
Semua makanan yang dipesannya sudah dilahap habis, dan hanya menyisakan perabot kosong di atas meja.
Kornea mata Ririn melirik jam tangan, hingga ia menyimpulkan masih tersisa beberapa menit untuknya berada di luar, sebelum nantinya mengajak yang lain kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.
Beranjak dari tempat duduk, kemudian suaranya terhenti ketika melihat pergerakan laki-laki yang tampak setahun lebih muda darinya mulai mengikis jarak dengan langkah malu-malu.
"Se...selamat siiiang Ka...kak," ujar seseorang lembut namun terdengar terbata-bata. Matanya memancarkan kegelisahan sembari mengusap-usap tangan.
Shasyania menoleh, karena suara itu berasal tepat dibelakangnya.
Panik, resah, dan gugup semakin menjalar, tatkala berhadapan langsung dengan seseorang yang belakangan ini terus-menerus berputar-putar diingatkannya.
Lidahnya terasa kelu, bibirnya semakin kering saat hanya mampu terbuka tanpa suara, dan hal itu sukses membuat orang disekitarnya menatap jenaka.
"Ini hari apa ya? kok semua pada aneh!" ejek Eron.
"Kak..., aa...anuu...__,"
"Apa? Anu lo sakit?" sambar Dariel, "Nit bantuin dia gih!" sambungnya dengan suara menggelitik menahan tawa.
"Sialan lo!"
"Iya kenapa?" tanya Shasyania, ia tahu laki-laki yang terlihat gelisah tersebut tengah berusaha menyampaikan sesuatu, namun terkendala rasa gugup hingga membuatnya tampak sulit berbicara.
Masih dalam keadaan sama, hingga teman di sebelahnya yang menjawab, "Ini Kak, dia mau foto," ucapan tersebut mengundang reaksi beragam dari teman sekelas Shasyania, tak terkecuali Nevan.
Dariel kembali terkekeh, "Foto sama gue gak mau?"
"Ngapain foto sama lo? ngusir dedemit?" cibir Nita.
Hanya ada dua kemungkinan ketika seseorang menghampirinya dan berniat mengajaknya berfoto, yang pertama karena memang mengaguminya, terus yang kedua adalah karena adanya sosok lain yang selalu dikatakan mirip dengannya, dan Shasyania yakin kemungkin kedua pasti menjadi pilihan, apalagi reaksi orang tersebut sangat menggebu-gebu ketika berhadapan langsung dengan Shasyania.
"Maaf Kak, tapi katanya Kakak terlihat mirip dengan idola teman saya," Tepat seperti tebakan Shasyania. "dari awal kompetisi temen saya sudah berusaha buat ketemu Kakak, tapi waktu itu sangat sulit karena kondisinya juga tidak memungkinkan, jadi hari ini dia memberanikan diri untuk nyamperin langsung," jelasnya yang langsung mendapat anggukan antusias dari orang yang bersangkutan.
"Baiklah ayo," sahut Shasyania seraya berdiri.
Cekrek!
Satu jepretan foto memenuhi layar smartphone, hingga tak henti-hentinya membuat sang pemilik tersenyum lebar sembari mengepal tangan dan berucap, "Yeeeessss!"
"Sudah selesai jadi pergilah!" tegas Nevan, setelah ucapan itu suasana kembali mencekam, Nita dan Ririn mengira perkataan tersebut terlontar karena Geonevan sedang tidak ingin di ganggu.
"Baa...baik, maaaaka..si ya Kak."
"Betull kan! dari awal gue liat Shasya, gue juga udah ngeh kalau dia mirip sama my angel and my queen gue..., Ziaaaa!" seru Dariel, dengan kata terakhir yang sengaja ia tekan sembari kedua mata menerawang menatap langit-langit.
Eron mendengus malas, "Yaaaahhhh..., aura-aura fansboy mulai terpancar nih!"
"Lo nge-fans sama Zia, Riel?" sentak Ririn.
"Tentu!!! bahkan sangat!"
"Jirrrr! orang arogan gitu lo sukai! ya gue tahu dia artis papan atas, tapi sikapnya sama fans gak banget!"
"Wajarr dong! orang dia berkualitas, punya bakat! Cantik, muda, dan kaya raya tak memiliki celah, jadi semuanya wajaaar!" penuh semangat Dariel membela sang idola.
"Lo segitunya sama dia emang pernah foto bareng? gue rasa enggak sih! dia kan terkenal gak mau berhubungan langsung sama penggemarnya, jangankan foto di lirik aja ogah!"
"Jangan salah lo! tunggu gue kasih liat!" cetusnya dengan tangan mencari-cari bukti, "nih! gue pernah satu frame sama Ziaa, Liat!"
Ririn menahan tawa, "Wahh apaan tuh! emang dia beneran Ziaa? wajah ketutup poni gitu mana kelihatan! ditipu kali lo!"
"Sembarangan lo! ini beneran Ziaa! liat dengan jelas outfit yang dia pakek, kalau bukan Ziaa siapa lagi? lo iri jangan nyindir somplak!"
"Iyaa sih..., dulu ngetrend banget poni Ziaa yang nutup muka! belum lagi hoodie sama jaketnya!"
"Itu foto jaman kapan?"
"Waktu gue SD!"
"Laaahhh..., lama banget! selain itu gak ada lagi?"
"Enggak!"
"Idola lo sombong sih, jadinya susah! selalu bawa pengawal bejibun kek Puteri kerajaan aja!"
"Dia berkualitas! Malah sifatnya itu yang bikin orang makin tergila-gila sama dia! dan masalah ketemu susah, wajar aja, semenjak peristiwa penculikan itu Ziaa jadi semakin di jaga dan berhati-hati!" tegas Dariel, "dan gue juga sempet gagal ketemu Ziaa karena si Eron!" layaknya luka yang belum kering, Dariel terus membicarakan kesalahan sahabatnya.
"Beritanya gempar banget sih waktu penculikan Ziaa, tiap hari di Tv itu-itu mulu yang di siarin. Dukungan untuk Ziaa lah, pokoknya perhatian publik tertuju padanya, tapi efek ke orang biasa kek gue malah jadi takut keluar rumah tahu gak!"
"Iyaa..., orang kaya kalau punya masalah banyak banget dukungannya yaa, jadi gue rasa dia cepat lupa sama kejadian itu. Dukungan seperti air mengalir, Deraaasss!"
"Dan beberapa hari ini sosial medianya juga mulai aktif lagi yaa gak?"
"Sempet live Igeh juga kan?"
"Iya...ya, nah berhubung kita ngomongin Ziaa, gue ada kabar bagus nih!"
"Mulai lagi!" sergah Eron.
"Bulan ini dia beneran debut, dan...," kali ini mata Dariel lekat memandang Shasyania, "Shaa..., lo ikut gue ya? Tenang gue jemput bahkan gue bayarin tiket masuknya, kita bisa ketemu dia, dan gue yakin jika gue sama lo, gue bakal di notice sama Zia! Mau ya Shaa?"
"Maaf Dariel, aku gak bisa ikut," jelasnya.
Laki-laki itu melongo tidak percaya, "Kenapa? lo tahu Ziaa kan?"
"Gak semua orang yang tahu meski suka sama dia!" cetus Nita.
"Gagal deh kena notice," Sindi Eron.
"Yaa gapapa sih, lagian gue yakin Ziaa bakal ingat gue, orang waktu ketemu dulu gue kasih dia sesuatu, jadi itu pasti berkesan!"
"Ingatannya buruk!" pungkas Nevan
"Gak usah berkomentar Van, lo gak tahu Ziaa! lo juga selalu nolak jika gue ajak ketemu dia! dan gue juga masih kesel saat minggu lalu lo bilang dia dateng ke acara itu tapi nyatanya nol besar!"
"PD banget lo bilang Nevan gak tahu Ziaa, lo lupa keluarga Eldione, mereka sering ngadain acara. Cuma Nevan gak senorak lo makanya dia diem aja, ngapain bayar buat ketemu Ziaa, toh juga kalau dia mau mereka bisa makan berdua!"
"Van beneran lo pernah makan berdua sama Ziaa?"
Ada bayangan yang terlintas diingatan Nevan, sebelum ia menjawab pertanyaan tersebut, "Enggak!"
Dariel kembali mendramatisir keadaan, "Tuhan jika memang jalan jodohku terlalu buntu bersamanya, maka aku rela jika sahabatku berjodoh dengannya," beberapa orang mengernyit bingung, "setidaknya ya Van, jika Ziaa gak sama gue, Gue rela dia sama lo, seenggaknya gue lebih mudah ketemu dia apalagi ngobrol langsu__,"
"Lo bicara apa hah!" bentak Nevan, matanya menyimpan amarah dengan ucapan Dariel.
"Tenang-tenang Van, tenang..., guuue cuma ngasal bicara, guuue hanya mikir keluarga lo sama dia setara jadi mudah untuk kalian bertemu, maaf..., maaf Van."
"Sekali lagi lo bicara hal itu, maka gak akan ada lagi pengecualian!"
"Sumpah, bahkan di jodohin sama temannya aja Geonevan bisa semarah itu, gimana ceritanya jika dia tahu niatan gue yang mau deketin dia sama Shasyania!" batin Nita yang mulai resah, dan sama sepertinya, Ririn pun terlihat salah tingkah.
Setelah insiden tersebut, akhirnya mereka beranjak pergi, lalu melangkahkan kali menuju kelas, namun saat di koridor sekolah Nita menyadari jika handphone Shasyania bergetar, "Sha kayaknya lo ada yang nelpon deh!" belum ada tanggapan, hingga ia melirik Shasyania, dan terlihat gadis itu sedang melamun, "Shaa!" imbuhnya seraya menepuk lengan Shasyania.
"Ohh iya?"
"Ada yang nelpon," jelasnya kembali sembari mengunakan matanya untuk menunjuk benda yang tengah di genggam Shasyania.
Shasyania melirik si penelepon, lalu berpamitan menjauh.
"Iya?"
"Tahu ruang laboratorium kelas Sebelas?"
"Iya."
"Kesini sebentar, di tunggu!"
Panggilan terputus, dan Shasyania terlihat menghembuskan nafas beratnya.
.
.
.
.
.
*Dukung terus yaa, supaya semangat up meningkatkan. Terimakasih đź¤*