Mine ?

Mine ?
104 : Mungkinkah?



Di dalam studio foto, Dofa selaku fotografer senior kini sudah mengangkat tangannya membentuk kepalan, mengisyaratkan jika sesi pengambilan gambar hari ini sudah cukup. Dan kini, para model yang telah usai jam kerjanya tampak bergegas untuk meninggalkan ruangan, termasuk juga Shasyania.


"Hellooo...hellooo, hellloooo.. mohon perhatiannya sebentar guyssss! dengerin-dengerin!!! untuk para model jangan ada yang pulang dulu yaaaa, karena nanti nih.. bakalan ada model baru yang gabung di agensi kita, infonya dia udah otw ke sini.. katanya mau tegur sapa sama kita, disambut ramah yaaa?" ucap Marline, yang ditugaskan untuk memberi informasi sesuai arahan dari atasannya.


"Line, apa orang itu yang bakal jadi model utama NJL?"


"E'emm...."


"Wahh cantik banget pasti!"


Marline memutar bola matanya malas, seraya menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, "Cantik sih iyaaaa, tapi.. masih jauhlah cantikan si emm......" Marline tidak menyebut nama, namun arah mata dan juga dagunya sudah menunjuk siapa orang yang tengah ia maksud.


"Yahhhh rugi berarti!" seloroh Mirna, "btw.. lo kenal sama orangnya Line?"


"Tahuuuu bingiiitzzz, dia deket sama Mrs Zivana!"


"Haadeeeeh... bau-baunya bakal susah diatur nih! gayanya pasti selangit.. dan selalu bilang kalau dia itu kerabatnya Mrs Zivana!"


"Binggo!" sahutnya sambil menjentikkan jari, "lu cenayang?" imbuh Marline, sembari menaikkan satu alisnya.


"Dugaan aja sih, tapi betul kan?"


"Seratus persen akurat babyyyy!" serunya, "ohh iya! hampiiiiir aja gue lupa issssh.. ada berita penting juga buat kalian nih guysss, Mrs Zivana bakalan ke sini hari ini, jadi pleaseee... pakek banget! banget! baaaanget... jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun oke! meskipun seukuran upil semut pun jangan! sekali lagi okeeehhh! Karena siapa tahu nih yaaa, Mrs Zivana mau ngadain sidak dadakan! amsyoooong... kalau kita sampai kena semprot-prottttt-prrrooooot!" imbuhnya memperingati.


"Okeeeee!"


"Good brain!"


"Kak, aku mau permisi ke toilet sebentar," ucap Shasyania, yang dibalas anggukan kepala oleh para staf di dalam ruangan tersebut.


Begitu punggung gadis itu menghilang dari pandangan mata, maka bisikan-bisikan menyayangkan atas keputusan Shasyania yang tak mau menjadi model utama mulai mengalun, hingga suasana kembali senyap ketika terdengar suara ketukan sepatu heels yang menyusup memasuki ruangan.


Kletak!


Kletok!


Srrrrrrt!


Di depan sana, kini seseorang dengan balutan trendy tengah berdiri dengan gaya supermodel nya, ia langsung menjadi pusat perhatian, namun gayanya yang terkesan angkuh membuat orang-orang merasa risih akan kehadirannya.


Dan sebelum gadis itu bicara, terlebih dahulu sosok wanita dewasa di sampingnya yang mengambil alih keadaan, "Selamat siang...," sambutnya ramah, "saya rasa kalian semua sudah mendengar tentang informasi ini, Nona di sebelah saya ini merupakan rekan baru yang akan bergabung menjadi bagian dari NJL group, jadi.. tanpa membuang-buang waktu.... Silahkan Nona, perkenalkan diri anda," ucap Briana, yang tak lain adalah sekretaris Zivana, ia mengantar gadis itu atas perintah Nyonya Eldione.


Karena merasa diistimewakan membuat gadis itu mengeluarkan tatapan sinis, seraya menegakkan kepala dan memandang orang-orang di depannya dengan tatapan remeh, lalu tarikan di ujung bibirnya pun membentuk senyum arogansi, yang selalu menjadi senjata andalannya, "Hay... kenalin, nama gue.. GISELLA FREYANI ARSENIO!" dengan lantang ia menyebutkan nama besar yang tersemat di akhir namanya, untuk menegaskan jati dirinya, "perlu kalian tahu, menjadi model seperti ini memang hal baru untuk gue, tapi.. jangan pernah meragukan kemampuan gue! apalagi dalam hal menaklukkan kamera!! Gue pintar! dan patut kalian tahu juga, gue adalah murid berprestasi yang selalu mendapat juara dalam ajang kecantikan! Tidak tertandingi.. itulah gue! jadi... dengan track record seperti itu, maka hal-hal baru akan dengan sangat mudah untuk gue kuasai! Gue harap di sini tidak ada yang membuat gue kesal, karena bila hal itu terjadi, maka dipastikan berujung petaka bagi si pelaku! paham? Pahamlah...masak gitu aja enggak!" tekannya sambil berdecak pinggang.


"Alemooong.. ada dukun santet gak daerah sini? Berlagak ngebos aja tuh bocah!"


"Gue nitip jampi-jampi! Dia pikir lagi perkenalan diri di depan juniornya kali yaa? cih! Line... enggak bisa dibiarin nih! mesti di kasih paham!"


"Setuuujoooong!" tekan Marline di akhir bisikan nya bersama Mirna.


Dengan rasa percaya diri membumbung tinggi, Freya mengibas-ngibaskan rambutnya penuh gaya, sampai di detik berikutnya ujung matanya seperti menangkap sosok tak asing, hingga ia menoleh, dan betapa kagetnya ia saat menyadari rival abadinya juga berada di ruangan yang sama, tarikan nafasnya pun melambat, lalu, "Loooo!!!" pekiknya keras, bahkan mulut dan bibirnya tak berhenti untuk tertutup lalu terbuka, ia seakan bingung harus berekspresi seperti apa lagi.


"Ohhh hay, kita bertemu lagi... Freya," sambut Shasyania dengan santainya.


"Lo...lo ngapain di sini? Sialan... buat mood gue hancur aja lo, pergi!"


Shasyania mengernyit heran, lalu mulai menanggapi ucapan gadis yang masih menatapnya penuh keterkejutan, "Lah.. kok main ngusir-ngusir aja, semua ada aturannya kali! dan perlu kamu tahu, di sini kita berdua bukan lagi sebagai lawan.. melainkan kawan... bisa? ohh yaa.. satu lagi, mohon bimbingannya atas segala pengalaman dan prestasi yang pernah kamu raih, mhhh?" ucap Shasyania, dengan senyum datar miliknya.


Freya semakin geram, ia tidak terima jika berulangkali dirinya harus kalah dengan gadis di hadapannya ini. Hobinya adalah memancing emosi Shasyania, namun kini justru dirinya yang terpancing, "Cuiihhh! gak sudi gue! dan jaga ucapan lo Shasyania!!! Lo tahu gue siapa hah?" sergahnya menggunakan senjata andalan, sembari memperlihatkan ekspresi marah.


"Cukup tahu, dari kompeti___,"


"Sialan! nyari gara-gara lo ya? Gue ini kesayangannya tante Zivana! Pemilik perusahaan ini! macem-macem lo sama gue, gue pastiin lo bakal menyesal! ngerti?"


"Loh.. kok marah? aku kan cuma minta bimbingan dan pengalamannya... lagian, kamu sendiri kan yang bilang tadi, kalau kamu itu tidak tertandingi, jadi.. salahnya ada di mana? di aku... atau di kamu?"


"Cih!" Freya naik pitam, ia mendekatkan diri dan berniat untuk mencengkram baju Shasyania, namun gerakannya mudah terbaca, hingga dengan cepat Shasyania menepis serangan tersebut, yang mengakibatkan Freya berakhir tersungkur dengan lutut membentur lantai.


Braak!


"Awww, Siaal!"


Greb!


Marline begitu sigap meraih lengan Shasyania, ia menjauhkan gadis itu dari amukan Freya, dan di sisi Freya, Briana lah yang sigap pasang badan untuk membantu gadis itu kembali berdiri.


"Lo akan membayar mahal atas sikap kurang ajar lo ini! ingat itu!" ancamnya, sembari menunjuk-nunjuk Shasyania, lalu ia berlalu begitu saja.


.


.


.


"Iyaa kak."


"Umhhh, gue saranin yaa.. lu jangan lagi nanggepin tuh orang... bisa dibilang karena.. dia itu cukup dekat sama Mrs Zivana, gue gak mau kalau nanti dia ngadu dan melebih-lebihkan semuanya, itu bahaya buat karir lu Shaai...," saran Marline, yang langsung dipatuhi oleh Shasyania.


Selepas kejadian itu semua orang di dalam ruangan hanya berbisik-bisik, hingga suasana kembali ramai, ketika terdengar suara Mirna mengalun-ngalun memanggil nama rekannya.


"MARLINE...MARLINE...."


Dan saat wanita itu memasuki ruangan, raut keterkejutan langsung tercetak di wajahnya, ia menyodorkan benda pipih miliknya pada Marline, seakan ingin mengatakan ada berita menggemparkan di sana.


"Line... MARLINE! buruan lo baca ini! cepeeet!!!" titahnya, seraya menunjuk-nunjuk layar tersebut.


Awalnya Marline merasa terganggu, namun ekspresinya kian berubah saat matanya menelisik kata demi kata yang tersusun di sana.


Terdapat sebuah berita hangat yang baru saja dipublish, mengutip dari postingan keluarga tersohor di Kota B, yang merupakan keluarga terkaya nomer satu, bahkan saat ini perusahaan milik keluarga Zeiqueen tetap bertahan menduduki rantai teratas untuk perekonomian di Negara tersebut, menyaingi keluarga Eldione yang masih menduduki posisi kedua, meskipun sebenarnya persentase kekayaan mereka tidak jauh berbeda.


Dalam kutipan berita yang tengah trending tersebut, terlihat sosok Meiriam Adorea Zeiqueen, dengan bangganya ia menyebar luaskan foto di media sosial pribadinya, yang kini sukses menjadi buah bibir, ketika sosok Nevan tertangkap kamera tengah makan bersama di kediaman Zeiqueen, terdapat dua foto, meskipun Nevan hanya tampak dari samping, namun itu cukup jelas untuk menampilkan bahwa laki-laki remaja itu adalah seorang Geonevan Akhilenzyn Eldione.


"Ini.. beneran pangeran Eldione kan Line?"


"E'emm...," sahutnya yang masih fokus membaca keseluruhan berita.


"Wahh...wah... apa persaingan diantara mereka akan berakhir menjadi keluarga bahagia yaaa?"


Shasyania yang juga sempat melirik isi berita itu langsung dibuat terguncang, ia tercekat dengan pikirannya sendiri, hingga ia memutuskan untuk keluar tanpa sepatah katapun.


Bahkan kini handphone yang sudah berada di dalam genggaman tangannya masih ia cari-cari, beberapa kali gadis itu kehilangan fokus dengan sorot mata yang sulit diartikan. Suhu tubuhnya pun mendadak dingin, setelah ia membaca keseluruhan berita.


"Jangan... jangan seperti ini Geonevan... aku mohon jangan seperti ini... aku salah, aku sadar aku salah... aku minta maaf. Aku menyadari kesalahanku Geonevan, tapi jangan seperti ini... aku berniat menyelesaikan permasalah diantara kita, jadi jangan seperti ini Geonevan...."


Tangannya kini bergetar, namun ia terus berusaha untuk mencari kontak Nevan, sampai rasa menyesakkan dalam dadanya terasa semakin menghimpit, ketika beberapa kali mencoba tapi nomer yang ia tuju tetap tidak bisa dihubungi.


“Nomor yang Anda tuju sedang tidak menerima panggilan”


Hanya suara operator yang terdengar, dan itu semakin membuat Shasyania larut dalam ketakutannya.


"Jangan seperti i..ini... Geonevan," lirihnya, ia memilih untuk duduk di sebuah bangku, pandangannya masih menatap kebawah, wajahnya ia tutup menggunakan sebelah tangan, dan tangan satunya lagi ia gunakan untuk terus menekan tanda panggil, namun hasilnya masih sama saja, yakni nihil.


Gelengan kepala dari Shasyania menandakan betapa perihnya luka yang saat ini ia rasakan.


"Aku salah... aku salah, aku yang salah...."


.


.


.


Sekitar lima belas menit gadis itu duduk termenung sendiri, hingga dari arah samping terdengar sebuah suara yang tengah mengajaknya bicara, "Kamu yang bernama Shasyania bukan?" tanya Briana, dengan gestur tubuh menunggu jawaban.


Hanya anggukkan kepala tanpa menatap si penanya, begitulah Shasyania menjawab pertanyaan Briana.


"Mrs Zivana ingin bertemu denganmu. Dia tidak suka menunggu, jadi.. ikuti saya sekarang!" titahnya.


Briana menuntun Shasyania menuju ke lantai teratas di gedung itu, dan saat sampai di pintu berwarna gold, wanita dengan setelan rapi tersebut bersiap untuk mempersilahkan Shasyania masuk, namun saat akan mengetuk pintu, Briana menyadari jika gadis di sampingnya ini tengah memikirkan sesuatu.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanyanya, bahkan Briana berprasangka mungkin saja Shasyania takut akibat dipanggil keruangan Zivana, hingga ia berinisiatif untuk menenangkan Shasyania, "tenang saja.. Mrs Zivana adalah orang yang sangat profesional..., kamu masuk dan temui beliau."


.


.


.


.


.


.


.


*Woi, kapan terbongkarnya? sabar... bentar lagi kok, ini juga udah menuju ke ending cerita, jadi nikmati dulu semasih kalian berkenan wkwk.


Merangkai cerita sejauh ini juga merupakan hal pertama untukku, jadi maaf, kalau haluku gak sampai pada rasa yang kalian inginkan. jejaknya naik turun gak menentu, hingga aku pikir cerita MINE ? udah harusnya tamat, dan inti dari rahasia diantara tokoh utamanya terbongkar, itu aja!


Aku berterimakasih untuk kalian yang benar-benar mau ngelike, komen, vote dan hadiah-hadiah lainnya, aku merasa bahagia dan dihargai untuk seorang pemula, terimakasih 😊.


Salam damai, salam online! *