Mine ?

Mine ?
39 : Membosankan



"Yaya setelah membuang sampah kamu langsung ke toko langganan saya ya dan pesankan beberapa roti!"


"Baik Nyonya," sahut seorang gadis yang masih sibuk memasukan segala barang ke dalam koper.


"Oma jam berapa kita pulang? aku sudah sangat bosan di sini!" keluh Gemmi dari atas ranjang pasien.


"Sabar dulu kita tunggu Shasya!"


"Kenapa menunggunya? apa dia sudah beralih profesi menjadi seorang Dokter?"


Tidak mendapat jawaban dari sang Oma membuat Gemmi melirik gadis bernama Yaya tersebut, "Yaya kemari!"


"Iya tuan?"


"Kupasin jeruk!"


"Tapi Tuan tangan saya kotor."


"Cuci Yaya...!"


"Tuan ini...."


"Masukkan ke mulutku!"


Sebelum mengiyakan perintah Gemmi, gadis itu terlebih dahulu melirik kearah sang Nyonya besar, ia tidak mau di anggap lancang apalagi sampai mengundang kemarahan.


"Tidak perlu! sebentar lagi Shasya akan datang maka biarkan dia yang membantumu!"


Dan benar, berselang beberapa menit sebuah ketokan terdengar. Pintu itu tidak akan terbuka dari arah luar karena sudah beberapa hari ini pengawal tak lagi berjaga di sana, dan semua itu atas perintah Gemmi karena ia merasa risih dengan fasilitas yang di siapkan Raimar.


Tanpa di beri aba-aba Yaya yang sudah paham akan tugasnya langsung bergegas membuka pintu hingga hal pertama yang ia lihat adalah satu sosok yang mampu membuatnya menatap diam dengan mulut terbuka. Tanpa sadar sesuatu lolos dari dalam mulutnya, Uwaahhh...." Beberapa saat ia terpesona sampai.


"Yaya kenapa kamu diam? Biarkan gadis kecilku masuk!" suara itu menyadarkan Yaya dari lamunannya, seperti telah melakukan kesalahan besar, Yaya berdiri dengan dilingkupi rasa takut.


"Maa...maaf maafkan saya Nona..., si...silahkan masuk," begitu terbata-bata tanpa berani menatap kembali.


Menyadari reaksi tersebut membuat Shasyania langsung mengelus lengan Yaya, "Tidak apa-apa..., jangan takut!" ujarnya lembut hingga gadis itu mengangguk dengan senyum.


"Apaan nih!" seru Gemmi, tumpukan buku sudah tersusun rapi di ranjangnya dan semua berasal dari dalam tas Shasyania.


"Catatan materi hari ini! dan ini flashdisk berisi kisi-kisi ulangan minggu depan!"


"Buset! materi kemarin aja belum gue raba!"


Raimar yang kesal akan reaksi cucunya langsung melangkahkan kaki mendekati Gemmi lalu menjewer telinga laki-laki itu dari arah samping, "Kenapa tidak belajar? kamu kira dengan alasan sakit kamu bisa lepas dari tanggungjawab sebagai seorang murid? Shasyania sudah bermurah hati untuk mencatat materi dan menjelaskannya padamu tetapi kamu selalu menggampangkan semua! Kamu pikir hidupmu bakal selalu enak jika kamu tetap bodoh!" Omelnya "Oma memang menyayangimu tapi bukan berarti kamu bisa berleha-leha! Pokoknya untuk ulangan tengah semester ini Oma mau nilai kamu rata-rata Delapan!"


Gemmi berusaha melepas tangan Raimar yang masih asik menarik-narik telinganya, "Jangankan Delapan Oma..., Tujuh saja nafas Gemmi sudah Senin Kamis!"


"BOCAH EDAN!" gertak Raimar, "Shasya kamu bisakan membantu Geime untuk meminimalisir kebodohannya?"


"Semua tergantung usaha Gemmi Oma."


"Kamu dengar itu? semua tergantung usahamu!"


"Aku tahu dan aku sudah berusaha tetapi hasilnya selalu saja mengkhianati ku Oma...." Gemmi memasang tampang memelas berharap dengan itu pembahasan ini cepat berakhir.


"Ck..., Oma yakin ketika kedua orangtuamu memproduksi mu mereka pasti dalam keadaan lesu!"


"Wahh ini tidak benar! Oma meragukan kekuatan Gemmi? bahkan dalam keadaan seperti ini Gemmi masih mampu mengendong Oma sampai ke rumah!"


"Oma tidak meragukan otot mu tapi Oma meragukan isi otakmu!" sindirnya yang mulai terlihat geram, "harusnya kamu belajar dari Shasya! dia begitu pintar tapi kamu..., mmmhhh Oma hanya bisa menarik nafas!"


"Oma juga harus bisa mengeluarkannya! Jika tidak maka Oma akan menggantikan posisiku ini!"


"Geime Oma serius! kamu harus mulai belajar masak kalah sama wanita!"


"Aku mengalah karena itu tugas lelaki!"


"Ada saja jawaban yang keluar dari mulutmu!"


"Karena jika Gemmi diam maka Oma akan semakin marah."


"Shasya tolong ajari Geime, buat dia pintar sepertimu!"


"Oma ini..., dia sepintar itu karena belajar dari kecil dan Oma mengharapkan aku sepadan dengannya hanya dalam hitungan hari? mana mungkin Oma!"


"Jika kamu sadar belajar sedari kecil itu penting lalu kenapa kamu selalu bolos dan seringkali mengerjai Guru les mu hingga mereka mengundurkan diri!"


"Tugas anak kecil bermain Oma....!"


"Dan sekarang kamu bukan lagi anak kecil!"


"Tapi rasanya semua sudah terlambat Oma...."


"Terkecuali untukku Oma...."


"Membuat pembenaran atas segala kesalahanmu adalah tindakan kurang gentleman Geime!"


"Dan menyalahkan setiap kekurangan seseorang adalah tindakan kurang menghargai satu sama lain Oma...."


Raimar menepuk jidat, ia seperti kehabisan akal untuk membujuk sang cucu, "Sean Kakakmu berharap jika nanti kamu bisa membantunya di perusahaan! dan Oma juga berharap kalian bisa bekerjasama!"


"Aku tidak tertarik!" kali ini wajah Gemmi tiba-tiba berubah, sorot matanya tidak lagi teduh.


"Jangan egois!"


"Jika Oma menyuruhku belajar maka aku akan belajar, tapi jika Oma mengharapkan sesuatu yang tak bisa aku pastikan maka jawabannya akan tetap sama!"


"Hanya karena kamu tidak mau bukan berarti kamu bisa lepas dari tanggungjawab mu Geime!"


Shasyania dan Yaya, dua gadis asing yang sama-sama canggung menyaksikan dua orang yang sedang berargumen sama kerasnya, Yaya bahkan terlihat bergegas mengikat plastik hitam di hadapannya.


"Permisi Nyonya saya mau keluar membuang sampah," ucap Yaya memutus rantai keheningan yang begitu mencekam di ruangan tersebut.


"Kamu masih ingat apa yang saya minta?"


"Masih Nyonya."


"Ini...," Raimar menyerahkan beberapa lembar uang pada gadis itu.


Drrrrrttt....


Smartphone dalam tas Shasyania bergetar, hingga ia juga memiliki alasan untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Hallo Kak."


"Hallo Shaiii lu di mana? udah pulang sekolahkan?" ucap Marline dari seberang telepon.


"Sudah Kak. Satu jam lagi aku akan sampai di sana."


"Baiklah jangan terlambat ya! Byeee...." tanpa menunggu jawaban lagi, Marline langsung memutuskan sambungan telepon.


"Oma Shasya permisi pulang ya?"


"Loh kok buru-buru? kamu tidak ikut mengantar Geime?"


"Maaf Oma..., Shasya hanya menyerahkan catatan materi."


"Sudahlah Oma jangan terus memaksanya!" Omel Gemmi, ia tahu saat ini pasti Shasyania merasa tidak enak karena menolak permintaan sang Oma.


"Baiklah gadis kecil, sekarang Oma akan menyuruh Rara untuk mengantarmu!"


"Terimakasih Oma tapi Shasya bisa pulang sendiri."


Dengan berat hati Raimar menyetujui keinginan Shasyania hingga gadis itu beranjak pergi.


...****************...


Acara launching produk di salah satu Hotel Berbintang Lima berjalan begitu meriah, mereka yang hadir memperlihatkan antusiasme yang sangat tinggi, semua di lakukan hanya untuk mencari simpati agar terlihat paling mendukung padahal memiliki maksud terselubung.


"Wah Nyonya keluarga Eldione memang sangat berbakat! semua rancangannya mendobrak dunia fashion dalam Negeri bahkan juga sampai mancanegara, sungguh luar biasa!" puji Arsenio, salah satu rekan bisnis keluarga Eldione di bidang Manufaktur.


Mereka berbincang dengan segelas wine di tangan mereka dan di sana juga terlihat Nevan, namun laki-laki itu hanya berbicara ketika di tanya dan akan kembali terdiam saat merasa sudah cukup untuk berbasa-basi.


"Nevan..., Om rasa setelah ini kamu dan Freya bisa belajar bersama karena putri Om juga di tunjuk untuk mewakili sekolahnya dalam olimpiade Fisika, benarkan Frey?"


"Ng..., Iya Pa," jawab gadis itu tersipu malu.


Respon pasif Nevan mengundang Deron untuk segera bersuara, "Oh benarkan? itu sangat bagus! Kalian bisa belajar bersama dan Daddy yakin jika dua anak pintar sedang berbicara maka mereka akan lebih cepat saling memahami satu sama lain!" serunya seraya memberi kode agar putranya merespon.


"Aku tidak suka belajar Dad! Aku hanya melakukan itu di kelas dan tidak untuk di luar!" jawaban Nevan begitu menohok hingga suasana berubah canggung.


"Ha...ha...ha anak ini memang suka bercanda!" ujar Zivana dengan otot-otot tangan menepuk ringan punggung Nevan.


"Sayang Mommy rasa kamu harus belajar ilmu komunikasi! dan dalam hal ini tidak setetes pun gen Mommy yang mengalir di dalam dirimu!" cicit Zivana, yang hanya bisa di dengar oleh telinga Nevan.


Merasa suasana semakin membosankan Nevan pun meminta izin untuk keluar dari obrolan tersebut, namun baru dua langkah ia menjauh sebuah suara sudah menghentikannya, "Nevan ajaklah Freya bersama! Om yakin kalian pasti sama-sama bosan."


Tanpa menunggu persetujuan Nevan, Arsenio langsung mendorong lengan putrinya agar lebih mendekat kearah Nevan.


"Nevan lo ingat gak waktu kita kecil kita selalu bersemangat saat acara seperti ini, tapi semakin dewasa malah semakin membosankan, kadang gue juga suka kangen sama masa-masa kecil kita, berlari ke sana ke sini dengan keadaan mulut dipenuhi makanan..., hahaha sangat lucu!"


Freya tenggelam dalam bayangan masa lalu, ia begitu bersemangat menceritakan kembali, namun Nevan sang lawan bicara justru terlihat melebarkan pandangan hingga satu kata lolos dari dalam mulutnya.


"Shasyania!"