Mine ?

Mine ?
01 : Tidak adil



Bendera berwarna kuning terikat di sebuah pagar, terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam silih berganti memasuki rumah tersebut.


"Shaaa," suaranya bergetar, dengan mata yang terlihat sudah membengkak.


Shasyania terdiam kaku, ketika Ibunya menangis pilu tubuhnya juga ikut bergetar saat melihat keadaan yang terpampang jelas di depan matanya.


Ia sangat paham, ketika beberapa orang mulai mengelus pundaknya sambil membisikkan kata-kata yang sebetulnya belum tercerna penuh oleh indra pendengarnya, namun air mata gadis itu terlebih dahulu menetes hingga membasahi kedua pipi.


Ada begitu banyak pertanyaan yang mengusik benaknya mengapa dan bagaimana semua ini bisa terjadi, dia juga ingin sekali langsung bertanya bahkan sampai menjerit, namun apa daya mulutnya saat ini seakan sulit untuk terbuka.


Kepergian yang begitu mendadak, seakan atap langit pun ikut menangis meratapi kehilangan yang begitu menyayat hati tersebut. Di atas gundukan basah itu terlihat dua orang wanita berbeda generasi tengah meratapi nasib, bahkan tetesan air hujan seakan tidak mampu mengusir mereka dari tempat itu, derasnya hujan pun tak sebanding dengan badai yang tengah berlangsung di dalam diri mereka masing-masing.


"Buk?" kali ini Shasyania membuka mulut hingga menatap Ibunya penuh tanya.


"Ayah kecelakaan sha," sejenak Ibunya terdiam lalu berkata, "kejadiannya siang tadi bersama keluarga Eldione." Meskipun menceritakan kembali akan membuat hatinya semakin pedih, namun Liliana sadar jika putrinya perlu jawaban.


Rasa penasaran di benak Shasyania memang sudah terjawab, namun tidak sedikitpun menghilangkan rasa sakit yang bertubi-tubi menghunjam hati dan pikirannya. Kenyataan ini sungguh pahit untuk Shasyania dan juga Ibunya.


...****************...


Di waktu yang sama di sebuah kamar Rumah Sakit, terlihat seorang pria paruh baya tengah terbaring lemah dengan tangan terpasang selang infus. Dari sorot matanya terlihat dia sedang menunggu kedatangan seseorang.


Beberapa menit berlalu hingga sebuah ketokan pintu terdengar dari arah luar, hingga menampakkan sosok pria dewasa berpostur tubuh tegap tengah melangkahkan kakinya mendekat.


"Proses pemakamannya sudah selesai Tuan," lapor pria tersebut, sembari menunduk hormat.


"Apa perwakilan keluargaku datang ke sana?"


"Tidak Tuan."


"Apa kau sudah memberi informasi sesuai yang aku suruh?" raut wajahnya seketika memperlihatkan ekspresi kekecewaan.


"Sudah Tuan, persis seperti yang Tuan sampaikan."


"KETERLALUAN! bahkan tidak ada rasa simpati sedikitpun! cihhh! tampaknya harta sudah menggelapkan hati nurani mereka!" cela nya tajam, "suruh mereka datang ke sini!" perintah Toreno pada asistennya yang bernama Atom.


Atom yang berdiri di sisi kanan bed langsung bergidik takut, pupil matanya pun terlihat sedikit bergetar karena Ia cukup tahu, bagaimana jika tuannya sudah marah.


"Pa...., apa kondisi Papa sudah membaik? pagi tadi kami sudah ke sini, tapi saat itu Papa masih di rawat intensif jadi kami memutuskan untuk kembali ke Kantor, karena ada rapat penting mengenai cabang baru dari perusahaan kita Pa," jelas Deron, putra semata wayang Toreno, yang juga merupakan calon pewaris keluarga Eldione.


Dione crop, merupakan perusahaan yang menduduki tangga teratas di Kota J, bahkan perusahaan tersebut merupakan perusahaan kedua yang paling berpengaruh terhadap perekonomian di Negara itu. Begitu di hormati dan juga di takuti oleh segala lapisan masyarakat yang tinggal di sana, namun siapa sangka, gerlap-gerlip kemewahan tidak mencerminkan sebuah keharmonisan.


Uang memang bisa menghasilkan sebuah identitas, namun uang juga mampu menghilangkan sebuah rasa kemanusiaan.


"Seharusnya kalian malu! bahkan setelah mendengar semuanya!" bentak Toreno, tanpa memandang anak dan juga menantunya, suaranya pun terdengar bergetar seolah ada rasa getir yang menyelimuti hatinya, "bukanya kalian sudah tahu, dia mempertaruhkan nyawanya untukku, hingga meninggalkan anak dan juga istrinya yang masih perlu akan figurnya! katakan padaku, bagaimana caraku untuk menebus semuanya? di taruh dimana mukaku ini haah! jika memang harta yang membuat kalian bersikap seperti ini, maka lihatlah, apa yang bisa aku lakukan untuk membuat kalian berdua sadar!" ancamnya penuh penekanan.


"Ti..., tidak Pa, tidak, ka__,"


"Dimana cucuku? potong Toreno, tampaknya ia begitu kesal hingga enggan untuk mendengarkan penjelasan anaknya.


"Nevan sedang liburan bersama teman-temannya Pa," kali ini giliran menantunya yang berbicara, Ia adalah Zivana perancang busana yang sangat terkenal.


"Atom!"


"Iya Tuan."


"Hubungi cucuku, suruh dia pulang!"


"Baik Tuan."


"Tapi Pa, Nevan baru saja berangkat tadi pagi, dan kemungkinan pesawatnya juga belum landing, jika dia balik sekarang itu akan memakan waktu yang lama Pa," jelas Deron.


"Jika Papa membutuhkan sesuatu biar kami saja yang akan melakukannya," ucap Zivana, menimpali.


"Katakan apa yang bisa kalian lakukan? selain membuatku semakin marah! keluarlah! aku ingin beristirahat," tegas Toreno.


"Maaf..., maafkan aku Pa, aku berjanji tidak akan membuat Papa kecewa la__,"


Deron dan istrinya terpaksa keluar dari ruangan tersebut, karena mereka tahu berusaha untuk tetap bertahan hanya akan memperburuk suasana.


Kecemasan dan rasa takut memenuhi hati dan pikiran mereka saat langkah kaki semakin mendekat ke arah pintu keluar.


"Drrrttt, drrrrtt," suara telepon bergetar terdengar dari dalam tas mewah milik Zivana, ia melirik siapa yang tengah memanggil hingga sebuah nama tertera di layar pipih tersebut, tanpa menunggu lagi Zivana segera menggeser tombol berwarna hijau.


"Sayaang, kamu sudah sampai di Paris?"


"Yes Mom, dan tadi Atom menghubungiku apa Kakek baik-baik saja? dan yaa, kenapa aku di suruh pulang? come on Mom, aku baru saja sampai mana mungkin pulang sekarang! ini adalah liburan yang sudah aku nanti-nantikan Mom," keluh anak laki-laki remaja dari seberang telephon.


"Maafkan Mommy sayang, tapi kamu memang harus pulang Kakek sudah memutuskan itu, bahkan Daddy mu sendiri tidak bisa membujuknya," sesal Zivana, Ia sangat mengerti jika Nevan pasti akan sangat kecewa.


"Mom..., jika itu bukan urusan penting maka aku akan sangat marah!" pungkasnya hingga langsung mematikan panggilan tersebut.


Nevan tampak benar-benar kesal, liburan yang sudah Ia nantikan sejak lama akan segera sirna, terlebih lagi saat dia sudah menginjakkan kaki di Negara itu meskipun hanya sampai di Bandara Charles de Gaulle.


"Gimana Van, lo beneran balik nih?" tanya seorang laki-laki yang menepuk punggungnya dari arah belakang.


"Iya Ron, gue balik sekarang."


"Whatt balik? teriak laki-laki lainnya, "Van, lo bahkan belum sejam di sini! dan lo tahu tujuan kita ke sini buat apa, masak lo balik gitu aja?" cecar Dariel, cowok paling cerewet di antara mereka.


Nevan, Eron, dan Dariel merupakan tiga sekawan yang selalu bersama menikmati hari, bersenang-senang adalah bagian dari hidup mereka, tidak jarang mereka juga acap kali ke luar Negeri bersama. Pulang pergi membawa buah tangan adalah hal yang biasa untuk mereka bertiga, namun liburan kali ini nampak lebih spesial sayangnya nasib tidak berpihak pada seorang Geonevan Akhilenzyn Eldione, hingga memaksanya untuk tetap pulang.


"Ini Kakek yang nyuruh, makanya gue harus balik," sesal Nevan yang tampak memperlihatkan wajah kesalnya.


"Masalah apasih, yang sampai buat lo harus balik sekarang ? ohhh..., lo suruh aja Bokap Nyokap lo untuk bujuk Kakek! kita udah sampai sini Van, nanggung banget jika lo harus balik sekarang!" jelas Dariel.


Nevan hanya menggelengkan kepala karena memang tidak ada pilihan lain. Kedua sahabatnya juga tampak kecewa.


"Yasudah nanti gue sama Riel bakal kirim foto sama videonya, setidaknya lo bisa menikmati secara online, iyak gak?" ejek Eron.


"Gue masih penasaran nih, masalah apa yaa yang bikin Kakek lo sampai maksa lo balik mendadak gini lagi! kan gak mungkin alasannya karena gak suka liat lo liburan," Dariel menerka-nerka dengan tangan mengusap-usap dagu.


"Mau nulis surat wasiat kali!" celetuk Eron.


"Si*laan, lo pikir Kakek gue mau__," Nevan tidak lagi melanjutkan ucapannya, ketika melihat Eron langsung mengatupkan kedua tangan meminta ampun.


"Bukan Van, bukan kayak gitu, maksud gue siapa tahu Kakek lo...," Eron terlihat bingung, Ia tidak tahu harus mengatakan apalagi harapannya hanya Dariel dapat membantunya di situasi ini.


Dariel yang mengerti langsung bergerak merangkul bahu Nevan, "Santai Van, lo jangan marah dulu napa, ilang ganteng lo!" bujuk Dariel.


"Yasudah, selamat bersenang-senang kalian di sini! gue mau ngurus tiket," Nevan mengayunkan kakinya menjauh, meninggalkan kedua sahabatnya yang masih tetap mematung melihat punggung Nevan yang semakin hilang termakan jarak.


Plaaak!


Sebuah pukulan langsung mendarat di kepala Eron, hingga membuatnya meringis kesakitan, "Mony*t! sakit nihh!" cibirnya dengan tangan memegang kepala.


"Lo itu BODOH apa gimana sih? bisa-bisanya bilang hal kayak gitu ke Nevan, lo lupa tempramen dia kayak apa? gue ingetin ya enggak semua hal bisa kita becandain ke Nevan, dan lo harus selalu ingat itu!" tutur Dariel.


"Thanks ya, meskipun lo geplak kepala gue, tapi lo udah bantuin gue, hampir aja gue kena bogem mentah," ujarnya, bahkan hanya membayangkan saja sudah mampu membuat Eron bergidik ngeri.


"Kalau lo di hajar Nevan, bukan hanya dia yang gagal liburan tapi gue juga! karena harus jagain lo di Rumah Sakit, mana bayarannya di sini gede lagi," kelakar Dariel, "pokoknya kita saling bantu aja tahu sendiri punya sahabat kayak apa," sambungnya, mereka tertawa bersama hingga membuat beberapa orang menatap tidak suka.


Nevan duduk sendiri di sebuah bangku tunggu, raut kesal masih terpancar jelas di wajahnya yang rupawan, hingga tiba-tiba seseorang menyandung kakinya.


"Uppss, sorry," ucap seorang gadis dengan penampilan stylish.


Nevan hanya menganggukkan malas, tanpa niat untuk bersuara lalu detik kemudian terdengar sebuah pengumuman untuk pesawat yang akan Ia tumpangi, Nevan langsung berdiri, namun ketika Ia akan berjalan sebuah tarikan membuatnya menoleh dengan tatapan sinis.


"Kenalin, nama gue Jiana Quenza Azalia," ucap gadis itu sembari menjulurkan tangan ke depan.


"Nevan," sahutnya singkat, lalu kembali mengayunkan kaki menjauh.


Like komen jika suka dengan cerita ini ya, biar tambah semangat up-nya, terimakasih 😊