Mine ?

Mine ?
26 : NJL



Suasana pencahayaan di sebuah Studio terlihat begitu terang dengan beberapa lampu yang terpasang di setiap area. Mayoritas orang yang berada di dalam ruangan itu adalah perempuan, hanya terdapat Dua sampai Empat pria yang ikut bergabung.


Mereka semua terlihat begitu sibuk menyiapkan segala keperluan mulai dari kostum, alat make up membenahi dekorasi, sibuk mengecek ulang lighting, mengecek seluruh kamera bahkan ada beberapa di antara mereka terlihat berlari-lari kecil sampai memasang wajah bingung.


"Segala sesuatu sudah SIAP? AYO...AYO SEMANGAT kita mulai!" Seru seseorang sambil memegang sebuah kamera.


"Cekrek...Cekrek...Cekrek" tangannya bergerak aktif menekan sebuah tombol yang berada di depan matanya.


"Usahakan tangan kamu jangan terlalu menempel di paha! angkat sedikit! yaaa BAGUS! tahan..., SEMPURNA!"


"Lu yakin sebelumnya dia gak pernah pemotretan kayak gini?" tanya Mirna.


"Iyaa..., ini pertama kali dia ngambil job kayak gini!" tegas Marline.


Mirna kembali menatap Shasyania dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, "Tapi kok gue rasa dia udah terbiasa dengan situasi kayak gini ya? lu liat aja sendiri body language nya! sama sekali tidak mencerminkan anak amatiran atau anak baru pertama kali nyoba!" selidiknya, "sayang aja dia gak mau ngelihatin muka! Padahal nih ya kalau dia mau dan mau mencoba, gue yakin Seratus persen dia bakal jadi model utama produk ini!"


"Lu tenang aja Mir perlahan-lahan dia bakalan mau kok! gue jamin!"


"Iyee tapi jangan sampek lu maksa! Bisa kena pasal berlapis lu! Dia kan masih anak di bawah umur!" kelakar Mirna.


"Lu kira gue mau ngapain tuh anak? Gue cuma mau memotivasi dia!"


"Ahhh di motivasi sama orang kayak lo? sindir Mirna dengan tatapan mengejek, "bisa-bisa dia salah jalan!" imbuhnya seraya tertawa.


"Ketawa ya ketawa aja kali gak usah mukul-mukul segala! sakit nih!"


"Kayak lu gak aja!"


"Heii coba liat! itu kenapa kabelnya bisa berantakan kayak gitu? kelihatan di kamera tahu! cepat rapikan!" sentak sang fotografer kepada karyawannya, "dan untuk kamu, silahkan ganti pakaian, karena kita akan segera memulai sesi kedua!" lanjutnya memberi arahan pada Shasyania.


"Si Marline mana nih? Marline!"


"Iya yaa Dofa gue dateng! kenapa?"


"Tuh model lo yang punya kan?"


"Iyaa dong! gimana kece kan?"


"Kenapa dia gak mau kelihatan mukanya? Apa karena lo yang minta?"


"Dia anak baru masih malu-malu kucing."


"Kalau lo bisa bujuk dia, gue akan kasih lo projek besar!"


Mata Marline langsung berbinar-binar. Baru sehari Shasyania bekerja sama dengannya dan gadis itu sudah mampu mendekatkan Marline menuju jalan kesuksesan.


"Lu tenang aja Dofa! pokoknya sekarang tugas lu cuma ambil foto dia sebagus mungkin!"


Dofa hanya tersenyum dengan kepala mengangguk-angguk setuju, hingga ia melirik jam di tangannya, "Sudah-sudah kita mulai sesi kedua! Buka semua tirai dan kerai! Matikan semua lampu!"


Flash kamera kembali terlihat dengan Shasyania sebagai objek foto.


"Ria! sekarang tambah hiasan tanaman di sudut sana! CEPAT-CEPAT!" arah seorang Dofa Milles seorang fotografer handal.


...----------------...


"Nih Shaiii buat lu!"


"Ini apa Kak?"


"Buka aja langsung Shaii!"


Shasyania membuka goodie bag berwarna hitam dengan logo bertulisan NJL tersebut.


"Wah Kak ini kan jaket yang baru di launching tadi!" seru Shasyania ketika ia mengeluarkan sebuah jaket berwarna putih dengan garis hitam.


"Untuk lu Shaii!" jelas Marline, "kenapa? lu terharu? biasa aja kali Shaii! Malahan jika lo yang jadi model utama produk NJL lebih dari ini bakal lu dapet! Pokoknya gini ya! lu mesti pikir-pikir lagi! kesempatan emas nih!" bujuk Marline.


"Tapi ini gak mempengaruhi bayaran aku kan Kak?"


"Itu barang gratis buat lu Shaii! dan ingat jangan sampek lu melewatkan kesempatan emas!" tekan Marline sekali lagi, sebelum ia melangkahkan kakinya menjauh.


Shasyania masih memegang jaket itu. Produk NJL merupakan barang yang begitu trendi di Negara tersebut. Banyak anak muda yang menggilai segala bentuk keluaran yang bermerek NJL. Dan kini Shasyania justru mendapatkannya secara percuma dan itu juga merupakan keluaran terbaru.


"Ehhh itu si anak baru itu bukan?" seru Indri.


Wanita yang di berikan informasi langsung menoleh, hingga memperlihatkan seringainya, "Mangsa gue masuk kandang!"


Hanya dengan menjentikkan jari tangan beberapa anggota Geng Barbar langsung berlarian mendekati Shasyania.


"Mau nyerahin nyawa lo?" teriak Amanda.


"Apaan sih gak jelas banget!" dengan begitu santainya Shasyania berusaha melewati gerombolan itu sambil mengibaskan tangannya untuk mengusir gumpalan asap rokok.


"Cepat seret dia bawa masuk!" suara lantang itu berasal dari Aleta. Mata Shasyania menatap sosoknya, Aleta yang menyadari itu langsung melambaikan tangan lalu memperlihatkan senyum di ujung bibir.


"Brakk!" tubuh Shasyania di dorong ke belakang dengan sangat kasar.


"PUAS LO udah bikin Geng gue di skorsing?" bentaknya keras sambil memukul tembok.


"Al tangan lu sakit gak? merah tuh!" celetuk Indri.


Aleta berdecak kesal, ia mengisyaratkan agar anggotanya itu diam.


Matanya kembali menatap Shasyania, "Pengecut lo! beraninya main lapor BRE*GSEK! umpat Aleta penuh emosi.


"Baiknya kita apain nih anak?" ucap Amanda, seraya membelai wajah gadis yang tengah ia tatap.


Shasyania menepis kasar tangan Amanda, "MENJIJIKKAN! kalian sendiri yang pengecut tapi malah menyalahkan orang lain!"


"Berani banget lo!"


"Harus! kalian pikir saya akan diam? saya tidak akan melakukan sesuatu yang kalian suka! kalian bisa bertindak sesuka hati dengan Geng yang kalian miliki dan saya juga bisa bertidak sesuka hati dengan isi OTAK YANG SAYA MILIKI! Bentak Shasyania tidak mau kalah.


"Plaaak!" tamparan itu mengenai wajah Shasyania hingga membuatnya sedikit terhuyung ke belakang.


"Jaga ucapan lo ya! MULUT SAMPAH!" hina Aleta. tangannya langsung mencengkram kuat kerah baju Shasyania.


"LEPASIN!" teriak Shasyania, dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Aleta lalu ia mengeluarkan telpon genggam miliknya dari sebuah tas.


"Berani kalian maju maka sekarang juga rekaman ini akan saya kirim ke kantor polisi!" ancamnya.


"Sialan lo!" cetus Indri.


"Jadi dari tadi dia merekam kita!"


"GOBLOK!" batin Shasyania.


Saat anggota Geng Barbar itu terdiam saling menatap, maka saat itulah Shasyania memanfaatkan situasi untuk melarikan diri. Ia berlari sekencang mungkin sambil mengambil beberapa perabotan yang berada di sana untuk di lempar kearah orang-orang yang tengah mengejarnya.


"Klentaaang!" Sebuah ember besi mendarat hingga membentur kepala Aleta.


"Aawww!" pekiknya menahan rasa sakit, "SIALAN! buruan tangkap dia!"


"Al...al pala lo!" seru Amanda.


"Udah jangan ngurusin gue! cepat lo tangkap gadis menyebabkan itu!"


"Gruubrakkk!" kali ini suara orang terjatuh karena terkena gelindingan drum.


"Ehh berhenti lo!"


"Emang saya bodoh mau berhenti! IQ itu di ASAH bukannya di biarin tetep JONGKOK!" sindir Shasyania.


"AMANDAAAA...!" teriak anggota lainnya, "Si Aleta pingsan nih cepat sini bantuin!"


Shasyania terus berlari sampai tiba di sebuah halte bus.


"Wah rajin sekali olahraganya neng?" pertanyaan itu berasal dari salah satu penumpang.


"Iya biar sehat Pak."


Sepanjang perjalanan Shasyania memegangi pipinya yang masih berdenyut sakit sampai ia mengecek kondisi pipinya dari kamera ponsel. Bekas merah itu terpampang jelas.


"Mesti berbohong apa lagi nih? Ibuk pasti cemas melihat ini," batinnya meradang.