
"Enak?"
"Iya, ini sangat enak, aku suka!"
"Mau nambah lagi yank?"
Sejujurnya Shasyania masih ingin menikmati makanan itu di dalam mulutnya, namun sayang, perutnya seakan penuh, hingga tak bisa menampung lebih banyak lagi.
Nevan yang menyadari gejolak dalam diri Shasyania mulai menyarankan sesuatu, "Mhhh bagaimana kalau kita pesan cemilannya, nanti bisa kamu makan di dalam mobil, karena perjalanan selanjutnya akan memakan waktu yang cukup lama, jadi mempersiapkan beberapa makanan ringan pastinya akan sangat membantu."
"Memangnya kita mau ke mana?"
Nevan tersenyum penuh arti, "Ke suatu tempat yang indah, dan aku yakin kamu akan terkesima!"
Berjarak beberapa meter dari meja mereka, seseorang dengan tampilan formal tengah mengamati aktivitas duo sejoli itu. Rasa penasaran semakin menjadi-jadi, tatkala melihat seorang Nevan yang ia kenal begitu perhatian dengan sosok wanita yang kini berada di hadapannya.
Langkahnya mendekat, menepuk bahu ketika orang yang ia tuju berada dalam jangkauannya, "Nevan....," ucapnya ramah, namun bukannya menatap orang yang ia panggil, ia justru menelisik kearah Shasyania.
"Uncle Jame!"
"Yeah...! Uncle kira salah orang, ternyata beneran kamu ya," ujarnya, dengan alis sedikit terangkat ke atas.
"Ohh..., kenalkan Uncle, dia adalah Shasyania," ucap Nevan, sembari menunjuk gadis yang mulai tersenyum ramah, memperlihatkan kecantikannya yang mampu membuat pria paruh baya tersebut terpukau.
"Wahhh..., benar-benar menakjubkan! dan perkenalkan juga, saya James Bill Cavan," sahutnya dengan tangan menjulur ke depan.
"Dinesclara Shasyania," jawab Shasyania, sembari menjabat uluran tangan tersebut.
"Pacar Nevan?"
"Bukan Uncle," Nevan langsung menyambar pertanyaan yang sebenarnya ditunjukkan pada Shasyania.
"Haha..., sudah Uncle duga, kamu bukan tipe orang yang akan menjalin hubungan seperti itu. Sangat berbeda dengan Guilio, anak itu setiap hari membawa wanita berbeda-beda ke rumah, Uncle sampai was-was takut dia menikah muda," tuturnya, yang dengan gamblang menceritakan kisah cinta sang anak, "ohh ya, ngomong-ngomong kamu sudah ketemu Guilio? dia balik ke Negara ini beberapa minggu lalu."
"Sudah Uncle, dan iya, tentang hubunganku dengan Shasyania, dia memang bukan pacarku, tetapi dia tunanganku Uncle."
"Apa? tunangan? kapan?" matanya melebar penuh terkejut, "kenapa Uncle tidak menerima undangan, dan Daddy mu juga tidak pernah cerita tentang hal ini. Bahkan Uncle yakin keluarga besar pun tidak ada yang mengetahui inikan?"
"Iya Uncle benar, hubungan kami hanya diketahui keluarga inti, dan untuk pesta, nanti setelah tanggal ditentukan semua pasti menerima undangan."
Seperti kehabisan kata-kata, James hanya mampu mengangguk-anggukan kepala.
"Aku yakin Guilio juga belum mengetahui ini, dan setelah ini aku akan menyuruhnya untuk menanyakan langsung pada Nevan. Shasyania, dia pasti dari keluarga yang sangat terpandang, hingga keluarga Eldione memutuskan hubungan yang tentunya dijalin untuk mengokohkan posisi mereka di tangga bisnis, ini harus dikulik habis!" sambil terdiam James terus membatin.
"Selamat-selamat, dan kalian lanjutkan makannya, Uncle pamit dulu mau ketemu client," tangannya menepuk-nepuk bahu Nevan, sembari tersenyum pada Shasyania.
James sangat mengenal ponakannya itu, dia tidak suka diganggu, dan pastinya paling anti jika orang-orang ingin tahu tentang kisah hidupnya. Bahkan Nevan seringkali memperlihatkan sifatnya yang dingin, hingga tak segan-segan berlalu begitu saja ketika acara kumpul keluarga. Maka dari itu dengan pikiran yang masih jernih ia memilih untuk berpamitan, sebelum nantinya di usir secara paksa.
"Geonevan...."
"Yaa?"
"Anak Kakek ada berapa? mhhh..., maksudku Kakek mempunyai anak berapa?"
"Satu, dan itu hanyalah Daddy ku," jawabnya santai, "kenapa? kamu kira yang tadi salah satu dari anaknya? Bukan. itu Uncle Jame, dia anak dari saudaranya Kakek."
"Ohh begitu...."
"Kita jalan sekarang?"
"Tentu...," ujar Shasyania, sembari memegang tangan Nevan yang sudah terlentang untuknya.
"Sekarang baru pukul Enam lebih lima belas menit..., mhhh aku rasa setengah jam lagi kita akan sampai," jelasnya, seraya mencondongkan badannya kearah Shasyania.
"Aku sudah memasang sabuk pengaman Geonevan."
"Iyaa, aku lihat sayang, tapi ada sesuatu yang perlu aku pastikan agar kamu semakin nyaman menikmati perjalanan."
Jarinya menekan sebuah tombol, yang langsung saja membuat kursi yang diduduki Shasyania sedikit bergeser kebelakang, lalu membuat senderannya menurun.
"Bagaimana, nyaman bukan?"
"Tentu, tapi aku tidak ingin tidur."
"Perjalanannya akan sedikit melelahkan sayang, dan aku tahu kamu perlu tidur, buktinya dari tadi kamu beberapakali menguap yank."
Yaa, Nevan benar Shasyania memang sedikit mengantuk, namun rasa ingin menahan karena perasaanya yang mulai menghangat membuatnya ingin terjaga. Tetapi laki-laki itu semakin membuatnya nyaman, apalagi dengan fitur yang tersedia di dalam mobilnya, yang membuat Shasyania ingin menutup mata.
"Istirahatlah sayang," bisiknya dengan suara serak.
"Terus..., kamu menyetir memangnya tidak akan lelah juga?"
"Sepertinya ada yang sedang mengkhawatirkan ku, kalau begitu kamu yang nyetir yank."
Mata Shasyania membulat sempurna, "Aku? aku hanya bisa duduk, dan tidak untuk menyetir."
"Terdengar menantang! Baiklah sekarang kamu yang nyetir!" ucapnya dengan tatapan jenaka.
"Ck!" untuk pertama kali Shasyania berdecak kesal pada laki-laki itu.
"Ihhh gemesss!" tangannya mencubit gemas pipi Shasyania, lalu beralih menatap bibir yang sudah sempat ia cicipi tadi.
"Mmm," Nevan mengeluarkan tatapan memelas.
Perlahan namun pasti, jari-jemari Shasyania mulai mengendur, lalu ia mengalungkan tangannya di leher Nevan.
Mendapat lampu hijau, Nevan mulai tersenyum sumringah, dan sebelum ia menjalankan aksinya, terlebih dulu ia mengucapkan kata, "Makasi sayangku."
Kedua bibir itu kembali bertemu, dengan rasa yang tetap sama, yaitu menggebu-gebu, dan entah kenapa Shasyania seperti sulit untuk menolak pesona Nevan, hingga hanya dengan mendapat senyuman dari sosok itu, rasanya ia sudah sangat bahagia.
Manik matanya mengintip, dari balik kelopak mata yang sempat tertutup rapat. Ia bisa melihat dari celah-celah bulu matanya yang lentik, jika kini Nevan begitu dekat, aroma mulut yang begitu memabukkan bercampur dengan aroma parfum khas, yang hanya dimiliki oleh seorang Geonevan sudah sangat cukup untuk membuat seorang Shasyania merasa seakan melayang.
Dalam kehangatan yang diciptakan oleh bibir Nevan, terselip juga rasa cemas yang perlahan-lahan mulai muncul dipermukaan hati Shasyania, ia takut ini hanya sesaat, ia khawatir jika nantinya rasa ini semakin membuatnya terbiasa, hingga berakhir luka yang tak mampu ia sembuhkan sendiri.
Shasyania masih ragu, apalagi perubahan Nevan tergolong cepat, gadis itu perlu alasan kuat, meski semua terkesan terlambat dilihat dari progres hubungan mereka sekarang, yang sudah terlanjur membuatnya semakin terjatuh dalam.
Sampai sebuah kilas balik mengenai ucapan-ucapan Nevan kembali berputar di dalam ingatannya.
"Karena gue udah mulai menerima perjodohan ini."
"Karena menolak pun kita tidak bisa kan?"
"Shasya, lo pernah mengatakan jika kita masih belum memiliki celah untuk menolak perjodohan inikan? Kenapa kita tidak coba untuk menerimanya? maksud gue dengan saling mengenal satu sama lain, dan jika setelah itu lo masih ragu, maka gue akan bantu jelasin ke Kakek."
"Bagaimana, lo setuju? atau jika ini masih terasa berat, maka gue minta satu bulan. Kasih gue waktu satu bulan untuk menyakinkan perasaan kita masing-masing."
"Ini hal baru buat gue. Gue gak tau cara yang benar untuk mengungkapkan semua yang ada di dalam otak ini, tapi yang jelas gue bersungguh-sungguh Shasya. Gue ingin mencobanya, gue ingin berusaha, dan itu bisa terjadi jika lo memberi kesempatan. Hubungan ini memang diawali dengan paksaan, dan penolakan-penolakan kita juga tidak akan di terima karena belum adanya alasan yang kuat, maka dari itu, izinkan kita untuk lebih mengenal, dan jikapun nantinya tidak berhasil, setidaknya kita pernah mencoba."
Alasan ingin mencoba dari Nevan begitu mudahnya disetujui oleh Shasyania, tanpa tahu di perjalanan itu mungkin saja ia sudah mulai terbiasa, lalu menemukan kenyamanannya tersendiri, hingga diujung kesepakatan, ternyata ia tak memiliki jalan keluar, seandainya semua berakhir tanpa kepastian.
Kelopak matanya terasa panas, ia mencoba sedikit mengambil nafas, sebelum Nevan kembali mendekat. Matanya pun berkaca-kaca, rasa takut kehilangan mulai menyeruak menyelimuti dada, sesak dan perih menjadi satu.
Tangan Nevan yang tadinya berada di tengkuk leher Shasyania mulai pidah kebagian wajah, dan saat mendapati area yang ia sentuh terasa basah, Nevan segera menghentikan aktivitasnya lalu menatap gadis itu.
"Sayang kenapa? aaaapa aku menyakitimu?" ekspresi khawatir jelas tergambar dari wajah Nevan, laki-laki itu bahkan memeriksa bibir Shasyania, takut jika ada luka yang telah ia torehkan, namun ternyata tidak ada sedikitpun goresan di sana. Dan mendapat perhatian tersebut membuat Shasyania semakin terisak.
"Sayang katakan kamu kenapa? Maaf..., maaf jika aku menyakitimu, aku benar-benar minta maaf...."
Nevan memeluk Shasyania erat, sampai beberapa menit kemudian gadis itu perlahan membalasnya.
"Sayang kenapa, apa aku menyakitimu?" tanyanya kembali.
Pertama hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban, sebelum akhirnya sebuah suara mulai terdengar "Aku hanya takut."
"Takut?"
"Takut jika semua ini hanya permainan."
"Permainan?" Nevan mendelik tak terima, dengan ungkapan Shasyania, "kamu pikir aku main-main? Tidak!" imbuhnya bersama suara tak lagi tenang, bahkan terdengar sedikit meninggi menahan luapan emosi.
Nevan kembali ke tempat duduknya, bahkan terlihat rahangnya mulai mengeras dengan tangan mengepal mencengkram setir kemudi.
"Maaf..., aku hanya takut, aku benar-benar takut Geonevan," setelah ini Shasyania tidak tahu apa yang akan terjadi, karena sekarang Nevan tengah diselimuti amarah, terlihat jelas dari ekspresinya, dan beberapakali Shasyania melirik ia mendapati Nevan sedang mengerutkan alis.
Drrrrrtt
.
.
.
Drrrrrtt!
Deringan telepon memecah keheningan di antara mereka, dan saat kedua pasang mata itu melirik, nama Freya yang tertera di layar pipih tersebut.
Bukannya langsung menjawab Nevan malah bergerak memundurkan jok kemudi, lalu mengangkat tubuh Shasyania agar duduk di pangkuannya, dan setelah mendapat apa yang ia inginkan, barulah tangan itu meraih smartphone miliknya.
"Hallo, Nevan, di mana? kenapa gak ikut makan malam? padahal Mommy dan Daddy lo di sini!" omelan demi omelan membengkakkan telinga, yang berasal dari seseorang di seberang sana.
Nevan memberikan handphonenya pada Shasyania, namun gadis itu justru menolak dengan gelengan kepala, dan dengan wajah malas ia menjawab lontaran kata tersebut.
"BERISIK! Gak penting!" sarkasnya dingin, lalu segera mematikan sambungan tersebut secara sepihak.
Tangan Nevan beralih menjulur memegang wajah Shasyania, ia bergerak halus menghapus sisa-sisa air mata di sana, hingga terdengar hembusan nafasnya yang berat.
"Sayang..., aku akan sangat marah jika seseorang membuatmu menangis, tapi jika semua itu terjadi karena aku, maka aku akan sangat kecewa dengan diriku sendiri!" dengan kening beradu Nevan berucap serius.
.
.
.
.
.
*tinggalkan jejak jika berkenan, terimakasih 😊*