Mine ?

Mine ?
31 : Catch



Malam hari di kediaman keluarga Sinanta banyak tamu berdatangan menggunakan setelan bagus dan mobil mewah. Semua datang memenuhi undangan dari anak bungsu di keluarga tersebut yakni Dariel Sinanta Marvis.


Kesan glamor begitu terlihat, para tamu undangan seolah dibuat nyaman dan betah karena terdapat berbagai macam spot foto untuk mengabadikan momen bahkan hidangan yang di suguhkan di sana juga sangat memanjakan perut mereka.


Tidak hanya anak muda para penjabat juga ikut meramaikan suasana mereka menghadiri pesta sambil membawakan bingkisan kado yang terlihat saling beradu besar, dan semua tidak lepas dari pengaruh Papanya Dariel yang juga merupakan seorang Walikota.


Di sisi lain sang empunya acara justru sibuk merapikan penampilannya, ia ingin terlihat seperti pangeran dari negeri dongeng yang mampu memikat siapa saja yang melihat pesonanya. Jas biru dongker serta dasi kupu-kupu melekat di tubuh Dariel, senyum sumringah terus terpancar saat ia melihat dirinya dari pantulan kaca besar.


"Anak Mama sudah ganteng kok, kamu istimewa sayang," ujar Elina seraya mengelus pundak anaknya, "sana gih sambut tamu kamu Nevan sama Yeron juga sudah hadir tuh," imbuhnya.


"Jelas ganteng lah Ma, anak siapa dulu," sahut Dariel dengan gaya menggodanya, "yasudah Riel ke bawah dulu ya," lanjutnya berpamitan.


Langkah kaki Dariel semakin tegas saat ia mendekati kedua sahabatnya.


Dan di sana seorang Geonevan terlihat begitu sempurna dengan setelan tuxedo berwarna hijau gelap serta tambahan aksesoris dasi kupu-kupu dan rompi yang berwarna senada. Rajutan setelan itu berbahan dasar kain velvet dimana kain itu terlihat begitu berkilau juga sangat lembut hingga membuat penampilan Geonevan seolah dialah yang menjadi putra mahkota acara tersebut.


Penampilan yang sempurna itu tidak lepas dari hasil rancangan desainer busana terkemuka di Negara tersebut yang juga memiliki merek NJL sebagai produk nomer satu, siapa lagi kalau bukan hasil karya dari seorang Zivana Fidelja Eldione.


Namun kilauan Nevan tidak serta-merta mematikan pesona Eron, laki-laki itu juga terlihat mempesona dengan setelan jas berwarna abu-abu serta sepatu oxford.


"Gak bisa ya sekali aja kalian nyenengin hati gue?" Nada ketus terdengar, terlihat Dariel sudah bergabung di sana.


"Gak jelas banget lo!" sahut Eron sembari asik menikmati beberapa hidangan ringan.


"Gue tahu lo pasti kesel karena kita gak make setelan berwarna biru dongker kan?" tebak Nevan.


Diamnya Dariel menegaskan jika tebakan Nevan itu benar, bahkan laki-laki itu sampai membalikkan badan.


"Sialan cuma karena itu?" ulang Eron memastikan kembali, "asli jijik gue lihat reaksi berlebihan lo!"


"Ngapain juga kita make setelan gitu mau terlibat kembar tiga lo?" Ungkapan Nevan menusuk ditelinga Dariel hingga membuatnya semakin kesal.


"Percuma jelasin kalian juga gak bakal paham!"


"Udahlah Riel kalau lo badmood nanti make a wish lo mubazir!" peringat Eron seraya menepuk bahu sahabatnya, pandangannya mengedar ke pintu masuk seketika senyum di ujung bibirnya terlihat, ia tahu cara yang bisa mengembalikan mood seorang Dariel, "coba lo liat tuh CANTIK BANGET GILA!" ucapannya sengaja di tekan lalu menunjuk menggunakan dagu.


Nevan pun ikut melirik kearah yang di tunjuk Eron dan di sana terlihat laki-laki dan seorang gadis tengah memasuki ruangan, perhatian yang sedari tadi tertuju padanya kini perlahan namun pasti mulai teralihkan kepada kedua orang tersebut.


Gemmi dan Shasyania datang bersamaan layaknya sepasang kekasih, langkah kaki beriringan menyusuri lantai marmer dengan tangan kanan Shasyania terkait di lengan Gemmi.


Berbalut dress brokat berwarna cream membuat lekuk tubuh Shasyania terpampang jelas, kulitnya putih semulus porselen memanjakan setiap mata yang memandangnya takjub dan Gemmi, meskipun penampilannya tidak begitu formal namun dengan setelan blazer berwarna coklat berlist hitam serta memakai dalaman kaos putih dan bawahan celana chino sepatu coklat sudah mampu membuatnya menyita perhatian orang-orang. Para wanita menggilai bentuk tubuh seorang Gemmi.


"Mau gak ya Shasya gue ajak foto?" lirih Baru.


Dino yang berada di sampingnya langsung berdecak pinggang, "Lo gak liat apa gimana? pengawalnya Gemmi tuh! Mau lo kena bogem mentah?" pungkasnya, ingin sekali Dino menyadari Baru dari angannya yang terlalu tinggi terhadap Shasyania, Dino menganggap itu hal yang mustahil bagaikan pungguk merindukan bulan.


Pesona Shasyania memang begitu menyita perhatian sampai gelas berkaki panjang yang sedari tadi Dariel pegang kini ia taruh di meja bundar, pandangannya menatap lurus seakan ada sesuatu yang merasuki tubuhnya hingga ia tak mendengar perkataan peringatan dari Eron. Tidak ada lagi rasa takut karena Nevan, Dariel terus mengayunkan kakinya semakin mendekat kearah Shasyania.


Kaki panjangnya berlutut dengan tangan menjulur ke depan, "Lo mau dansa sama gue Shasya?" tanyanya lembut penuh pengharapan.


Shasyania tidak langsung menjawab ekspresi bingung menghiasi wajah cantik itu.


"Gue mohon Shaa..., ini acara ulang tahun gue," lirih Dariel sembari menatap teduh wajah Shasyania. Sungguh ia akan berusaha mati-matian untuk membuat Shasyania mau berdansa di hari spesialnya ini.


Gayung telah bersambut sekali wanita itu mengangguk membuat Dariel bersorak bahagia, iringan kakinya mengajak Shasyania menuju lantai dansa.


Plak...Plak!


Tepukan tangan pertama dari Dariel menghantarkan iringan musik yang begitu romantis dan tepukan kedua darinya meredupkan pencahayaan lampu di ruangan itu dan sedetik kemudian sebuah lampu sorot menyala memperlihatkan mereka berdua.


Shasyania berkata, "Aku gak bisa dansa."


Jiana dan Rissa begitu tidak suka melihat interaksi tersebut, sorot mata tajam memperlihatkan betapa rasa iri dengki meletup-letup di hati mereka berdua.


"Ganjen banget tuh orang! sana sini mau!" geram jiana ia bahkan melempar tisu yang sudah ia remas-remas.


"Riss antar gue ke toilet yuk?" ajak Megan. Dari awal pesta Megan hanya makan dan minum, ia begitu kalap mencoba semua hidangan yang di suguhkan di sana hingga membuatnya bolak-balik mencari kamar mandi.


"Besok-besok kalau lo ikut ke acara kayak gini lagi gue saranin pakek pampers!" sentak Rissa memijit kening.


"Gue cuma minta tolong!"


"Gue tahu tapi lo sadar gak sih ini udah kelima kalinya? Ganggu banget tahu gak!"


"Lo mau nganterin apa enggak? jangan bikin gue emosi nahan kencing!"


"Yang bikin emosi itu lo!"


Jiana mulai geram mendengar perselisihan dua orang tersebut, "Kalian ini apa-apaan sih! masalah kencing aja diributin! Dan untuk lo Me kalau mau kencing ya jalan aja sendiri gak usah ngajak-ngajak segala."


"Lo cewek apa bukan?"


Jiana mengernyitkan bingung dengan pertanyaan Megan, "Cewek lah!" pungkasnya tajam.


"Setau gue kalo cewek normal ke toilet umum pasti ngajak-ngajak temen!"


"Maksud lo apaan?" itu normal cuma buat lo aja!" sungut Jiana, sekarang malah Rissa yang terlihat heran kenapa kedua orang ini ribut hanya karena masalah sepele.


"Heii...hei sudah-sudah malu di liatin orang tuh!" pungkas Rissa.


"Terus lo jadi gak nganterin gue? udah gak tahan nih!"


"Yasudah lo jalan duluan."


"Jalannya barengan aja!"


Ditinggal kedua orang itu membuat Jiana sendirian, lagi dan lagi ia merasa resah ketika berada di kerumunan orang banyak dan dia hanya seorang diri. Pandangannya terus menyusuri setiap area yang mampu ia jangkau sampai akhirnya dua bola mata itu berhenti ketika menangkap sosok Nevan yang berdiri tidak jauh dari sisinya.


"Van dansa yuk? masak cuma diem aja," intonasi bicaranya sengaja ia ubah agar Nevan terjerat dalam pesonanya.


"Pergi!" nada begitu ketus keluar dari mulut Nevan bahkan laki-laki itu meminta bantuan Eron untuk mengusir Jiana menjauh.


Eron yang juga terlihat malas hanya mengusir Jiana menggunakan isyarat tangan. Tampaknya ia juga malas mengeluarkan sepatah kata.


"Sombong banget!" batin Jiana kesal, hingga senyum di ujung bibirnya kembali merekah saat membidik mangsa baru.


"Gem dansa yuk? pleaseee...."


Gemmi melirik Jiana, ia tampak berpikir siapa gadis yang tengah berada di hadapannya ini, ingatan laki-laki itu sungguh buruk.


Lama terdiam sampai Jiana kembali mengulang ajakannya dan membuat Gemmi mengangguk setuju.


"COBA DANSA BERGANTI-GANTI PASANGAN DONG PASTI LEBIH SERU!" teriak salah satu tamu undangan.


"IYA KITA SWING DANCE AJA!" seru yang lainnya.


Mendengar itu membuat Dariel sangat kecewa ia sebenarnya enggan untuk melepas Shasyania namun ia juga sadar tidak boleh egois.


Gerakan itu di mulai hingga Shasyania berputar menjauh lalu sebuah tangan menangkap pinggang rampingnya begitu erat.