Mine ?

Mine ?
56 : Kepingan puzzle



Layaknya menonton drama, si penjual pecel asik menyaksikan dua remaja yang tengah berdebat mengenai siapa yang harus membayar makanan yang telah mereka santap. Seakan enggan untuk terlibat, si penjual memilih untuk duduk santai di atas kursi kayu sembari menunggu pesanan baru.


"Gue yang bayar! nih Pak."


Shasyania langsung menahan laju tangan Nevan, saat menyodorkan dua lembar uang berwarna merah muda, "Enggak! aku yang bayar!"


Nevan rasa berdebat dengan gadis di hadapannya ini akan terasa sulit, hingga ia mengalihkan pandangan kepada si penjual, "Bapak mau untung kan?" tanya Nevan, ia kembali merogok kantong celananya untuk mengambil dompet, "nolak rezeki itu gak baik, jadi ambil ini!" ucapnya, seraya menambahkan uang tersebut menjadi beberapa lembar.


Kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat, apalagi di kondisi seperti sekarang jelas membuat si penjual akan lebih memilih uang dari Nevan, dan hal itu berhasil membuat Shasyania berdecak kesal.


"Seharusnya kamu tidak membayar sebanyak itu Geonevan!"


"Karena lo nya yang gak nurut!"


"Makan di sana kan atas keinginan aku, jadi udah sewajarnya aku yang bayar!" protes Shasyania, "apa kamu pikir aku gak punya uang sampai kamu maksa buat bayar?"


"Enggak!" tegasnya, "sini naik!" imbuh Nevan, sembari menepuk-nepuk jok bagian belakang.


Jalanan yang biasanya ramai akan kendaraan sekarang terasa sepi, dan hal itu membuat Nevan lebih leluasa untuk mengatur kecepatan motor yang ia kendarai, laju kuda besinya semakin cepat, namun tak sedikitpun mengundang reaksi dari gadis yang tengah ia bonceng, karena Shasyania pikir, jika mereka semakin lama di luar maka dingin itu akan semakin menusuk ke dalam tulang.


Hingga di pertigaan sana Nevan tiba-tiba menepi lalu memasuki area parkir sebuah toko, "Mau nitip sesuatu?" tanyanya sembari melepas pelindung kepala.


"Enggak."


"Baiklah, gue cuma sebentar," ucapnya sebelum beranjak pergi.


Shasyania menunggu sambil bersandar di motor Nevan, dan kehadirannya itu ternyata di sadari oleh beberapa orang yang tengah berada di dalam mobil.


"Woi! itu si murid baru gak sih?"


"Wah iya bener dia!"


"Kesempatan nih buat gue balas dendam!" pungkas seorang gadis sambil menyeringai puas, "Panca, Arif! seret dia masuk ke dalam sini!"


"Baik, tapi tunggu sepi dulu Al!"


Saat suasana mulai mendukung aksi mereka, mobil itupun lebih mendekat dan dua laki-laki berperawakan tinggi menjulang dengan bagian wajah tertutup kain bergerak cepat menarik tangan Shasyania.


"Mau apa kalian?" Shasyania masih berusaha memberontak, namun usahanya semakin sia-sia karena dari arah belakang ada kawanan dari mereka yang ikut mendorong tubuh Shasyania agar masuk ke dalam mobil.


"TOLONG!" hanya kata itu yang bisa ia ucapkan, sebelum tubuhnya benar-benar masuk ke dalam mobil, lalu kendaraan tersebut melaju menjauh.


Suasana mencekam mulai terasa, dan orang yang berada di kursi depan perlahan menengok ke belakang, "Haii..., lo masih ingat gue kan?"


Mata Shasyania melotot tajam ketika pandangannya bertemu dengan Aleta.


"Mau apa kamu?"


Aleta mencengkram kuat rahang Shasyania, "Kalau gue bilang, takutnya lo kencing di celana lagi!" cela nya sembari tertawa sinis.


"Jangan keras-keras Al, kasian nih mukanya!" pinta laki-laki bernama Arif.


Mendengar itu Aleta menjadi semakin geram, "Justru karena muka dia ini yang bikin gue tambah sebel, pengen gue CAKAR rasanya!" hardiknya, "LO LIAT INI HAAH? KARENA PERBUATAN LO JIDAT GUE SAMPAI DI JAHIT TAHU! lo harus di kasih pelajaran!"


Puluhan meter dari sana, terlihat seorang penjual kerak telor tengah tergopoh-gopoh berlari menuju toko. Masuk dengan pandangan mengedar mencari kehadiran seseorang yang masih ia ingat penampilannya, "Nak! Nak!" ucapnya sambil mengguncang bahu Nevan, "teman...teman kamu di seret paksa masuk ke dalam mobil!"


Setelah mendengar itu Nevan langsung berlari ke arah luar ia sampai membuang bungkusan yang ia pegang, hingga susu itu tumpah berserakan di atas lantai.


"BANGS.T!" umpatnya saat area itu sudah tidak terlihat lagi jejak dari Shasyania, "Pak kemana larinya Pak? plat nomornya Bapak lihat kan?"


"Ke arah sana Nak, Mobil putih dengan plat nomer ×××!"


Sebelum ia mencari sendiri terlebih dahulu Nevan menghubungi seseorang.


"Iya Tuan Muda?"


"CARI DI MANA TITIK LOKASI MOBIL BERPLAT NOMOR ××× DI KAWASAN ×××! KERAHKAN SEMUA PENGAWAL!"


Rahang Nevan mengeras dengan tatapan amarah, ia seperti seseorang yang siap menerkam mangsanya hidup-hidup.


"Tempat ini sepi Al"


"Ya di sini aja! kalian seret dia bawa masuk ke dalam bangunan itu! Dan lo Amanda bawa keluar oli yang gue taruh di bagasi!"


"Sumpah ini cewek cantik banget!" tutur Panca yang langsung di setujui Arif.


"Kalian berdua suka cewek model kek gini? Yasudah ambil aja gue kasih gratis!" cibir Aleta penuh rasa iri.


Shasyania berusaha melindungi diri, tapi keadaan malah semakin gelap gulita dan hal itu membuat ketakutan-ketakutan nya bertambah, terlebih lagi suasana ini mengingatkannya kembali pada masa itu. Bayangan-bayagan masa lalu mulai hadir menjadi kepingan puzzle dalam ingatannya. Rasa takut, panik, cemas menjadi satu, dan efek itu sukses mengguncang psikis Shasyania. Tubuhnya meringkuk, matanya terpejam, ia tidak bisa lagi menahan untuk tidak menangis.


Hanya penerangan dari senter handphone, orang-orang itu kompak menyorot wajah Shasyania, "Wahh akhirnya nangis juga lo? TAKUT?" pancing Aleta, ia kembali mencengkram wajah Shasyania lalu mendongakkan kepalanya, "coba lo lari lagi kayak waktu itu? terus lempari tuh apapun yang bisa lo pegang! BISA KAYAK GITU LAGI GAK? KEMANA NIH NYALI LO? CIUT? HAHAHAHA!" tawa Aleta meledak, memecah keheningan malam.


Dari arah belakang Amanda datang membawa barang yang di suruh Aleta , "Nih Al! Mau lo apain tuh?"


"Nyiram dia!"


"Wah jadi burik dong!


"Itu ganjaran yang pantas buat dia yang udah berani sama gue!"


"Wait wait, kasih kita menikmati kecantikan dia dulu Al! setelah itu terserah mau lo apain!" celetuk Panca.


Shasyania terus menepis tangan yang berusaha menyentuh wajahnya, dan itu memancing kekesalan Panca, hingga ia menarik tangan Shasyania dengan kasar. Niat ingin mendekati wajah seketika sirna, saat sebuah balok kayu sudah membentur keras tubuhnya.


BUGG!


"ARRGHHHH!!!" jeritnya kencang. Panca merasakan sakit yang begitu menyengat di area punggungnya.


Bersamaan dengan itu beberapa mobil mulai menerobos masuk, hingga penerangan di sana sudah sangat membatu seseorang yang tengah mencari samsak untuk amarahnya yang sudah di ambang batas.


"GEONEVAN!" seru Aleta, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


"MENJAUH DARI TUNANGAN GUE ATAU GUE CINCANG KALIAN!"


"Geonevan kenapa lo bisa berada di sini?"


Nevan yang merasa dirinya tidak perlu bermain tangan dengan wanita langsung mendorong tubuh Aleta menjauh, lalu memberi isyarat agar pengawal perempuannya yang mengurus bagian Aleta dan Amanda.


Langkahnya yang tegas mulai mendekat ke arah Arif yang tengah berdiri tegap. Berada dalam jarak satu meter ia mulai mengangkat satu kaki dan mengayun keras menendang tulang rusuk laki-laki di hadapannya itu.


PRAAAAKK! suara keras itu berasal dari tubuh Arif, mungkin saja beberapa tulangnya sudah patah.


Belum usai rasa sakit yang ia rasakan, Nevan terlihat kembali mendekat dan menarik kerah baju Arif, lalu menendang perut laki-laki itu hingga terpelanting ke depan.


Pandangannya menyelidik ke samping, ia melangkah mendekat ke arah Panca.


"MAU APA LO TADI HAH?"


Bentakan demi bentakan keluar dengan kaki Nevan masih bergerak aktif menendang laki-laki di bawah sana, hingga Panca meringis dengan hebatnya.


Tak hanya kaki, tangannya pun ikut sibuk memberi pelajaran, sepertinya Nevan belum puas, ia hanya memberi kesempatan untuk mereka berdua berdiri lalu dengan ganasnya kembali menyerang.


"BANGSAAAAT MATI KALIAAAAAN!!!"


Para pengawal menyadari jika tuannya mulai membabi buta, mereka berniat menghentikan aksi Nevan, namun seakan tuli, Nevan terus menghajar tanpa sedikitpun rasa iba.


"Ampun Geonevan! semua yang kami lakukan ini atas perintah Aleta!"


"BERS.NTAN DENGAN PERINTAH! LO BERDUA UDAH BERANI NYENTUH TUNANGAN GUE!" tatapan amarah terus berkobar dari mata Nevan, ia kembali melirik balok kayu yang ia bawa tadi, tangannya mulai mengambil benda tersebut, lalu mengangkat balok itu ke atas, namun saat membentur ke bawah, sasarannya tidak kena, karena pergerakan pengawalnya lebih cepat menarik dua tubuh yang sudah terkapar lemas tersebut.


BRAKKK!


"Cukup Tuan Muda! cukup!"


"Ampuni kami Geonevan. Tidak sedikitpun kami menyentuh wajahnya. Sumpah kami tidak menyentuhnya!"


"Benar! hanya tangannya yang sempat kami pegang!"


"TANGAN? HANYA TANGAN KALIAN BILANG?"


"Iya tangan! hanya tangan!"


Bukannya mereda, amarah itu malah semakin berkobar, "MAKA TANGAN KALIAN YANG AKAN GUE CINCANG!"


Para pengawal justru sibuk mencegah pergerakan Tuannya, mereka terus menghindari Arif dan Panca dari amukan Nevan.


Beberapa kali Nevan di dorong agar aksinya terhenti, namun setiap ia tersungkur kebawah maka dengan cepat ia kembali berdiri dan mengejar sasarannya.


"Tuan Muda kami mohon jangan seperti ini! kita bisa membawa mereka ke kantor polisi, jadi mohon anda jangan terlibat lebih jauh lagi!"


"IYA MEREKA MEMANG HARUS DI KURUNG DI JERUJI BESI! TAPI SEBELUM ITU MEREKA JUGA HARUS MERASAKAN INI!"


CLETAK!


Lemparan batu mengenai tepat tempurung kepala Panca, hingga darah mulai menetes di sana.


"GEONEVAN SEMUA INI KAMI LAKUKAN JUGA UNTUK LO! DEMI KENYAMANAN LO!" teriak Aleta, dan ucapannya itu mampu menghentikan aksi Nevan.


"MAKSUD LO APAAN?"


"Kami dengar dia mengusik ketenangan lo, mengejar-ngejar lo! kami mau membalasnya dengan membuatnya jera!"


"OMONG KOSONG MACAM APA ITU BANGSAT!"


Seperti tidak ada lagi toleransi dalam dirinya untuk tidak menyakiti wanita, kali ini Nevan mengayunkan kakinya mendekat ke arah Aleta.


Gadis itu seketika bergetar takut menyaksikan luapan amarah dari orang yang selama ini ia puja, dan lagi-lagi para pengawal bersiap mencegah aksi Nevan.


Dari arah lain Ningrum yang sudah selesai mengurus Amanda langsung berlari ke arah Shasyania.


"Shasya...." ucapnya seraya menepuk halus bahu Shasyania.


Sedari tadi Shasyania terus terdiam tanpa respon ketika para pengawal mengajaknya menjauh dari ruangan itu, namun saat menyadari kehadiran Ningrum ia mulai membuka suara.


"Kak Ningrum!"


"Iya ini Kakak," sahutnya yang langsung mendapat pelukan dari Shasyania.


"Aku takut Kak, takut!"


"Tenang kamu sudah aman!" ucapnya, "tapi bisa kamu bantu Kakak sekarang?"


Shasyania terdiam, namun Ningrum tetap bersuara, "Tuan muda saat ini begitu marah, kami tidak bisa menghentikannya, bantu Kakak Shasya."


Shasyania tidak mengerti bantuan seperti apa yang bisa ia lakukan, sampai akhirnya Ningrum menyarankan Shasyania untuk memanggil nama tersebut, namun saat ini suaranya masih bergetar ia sulit untuk bersuara lantang.


"Maaf jika gue melakukan kesalahan Geonevan, tapi semua ini demi lo!" Aleta kembali menggunakan alasan yang sama, bahkan kali ini sambil terisak, ia berusaha mengetuk rasa simpati dari Nevan.


"DENGAR! MENCARI GARA-GARA SAMA TUNANGAN GUE BERARTI LO MENANTANG GUE! DAN SIAPA YANG MENGATAKAN JIKA SHASYANIA MENGUSIK GUE? GUE HANCURIN MULUT TUH ORANG!" bentaknya dengan suara menggema.


"Maaf Geonevan, maaf...gue gak tahu! gue cuma berusaha melindungi lo!"


"GUE GAK BUTUH PERLINDUNGAN DARI ORANG-ORANG RENDAHAN KAYAK KALIAN! DAN TADI MAU LO APAIN TUNANGAN GUE HAH?"


"Gu gu...gue cuma mau nyiram dia pa...pa...pakek oli, i...tu aja!"


Nevan tersenyum sinis, lalu tangannya bergerak memberi perintah agar pengawal membawakan oli tersebut ke arahnya.


"KUMPULIN MEREKA SEMUA DI SINI!" titahnya.


"Tuan saya harap Tuan tidak lagi memukul mereka!" bujuk salah satu pengawal.


"GUE BILANG KUMPULIN MEREKA DI SINI!"


"Geonevan...."


Suara itu membuat Nevan membalikkan badan, dan ia berjalan cepat menghampiri Shasyania.


"Maaf..., maaf karena gue ninggalin lo sendiri," lirihnya, sembari berusaha melepas rangkulan Shasyania dari Ningrum. Namun gadis itu seakan enggan untuk melepas, dan ia malah semakin erat memeluk tubuh wanita tersebut.


.


.


.


.


.


.


*Jangan lupa tinggalin jejaknya yaaa, terimakasih 😊*