
(Mode flashback)
Aku terbangun dari bunga tidur yang panjang, tapi sayangnya aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas karena semua seperti terpotong puzzle yang belum tersusun benar, namun ada satu orang yang membuatku merasa tercekat, sampai akhirnya menarik nafas dalam hingga perlahan-lahan membuka mata.
Warna putih mendominasi saat pandangan mata menatap lurus ke atas, dan ucapan-ucapan di sampingku juga terdengar layaknya dengungan bising, tubuhku terasa kaku, hingga menit demi menit berlalu ku lihat seorang berjubah putih mulai mendekat.
Dan kini semua semakin jelas, aku tahu di mana aku sekarang, dengungan itupun berubah menjadi suara-suara parau, dan ku lihat Mommy menangis bahagia di pelukan Daddy. Ingin rasanya aku bertanya, tapi masih terasa sulit, justru mataku malah kian terpejam dan aku kembali bermimpi.
.
.
.
"Vanvan sini, ayo bermain hujan!"
"Vanvan, kamu di mana?"
"Vanvan kenapa kamu meninggalkan Zia?"
"Vanvan tolong Zia!"
"Vanvan?"
"Vanvan!"
"ZIIIIIIAAAAAAAAAAA!!!"
"Sayang...sayang, kamu kenapa? bangun! Heii...Nevan...ayo buka matamu, bangun! Mommy di sini sayang! Heeiii...heii!"
"...Mo...m...."
"I..yaa..sayang...iyaa...."
"Zi...a...Zia, di mana Zia Mommy? Zia...a...pa dia baik-baik saja? dia selamat? panggilkan Zia Mommy, panggilkan Zia untukku, aku ingin bertemu dengannya...."
"Iyaa pasti...Mommy pasti panggilkan, tapi kamu tenang dulu sayang, jangan seperti ini!"
Mommy berbicara sembari merangkul tubuhku, namun pikiranku dipenuhi oleh Zia, hanya dia, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin memastikan keadaannya.
"Zia...Mommy...Zia!"
"Dia selamat sayang, dia juga selamat! kamu jangan bergerak-gerak seperti ini Nevan...tanganmu masih terpasang infus."
"Antar aku menemuinya Mommy, aku mohon...."
"Besok yaa...besok ya sayang? Mommy akan bawa dia kemari, pasti! tapi sekarang kamu tenang dulu, jangan banyak gerak begini! berbaringlah."
Mendengar Zia baik-baik saja membuatku sedikit lega.
Zia ku memang gadis yang kuat. Yaa, dia benar-benar kuat.
"Mommy, bisa tolong belikan aku sesuatu?"
"Apa sayang?"
"Belikan aku perlengkapan menggambar Moms."
"Besok Mommy belikan."
"Bukan besok, tapi sekarang."
"Jangan banyak gerak dulu Nevan, lebih baik kamu beristirahat, katanya besok mau ketemu Zia."
"Karena itu makanya aku harus mendapatkannya sekarang Mommy. Aku ingin Zia mengingatku, aku belum bisa datang seperti yang aku janjikan padanya, jadi aku harus memberi sesuatu yang lain dulu," cukup sulit untukku membujuk Mommy, hingga aku harus mengeluarkan tatapan memelas baru ia mengikuti keinginanku.
"Baiklah sayang."
"Terimakasih Mommy...."
Mommy langsung mengeluarkan smartphone miliknya, lalu terdengar ia tengah memerintahkan seseorang.
.
.
.
"Oh yaa Mommy, berapa lama aku terbaring di sini?"
"Satu minggu sayang..., itu adalah masa-masa paling menakutkan untuk Mommy, Daddy, dan juga Kakek mu!"
"Wah lama sekali...."
"Iya..., karena selain dehidrasi, kamu juga kehabisan banyak darah, suhu tubuhmu sangat tinggi. Mommy benar-benar takut sayang...." Mommy bercerita dengan tubuh bergetar, aku mulai menyeka air matanya, menyadarkan jika masa itu telah berlalu.
Tok!
.
.
Tok!
"Masuk!"
"Selamat malam Nyonya Zivana, Tuan Muda...," ujar Briana, sekretaris Mommy, "dan ini yang tadi Nyonya minta."
"Iya..., terimakasih Briana."
"Sudah menjadi tugas saya Nyonya."
"Briana?"
"Iyaa..., Tuan Muda?"
"Apa Hugo di luar?"
"Iya Tuan Muda."
"Suruh dia masuk!"
"Baik Tuan Muda."
"Untuk apa sayang?"
"Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya Mommy."
Pria bertato mata itu sudah berada di dalam ruangan, dan tanpa basa-basi aku langsung melayangkan pertanyaan, "Saat kau menyelamatkan Zia, apa ada luka di bagian tubuhnya?"
Sekitar lima detik ia terdiam, dan bisa ku liat pergerakan jakunnya menurun, yang terkesan menelan ludah kasar.
"KAU MENYELAMATKANNYA DALAM KEADAAN BAIK-BAIK SAJA KAN?"
"Sayang tenangkan dirimu! Mommy tidak suka dengan sikapmu yang seperti itu!"
"Maafkan saya Tuan Muda...."
Rasanya jantungku mulai diremas, aku takut dengan kemungkinan terburuk, "Jangan hanya meminta maaf, jelaskan!"
"Saat itu...saat kami berusaha menyelamatkannya, kami sedikit terlam___,"
"Maksudmu apa haah?"
"Nevan tenang! Zia baik-baik saja! Mommy mendapat kabar itu dari keluarganya! jadi kamu tidak perlu bersikap seperti ini!"
Mommy memang tidak suka dengan sikap sarkas ku, tapi aku benar-benar tidak bisa mengontrol diri.
"Aku masih ingin mendengar penjelasan mu Hugo!"
"Hari itu, saat dua orang penjahat sudah berhasil menangkapnya, kami yang melihat dari atas langsung menakut-nakuti mereka menggunakan gencatan senjata, dan...dan keadaan Nona Zia begitu memprihatinkan, dia hampir saja diperkosa, lalu saat kami ingin mengamankannya, dia terlebih dulu berlari hingga tergelincir ke kebawah jurang, air begitu deras dan dia terbawa arus. Perlengkapan yang tidak memadai ditambah derasnya hujan membuat kami kesulitan, tapi kami sudah menghubungi bala bantuan, sampai beberapa jam kemudian kami mendapat kabar jika Nona Zia selamat, dan dia tengah dirawat dirumahnya."
Tanganku mengepal keras, pasokan udara terasa semakin menipis, "Siapa yang menyelamatkannya?"
"Saya rasa utusan dari keluarganya Tuan Muda."
"Tidak...tidak! bagaimana mungkin? bagaimana mungkin pihak keluarganya bisa menyelamatkannya hah? Dari mana mereka tahu Zia tergelincir ke jurang? dan dalam hitungan jam? itu mustahil! bahkan mereka bersikap acuh tak acuh ketika Zia membutuhkan pertolongan mereka di hutan! ini tidak masuk akal!"
"Kamu bicara apa sayang? heii...kamu harus ingat Zia itu cucu dari keluarga tersohor, mereka bisa melakukan apapun, jadi tidak ada yang tidak mungkin! Mengenai keluarganya yang kamu anggap tidak perduli, Mommy yakin kamu hanya salah paham sayang, Zia itu cucu bungsu, dia bagaikan puteri di keluarganya!"
"Hugo, kau memberitahu keluarga Zia, jika dia terjatuh ke jurang?"
"Tidak Tuan Muda."
"Mommy dengarkan? jadi bagaimana mungkin orang-orang suruhan keluarganya langsung bergegas menuju sungai dan menyelamatkan Zia! karena hal paling masuk akal yang akan mereka lakukan adalah mencari di hutan, menelusurinya! atau paling tidak mereka harus mendapatkan informasi terlebih dahulu, sedangkan Hugo tidak memberitahunya, jadi bagaimana mungkin itu terjadi? apalagi di sungai...dalam keadaan hujan deras, itu sangat tidak mudah! terus dalam hitungan jam, sangat mustahil! itu benar-benar tidak masuk akal!"
"Sayang...kenapa bisa kamu berpikir seperti itu? kenyataannya Zia selamatkan? dia baik-baik saja! Seseorang telah menolongnya..., mungkin saja nelayan atau penduduk sekitar, dan kebetulan juga mereka mengetahui Zia, gadis itu begitu terkenal, apalagi berita kehilangannya juga sudah tersebar, mereka pasti langsung menghubungi keluarganya. Ini cukup masuk akal kan?"
"Sudah kau pastikan jika Zia benar-benar dirawat dirumahnya Hugo?"
"Iyaa Tuan Muda, bahkan setelah itu pihak keluarganya langsung mengadakan konferensi pers. Media begitu heboh, jadi saya pastikan Nona Zia benar-benar selamat, dan dia tengah dirawat dirumahnya."
Aku senang mendengar Zia selamat, tapi kenapa hatiku masih resah, "Hugo, pastikan para penjahat itu mendapat hukuman paling berat! dan jika pihak berwajib hanya memberi efek jera, maka kau tahukan apa yang harus kau lakukan?"
"Sayang...."
"Mereka pantas mendapat itu Mommy!"
"Baiklah-baiklah, dan untukmu Hugo, apa sudah kau pastikan jika Nevan tidak terekspos dalam berita penculikan itu?"
"Sudah Nyonya, Tuan Muda tidak akan masuk dalam pemberitaan, pers hanya tahu Nona Zia lah yang diculik."
"Kerja bagus, aku tidak mau jika rival memanfaatkan keadaan ini, dan karena semua sudah jelas..., sekarang kamu beristirahat Nevan!"
"Nanti dulu Mommy, aku harus menyelesaikan ini...," ku raih buku gambar dan beberapa pensil, lalu tanganku bergerak lincah membayangkan wajah Zia yang tertutup poni, lalu yang paling penting adalah tautan jarinya, yang memang sedari awal telah menyita perhatianku, membuatku gelisah dan menimbulkan rasa ingin melindunginya.
Gerakan yang pertamakali ku lihat di tv, gerakan itu juga yang mampu membuatku menatapnya betah, hingga membuatku nekat menyelamatkannya. Dan tak lupa juga pepohonan besar di tengah hutan, aku ingin mengenang semua canda dan tawa yang sempat kami lalui bersama.
...----------------...
Setelah tambahan satu hari untuk tetap terbaring di bed rumah sakit, akhirnya kini aku terbebas juga, pulang ke rumah hanya untuk bersiap-siap, dan kini aku membulatkan tekad untuk pergi menuju rumah Zia. Untungnya aku dari keluarga Eldione, jadi tidak akan sulit untukku mendapat izin agar bisa memasuki rumahnya.
Ya, Mommy memang sudah berusaha mendatangkan Zia, namun ternyata sangat sulit, dan aku tidak mempersalahkan itu, karena sedari awal memang aku yang berjanji untuk menghampirinya, dan sekarang.
"Aku siap datang memenuhi janji Zia! mobil dan sebuket mawar akan menemaniku untuk mengajakmu menaiki helikopter! jangan sampai kau melupakanku ya! dan ini...aku tambahkan satu gambar untukku, semoga kau menyukainya Zia...."
Senyum merekah terus tersungging dalam bibirku, tatkala kaki semakin berayun memasuki rumahnya.
Dan semesta seperti berpihak padaku, baru mendongakkan mata, ku lihat Zia menuruni anak tangga, namun semakin ia mendekat alisku juga kian terangkat, ketika ku lihat matanya yang sembab.
"Kamu sudah mengenaliku Zia, wooooowww...!!! Jangan menangis Zia, jangan!" aku membatin dengan rasa percaya diri tinggi, dan saat jarak kami semakin terkikis, justru dibenak ku timbul rasa yang berbeda.
Tidak ada lagi helaian rambut yang menutupi wajahnya, kini matanya terlihat jelas, biru keabu-abuan. Memang sangat indah tapi rasanya tetap asing, mungkin karena penampilan kami yang sama-sama berbeda, hingga rasanya agak lain. Aku yang tidak memakai topeng dan Zia yang tanpa poninya.
"Ziaaa, ini bunga un___,"
Ucapan ku terpotong, saat Zia melewati ku begitu saja, bahkan tanpa melirik.
"TUTUP PINTUNYA!"
"NONA ZIA...BERHENTI! JANGAN BERUSAHA KABUR LAGI!"
Teriakan itu berasal dari para pengawal, mereka juga ikut berlarian dan mengejar Zia.
BRAK!
.
BRAK!
BRAK!
"BUKA PINTUNYA BUKA! AKU BILANG BUKA!"
"Maaf, Nona...maaf! ini juga perintah, jika Nona kembali kabur itu masalah besar buat kami, jadi mengertilah...."
"Zia..., ada apa ini? ada apalagi? Mami mohon jangan seperti ini!"
"Mami bilang----bukan! lebih tepatnya kalian semua terus mengatakan besok! besok! dan besok aku bisa menemuinya! tapi sampai kapan besok kalian itu benar? sudah beberapakali kalian membohongi ku? Jangan salahkan aku jika seperti ini! Aku akan menemuinya sekarang! bagaimana pun caranya! Dia itu saudaraku...SAUDARAKU! kalian dengar? DIA SAUDARAKU! meskipun tanpa ikatan darah dia tetaplah SAUDARAKU...huuu..huu..huu!"
Aku terdiam menyaksikan perdebatan yang sebenarnya belum membuatku paham, dan suasana menjadi semakin tegang saat ku lihat pria berpostur tinggi lengkap dengan setelan jaz mulai melangkahkan kaki mendekat. Dan derap sepatunya mampu membuat orang-orang di dalam sana menatap segan.
"Bralinzhea...."
"Kembali ke kamarmu princess, berhentilah membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak penting!"
"Tapi Pa__,"
"Kembali ke kamarmu!"
"Papi mu benar Zia! sedari awal Kakek juga tidak suka melihatmu berhubungan dengan anak-anak tidak jelas, lihatlah sekarang kamu juga mulai bersikap seperti mereka!"
Seorang pria berambut putih ikut mendekat, ucapannya seperti perintah yang tidak ingin di ganggu gugat, "Bertemanlah dengan orang-orang yang sepadan dengan kita, agar cara berpikir mu lebih berkembang, bukan malah menjadi pembangkang. Dan daripada kamu memikirkan anak itu, lebih baik kamu melupakannya dan bertemanlah dengan Nevan, dia anak yang baik dan juga pintar, ditambah dari keluarga terpandang, Kakek rasa kalian akan cepat akrab!"
Sedikit tersentak, karena pria itu menunjukku, tapi tidak apa-apa, bukankah dia memujiku? dan yang terpenting aku dan Zia akan segera menghabiskan waktu bersama.
Tanpa menjawab Zia langsung melangkahkan kakinya menjauh, hingga lagi-lagi ia melewati ku begitu saja.
Aku masih menatap punggung itu menjauh, dan tiba-tiba dari arah belakang sebuah tangan menyentuh pundak ku, "Nama mu Nevan kan?"
"Uummm..., iya Auntie."
"Sangat lucu dan tampan, tapi Nevan..., Auntie minta maaf ya dengan sifat Zia tadi, dia memang seperti itu, tapi jika kamu memberinya waktu dia pasti akan menjadikan mu sahabatnya...."
"Aku dan Zia sudah bersahabat Auntie, kami menghabiskan waktu bersama di hutan!"
"Benarkah?"
"Iyaa...! ummm apa Nevan bisa naik ke atas untuk menemui Zia, Auntie?"
"Tentu, tentu saja!"
Aku menaiki tangga dengan langkah lebar, sembari berpikir mungkin tadi Zia hanya tidak menyadari kehadiran ku.
"Haiii...Zia!"
"Pergi!"
"Ziaa...."
"Aku bilang pergi!"
"Kenapa? apa kamu melupakanku? hmm, biar aku jelaskan...."
"Pergi! aku tidak mengenalmu jadi pergilah! aku tidak mau mengenalmu!"
Deg!
Aku tidak percaya dengan ucapannya, benarkah dia melupakanku? bahkan posisinya sekarang masih membelakangi ku, namun aku tidak ingin menyerah, kaki ini mulai berayun mendekat, dan ku sentuh punggungnya hingga dia berbalik.
Matanya masih sembab dengan buliran-buliran yang terus membasahi pipi, tapi kembali rasa asing menyeruak di dalam diri, ini tidak seperti saat terakhir kali aku melihatnya menangis.
Aku berusaha menghilangkan perasaan asing tersebut, dengan menundukkan kepala, "Ziaa... aku membawa mawar putih seperti yang kau mau, aku sudah menepati janjiku, jadi sekarang ay___,"
"Aku mohon pergilah! aku ingin sendiri!"
"Apa kau benar-benar tidak mengingatku Zia? apa kau marah karena aku tidak menyelamatkan mu? maafkan aku___,"
"Berhenti bicara omong kosong!"
"Zia kenapa?"
Dengan langkah tergesa-gesa ia meninggalkan ku, lalu membanting keras pintunya.
"Zia...Zia, jika kamu marah padaku, maka katakanlah! aku siap mendengarnya a...asal jangan meng... menghindari ku seperti ini hu...huu...huu...," aku mulai menangis, tidak bisa ku terima jika Zia bersikap seperti ini.
Tok!
.
.
Tok!
Tok!
"Zia, buka pintunya! bukannya kamu sudah berjanji akan mengingatku, tidak akan melupakanku? tapi kenapa begini Zia? hu...hu...."
"Zia dengar, mulai hari ini aku berjanji akan menjadi laki-laki yang kuat Zia, bisa masak, dan tidak akan lagi memberimu masakan gosong... dan...dan a...aku juga berjanji ketika main rumah-rumahan aku akan mengetuk pintu..., Zia aku mohon...huu...huuu...huu...."
"BERHENTI MENANGIS! KAU MENGGANGGUKU!"
"Ziaa...katakan aku salah apa? bukannya kita bersahabat? Ziaaa...."
"AKU TIDAK MEMILIKI SAHABAT CENGENG SEPERTI MU! MENYEDIHKAN!"
"Hiks...hiks...tidak...tidak jangan katakan itu...huuuu...huu...."
"Aku tidak cengeng, aku ini hebat Zia..., aku masih hebat seperti yang kau katakan dulu...aku masih laki-laki hebat dan akan terus seperti itu...aku berjanji...."
"HEI! BERHENTILAH MEMBUATKU KESAL! PERGI! KAU BUKAN SAHABATKU! BAHKAN KAU JUGA BUKAN TEMANKU! AKU TIDAK MEMILIKI TEMAN SEPERTIMU!"
"Aku Vanvan Ziaaa...aku ini Vanvan...."
"AKU BILANG PERGI!"
"Tidak...tidak...huu...huuu...."
"Ziaaa... aku Vanvan....aku Vanvan sahabatmu...."
Dengan nada terisak aku tetap berada di depan pintu, berharap dia membukanya dan kembali mengingatku.
"AKU TIDAK MEMILIKI SAHABAT DENGAN NAMA SEPERTI ITU! AKU HANYA MEMILIKI DUA SAHABAT! DAN KAMU BUKAN SALAH SATUNYA!"
"Kita bersahabat Zia, percayalah! bahkan keluarga mu berharap agar kita bisa akrab. Aku akan menjadi sahabatmu...lebih dari mereka... mereka tidak ada apa-apa nya, aku lebih dari mereka, aku bisa membuatmu tertawa!"
BRAAKKK!
"TIDAK AKAN ADA YANG BISA MENGGANTIKAN MEREKA BERDUA! KAU BUKAN SIAPA-SIAPA! KAU BUKAN SAHABATKU! AKU MALAH MEMBENCIMU! MEMBENCIMU! PERGIIIIIIIII!!!"
Zia mendorongku cukup keras hingga aku tersungkur di lantai, dan untungnya dari belakang dua pasang tangan membantuku berdiri.
"Apa-apaan ini Zia? kenapa kamu kasar sekali?"
"Dia bicara omong kosong Mami! dia meremehkan sahabat Zia! Zia tidak suka! suruh orang itu pergi! Zia tidak ingin dia di sini"
"Jangan...Auntie...jangan! Nevan ingin di sini bersama Zia, Zia itu sahabat Nevan, dia sahabat Nevan!"
Zia kembali memasuki kamar, dan aku berniat mengikutinya, tapi gerakan ku tertahan oleh tangan yang sempat membantuku tadi.
"Nevan... Nevan..., tenang ya nak tenang! kamu tahukan Zia mengalami hal buruk? karena itu dia masih ketakutan untuk bertemu orang asing."
"Aku bukan orang asing Auntie, aku sahabatnya!"
"Iyaa...iya Auntie tahu, tapi beri Zia waktu ya nak? dia hanya sedikit melupakanmu, mmmhh bisa jadi karena efek benturan. Nevan tahu? Zia itu sempat terjatuh ke jurang, jadi Nevan mengerti kan nak?"
"Tapi sampai kapan Auntie?"
"Besok datanglah lagi, Auntie akan bantu Zia mengingat mu kembali, oke?"
Auntie berkata seraya menghapus jejak air mata di wajahku.
"Baiklah Auntie, terimakasih..., jaga Zia untuk Nevan ya Auntie?"
"Tentu...tentu saja Nevan, kamu manis sekali...."
.
.
.
Aku pulang dengan perasaan kacau, namun Auntie berjanji akan membantuku, sedikit harapan itu membuatku bersemangat, aku tidak ingin Zia melupakanku, aku tidak bisa menerimanya.
Keesokan harinya aku benar-benar datang ke rumah Zia, bahkan saat waktu masih menunjukkan pukul Tujuh pagi.
Baru beberapa langkah aku sudah mendengar suara orang ribut, aku takut Zia kembali di marahi hingga tanpa permisi aku memberanikan diri untuk mengintip.
"Tuan..., jangan seperti ini Tuan jangan..., saya mohon, izinkan saya membawa putri saya keluar, dia perlu menenangkan diri Tuan!"
"Kau pikir kami tidak bisa mengobatinya di sini hah? Para dokter akan datang! jadi tetaplah di paviliun, jangan berani-berani kau keluar, jika media sampai tahu semua akan lebih menyeramkan untuk keluargamu! Kau hanya perlu diam! Semua akan baik-baik saja!"
"Tidak bisa Tuan! putriku harus keluar, jika dia tetap dikurung maka putriku bisa gila!!! dia perlu udara bebas..., karena di sini PUTRIKU LAH YANG MENJADI KORBAN!"
"BERANI SEKALI SEORANG SUPIR SEPERTI MU MEMBENTAK KU! DASAR TIDAK TAHU DI UNTUNG! PUTRIMU SEPERTI ITU KARENA ULAHNYA SENDIRI!!!"
"BUKAN INI BUK___,"
Srrrrrrtttttt!
Bahuku ditarik hingga pandanganku menatap sosok itu.
"Apa yang kamu intip Nevan?"
"Ummmm..., maaf-maaf Auntie...Nevan tidak bermaksud, hanya saja Nevan kira itu Zia...ja...jadi...."
"Nevan ingin bertemu Zia?"
"Tentu! tentu saja!"
"Zia ada di lantai dua, ke sanalah...."
"Baiklah Auntie, terimakasih!"
.
.
.
"ZIIIIAAAAAAA..., berhenti! kamu mau apa hah? itu berbahaya jangan melompat!"
"Diam jangan berisik!"
Aku begitu terkejut saat Zia mengangkat satu kakinya di balkon, dan dengan gerakan cepat ku raih tangannya hingga kami terbentur di lantai.
"Aaaawwww...."
"Kamu apa-apaan sih! ini biasa aku lakukan tahu! Liat itu ada tali di sana, aku akan turun ke bawah situ!"
"Kenapa kamu melakukan itu? kalau kamu mau turun ya dari tangga Zia! ini berbahaya! Dulu kamu menasehati ku, tapi sekarang malah kamu sendiri yang melakukannya!"
"Bicara apaan sih gak jelas!"
Mungkin karena teriakan ku tadi, hingga para pengawal mulai berdatangan dan hal itu sukses membuat Zia semakin menatapku geram.
"Ziaaa...."
"Lepas!"
"Zia, kamu masih tidak mengingatku?"
"Aku memang tidak akan pernah mengingatmu!"
"Jangan katakan itu!"
"Dengar! aku tidak mungkin memiliki sahabat cengeng dan pengadu seperti mu!"
"Tidak...."
"Aku terganggu dengan kehadiranmu!"
"Jangan katakan itu...."
"Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah menjadi sahabatku! aku sudah memiliki sahabat, dan mereka cukup untukku!"
"Tidak...."
"Kenapa kamu menunduk? lihat aku heiii! kenapa setiap berbicara denganku kamu selalu menunduk? dasar aneh!"
"Jangan katakan itu Zia...."
"Kamu memang aneh! sok kenal dan berani-beraninya kemarin kamu menghina sahabatku!"
"Karena itu benar, aku lebih baik dari mereka!"
"Omong kosong! kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka! kamu lemah! cengeng dan pengadu! aku tidak mungkin memiliki sahabat seperti mu!"
"Kamu selalu tertawa bersamaku Zia!"
"Heeehhh! Liat...liat! apa aku tertawa? apa dari kemarin aku terlihat tertawa saat ada kamu? Tidak! yang ada aku malah terganggu! Sangat-sangat terganggu! Kamu telah menggagalkan rencana ku! KAMU PENGGANGGU!"
Tidak ada kebohongan di sana, ucapannya begitu lantang. Apa Zia benar-benar melupakanku? apa ada kesalahan yang tidak aku ketahui? atau ini memang efek dari benturan itu? Aku tidak tahu mana yang benar, aku juga tidak bisa menatapnya, karena saat aku melihat sosoknya sekarang, semua terasa asing dan berubah.
Rasa benci dan bersalah mulai mendominasi, aku benci dengan sosoknya ini, tapi aku juga merasa bersalah karena membuatnya seperti ini, andaikan saja waktu itu aku dapat menyelamatkannya, maka semua akan lebih baik.
"Pergi dari sini pergi! Ambil bunga-bunga yang kau bawa, itu hanya mengotori rumahku! sampai kapanpun kamu itu bukan sahabatku! aku tidak mengenalmu, aku membencimu! Aku tidak memiliki sahabat cengeng, apalagi menyedihkan sepertimu! Pengadu! meskipun kamu berpikir kita setara tapi aku tidak akan pernah menganggap mu sahabat!"
"Jangan katakan itu Zia..., aku begitu mengkhawatirkan mu...bahkan sangat! maafkan jika waktu itu aku tidak bisa menolong mu, maafkan aku Zia..., tapi izinkan aku untuk tetap menjadi sabahat mu, aku berjanji akan menjadi lebih kuat, aku berjanji Zia...."
"Tidak perlu! aku membencimu! aku tidak ingin memiliki sahabat seperti mu! PENGAWAL USIR DIA!"
Para pengawal itu mengusirku, dan untuk pertamakali aku diperlakukan seperti ini.
"Nevan...."
"Maafkan Zia ya nak..., dia itu hanya tertekan, karena beberapa hari ini merupakan hari-hari terberat untuknya, emosinya tidak stabil, ia gampang marah, Nevan mengerti kan nak?"
Aku hanya diam dan berlalu tanpa sepatah katapun, dan ketika semakin jauh dari rumah Zia, rasa sakit di hatiku semakin terasa, aku mulai menangis sesegukan, ketika bayangan Zia mulai terbayang, aku merindukan sosoknya, tapi bukan Zia yang kulihat sekarang.
Tanganku melempar lukisan yang ku buat untuknya, saking kesal membuatku enggan untuk melihatnya, tapi sejurus kemudian kembali ku ambil, lalu kupeluk erat.
.
.
.
"Sayang..., ada apa? apa Zia masih belum mengingatmu?"
"Tidak apa-apa, lama-kelamaan dia pasti mengingatmu sayang, mungkin dia masih trauma...."
"Apa itu alasan tepat untuknya melupakanku begitu saja Mommy?"
"Beri dia waktu sayang...."
"Haii putra tampan Daddy...! loh-loh kenapa wajahmu sedih sekali? Jangan bersedih Nevan..., Daddy punya kabar bahagia untukmu! Kamu masih ingat Geime? beberapa tahun lalu kalian sering bermain bersama! dan sekarang dia dan keluarganya akan berkunjung kemar___,"
"Maaf Daddy, Nevan sangat lelah...," aku menyusuri anak tangga dan menuju kamar.
Duduk di pinggir kasur sembari menatap lukisan Zia, aku membencinya, entah harus berapa kali aku mengatakan hal itu. Dia membuatku merasa terbuang, tak ternilai, kepercayaan diriku dibuat runtuh, kecewa, hingga kembali ku lempar lukisan tersebut, dan saat itu juga terdengar suara dari ambang pintu.
"Heii kenapa dibuang? ini lukisan bagus!"
"Bawa keluar!"
"Aku ambil ya?"
"Silahkan, tapi kau juga keluar dan tutup pintunya!"
Aku enggan menengok, dan lebih tertarik untuk menarik selimut, berusaha untuk tidur dan berharap saat bangun nanti rasa sakit ini akan menghilang.