Mine ?

Mine ?
54 : Tidur nyenyak Geonevan



Belahan Bumi di kota J mulai terlihat semakin meredup. Shasyania yang baru saja turun dari sebuah mobil sedan berwarna hitam langsung menyusuri gang. Langkahnya pelan, hingga mengeluarkan bunyi ketukan dari high heels yang ia kenakan.


"Wah Kakak Shasya cantik sekali!"


"Kakak Shasya, Kak Shasya tadi Didi kena hukuman tahu karena gak buat Pr! Dan dia juga telat masuk kelas tuh!"


"Bohong Kak! Didi udah buat Pr tapi ketinggalan di rumah! dan Didi telat karena mandi pakek air dingin Kak!"


"Ihhh kamu tuh tukang bohong! Orang bener kok apa yang aku bilang! ya kan teman-teman?" ucap salah satu bocah laki-laki yang tengah mencari pembenaran, "Didi pasti lupa ya, Kakak Shasya kan gak suka sama anak malas! bener kan Kak?"


PLAK!


"Kamu kok mukul sih!"


Shasyania mulai khawatir dengan perselisihan anak-anak itu, hingga ia bergerak sigap untuk melerainya.


"Heeii...hei gak boleh berantem! kalian ini kan teman. Kalau menyakiti teman nanti susah loh nyari teman baru!" bujuk Shasyania, sembari memegangi satu bocah laki-laki yang terlihat lebih emosian daripada yang lainnya.


"Liat Kak dia melotot, Didi emang anak malas! dan Arsya gak mau punya teman kayak gitu, Arsya kan anak rajin, pintar, dan ganteng!"


"Huhuhuhu!"


"Yah Didi nangis. Cengeng sih!"


Arsya tersenyum penuh kemenangan seraya sengaja memeluk Shasyania, "Kasian deh! Didi emang cengeng, waktu itu aja marahan sama Nino juga langsung kencing di celana! Hahaha! CEMEN!"


"Arsya...," ujar Shasyania, ia sengaja menekan ucapannya agar anak itu berhenti menyulut emosi, "Arsya tahu, apa yang Arsya tertawakan sekarang bisa aja loh dibales sama Didi, kalau gitu terus kapan kalian akan berhenti saling mengejek? Mencari pembenaran di atas kesalahan orang lain bukanlah tindakan yang bagus Arsya, apalagi untuk anak yang ingin terlihat ganteng seperti Arsya, dan jika Arsya ingin jadi pintar maka jangan lagi dengan cara mengejek orang lain, karena itu bukanlah sesuatu yang bisa Arsya banggakan, itu hanya bentuk dari kesombongan yang berarti Arsya jauh di bawah Didi. Masaaaak, anak kayak Arsya sukanya menyerang kelemahan, Kakak rasa Arsya bukan anak yang seperti itu, Kakak betul kan?"


Anggukan kepala dari anak laki-laki itu menjawab pertanyaan Shasyania.


"Bagus! dan apa Arsya juga tahu, mengejek-ngejek orang juga bisa menimbulkan sesuatu yang menyakitkan di sini loh," tunjuk Shasyania ke bagian hatinya, "rasa sakit yang semakin hari semakin menyakitkan, bertumbuh dan terus bertumbuh bahkan Dokter pun gak punya obatnya. Apaa Arsya mau merasakan sakit seperti itu? kalau Kakak sih enggak ya."


"Arsya gak mau Kak! nanti sakitnya membesar terus Arsya nya jadi jelek dong!"


"Yap! maka dari itu jangan pernah menertawakan kesalahan orang lain, apalagi kesalahan teman, karena hal itu juga bisa menimbulkan rasa sakit di hati teman Arsya. Jadi sekarang kalian baikan yaa, dan Kakak punya sesuatu nih buat kalian semua!"


Kedua bocah itupun saling berjabat tangan, dan hal itu sontak membuat bocah lainnya bersorak-sorai penuh jenaka. Suasana ramai di gang rumah Shasyania sudah menjadi hal biasa baginya, apalagi dikala sore hari, anak-anak akan bermain berbagai macam jenis permainan, dan kedatangan Shasyania akan selalu mereka tunggu-tunggu.


"Makasi coklatnya Kak!"


"Ini enak!"


"Ihh kamu ngambilnya tiga, aku aja baru satu!"


"Kakak Shasya makasi ya!"


"Iya sama-sama, sekarang Kakak pulang dulu ya," pamit Shasyania, ia mulai melangkahkan kakinya menerobos keramaian yang selalu saja menutup jalannya untuk menjauh.


"Kak!" panggil seorang bocah laki-laki yang masih menggunakan celana sekolah berwarna merah.


"Iya Didi?"


"Hari ini sebenarnya aku sama teman-teman maunya Kakak bantuin buat tugas rumah, tapi karena ini udah sore dan Didi sama temen-temen harus mandi, jadi besok Kakak mau kan ngajarin kita lagi?" tanyanya penuh pengharapan.


"Tentu! Kakak pasti bantu, besok kalian datanglah ke rumah Kakak. Oh ya Didi, untuk yang tadi Kakak harap Didi gak boleh lagi main memukul-mukul teman ya, karena itu merupakan kebiasaan buruk. Didi boleh kok melindungi diri sendiri tapi Didi juga harus tau kapan itu dibutuhkan, mengerti?"


"Iya Kak, Didi mengerti!"


"Anak pintar! yasudah sekarang pulanglah sebelum hari semakin sore," ujar Shasyania, ia juga terlihat membalikkan badan, namun baru akan melangkah tangannya terasa di tarik dari arah belakang.


"Kak, tadi Kakak meluk Arsya, mmhhh, dan...dan sepertinya Didi juga merasakan sakit di sini, jadi apa Kakak bisa meluk Didi juga?"


Shasyania tersenyum melihat kepolosan anak kecil di hadapannya itu, dan tanpa menunggu lama lagi, ia mulai menekuk kakinya untuk sejajar dengan anak laki-laki yang terlihat langsung memeluknya erat.


Sekitar 30 detik waktu yang Shasyania luangkan untuk menyenangi hati bocah laki-laki bernama Didi, sampai akhirnya ia bisa melanjutkan perjalananya kembali, tapi ketika pandangannya melihat benda asing yang terparkir tepat di depan pagar rumah, alis gadis itupun mulai terangkat ke atas dengan mimik wajah menerka-nerka.


Berjalan mengendap-endap dengan sendi putar di bagian lehernya menengok ke kanan dan ke kiri, itu ia lakukan untuk mencari keberadaan manusia lainnya yang mungkin saja bertamu di kediamannya yang sederhana namun masih tertata asri.


Kepekaan luar biasa Shasyania rasakan saat kupingnya mendengar derap langkah yang mulai mendekat, pelan namun pasti langkah itu semakin jelas.


"KEJUTAAAAANNNNNN!"


Teriakan memecah gendang telinga berasal dari wajah-wajah yang sangat Shasyania kenali. Tawa puas mereka perlihatkan, bahkan saat melihat sang korban memegangi dada penuh keterkejutan, suara-suara itu semakin terdengar menggema dengan kaki yang tak henti-hentinya menghentak ke rumput hijau di bawah sana.


"Syok banget ya sampek gak berekspresi gitu?" goda Anggi seraya menaik-turunkan alisnya yang tebal.


"Tau nih! bukannya terharu malah membatu!" timpal Wiwin, tangannya lalu bergerak menyuruh Nanda memegangi kue yang sedari tadi ia pegang, "Nyalain lilinnya ya!"


Shasyania yang sudah melewati masa-masa membeku, akhirnya mulai membuka suara, "Kalian tahu, ini reaksi di atasnya terkejut! sampai aku gak bisa langsung bereaksi, bahkan suara pun terasa hilang!" protes Shasyania.


"Iye...iye maafin kite yee," Anggi berucap enteng.


"Nih!" Nanda menyerahkan kue itu kembali, dengan lilin-lilin yang sudah menyala.


Wiwin sigap menerima, lalu ia menyodorkan kue tiramisu itu kearah Shasyania, "Make a wish dulu Sha...!"


"YEEEEEYYY!"


"Nih Sha buat kamu!"


Silih berganti Empat orang tersebut memberi Shasyania hadiah, dan sepertinya hadiah dari Nanda dan Yoga terlihat lebih istimewa, di lihat dari bungkusannya yang terkesan begitu estetik.


"Ayo duduk dulu, biar aku siapin minuman," ajak Shasyania.


"Gak perlu Sha! kali ini kami udah bawa perlengkapan! dari minuman, makanan, bahkan sampai perabotan pun ada di sini. Jadi kamu gak perlu melayani lagi!" tegas Yoga.


"Wah terharu sekali, kalian tahu aja kalau aku lagi capek!" kelakar Shasyania.


"Oh ya Sha, perayaan sama teman-teman baru kamu seru juga ya? sampai kamu baru pulang," ucap Nanda.


"Pantas! kami aja sampai gak dapet giliran tadi, hmmm nasib mantan sekolah lama harus mengalah ya," seloroh Wiwin.


"Gak papa, yang penting sekarang waktu Shasya buat kita! betul kan Sha?" selidik Yoga.


"Hmmm gimana ya?" sahut Shasyania yang memancing tatapan mengintai dari para sahabatnya, "Iya...ya bener tapi jangan aja sampai malem ya," sahut Shasyania, ia juga ikut bergurau hingga mereka tertawa lepas menceritakan kegiatan-kegiatan baru yang mereka lalui.


"Udah sejam lebih nih, kita pulang yuk?" ajak Wiwin.


Yoga dan Nanda terlihat kurang setuju, mereka memilih untuk mengabaikan ajakan Wiwin.


"Nan pulang yuk! besok kita masih bisa kesini lagi kok!"


"Kamu mau pulang ya pulang aja, gak usah ngajak-ngajak!"


"Yaelah kita kemari kan nebeng di mobil kamu!"


"Tau gini gak usah ikut, bawa aja tuh motor beat kamu!"


"Ck! di antara kita kan kamu aja yang punya mobil, jadi kalau kemana-mana ya aku nebeng! Hemat lahan, cari parkir susah!" elaknya, "yasudah pulang yuk, Ibu aku udah nelpon terus nih!"


"Kenapa bude nelpon Win?"


"Itu Ngi..., Kakak aku malam ini mau ke rumah calon ipar buat nentuin tanggal lamaran!"


"Wah bisa-bisanya gak bilang! tahu gini gak usah ikut kamu ke sini!" sentak Yoga.


"Yaelah, masak kalian tega gak ajak aku ngerayain kemenangan Shasya, lagian kita udah lama di sini loh, dan Shasya juga butuh istirahat, betul kan Sha?" Wiwin mencari dukungan, hingga memasang wajah memelas.


"Bukannya ngusir ya, tapi kali ini Wiwin ada urusan, jadi sebaiknya kalian pulang, masih ada hari lain buat kalian ke sini lagi."


Dengan berat hati Nanda mengikuti saran Shasyania, ia tahu masih ada hari esok namun itu juga belum pasti apalagi kali ini kesibukan mereka sudah berbeda, dan kesempatan untuk bertemu Shasyania sangatlah susah.


"Oh iya Nan, kamu parkir di mana? kok aku gak liat mobil kamu di depan gang?"


"Ya jelas gak liat Sha, kita kan niat buat ngasih kejutan, jadi aku parkir di toko bulan kalender."


Shasyania mengangguk paham, "Ohh pantas, berarti aku gak usah nganter sampai sana dong ya, soalnya jauh banget," jelasnya.


"Iya gak usah Sha, kamu istirahat aja!"


Hanya sampai pagar rumah Shasyania mengantar, namun saat Anggi mulai menyadari sesuatu ia kembali berbalik menatap Shasyania, "Sha itu motor punya siapa? aku liat juga di pintu masuk rumah kamu ada helm," tanyanya, yang juga mengudang ingatan Shasyania untuk kembali bertanya-tanya.


Dengan sigap Shasyania memegang pergelangan tangan Anggi.


"Kenapa Sha? ada apa?"


"Antar aku ke dalem rumah yuk?"


"Tunggu-tunggu berarti pemilik motor itu bukan orang yang kamu kenal? terus kemungkinan besar orang asing itu juga udah masuk ke dalam rumah kamu gitu?"


Tanpa menjawab Shasyania langsung menarik tangan Anggi, dan kejadian itu di sadari temannya yang lain hingga mereka seketika berhenti di tempat.


"Ngapain si Anggi masuk rumah Shasya lagi?"


"Gak tahu, mungkin barangnya ketinggalan kali! tunggu aja," ujar Wiwin.


Shasyania memutar ganggang pintu, dan ternyata, "Tidak terkunci, berarti memang seseorang telah masuk!" ucapnya, yang semakin mengundang bulu kudu Anggi untuk berdiri.


"Sha, Shasya! sebaiknya kita panggil yang lainnya, aku takut nih!"


Tanpa merespon ucapan Anggi Shasyania langsung menerobos ke dalam, dan Anggi yang sudah panik langsung berlari mencoba memanggil temannya yang lain.


"Kosong gak ada siapapun, bahkan kamar Ibuk masih terkunci," lirih Shasyania, dan pandangannya langsung melirik kamarnya yang terlihat sedikit terbuka.


Perlahan ia membuka pintu itu semakin lebar, dan terlihat sepasang sepatu tergeletak di bawah kasur, dan pandangannya kembali menelisik ke atas, hingga ia melihat seseorang yang tengah tertidur nyenyak sambil memeluk guling miliknya. Semakin pengelihatannya ia fokuskan maka terlihatlah sosok itu dengan rupa yang jelas.


"Geonevan?" gumamnya, dan Shasyania langsung menuju pintu masuk rumahnya untuk mencegah temannya yang lain ikut menerobos.


"Ada siapa Sha?" tanya Nanda dan Yoga, mereka terlihat begitu panik.


Seperti telah menyembunyikan sesuatu yang bersifat rahasia, Shasyania mulai gelagapan, "Nggg...enggak, semua aman dan motor itu punya saudaraku, aku baru ingat," jelasnya.


"Bener gitu Sha?" tekan Anggi sekali lagi.


"Iyaa, kalian tenang aja semua aman kok he!"


"Yasudah kalau gitu kita pamit ya."


"Iyaa hati-hati."


Saat keempat punggung itu semakin menghilang termakan jarak, saat itulah Shasyania kembali masuk ke dalam rumah, dan tempat pertama yang ia tuju adalah kamar.


.


.


.


.


.


.


*Tetap tinggalkan jejaknya yaaa, bantu agar menghalunya tetap lancar dan tambah semangat, terimakasih. 🤗*