Mine ?

Mine ?
94 : Masih menyimpannya



Teringat akan kontak biru yang diberikan Gemmi membuat Shasyania segera mengambil tasnya, lalu membuka benda tersebut, "Wah Handphone ku!" serunya, hingga membuat laki-laki di depan sana yang tengah berbicara lewat telepon menengok penasaran.


Seraya mengulum senyum ia menatap Nevan, dengan isyarat tangan Shasyania mengatakan jika ia tidak sengaja bersuara keras.


"Tadi kenapa?"


"Ini... Oma Raimar menemukan handphone ku yang hilang kemarin! aahh untung ketemu!! Aku sangat bersyukur Geonevan, banyak hal penting di sini!!!"


"Penting?"


"Iyaa... seperti nomer telepon atau dokumen pribadi ku!"


Nevan mengangguk paham lalu, "Oh, jadi itu isi kotaknya!"


"Iyaa, titipan dari Oma."


"Aku kira orang itu ngasih coklat atau semacamnya...." ujar Nevan dengan senyum kemenangan, "kita jalan sekarang?"


"Yaaaps!"


.


.


.


.


.


"Jam lima?"


"Iyaa, jam lima pas!"


"Siap!" sahut Nevan sembari menunjukkan jempol tangannya, "sayaang..."


Shasyania tahu apa yang Geonevan maksud, hingga ia mengecup pipi laki-laki itu penuh perasaan.


Dan sepeninggal mobil Nevan kini Shasyania mulai melangkahkan kakinya menuju bangunan besar dengan logo tertempel kokoh. NJL, itulah tiga huruf berwarna silver gold di bangunan tersebut.


Ya, karena sesuai jadwal yang sudah ditentukan, jika Shasyania harus ikut serta dalam acara rapat yang sempat tertunda, dan sekarang, di sinilah Shasyania berada, duduk di antara beberapa staf termasuk Dofa, Marline, Mirna, dan juga Naura.


"Gue harap lo bisa mengerti akan keadaan ini Shasyania!" tegas Dofa, dengan jari tangan aktif memutar-mutar sebuah bolpoin.


"Tapi Kak, di dalam kontrak bukannya sudah jelas, jika aku tidak menerima job seperti itu!"


"Gue tahu Shasyania! gue tahu... gue sangat paham hitam di atas putih!! Tapi, sampai kapan lo mau seperti itu? karir lo bisa melesat jika lo menerima tawaran ini! Pikirkan sekali lagi, ini demi masa depan lo sendiri! kita buat kontrak baru, yang pastinya lebih menjanjikan!!!"


"Tidak Kak, keputusan ku tetap sama!" tekan Shasyania, ia begitu yakin dengan ucapannya, hingga Dofa langsung membuang muka tidak percaya.


"Marline! lo urus dulu masalah ini!!! gue mau keluar sebentar!! Dan gue harap... setelah gue balik ke sini lagi, maka gue akan mendengar hal yang baik! Bisaaaa?"


"Mh!" sahut pria kemayu itu seraya meneguk liurnya sendiri.


"Shaaai... dengerin gue, pikirkan sekali lagi, ini bagus loh untuk jenjang karir lu ke depannya! mau sampai kapan lu gak mau memperlihatkan wajah lu itu? Alemooong, gini ya, lu tanya deh sama si Emeli dan Naura mereka bahkan memimpikan ini dari lama, tapi kesempatan untuk jadi model utama gak pernah hadir ke mereka, ini lu kayak ketiban rezeki nomplok tahuuuu!"


Diamnya Shasyania membuat Mirna juga ikut menggeleng-gelengkan kepala, "Apa sih alasan kuat yang buat lo sampai gak mau Sha? gue masih bingung, karena sedari awal gue juga udah heran, gue kira lo gak mau karena takut, atau kaku di depan kamera, tapi pas dilihat... dari semua model hasil lo yang terbaik! bahkan Dofa sendiri yang menginginkan lo, dia berharap besar Shaaa! Dan lo tahu... kenapa rapat waktu itu mundur? itu semua karena Dofa ketemu Mrs Zivana, membahas launching produk terbaru, dan dia merekomendasikan lo sebagai model utama!"


"Iyaa Shaiii, apalagi yaa... sekarang saingan terbesar kita udah kembali hadir dengan modelnya yang hit! Kita harus tetap merajai fashion style di Negeri ini, gak boleh ke geser! Nooo!! kita musti mempertahankan penghargaan selama beberapa tahun ini!"


"Kalian mau menggunakan wajahku untuk bersaing dengan Zia kan?" pungkas Shasyania, ia langsung menuju ke inti pembahasan.


"Iy... ahh bukan seperti itu!! lebih tepatnya karena lo layak Shaiiii! lo layak untuk dikenal khalayak ramai!!!"


"Tapi bukankah itu terkesan menjiplak Kak?"


"Menjiplak apanya sih Shasyania? hasil rancangan yang kita keluarkan berbeda dengan mereka, bahannya gak sama! kita hanya memanfaatkan riuh orang-orang yang mulai gempar akan kemunculan idola itu, jika kita mendapat perhatian juga, maka mereka akan menjadikan ini sebagai buah bibir, lalu membanding-bandingkan jenis produk yang kita keluarkan! dan itu merupakan suatu keuntungan!!!" tegas Mirna.


Marline terlihat mendekat dan berkata, "Dalam dunia bisnis semua wajar Shaiii! meskipun awalnya kita pasti akan mendapat cibiran... tapi itu juga berdampak positif, kenapa? karena kita jadi semakin di kenal! dan yang lebih membanggakan lagi... hasil rancangan kita memang terbaik, gue yakin sih pelanggan setia yang dulunya bertahan hanya karena Zia, perlahan-lahan mereka akan berpindah menggunakan rancangan kita, apalagi setelah mereka tahu rancangan NJL lebih bagus! kita perlu pemicu, dan itu lo Shasyania! Kita harus menjadi rancangan nomer satu di Negara ini!"


"Aku tetap gak mau Kak!"


"Astaga Shasyania!!!"


"Kenapa Shasya? cobak sekarang jelasin kenapa lo gak mau?"


"Karena aku gak mau dibanding-bandingkan dengan Zia! aku gak mau orang-orang terlebih dahulu menganggap aku ada hanya karena mereka tertarik dengan Zia!"


Sejenak kedua orang itu terdiam, dan saling tatap-menatap, sampai salah satu diantara mereka bersuara, "Bukan seperti itu Shasya! sebenarnya gini... kalau lebih di teliti lagi, kalian itu sangat berbeda loh! Zia dengan gayanya yang swag parah! sedangkan lo dengan gaya girly lo yang memukau, jadi kesan tersebut yang mau kita tonjolkan! bukan untuk menyamakan kalian!"


"Tidak Kak! Aku yakin tanpa sensasi seperti itu produk NJL akan tetap menjadi produk yang laris! siapapun modelnya, yang terpenting kwalitas!"


"Benar! tapi di sisi lainnya, kita juga memiliki misi untuk menggaet orang-orang yang masih membeli produk mereka hanya karena Zia! ditambah lagi katanya idola itu akan kembali berkarir, jadi... kita perlu persiapan Shasyania! kita perlu sesuatu yang menggemparkan juga, jangan sampai orang-orang terlalu heboh hanya karena kehadirannya! lalu berpaling dari kita!"


.


.


.


Rapat pun selesai dengan Shasyania yang masih teguh akan keputusannya.


Ia berjalan menyusuri blok demi blok bangunan, pikirannya mulai melanglang buana, membahas sosok Zia sukses membangkitkan suara-suara di masa lalu yang kini tengah berputar di dalam otaknya.


"Ayah gak mau kamu terus-terusan menjadi bayangan seperti ini Shasya! yang bekerja untuk keluarga itu Ayah! bukan anak Ayah!!"


"Ayah gak mau putri cantik Ayah ini bersembunyi di balik sosok orang lain! jadi jangan pernah ulangi lagi! kamu tidak pantas untuk itu!!! cukup sekali kebaikan yang kamu miliki dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain, karena jika dilakukan berkali-kali maka itu tidak akan bagus Shasyania! Ayah mungkin kekurangan dalam harta, tapi bukan berarti Ayah rela putri Ayah menjadi bayangan untuk orang lain!"


Semakin larut ia dengan kenangan masa lalu, sampai tuas ingatan kembali berputar di hari dimana ia diculik, ia dibekap hanya karena para penjaga itu merasa ia adalah Zia.


Malam mengerikan yang selalu merenggut ketenangannya, ditambah lagi saat ia merasa bersalah atas kematian seseorang yang ia anggap sebagai penyelamat.


"VANVAN...!!!"


"Lari Zia! LARIIIIIIII!"


"TIDAK!"


"LARIIII! aku akan menahan mereka, kita akan selamat! berlari lah turun, ikuti arus air ini!"


Door!


.


Door!


"Berjanjilah padaku, kamu pasti akan selamat Vanvan!"


"Lari Zia larii!!!"


"Kalian kejar gadis itu! Bocah ini biar jadi urusanku!"


Plak!


.


.


Plak!


"BUNUH BOCAH SIALAN ITU!"


DOOOORRR!!!


"AAAAAAAAAAAAAA....ZIIIIAAAAAAA!!!"


Seketika tubuh Shasyania luruh, merosot kebawah dengan air mata yang sudah membasahi pipi, suara tembakan dan teriakan itu membuatnya tercekat begitu hebatnya, "Van...van...," sendunya


...----------------...


Kembali lagi saat setelah tubuhnya terjatuh ke dasar jurang, sampai ia ditemukan oleh seorang Kakek-kakek yang kebetulan tengah mencari kayu bakar di sisi sungai. Berhari-hari Shasyania dirawat di gubuk kecilnya bersama sang istri, sampai di minggu pertama Daneshav berhasil menemukan keberadaan putrinya, setelah proses pencarian yang tak pernah usai ia lakukan.


Bahkan di keadaan yang terguncang diliputi rasa trauma tak berkesudahan, Shasyania masih sempat menanyakan keadaan sahabatnya, ia tak ingin mempercayai apa yang sebelumnya ia dengar, saat teriakan Vanvan terus melekat di ingatannya.


"Ayah, Vanvan... di mana dia? apa dia juga selamat seperti ku? Dia menolongku Ayah, dia yang menemaniku! dia juga yang menyelamatkan ku!"


Daneshav tidak langsung menjawab, sampai saat mereka kembali ke kediaman di mana rumah Zia berada, dia masih tetap diam, dan terkesan mengalihkan topik pembicaraan, bahkan sekarang ia bersama keluarganya di taruh di paviliun belakang,


Itu dilakukan karena keluarga Zia tidak ingin orang-orang curiga, saat seluruh masyarakat tahunya Zia lah yang menjadi korban, hingga silih-berganti para tokoh penting di dalam maupun luar Negeri berkunjung memberinya semangat.


Namun siapa sangka jika korban sesungguhnya bak terkurung di dalam sangkar, tidak diizinkan untuk melihat dunia luar, namun dalam keadaan seperti itupun Shasyania masih terus menanyakan kabar Vanvan.


"Ayah, Vanvan di mana? apa Ayah menyelamatkannya juga?"


"Tidak ada Vanvan! tidak ada anak lain selain kamu di sana Shasyania, Vanvan hanya halusinasi mu saja...."


"Tidak Ayah! tidak! Vanvan ada, dia yang menyelamatkan ku!"


Shasyania terus kekeh dengan ucapannya, ia bercerita panjang lebar, bahkan diulang-ulang namun tak ada satupun yang percaya, karena bukti dan faktanya memang menyatakan jika tidak ada bocah laki-laki seperti yang ia ceritakan.


Bukan karena Daneshav atau team pencari lainnya yang kurang teliti, namun semua terjadi karena berita hilangnya Nevan memang tidak terekspose media, jejaknya sudah dihilangkan, sesuai perintah Zivana pada Hugo waktu itu.


Namun di sisi lain hal tersebut justru membuat Shasyania berpikir, dan mulai membenarkan apa yang ia dengar, jika benar Vanvan telah di bunuh, hingga jasat dan semua bukti dilenyapkan begitu saja oleh para komplotan penjahat keji.


Perlahan-lahan Shasyania menjadi semakin histeris untuk menyalahkan diri, beberapa Dokter yang didatangkan khusus untuknya bahkan sampai kewalahan, semua pengobatan seakan sia-sia, ditambah lagi saat ia hanya bisa berada di dalam ruangan, yang jelas membuatnya semakin tertekan.


Rasa trauma akan pelecahan yang hampir saja merenggut kesuciannya, dan rasa bersalah akan kematian seseorang yang begitu ia anggap menjadi cambuk mengerikan bagi Shasyania, tidurnya selalu terjaga, kewarasannya bahkan sampai dipertanyakan.


Berulangkali Daneshav mencari celah untuk membuat putrinya seperti sediakala, namun sulit, hingga tekanan itu semakin membuatnya takut, layaknya dikerangkeng dalam bangunan megah namun tidak sedikitpun membuatnya nyaman, hingga terbesit kata kabur untuk meninggalkan Kota tersebut.


Ia ingin memutus rantai yang selama ini mengekang kebebasan keluarganya, tidak lagi di bawah bayang-bayangan itu. Penuh perjuangan ia lakukan bersama sang istri, dan salah satunya dengan mengganti nama Shasyania.


...----------------...


"SHAAAI... LU KENAPA?" Marline begitu terkejut ketika melihat Shasyania duduk di bawah lantai, dengan kaki ditekuk sembari menelungkup kan wajahnya.


Dengan cepat ia mengguncang tubuh Shasyania, "Shaaii... Lu kenapa? pusing karena masalah tadi? udah jangan dipikirin... kami gak marah sama lu, pleaseeee jangan jadiin itu beban Shai!"


Marline begitu panik hingga mengisyaratkan staf lain untuk membeli minuman, dan usahanya pun berhasil saat sejurus kemudian Shasyania kembali tenang.


"Jangan jadiin beban Shai!"


"Bukan Kak, bukan karena itu!"


"Issssss... lu itu ya, bikin gue jantungan tahu gak!" tegur Marline, "lu ada masalah apa? sini cerita!"


Diamnya Shasyania membuat Marline mengerti, "Mhhh.. okelah!" jawabnya yang tak mau memaksa, sampai senyum penuh arti mulai menghiasi sudut bibirnya, "nah... karena bukan masalah itu, jadi... bisa kali lu pikirin ulang keputusan lu tadi pas rapat, eeesssstt... jangan jawab sekarang! Pikirin dengan matang! gue tungguin kok!"


.


.


.


Area parkir.....


"Ehh tunggu-tunggu Line! itu... kok mobil kayak gak asing ya di mata gue?" ucap Mirna, sembari mengingat-ingat.


"Astagaaaaaaa! itu kan mobil milik pangeran Eldione!!! anaknya Mrs Zivana! waduh gawat-gawaaaat.... Balik ke dalam sekarang, pasti Mrs Zivana sama anaknya lagi berkunjung! baliiiikk buruuuaaan, jangan sampai karir kita ada diujung tanduk!" seru Marline, hingga keduanya terbirit-birit memasuki bangunan megah tersebut.


Dan di dalam mobil Nevan terlihat menyodorkan sebuah kotak roti pada Shasyania, "Nih, ini adalah roti varian baru yang dibuat Ibu, aku udah nyoba tadi di toko, sekarang giliran kamu yank!"


Saat Shasyania ingin mengambil barang tersebut, Nevan justru menghentikan laju tangan Shasyania, lalu menggenggamnya.


Dengan badan condong mendekat, Nevan menelisik bagian mata Shasyania, "Kamu habis nangis?" tiba-tiba hembusan nafasnya memburu dengan tatapan melebar, "siapa? katakan siapa?"


Menyadari perubahan ekspresi Nevan membuat Shasyania bergegas memeluk tubuh Nevan, "Sayang tenang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku nangis bukan karena ada yang jahat, kamu tahu? ini terjadi karena aku mendengar curhatan Kak Mirna, ceritanya begitu menyentuh hingga aku terbawa suasana...."


"Benarkah? memang bisa seperti itu?"


"Tentu bisa Geonevan sayaaang! nangis juga ada berbagai macam loh, ada nangis bahagia, terharu, dan lainnya!"


"Ck! air matamu terlalu berharga!" ucap Nevan, seraya menangkup wajah Shasyania, lalu bergantian mengecup kelopak mata tersebut.


"Udah boleh nyobain rotinya belum?" katanya, yang langsung membuat Nevan menjauhkan wajah.


"Tentu sayang!"


Shasyania memang sengaja tidak ingin mengorek luka lamanya di depan Nevan, ia belum cukup berani untuk bercerita, selain masalah itu sudah ditutup rapat oleh keluarga Zia, ia juga memiliki alasan tersendiri untuk tetap menyimpannya.