Mine ?

Mine ?
34 : Hujan badai



Bau obat-obatan langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciuman orang-orang yang berada di area tersebut. Beberapa orang berseragam putih-putih silih berganti memasuki ruangan yang tertera dengan tulisan IGD. dan di sebuah bangku panjang di luar sana terlihat dua orang berbeda generasi tengah beradu argumen.


"Dari awal sudah aku katakan jika Oma terlalu memanjakan dia! dan lihat! lihat sekarang hasilnya seperti apa!" penuh emosi seorang pria yang masih menggunakan setelan jas tampak berdiri mengusap-usap wajahnya gusar.


"Ini musibah Sean! tidak baik jika kamu terus menyalahkan adikmu!"


"Dari dulu Oma selalu membela dia! dan hal seperti inilah yang membuatnya tidak pernah mengerti! Apa Oma tahu apa yang dia lakukan di luar sana? dia bergabung dan membentuk sebuah Geng berandalan yang kerjaannya hanya membuat onar! aku yakin penyerangan ini adalah salah satu bentuk dari aksi balas dendam."


"Cukup Sean! cukup! jika kamu tidak bisa diam maka tinggalkan Oma sendiri di sini!" bentak Raimar pada cucu sulungnya, "dia masih sangat muda, jangan terus menyalahkannya! adikmu itu hanya butuh kasih sayang dan sebagai seorang kakak harusnya kamu menjaga dan menasehatinya menggunakan kepala dingin jangan terus menggunakan emosi! hubungan kalian akan terus bermasalah jika di antara kalian tidak ada yang bisa mengalah!"


Pria bernama lengkap Seandominic Zail Ethan itu membuang muka tidak percaya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Raimar, "Oma bilang tidak ada yang mengalah? jadi apa yang selama ini aku lakukan Oma? apa semuanya hanya bentuk dari sebuah keegoisanku saja?"


Raimar secara tidak sengaja telah menyakiti hati sang cucu hingga ia langsung berdiri dan berniat memegang tangan Sean, namun pria itu malah melangkah mundur.


"Bukan seperti itu maksud Oma Sean, mengertilah keadaan adikmu, dia masih sangat muda untuk mengerti semua ini, dan apa yang dia lakukan sekarang hanya untuk mencari kesenangan. Oma yakin saat dia cukup dewasa maka ia akan mengerti dengan sendirinya."


"Masih sangat muda? lalu bagaimana denganku Oma? bahkan saat kejadian itu usiaku baru Lima belas tahun tapi waktuku sudah tersita dengan segala urusan orang dewasa!"


"Kemampuanmu melebihi adikmu Sean! dan kamu tahu itu! jika kamu bertanya kenapa harus kamu, maka jawabannya karena hanya kamu yang bisa Oma andalkan untuk meneruskan perusahaan!"


"Setidaknya lakukan juga setengah dari tuntutan Oma itu ke Gemmi! jangan terus melihatnya sebagai anak yang butuh kasih sayang! karena bukan hanya dia yang menjadi korban dari kecelakaan itu! AKU JUGA DI SANA OMA! aku juga kehilangan kedua orang tuaku di hari yang sama tetapi kenapa hanya dia yang di perlakukan istimewa? ini tidak adil! ini sangat-sangat tidak adil untukku Oma!" ungkap Sean penuh emosional.


Raimar berada di keadaan serba salah, ia juga tidak ingin menyakiti perasaan Sean, "Oma tahu tapi kamu sebagai kakaknya harusnya lebih mengerti, Oma menyayangi kalian sama besarnya! tidak ada sedikitpun rasa membeda-bedakan! kamu harus percaya itu Sean!" Begitu sendu ia menjelaskan setiap kalimat, tetesan air mata kembali membasahi pipi saat ia mengusap lembut kepala cucunya.


"Dia tidak akan mengerti jika tidak Oma paksa untuk mengerti!"


"Beri adikmu sedikit waktu, Oma mohon."


"Dia bisa menjalani hidupnya penuh kesenangan, dia bisa melakukan apapun tanpa adanya tuntutan! Aku iri dengannya Oma karena masa mudaku terenggut dari hidupku! Harta ini tidak membuatku bahagia," lirihnya, "ia memiliki pilihan untuk berkata tidak sedangkan aku tidak memiliki pilihan selain berkata iya!"


"Maafkan Oma Sean..., maafkan Oma mu ini...."


"Jangan meminta maaf Oma, aku memang merasa semua ini tidak adil, tapi aku tidak marah dengan Oma, aku cuma menyampaikan apa yang aku rasakan, permintaan maaf Oma tidak akan membuatku lebih baik, aku sangat mencintai dan menyayangi Oma. Tidak ada rasa marah yang aku rasakan kepada Oma bahkan tidak sedikitpun!"


Lama pria itu bersimpuh berderai air mata sampai sebuah panggilan membuatnya menatap layar handphone miliknya.


"Baiklah siapkan tiket! aku akan sampai di bandara Satu jam lagi!" pungkasnya sembari mematikan sambungan telepon tersebut.


"Oma..., aku akan melakukan perjalanan bisnis, jaga diri Oma, dan nanti setelah sampai di Hongkong akan aku hubungi," pamit Sean, ia mencium punggung tangan Raimar.


Ketika Sean semakin jauh melangkahkan kakinya, di saat itu juga ia berpapasan dengan dua orang remaja, tanpa melihat pria itu terus berjalan lurus.


"Shasyaaa....," seru Raimar saat ia melihat Shasyania semakin mendekat.


"Oma bagaimana keadaan Gemmi? dia baik-baik saja kan?"


"Dia pasti baik-baik saja, anak itu sangat kuat bahkan katanya ia sempat sadar dan langsung menyebut-nyebut namamu," sahut Raimar sambil mengendorkan pelukannya, "kamu baik-baik saja kan gadis kecilku? apa ada yang terluka?" imbuhnya seraya mengecek seluruh tubuh Shasyania.


"Aku baik-baik saja Oma, hanya saja kakiku sedikit sakit."


"Kita harus memeriksanya sekarang!"


"Tidak Oma ini hanya sedikit sakit," Shasyania berusaha meyakinkan Raimar agar wanita itu tidak terlalu khawatir akan kondisinya.


"Benarkan? jangan membohongi Oma!"


"Shasya tidak bohong Oma."


Lima belas menit berada di ruang tunggu, Shasyania menceritakan keseluruhan peristiwa tersebut kepada Raimar. Ekspresi kesal menyelimuti wajah wanita tua itu, ia bersumpah akan memberikan hukuman yang sangat berat bagi para pelaku.


"Sebaiknya kita pulang karena jam sudah menunjukkan pukul Dua pagi! kita perlu istirahat! dan ingat besok sekolah!" sela Nevan, ia merasa seperti orang yang tidak di anggap saat Raimar dan Shasyania asik mengobrol.


"Ohh iya kenapa Oma bisa lupa!" sentak Raimar menepuk jidat, "cuaca di luar sedang hujan sebaiknya kalian tidur di sini saja! Oma akan siapkan kamar yang nyaman untuk kalian berdua dan tenang saja semua perlengkapan kalian besok akan langsung di siapkan!"


"Tidak perlu lebih baik kita pulang saja! karena senyaman apapun suatu tempat akan tetap kalah dari kamar sendiri!" pungkas Nevan, "Ayo!"


Shasyania menggerutui kebodohannya, bagaimana ia bisa lupa dengan sosok Geonevan yang juga berada di sana.


"Oma Shasyania pamit dulu ya, sepulang sekolah Shasya akan langsung kesini!"


Nevan sepertinya sangat lelah karena ia langsung berjalan meninggalkan mereka berdua. Dengan langkah yang sedikit tertatih-tatih Shasyania mencoba mengejar laki-laki itu dan saat mereka di lobby Rumah Sakit Nevan tiba-tiba berhenti.


"Duduk!" pintanya sambil menunjuk sebuah bangku.


"Kamu mau apa?" tanya Shasyania ketika melihat Nevan berjongkok melihat kakinya.


"Mana yang sakit? ini?"


Shasyania sedikit meringis saat tangan Nevan memegang pusat sakit yang berasal dari pergelangan kakinya.


"Tunggu sebentar di sini!" pintanya yang langsung di balas anggukan kepala.


Tidak butuh waktu lama untuk Nevan kembali, laki-laki itu sudah terlihat membawa bungkusan plastik yang berisi minuman dan beberapa cemilan.


"Minum dulu gue yakin tenggorokan lo pasti seret karena ngomong mulu!" selesai mengatakan itu dan memberi Shasyania minuman yang sudah terbuka, Nevan terlihat kembali berjongkok dan mengoleskan sebuah salep dengan begitu berhati-hati.


Entah karena kehausan atau bagaimana hingga Shasyania langsung menerima air tersebut, lalu meneguk isinya sampai habis tak tersisa.


"Terimakasih," ucapnya yang sedikit terlambat.


...****************...


Hujan badai tengah melanda seluruh wilayah di Kota J, namun Nevan berhasil menghantar Shasyania dengan keadaan selamat sampai gang rumahnya.


"Sekali lagi terimakasih Geonevan," ujar Shasyania sembari sedikit membungkukkan badan.


"Tunggu!" kata laki-laki itu ketika Shasyania berniat membuka pintu mobil, "gue antar lo sampai depan rumah karena lo butuh payung!"


"Tidak usa__,"


"Udah gak usah membantah! kalau lo nolak nanti gue kena semprot sama Kakek!"


Sebuah payung berwarna hitam menyambut Shasyania keluar dari mobil dan Nevan layaknya seorang pengawal berdiri tegak di ambang pintu.


"Sekali lagi teri__,"


"Terimakasihnya cukup sekali aja gak usah di ulang-ulang!"


"Baiklah sekarang kamu bisa pulang," ucap Shasyania, bukannya ia tidak sopan tapi tidak mungkin juga menyuruh Nevan untuk bertamu di kondisi seperti ini.


"Belum! gue mau ketemu sama Ibu lo, gue mau jelasin kenapa kita pulang selarut ini."


"Ibuku tidak ada di rumah Nevan, dia tidur di toko."


"Toko?"


"Ia baru-baru ini Ibu membuka toko roti di pusat Kota dan kebetulan ada pesanan yang harus ia selesaikan besok, ja__,"


"Terus di rumah lo ada siapa aja?"


"Cuma aku aja."


Tanpa permisi Nevan langsung menerobos masuk dan ia sudah terlihat duduk di kursi tamu.


Ekspresi bingung jelas terpancar di wajah Shasyania, hingga Nevan kembali bersuara, "Lo liat sendiri kan di luar sana lagi hujan badai? jadi demi keselamatan maka malam ini gue tidur di sini!"


"Di sini?"


"Iya di sini gue gak akan minta kamar lo! dan sebaiknya lo langsung beristirahat karena gue juga udah ngantuk!"


Shasyania begitu patuh mengikuti semua perkataan Nevan, hingga jam dinding di ruang tamu itu menunjukkan pukul Tiga dini hari, namun terlihat Nevan masih sangat kesulitan untuk terlelap di tambah lagi suara nyamuk yang semakin membuatnya frustasi.


Dengan keadaan setengah sadar laki-laki itu mencoba membuka kamar yang ia yakini sebagai kamar Ibunya Shasyania namun sayang kondisi kamar tersebut dalam keadaan terkunci hingga ia beralih membuka kamar Shasyania dan untungnya kamar itu bisa ia buka dengan sangat mudah.


Nevan berjalan mendekati tempat tidur berukuran 120×200cm yang di peruntukan khusus untuk satu orang pengguna. Dan pengguna yang sedang terlelap itu adalah Shasyania.


.......