
Di depan semua murid XI IPA 1, sosok Andri tengah bersiap untuk menyampaikan sebuah pengumuman, yang baru saja ia terima saat menjalani tugas sebagai ketua kelas. Dan di belakangnya sudah terlihat Ririn yang tengah sibuk menyalin soal di papan tulis.
"Hari ini Pak Damar gak ngajar, jadi kita di kasih tugas ini, dan di suruh ngumpulin sebelum jam istirahat!"
Ucapan itu mengundang senyum kemenangan, bahkan teriakan-teriakan gembira mulai berkumandang dari murid-murid yang terlihat malas untuk belajar.
Ririn yang sudah selesai dengan tugasnya mulai berlari kecil menuju meja Shasyania, "Shaaaaa...," lirihnya dengan kelapa naik turun layaknya aksesoris yang selalu berada di mobil.
Tidak hanya Ririn bahkan sekarang Nita pun mulai mendekat, "Shaa, duduk di sana yuk, kita kerja kelompok, di sini kan gak mungkin yaaa!" tekannya yang terkesan menyindir.
"Kenapa gak mungkin?" tanya Dariel, "udah tarik aja kursi kalian, terus duduk di sini kita buat bareng-bareng!"
Lama-kelamaan orang-orang yang bergabung malah semakin bertambah, dan itu menyebabkan deretan bangku sebelah utara menjadi semakin sesak dengan penghuni yang memiliki satu misi, yakni mendapat contekan gratis dari seorang Shasyania.
Siswa bernama Baru langsung mencondongkan tubuhnya, untuk melihat hasil karya Shasyania, "Itu kenapa bisa begitu ya? dari mana ke mana cobak bisa hasilnya segitu?" gumamnya, yang terus-menerus terlihat bingung dengan jejeran angka di lembaran kertas putih tersebut.
"Ribet banget lo banyak tanya! kayak ngerti aja kalau di jelasin. Udah salin, dan gak usah banyak bacot!" sindir Dino.
"Ini nih..., model-modelan orang yang hidupnya melempem ngikutin arus. Janggal dikit bukannya bertanya malah terus nerobos, kesasar pun gak jadi masalah asal masih di jalan!"
"Itu lo lagi muji apa gimana nih Rin? kurang paham gue!" ucap Dino.
"Emang tadi gue ngomong apa aja ya? lupa gue," sahutnya sembari cengengesan.
"Tapi kebanyakan yaa orang-orang yang gak terlalu aktif dalam pelajaran malah merekalah calon-calon orang sukses."
"Ngawur lo!" cela Eron.
Nita berdecak bibir, "Bener! tetangga gue banyak kayak gitu!"
"Yaa..., itu paling karena mereka banyak punya orang dalam. Gak heran gue mah!"
"Betul! dan palingan juga mengandalkan harta orang tua. Menjalani sesuatu yang udah berdiri, apa susahnya! Kalau gue sih mending sukses dengan kerja keras sendiri!" sahut Dino.
"Kalau gitu jangan pernah lo berandai, mengatakan jika atau seandainya lo yang berada di posisi dia, memiliki keluarga dan apapun kemudahannya, jika lo masih merasa semua itu tidak adil!" pungkas Nevan, "dan orang-orang bodoh menjadi sukses? mungkin itu cuma salah satu bentuk keberuntungan, dan selebihnya hanya menunggu waktu apa lo tetap bodoh dengan terus berharap keberuntungan itu selalu melekat, atau berusaha menjaganya dengan kemampuan yang mulai lo asah! Semua perlu pengalaman, dan pengalaman di dapat ketika otak mulai bekerja!"
"Glek!" ia menelan ludah.
Layaknya sengatan mentari yang begitu terik, begitulah yang di rasakan Dino saat Nevan mulai angkat bicara. Tidak berani bersuara dan memilih menjadi bisu dengan tangan kanan bergerak aktif.
Soal-soal itu selesai dalam kurun waktu lima belas menit, hampir selembar kertas double folio dipenuhi coretan jawaban Kimia, dan setelah itu mereka yang sudah selesai bergegas menuju bangku masing-masing.
Namun sang motor penggerak masih terlihat asik menyalin kembali, dan sesekali Shasyania menyelipkan helaian rambutnya yang terlihat menjuntai menghalangi jarak pandang.
Tangannya bergerak, namun ia juga bisa merasakan jika seseorang dari sebelah kanan tengah memperhatikan dirinya, hingga dengan sekali menengok ia menatap sang pelaku.
Mata Nevan beralih menelisik menatap ujung kertas, dan ia mendapati nama Gemmi yang tertulis di sana. Dan ya, Shasyania, Nita, dan juga Ririn sepakat untuk membatu tiga orang yang masih meringkuk lemas, agar tetap mengumpulkan tugas.
Mengetahui kepedulian Shasyania terhadap Gemmi, mampu menimbulkan rasa nyeri hingga panas yang mulai menjalar dalam tubuh Nevan namun semampunya ia tahan, dan Nevan justru menggerak-gerakkan telapak tangan dengan harapan Shasyania melihat hal tersebut.
Ia tahu maksud dari laki-laki itu, tapi karena urusannya belum selesai, hingga mengakibatkan Shasyania memberi isyarat agar Nevan menunggu.
"Ck!" Nevan berdecak kesal sembari membuang muka, hingga memilih mengambil smartphone miliknya dan kembali menyibukkan diri.
Drrrrrtttt!
Shasyania melirik isi pesan yang di kirim oleh laki-laki di sebelahnya.
Bukannya membalas pesan, Shasyania malah kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda, dan itu ia lakukan agar segera memenuhi keinginan Nevan yang sudah terlihat memasang wajah cemberut.
Pengumpulan jawaban selesai, dan sekarang Shasyania sudah mengetuk-ngetuk paha Nevan. Ada senyum terukir di bibirnya, dan dengan sekali gerakan ia mulai menautkan jarinya dengan Shasyania, mencubit hingga mengelus-elus lembut, itulah kegiatan Geonevan di punggung tangan Shasyania.
"Van login Van, yok mabar!" ajak Dariel yang mulai terdengar ribut di belakang sana.
"Gue sibuk!"
"Sibuk apaan? lo udah selesaikan? jadi daripada diem mending gunain sisa waktu buat main, sebelum bel istirahat nih!"
"Enggak!"
"Wah baru ada cewek cantik lo sok sibuk ya! tapi sayangnya tetep aja lo anggurin juga!" keluhnya, "Shasya lo main game online ini gak?"
Shasyania melirik kebelakang, "Enggak, tapi aku suka liat orang main!"
"Denger Van! kalau gitu kita main aja biar Shasya bisa liat!"
Nevan menatap Shasyania, dan Dariel menangkap tatapan yang tak ramah di sana.
"Van, jangan gitu napa, lo bisa buat Shasya takut! bisa gak sih lo ramah dikit sama cewek? senyum dikit kek, apa kek! jangan dingin kayak kulkas dua pintu!"
"Apaan sih orang gue liatnya biasa aja!"
"Preeeeett biasa-biasa! orang tatapan lo kayak ngajak perang!" sindirnya, "Shaa jujur ya, lo takut gak sama Nevan?"
"Lumayan pas awal-awal."
"Gue juga kalau jadi Shasya bakal takut sama dia! ingat gak pas Shasya di bentak, gue aja sampek kaget!" cetus Eron.
"Van, lo ada masalah apa sih sama cewek? kayak anti banget sama yang namanya perempuan padahal lo di kejar-kejar loh!"
"Karena gue gak suka!"
"Iya...iyaa orang tamvaaaan mah bebass!" kelakar Dariel, "ohhh ya Sha..., lo beneran di panggil dewi nirwana di SMA MERPATI?"
"Iya itu karena pas MOS di sana ada game, intinya kita di suruh buat mecahin balon, lalu memperagakan apapun yang tertulis di sana, nah kurang lebih seperti itulah ceritanya."
Dariel dan Eron hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Shasyania, "Cocok sih! tapi gue kira lo di panggil gitu karena punya channel di alam lain. Kan asik kalo punya orang dalam, siapa tahu gue bisa nitip nama biar nanti masuk surga," guraunya diselingi dengan tawa.
"Ohh..., itu juga ada!" sahut Shasyania, dan ucapannya mengundang rasa penasaran, "tapi bukan di surga, melainkan yang satunya lagi, gimana masih mau nitip nama?"
.
.
.
.
.
*Ingat dukungannya teman-teman, terimakasih 😁*