" tanya Dino.
"Dia Gisella Freyani Arsenio, perwakilan SMA ERLANGGA."
"Tunggu-tunggu berarti dia runner up kemarin dong?"
"Betul."
"Wah beneran cantik sih, tapi sayangnya sombong! gue sebagai cowok mah ogah liat cewek arogan kek gitu!"
"Dia juga ogah tuh sama lo!" ejek Nita.
"Kampret lo! Dan semoga aja dia blank di atas panggung!"
"Setuju!"
"Jadi Geonevan asik ya, bisa di kelilingi banyak cewek, hidupnya enak, bosen sama yang ini bisa sama yang itu!"
"Jangan iri lo! jatuhnya tekanan batin," kelakar Nita, namun raut wajahnya seketika berubah, "benar, Geonevan begitu bersinar, hhmm..., semoga aja Shasyania gak liat kedekatan orang itu sama cewek lain, bisa-bisa semangat nya langsung down. Melihat orang yang di sukai mesra-mesraan sama orang lain tuh, rasanya kek gerhana," batinnya.
"Balikin minuman itu!" tegas Nevan.
"Minuman ini buat gue kan? jadi ngapain di minta lagi sihhh," lirih Freya, dengan suara yang sengaja ia manja-manja kan.
Jari lentik di hiasi kuku-kuku palsu, sedikit menyulitkan gadis itu, ketika tangannya menusuk minuman menggunakan setro. Namun, belum sempat ia menempelkan bibir, tangan Nevan terlebih dahulu merampas minuman tersebut.
Drama itu juga di saksikan oleh seseorang yang baru saja datang dari arah kamar mandi. Seakan enggan untuk terlibat, Shasyania lebih memilih memasuki ruangan yang sudah di siapkan untuknya.
Eron dan Nevan masih menatap bayangan Shasyania, sedangkan Freya tak menyadari karena pandangannya hanya terkunci pada Nevan.
Senyum gadis itu terukir, ketika tangan Nevan masih menggantung memegang minuman. Tak menyia-nyiakan kesempatan, ia majukan bibirnya, lalu di detik kemudian menyedot minuman tersebut dengan rasa bangga.
Tak!
Nevan menarik paksa, hingga cipratan air dari dalam setro mengudara. Mata freya terbelalak kaget, ketika melihat Nevan membuang minuman itu ke tong sampah.
"Kenapa di buang?"
"Sebaiknya lo periksa itu telinga sebelum tuli total!"
"Lo bicara apa sih Van!"
"Ucapan gue sudah sangat jelas jika itu bukan milik lo!"
"Lalu milik siapa? lagian kenapa mesti di buang? gue masih bisa meminumnya!"
"Ck, lo itu dodol apa gimana? Lain kali jika lo haus mintalah duit, maka gue akan kasih tapi ingat! jangan sekali-kali bersikap seperti ini lagi!"
"Sikap lo yang keterlaluan Nevan!" bentak Freya, tidak mau kalah, "gue ini sahabat kecil lo, gak seharusnya lo bersikap seperti ini, apalagi untuk hal yang sepele!" imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sebelum lo mengajari seseorang tentang apa yang benar dan tidak, sebaiknya lo belajar tentang gestur tubuh! Biar lo tahu mana orang yang suka dan mana yang tidak! dan ya, jangan gunakan teman masa kecil untuk lo mengatur gue! Karena dulu ataupun sekarang, lo tidak lebih dari seorang yang pernah gue kenal, Tidak ada yang spesial apalagi istimewa! Tidak!" tegasnya, dengan langkah kaki semakin menjauh.
Eron yang merasa kasian memilih untuk diam menemani Freya. Ia bahkan memberikan bahunya untuk gadis itu menangis.
Memutar kenop pintu, namun hal pertama yang ia lihat justru gadis dengan tatapan lapar ketika melihat wajahnya.
"Geonevan," seru Jiana.
"Jian buruan temui Buk Dayu, jangan buang-buang waktu lagi!" perintah salah satu orang yang memakai jas Osis.
Reaksi kesal Jiana perlihatkan dengan menghentakkan salah satu kakinya, "Van, gue tinggal bentar dulu ya," ujarnya, yang di balas tatapan acuh tak acuh dari laki-laki di hadapannya.
"Minggir!" ucapan dingin tersebut membuat Jiana bergerak cepat dan langsung berjalan menjauh.
Sekarang hanya tersisa Empat orang dalam ruangan itu, dan bisa Nevan pastikan jika gadis yang tengah duduk di depan cermin itu adalah Shasyania.
Orang-orang dalam ruangan saling melirik, ketika tangan Nevan menarik sebuah kursi dan menaruhnya tepat di sebelah Shasyania. Menyadari jika sedang di perhatikan membuatnya menatap sinis hingga orang-orang tersebut meninggalkan ruangan.
"Gugup?"
"Enggak."
"Bagus!" sahutnya, "hmmm..., biasanya laki-laki membicarakan apa ya ketika berada di situasi seperti ini? oh ya, udah makan?"
"Sudah nasi kotak."
"Enak?"
"Lumayan."
"Mau makan lagi gak? atau ada yang di inginkan?"
"Enggak sih, cuma ma__,"
"Jangan bilang mau sendiri! karena gue gak akan keluar dari sini!" tegas Nevan, lalu tangannya menarik kursi Shasyania hingga membuat mereka saling berhadapan.
Bisa Shasyania lihat, ketika tonjolan di leher Nevan naik turun, itu menandakan jika laki-laki itu sedang menelan ludahnya sendiri.
"Selesai acara kita makan bareng ya?" ajaknya.
"Boleh."
"Ck, kenapa jawaban lo singkat semua?" Nevan memasang wajah suram, ia sampai memalingkan muka ke samping.
"Pertanyaan kamu hanya membutuhkan satu jawaban, jadi apa yang harus aku perjelas," sahutnya enteng.
"Baiklah-baiklah," pungkasnya, lalu Nevan lebih mendekat dan seperti biasa gerakannya terlalu cepat untuk dihindari, dan saat ini ia sudah berhasil untuk memeluk tubuh ramping Shasyania.
"Gue tahu pelukan ini sangat nyaman, tapi jangan sampai ketiduran ya," godanya.
"Makeup ku Geonevan."
"Kenapa luntur? murah sekali. Tunggu biar gue panggilkan seseorang yang lebih handal!"
"Enggak usah."
"Lalu? sini gue cek," Nevan mengendurkan pelukannya, lalu menyelidik ke setiap inci wajah Shasyania.
"Sempurna!" pujinya, "Ohh..., jadi tadi cuma alasan biar gue gak meluk lo ya?"
Diamnya Shasyania telah menjawab semuanya, namun Nevan seakan tidak terima, "Lo tahu gak, pelukan itu bisa menghilangkan rasa cemas, apalagi di situasi kayak gini," ucapnya mencari alasan.
Beberapa menit tersisa mereka habiskan dengan berbicara, sebelum sebuah ketokan pintu terdengar dari arah luar, dan memberi informasi agar Shasyania bersiap-siap.