Mine ?

Mine ?
05 : Mengikuti



Duduk menyender di kursi kayu dengan tangan kiri memegangi sebuah album kenangan. Raut kerinduan terlukis jelas dari sorot mata itu, beberapa kali tangannya mengusap-usap lembut permukaan foto yang selama ini selalu menemaninya di kala sepi.


"Medea..., mungkin kau sangat bahagia di sana, hingga tak pernah mengunjungi ku lagi. Katanya kau cinta tapi ternyata kau setega ini..., dan ya Medea, apa kau ingat? kau pernah mengatakan jika seseorang akan datang ke rumah ini, dan membuatku seketika mengingat sosok mu yang dulu, iyaa...perawakan mu sewaktu remaja. Awalnya aku pikir itu hanya gurauan semata hingga di saat kau pergi..., Haahh!!! dan aku justru menjalani hidup dengan harapan itu terjadi," belum selesai ia bernostalgia, Toreno terlebih dahulu menyeka air yang sudah menggenang di pelupuk mata, lalu ia menarik nafas agar sumbatan di hidungnya tersebut tak lagi membuatnya tercekat.


Hingga tangannya kembali meraih dan menatap foto itu, "Medea... kau tahu? beberapa hari yang lalu harusnya kita sudah bertemu, namun Dia yang di atas mungkin menginginkanku agar lebih lama menahan rindu. Atau mungkin karena aku masih belum pantas untuk berada di tempat mu sekarang.... Dan jika kau bertanya apa aku merindukanmu? maka jawabannya iya! aku merindukanmu! Bahkan sangat! dan jangan pernah ragukan itu! tapi seseorang menyelamatkanku dari jemputan maut Medea.... setidaknya aku harus berterimakasih kan? tapi aku sedih Medea! ketika justru dia yang menjadi korban, hingga meninggalkan istri apalagi anaknya yang masih remaja. Dan kau tahu Medea? tidak ada lagi perasaan yang lebih menyakitkan... selain di tinggal ke tempat yang entah keberadaannya di mana."


Sejenak ia diam, mencoba mengurangi rasa nyeri yang semakin menghujam sekat demi sekat hatinya, "Aku mencoret nama Deron dari ahli waris ku... dia tidak memiliki rasa simpati Medea! atau mungkin rasa sayangnya padaku tidak sebesar dia menyayangimu!" ia mengeluh seraya tersenyum dengan kepala tertunduk sampai bahunya perlahan bergetar.


Cukup lama untuknya kembali mendongakkan kepala, ketika berulangkali ia menghembuskan nafas beratnya, "Aku ingin bertanya Medea, apa kau cenayang?" guraunya, "karena perkataan mu benar adanya! seseorang telah datang hingga membuatku seperti melihatmu kembali... tapi kau jangan marah, posisimu itu tidak akan pernah tergantikan, tenang saja!!! ohh yaa, jangan membuatku lupa untuk menceritakannya..., gadis itu adalah putrinya Danes, orang yang telah menyelamatkan nyawaku, awalnya niatku hanya ingin mencukupi biaya hidupnya, namun entah kenapa aku justru mengatakan jika dia akan menjadi tunangan cucu kesayangan kita... Nevan! apa keputusan ku salah Medea? Tapi bagaimana lagi, aku ingin sekali mengikatnya menjadi bagian dari keluarga kita, entah kenapa aku begitu yakin jika dialah yang memang pantas untuk Nevan! Haaahhh... Sudah cukup aku berbicara, karena aku juga mau mendengar ocehan mu lagi, maka berkunjunglah ke mimpiku dan obati rasa rinduku ini, Medea...."


Toreno menangis pilu dengan isakkan yang tak mampu ia tahan lagi, kepalanya yang selalu tegak kini tertunduk lemah, tangannya masih memegang erat sebuah album foto, yang berisikan kenangannya bersama Medea, mendiang istri tercinta.


...----------------...


"Permisi Pak... saya Shasyania, Tuan menyuruh saya untuk berkunjung," ujarnya, pada penjaga yang terlihat di layar monitor.


"Harap tunggu sebentar Nona, saya akan mengkonfirmasi terlebih dahulu," sahut pria berotot tersebut.


Beberapa menit menunggu hingga, "Nona Shasyania silahkan masuk... maafkan atas ketidaktahuan saya ini Nona, saya sungguh menyesal...," ucapnya, sambil terus menundukkan kepala.


Shasyania yang bingung dengan perubahan sikap pengawal itu hanya bisa menganggukkan kepala.


Perlahan pintu gerbang dari kuningan yang mengkilap dengan ukiran itu terbuka lebar, hingga memperlihatkan sebuah mobil mini golf yang siap mengantarkan Shasyania ke depan bangunan utama.


"Nona silahkan masuk, Tuan Besar sudah menunggu anda di ruang tamu," sambut ramah salah satu pelayan wanita.


Berdiri menunduk hormat, itulah yang Shasyania lakukan ketika ia berada di hadapan Toreno.


"Jangan menunduk Shasyania! kamu itu cucuku, duduklah!" ucap ramah Toreno.


Perasaan canggung membuat tubuh Shasyania menjadi kaku, terlebih lagi ketika ia di sodorkan sebuah kartu pipih, yang jelas ia ketahui fungsinya, hingga reaksi pertama yang ia perlihatkan adalah alisnya yang berkerut, "I...ni... untuk apa Tuan?"


"Panggil aku Kakek! harus berapakali lagi Kakek jelaskan Shasyania... sekarang itu kamu cucuku!" tegas Toreno, dengan suara yang tak ingin dibantah, "dan itu... gunakanlah untuk membeli segala sesuatu yang kamu inginkan!" sambungnya.


"Ta..pi ini tidak perlu, sa__,"


"Jangan membantah Shasyania! sudah kewajiban seorang Kakek untuk memberikan cucunya segala yang ia inginkan!"


Dan dari sudut lain tampaknya seseorang tengah berusaha menjadi CCTV, ia begitu mengamati pembicaraan yang tengah berlangsung di ruang tamu tersebut. Matanya menyelidik dengan harapan bisa mendengar lebih jelas lagi.


"Heem!!! Jangan mengintip seperti itu Tuan Muda!" ucap Atom, yang langsung membuat Nevan terperanjat kaget. Langkahnya mundur dengan tangan memegangi dada.


"Kauuu... ini!!! bagaimana jika aku jantungan haaaahh?" protesnya.


Dengan tubuh condong ke depan, "Syukurnya... tidak seperti itukan Tuan Muda?" sahut Atom, seraya memperlihatkan ekspresinya yang semakin sukses memancing emosi laki-laki muda dihadapannya.


Nevan yang ingin beradu argumen dengan Atom tampaknya akan tertunda, karena tiba-tiba sebuah panggilan tertuju padanya.


"Nevan kemarilah!" dengan langkah cepat Nevan langsung berjalan mendekat.


Gerakannya yang sarkas ia perlihatkan, Nevan menghempaskan pantatnya begitu saja di sofa, lalu manik matanya menatap Shasyania tidak suka.


"Wah bisa langsung shopping tuh, enak banget ya..., tiba-tiba jadi kaya!" ejek Nevan, seraya membuang muka ke samping dan tanpa melihat orang yang tengah ia sindir.


"Jaga ucapan mu Nevan! jika kau lupa dia ini calon tunangan mu!"


Mata Nevan mendelik, bersamaan dengan penolakan yang kini akan ia sampaikan, "Tidak! karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapnya seperti itu!!! dan Kakek juga harus tahu seleraku bukan orang seperti dia!" jari telunjuk Nevan menunjuk-nunjuk Shasyania dengan nada bicara yang begitu angkuh.


"Kamu juga harus ingat Nevan... jika kamu masih menginginkan harta keluarga Eldione, maka mau tidak mau Shasyania lah yang akan menjadi calon tunangan mu!!!"


"Ini tidak adil untukku Kek! kenapa harus dia?"


"Memang kenapa dengannya? dia ini cantik, putih, tinggi, berambut panjang... dan selebihnya kamu bisa menilainya sendiri! tapi tunggu... Mhhh sebelum itu... kamu ini masih tertarik dengan wanita kan?" canda Toreno, yang membuat Atom terkekeh mendengarnya.


"Kakek aku serius!" gertak Nevan.


Shasyania yang menyaksikan perdebatan antara Kakek dan cucu itu mulai merasa terdesak, bagaimanapun juga ia harus menyelesaikan perdebatan ini, "Maaf..., tapi menurut saya pertunangan ini memang sebaiknya tidak terjadi," dengan penuh keberanian ia mulai mengungkapkan pendapatnya.


"Ckckck... kamu dengar sendiri Nevan? tampaknya kamu juga bukan seleranya!" gurau Toreno, ia menatap cucunya penuh jenaka.


Entah kenapa Nevan merasa terhina dan terbuang, Nevan memang menginginkan pertunangan ini batal, tapi bukan berarti dia yang seakan menjadi orang yang di campakkan.


"Yasudah bagus! setidaknya lo sadar diri! gue juga gak sudi punya tunangan kayak lo!" serunya, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Toreno.


"Apapun keputusan kalian, Kakek akan tetap melanjutkan pertunangan ini! dan untukmu Nevan, kamu bisa menjadi pewaris keluarga Eldione hanya jika Shasyania lah yang menjadi pendamping mu kelak, dan ketentuan ini sudah di putuskan secara tertulis di surat wasiat, jadi sekarang semua tergantung dirimu sendiri!" tutur Toreno. Ia begitu senang mempermainkan emosi cucunya, hingga Nevan menatap lantai dengan mimik wajah terkejut.


Perasaan kesal telah meletup-letup di dalam diri Nevan, dan ia lebih memilih untuk beranjak menjauh, meninggalkan dua orang yang masih setia berada di tempat duduk mereka.


"Shasyania... Kakek harap kamu menerimanya!" pinta Toreno.


"Saya mohon jangan seperti ini...."


"Keputusan sudah di ambil, Kakek akan membiayai pendidikan mu sampai perguruan tinggi, dan itu hanya bisa terjadi jika kamu bersama Nevan, terus kamu juga harus ingat... Ibumu perlu biaya pengobatan dan semua juga akan Kakek tanggung selama kamu menuruti keputusan Kakek ini, jadi pikirkanlah!" jelasnya.


Sebetulnya Toreno merasa sedih menekan Shasyania seperti ini, tapi ia tak punya pilihan lain lagi untuk membuat Shasyania setuju. Suasana yang masih terasa canggung membuat Toreno berinisiatif untuk sekedar bergurau.


"Mmmhhh... Kakek pikir Nevan tidak terlalu buruk kan? Tunggu... kamu ini masih tertarik dengan laki-laki kan Shasyania?"


.


.


.


.


.


Seperti di kurung di sebuah goa, pengap dan gelap, begitulah yang kini dirasakan oleh Shasyania, seakan tidak memiliki pilihan, selain setuju, otaknya pun rasanya seperti berhenti untuk bekerja. Dan saat ini, ia hanya membutuhkan oksigen untuk mengurangi sesak di dalam dada.


Shasyania pikir hanya sebentar waktu yang akan ia habiskan di kediaman Eldione tapi dugaannya salah, ia bahkan sampai ikut makan bersama di sana. Kemauannya? tentu saja tidak!


Hingga hari semakin sore barulah ia bisa keluar dari bangunan megah tersebut.


Belum selesai keterkejutannya untuk hari ini, sekarang malah ditambah lagi dengan suara bariton dari arah belakang.


"Masuk!" perintah Nevan, "buruan masuk!!! bisa gak sih lo gak lelet!"


Blaaaag!


Mobil sport itupun langsung melaju kencang membelah jalanan, dan di dalam mobil dua orang anak manusia tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing, sampai salah satu diantara mereka mulai bersuara, "Lo jangan gr dulu, ini semua atas perintah Kakek!!!"


Sepanjang perjalanan Shasyania hanya diam, hingga Nevan kembali mengajaknya bicara, "Segitunya banget lo bertahan... padahal jelas-jelas udah gue tolak? Mana harga diri lo sebagai perempuan? Ck! menyedihkan!!!"


Nevan semakin kesal ketika ucapannya tidak ditanggapi, "Woi kalau di ajak ngomong jawab! jangan diem aja!!! udahlah... males gue! Turun lo!"


"Tapi ini bukan jalan rumahku!" ungkap Shasyania, tak kalah menantang.


"Lo pikir gue peduli? Heeeh! buruan turun gak? bisa muntah gue kalau lo lama-lama di dalam sini!!! Sial! gue harus cuci mobil sekarang!" cetusnya tajam, seakan tidak ada rasa kasian sedikitpun padahal di luar sana terlihat sebentar lagi akan turun hujan.


Dan baru saja Shasyania keluar, Nevan langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ini kali pertama Shasyania merasa di campakkan hingga di dibentak kasar. Biasanya ia begitu di puja, layaknya julukan yang sudah orang-orang sematkan padanya.


Pulang dengan keadaan basah kuyup adalah permulaan penderitaan yang sudah masuk dalam list seorang Geonevan Akhilenzyn Eldione, untuk gadis bernama Dinesclara Shasyania.


Rasa terancam, resah, dan juga benci, mampu membuat seseorang memikirkan tindakan agresif, hingga berniat memberi efek jera pada lawannya.


Lalu mungkinkah list penderitaan itu akan berlanjut? atau justru malah sebaliknya? entahlah, karena perjalanan mereka masih panjang.... yaaakaaan.