Mine ?

Mine ?
88 : Bayangan



Sebuah televisi berukuran 65 inch tertempel di dinding kamar, layarnya menyala memperlihatkan sebuah laporan berita yang tengah membincangkan sebuah topik hangat, yang kini sukses menyita perhatian para pesohor di Negeri ini.


"TOP news malam ini, menyajikan berita mengenai dua anak remaja yang begitu sukses di usianya yang masih sangat muda, dia adalah Geonevan Akhilenzyn Eldione dan Bralinzh___,"


Tut!


Nevan yang baru keluar dari kamar mandi langsung meraih remote control, ia bergerak cepat untuk mematikan sambungan berita tersebut.


"Jika mereka berani mengeluarkan berita yang tidak-tidak! maka kantornya akan gue luluh lantahkan tanpa sisa!" ia bermonolog sendiri, sembari mengeringkan rambutnya yang masih terlihat basah.


Niat hati ingin meraih smartphone di atas kasur terhenti, ketika ketokan pintu mulai terdengar.


Tok!


.


.


Tok!


Tok!


Cklek!


"Selamat malam Tuan Muda, sara__,"


"Iya...."


Kini di meja makan hanya ada Nevan sendiri, dengan berbagai macam lauk pauk yang telah disediakan dengan tampilan menggugah selera, namun sayang, kapasitas perutnya tidak sebesar niat awal ketika melihat, bahkan ia menyantap tidak sampai setengahnya.


"Bik!


"Iyaa, Tuan Muda?"


"Bagikan ini pada siapapun yang mau, dan terimakasih atas makan malamnya...."


"Iyaa siap Tuan."


Murti selalu terkesima dengan sikap Tuan mudanya itu, meskipun terkenal dingin, tapi bagi para pelayan yang sudah lama berkerja di keluarga Eldione, sosok Nevan adalah gambaran orang yang selalu menghormati seseorang, meskipun sederhana tapi baginya ucapan terimakasih dari majikannya itu adalah bentuk jika usahanya dihargai.


.


.


.


Bruuuugghh!


Nevan menghempaskan tubuh di tempat ternyaman untuknya memejamkan mata, namun kali ini ia tidak ingin terburu-buru menuju alam mimpi, karena masih ada yang harus ia lakukan, dan kini tangan kanannya sudah menjulur ke samping mencari benda canggih yang sebentar lagi akan membuatnya senyum-senyum sendiri.


Panggilan terhubung, layar itu sudah memperlihatkan sosok cantik dengan rambut di cepol bagian atasnya.


"Sudah makan?"


"Sudah...."


"Mandi?"


"Tentu, kan mandi dulu baru makan."


"Memang harus seperti itu?"


"Mmmhh iyaa... setau ku begitu hehe."


"BAB udah?"


"Issss Geonevan...."


"Kenapa sayang? aku kan nanya...."


"Belum..., mungkin besok."


"Lah! berarti gak lancar dong."


"Memangnya harus setiap hari? dan kamu?"


"Jelas dong! kan makannya tiap hari juga ahaha."


"Iya...iya. Terus kalau... mmmhh, udah CBK belum?"


"Cebok? sudahlah, kalau belum itu namanya JRK!"


"Loh! kok cebok sih!"


"Terus apa sayang, kalau bukan cebok?"


"Bukan! kepanjangannya itu... aduh kok aku lupa ya! ohh iyaa... maksudnya cuci baju kering! jadi kamu udah cuci baju kering gak?"


"Aku nyucinya baju basah."


"Aisss... tapi sebelum basah itukan awalanya kering dulu, karena kamu cuci makanya jadi basah!"


"Aku nyuci karena bajunya basah, biar jadi kering ahahaa!"


"Kita lupakan itu! kamu udah belajar?"


"Belajar menahan rindu?"


"Aaiiissss! aku serius, belajar untuk besok Geonevan!"


"Gak, lagian belajar kan udah di sekolah, jadi gak baik kalau di lakuin di rumah lagi, apalagi udah malem, waktunya itu istirahat...."


"Iyaya... tahu dah yang udah pintar...."


"Wah tersanjung sekali di puji sama yang lebih pintar!"


"Jangan ngejek ihhh!"


"Siapa yang ngejek sayang? kan bener kamu lebih pintar, buktinya nilai ulangan matematika, skor kamu lebih tinggi dari aku!"


"Ohh iya ya! ahaha...."


"Mulai deh si Nona sombong... ahaha!!!"


"Eehh... kamu tahu gak?"


"Enggak!"


"Yasudah aku kasih tahu sekarang! Kamu masih ingatkan sama cerita aku tentang dua orang penghuni baru di sebelah rumah aku?"


"Tentu...."


"Jadi gini... tadi tuh aku gak sengaja injak ekor kucing, karena kaget aku teriakkan, terus dua penghuni itu datang, terus mereka kayak panik gitu nanya ada apa... terus pergerakan mereka itu cepat banget tahu gak! aku aja sampai gak nyadar kalau mereka udah di depanku...."


"Terus-terus?"


"Kamu ngeledek aku ya?"


"Enggak sayang... aku kan penasaran."


"Ummh baiklah, tapi cuma segitu aja sih, habis itu mereka pamit pulang...."


"Ibu gak di rumah?"


Video call itu berlangsung cukup lama, sampai waktu semakin larut malam dan Nevan menyuruh Shasyania agar tidur, lalu mematikan sambungan tersebut, namun setelah itu bukannya bertindak sesuai dengan apa yang ia ucapkan, Nevan justru kembali menghubungi seseorang.


"Semua aman?"


"Iya... Tuan Muda, kami selalu mengawasi area rumah Nona Shasyania!"


"Bagus!"


...****************...


Dan seperti biasa keadaan kelas XI IPA 1 selalu diawali keramaian, bahkan suara-suara bising itu sampai terdengar dari luar kelas, hingga saat kaki itu berayun kearah pintu, sebuah teriakan sudah tertuju padanya.


"Sahabat gue ini! emang keren!!!"


"Gak ada obat mazzeh!!!"


"Tuh orangnya dateng Riel!"


Dariel mengikuti arah jari itu menunjuk, dan saat mendapati sosok yang sudah ia nanti-nantikan dari pagi, kaki panjangnya pun melangkah mendekat dan seketika merangkul bahu Nevan.


"Apaan sih lo!"


"Kenapa lo gak bilang Van? dan kenapa lo menyembunyikan hal besar ini dari gue? Segini doang lo menilai persahabatan kita?"


"Ck! Ron, obat nih anak habis?"


"Mungkin ahahaa...."


"Sial!" sungutnya, dengan nada ditekan, "lo tahukan gue ngefans banget sama Zia?" sambung Dariel, namun Nevan tidak meladeni pertanyaan laki-laki yang masih setia mengekor padanya, hingga Dariel kembali memperkeras suara untuk mendapat respon.


"Pokoknya ya Van! nanti saat lo ketemu sama Zia, gue harus ikut! Woi Nevan!!! jawab! jangan diem aja!"


"Ngapain gue ketemu sama dia! Gak jelas lo!"


"Yaelah... nih--nih! mau ngelak apa lagi lo?"


Dariel menyodorkan sebuah majalah yang memperlihatkan sosok Nevan dan Zia yang menghiasi cover depannya.


"Kalian jalin kerjasama bareng ya? keren!"


"Sumpah! idola gue ini lama gak keliatan, muncul-muncul bikin hati kesetrum, apa dia sengaja ya... fakum biar kembali muncul bikin orang kagum? bahkan isunya yaa... dia juga bakal debut lagi jadi model fashion milik keluarganya!" sejenak Dariel mengedarkan pandangan, saat ujung matanya menangkap sosok Shasyania, yang baru saja memasuki ruangan kelas.


"Sha... Shasya, tunggu! mmmhh mirip, tapi dagu Zia lebih lancip, dan warna mata dia juga biru , terus... mmhh warna rambut juga berbe__,"


"Ngapain lo bandingin mereka berdua?" bentak Nevan.


"Hehe... tapi ingat Van! ajak gue ketemu Zi__,"


Nevan langsung menjauh begitu Shasyania menuju bangkunya, dan Dariel mendesis sebal saat ucapannya tidak dihiraukan.


.


.


.


"Shasya, maaf ya soal dua hari yang lalu...."


"Iyaa, santai aja."


"Nanti pulang sekolah lo bisa gak anterin gue beli kue? Oma ulang tahun."


Nita yang tak sengaja mendengar obrolan dua orang dibelakangnya itu langsung menengok, "Wah...wah! ada apa nih?"


"Diem lo! gak usah ikut campur!" sungut Gemmi, lalu matanya kembali menatap Shasyania, "gimana Sha, bisa?"


"PENGUMUMAN!!! BUK SISKA GAK MASUK, TAPI DIA NGASIH TUGAS KELOMPOK! TUGASNYA DI KUMPULAN SAAT PERTEMUAN SELANJUTNYA! DAN KITA DI SURUH MENGANALISIS SATU FILM YANG TENGAH TAYANG DI BIOSKOP! GENRE BEBAS! MASING-MASING KELOMPOK TERDIRI DARI TUJUH ORANG! LEBIH LANJUTNYA GUE BAGIIN FILE APA-APA AJA YANG MESTI KITA BUAT LEWAT GROUP KELAS YA!" seru Andri, dan Ririn sebagai wakil turut membantu, hanya berdiri dengan anggukan kepala.


"Lah, kelompok kita siapa aja dong?"


"Pakek mikir segala! Ya jelas kita berenam! lagi satu bebas mau milih siapa!"


"Berenam?" ulang Nita.


"Iyaa! gue, Shasyania, lo, Ririn, Wilkan sama Miko!"


"Lagi satu siapa dong? oh... gimana kalau ngajak Geonevan?"


"Ehh! lo kira dia bakalan mau? belum lagi si Dariel sama Eron, mereka pasti gak setuju jika kapten mereka lo embat!" tegur Ririn, yang sudah duduk di bangkunya.


"Lo pasti naksir kan sama si pemarah itu?" goda Gemmi, dengan tatapan mengejek.


"Ehh! mending lo buang jauh-jauh tuh perasaan sepihak! sebelum makin makan hati lo! Lagian nih ya... si Nevan udah punya calon kali! dan lo gak akan pernah sebanding sama tuh orang!" sambar Wilkan, bahkan ia sampai menggelengkan kepala, seakan menertawakan gadis yang ia anggap tertarik dengan seorang Geonevan.


"Maksud lo apaan Wil?"


"Lo tahu Zia kan? pasti tahu sih gak mungkin enggak! Nah dialah yang bakal jadi pendamping Geonevan! Garis keturunan yang sudah ditentukan, ya itulah mereka!" paparnya, sembari meneguk minuman bergambar beruang putih yang ia yakini bisa membuat lambungnya sehat.


"Aahh, masak? tahu darimana lo?"


"Gini nih... kalau orang gak belajar sosiologi!" cela Miko.


"Sha... emang pelajaran sosiologi belajar tentang apa sih?" Nita malah bertanya pada gadis yang terlihat diam dengan pandangan menerawang.


"Ilmu yang mempelajari kehidupan sosial manusia, bego! Gue yang jarang sekolah aja tahu! Otak lo karatan sih!" pungkas Gemmi.


"Emang itu ada hubungannya?"


"Yaa adalah! makanya dari dulu gue kesel banget punya teman yang mengidolakan Zia, bermimpi jadi pendamping dia! padahal itu jelas mustahil, kecuali orang itu dari keluarga yang setara, setidaknya sama-sama berdarah biru lah ahahah.... contohnya ketua Gue! tapi semakin kesini gue liat keluarga Zia condong berbisnis sama keluarga Nevan, makanya gue yakin sih mereka bakal jadi! tunggu tanggal mainnya aja! Mempertahankan dan melebarkan kekuasaan... ya dari jaman kerajaan juga caranya gitu!"


"Anak pengacara kondangan mulai ceramah nih!"


"Kondang kampret! bukan kondangan... lo kira spesialis hajatan!" ralat Gemmi, seraya menepuk kelapa Miko.


"Yehh... belum pasti juga kali! bisa ajakan Geonevan nolak?" kekeh Nita.


"Nolak... alasannya apa? dikasih model kek Zia... ya kali lempar berlian mungut krikil!" cetus Wilkan, "udah jangan berharap lagi, kecuali lo mau jadi pengagum rahasia, yang rela jika seseorang yang lo suka bahagia sama orang lain! Ohhh... atau bisa juga tuh... lo bagiin keluh kesah lo di aplikasi toktok, siapa tahu jadi viral! Kesengsaraan yang berujung cuan... ahahaha!!!"


"Iyaa, viral! tapi viral begonya buat apa? ahahah! Banyak yang komen gak tahu diri, menabur garam di atas luka sendiri!" timpal Miko, "dan seperti yang lo bilang Wil, majalah yang baru terbit juga jadiin Nevan sama Zia sampulnya!"


"Nah! apa yang gue bilang! kedua belah pihak udah mulai memperkuat kekuasaan mereka, biar orang-orang tambah segan pasti!"


"Sha... mau ke mana?"


"Kamar mandi Rin."


Menyadari Shasyania pergi, membuat Nita enggan melanjutkan perdebatannya, dan kini ia mulai berbisik pada Ririn, "Gimana nih? Shasya pasti sakit hati dengarnya...."


Ririn langsung menyarankan agar Nita berbalik arah, agar mereka lebih leluasa untuk berbisik-bisik, "Ya... mau gimana lagi, kalau urusannya udah kayak gini susah Nit! apalagi saingannya Zia! Mmmhhh cinta sepihak emang menyakitkan, tapi lebih baik sakit sekarang, ketimbang makin lama kan makin mmmmm...."


.


.


.


.


.


*Sisipkan konflik mulai bertebaran yaa, yang gak suka boleh angkat tangan, daripada ini cerita bikin kalian emosian wkwkw*