Mine ?

Mine ?
85 : (POV NEVAN) Dinesclara Shasyania



(Mode flashback)


"Van, serius? dari tadi kita cuma membuang-buang waktu tahu gak! liburan gue jadi sia-sia kalau terus lo ajak ke sini mulu! Ini udah ke tiga kalinya Nevan, tiga kali! dan setiap pulang, mood lo langsung hancur dan imbasnya kita gak jadi kemana-mana lagi!"


Ocehan dari mulut Guilio semakin membuatku gerah, andai saja Mommy tidak memintaku untuk mengajaknya berjalan-jalan, maka aku juga tidak sudi membawanya ke keluar.


"Bisa diem gak?"


"Dari kemarin ituuuu.... mulu yang lo bilang! sekarang gini aja, mending lo cerita ke gue, lo sebenarnya nyari apa di sini? gak mungkinkan cuma iseng-iseng aja. Diem berjam-jam lalu pulang dengan perasaan kesal! Jangan buat gue takut Van!"


"Kita pulang sekarang!"


"Enggak-enggak, lo harus cerita dulu!"


"Gue cuma nyari udara segar!"


"Ck! lo kira gue bocah? yang bisa lo bohongin dengan mudah! nyari udara segar di pinggir jalan, mana di dalem mobil lagi! Mending apa kita ke sini di akhir pekan, setidaknya ada banyak cewek yang bisa gue ajak kenalan!"


"Benar juga...akhir pekan!"


"Inii...nih gak nyambung lagi nih orang!"


...****************...


"Selamat siang Tuan Muda."


"Siang, hey Paman..."


"Paman? apa anda memanggil saya Tuan?"


"Yaa, karena mulai sekarang aku putuskan untuk memanggilmu Paman!"


"Baiklah Tuan, dan tadi Tuan Muda mau bicara apa?


"Nanti malam kita makan-makan lagi di luar! dan aku mau Paman memikirkan tempatnya, yang penting menunya harus enak ya!"


"Siap Tuan Muda...."


Kedua orang tuaku dan juga Kakek memang selalu sibuk, pulang pergi dengan urusan bisnis sudah menjadi hal biasa, tapi meskipun begitu perhatian mereka terhadapku tidak pernah surut, bagi mereka semua tentangku adalah nomer satu, namun karena aku terbiasa sendiri, jadi aku tak pernah meminta waktu mereka, kecuali memang sangat dibutuhkan.


Dan kini menjumpai sosok seperti Paman Danes membuatku sedikit berbeda, orang itu seakan mengerti dengan emosiku, aku suka bercerita dengannya dan aku juga sangat nyaman ketika dia memberiku saran.


Tidak ada jarak dan rasa was-was akan dimanfaatkan, sepenuhnya aku percaya padanya, itu karena aku selalu yakin dengan apa yang aku pikirkan.


...----------------...


Dan kini tibalah saat-saat yang aku tunggu, yaitu akhir pekan.


"Guilio?"


"Yaaa...yaaa, gue lagi gue lagi my brother!"


"****!"


"Nevan..., kalian berangkat sama-sama ya sayang...."


"Tapi Mom, bukannya acara jamuan makannya masih beberapa jam lagi, dan aku mau pergi sebentar!"


"Iya kamu benar sayang, tapi Guilio mau ke butik sebentar, antar dia dulu sayang...."


"No Mom! aku bukan supir, dan dia juga sudah besar untuk mengendarai kendaraan! jadi biarkan dia sendiri atau suruh sopir sungguhan!"


"Perkataan macam apa itu Nevan? dia itu sepupumu! apa salahnya jika kamu mengantarnya, lagian beberapa hari lagi dia akan balik! Pokoknya kamu harus mengantarnya!"


"Lo menyebalkan!" sungut ku pada laki-laki yang dengan pongahnya memasang wajah tak bersalah.


"Apapun yang lo katakan Geonevan..., yang penting gue bisa menarik cewek cantik dengan adanya lo di samping gue!"


Kesialan kian bertambah saat hujan mulai membasahi tanah, namun ide di otakku juga mulai muncul hingga menimbulkan senyum penuh arti yang kini menghiasi bibirku.


"Gue mau naik motor!"


"Ahh! hujan begini Van, gimana carita nya?"


Tanpa menjawab aku segera memerintahkan seorang pelayan untuk mengambil salah satu koleksi motorku, lalu bergegas mengenakan jas hujan.


Ku harap Guilio menyerah, namun kenyataanya, "Gue ikut!" dia langsung menaiki jok belakang, bahkan tanpa mengenakan perisai hujan.


Ku tarik tuas gas motor hingga melaju dengan kecepatan penuh, sampai akhirnya pemandangan di sisi jalan membuatku memelankan kuda besi ku ini.


Ku lihat beberapa anak kecil bermain riang di trotoar jalan, menikmati setiap tetes air hujan yang menerpa tubuh mereka kian membasah, dan hal itu sukses membangkitkan kenangan ku bersama Zia.


"Ziaa, sini!"


"Jangan tarik-tarik aku Vanvan! di sana dalam aku bisa tenggelam!"


"Kamu ini ya....sukanya nyubit-nyubit, sakit tahuu Zia!"


"Vanvan nakal sih!"


"Ayoo menari Zia, hujan ini mengasikkan!"


"Zia, kamu sembunyi di mana? jangan jauh-jauh Zia!"


"Aku di depanmu Vanvan!"


"Di mana?"


"Di depanmu...."


"NEVAN BERHENTIIIIIIIIIIIII!!!"


Aku terkejut mendengar teriakan Guilio, dan yang lebih membuatku kaget adalah peristiwa di depanku, ketika dua mobil sedan dan beberapa kendaraan lainnya berhenti di tengah-tengah jalan, dan bersamaan dengan itu orang-orang mulai berkerumun, sepertinya telah terjadi kecelakaan.


"Putar balik Van!"


Seketika hatiku di selimuti rasa penasaran, dan dengan kesadaran penuh aku turun dan melangkah mendekati kerumunan tersebut.


Deg!


Aku terbelalak kaget melihat keadaan gadis yang beberapa hari ini telah menyita perhatianku, alasanku untuk terdiam di dalam mobil, dan kini gadis itu tengah duduk di pinggir jalan sambil memegangi lututnya yang berdarah.


Tanpa suara aku langsung berjongkok memeriksa keadaan lukanya, hingga ku putuskan untuk menggendong lalu membawanya pergi, tapi...


"Heii...heii, mau di bawa kemana dia! kedua gadis ini harus mempertanggung jawabkan kesalahan mereka! Mobil saya sampai lecet iniiii! jangan berani-berani membawa mereka kabur, saya bisa laporkan ini ke pihak berwajib!"


"Pak tolong...Pak maafkan kami Pak, ini murni kecelakaan, karena kami juga tengah di rampok, uang pementasan kami di rampas oleh pengendara motor, kami berniat mengejar hingga tak sengaja membentur mobil Bapak, jadi maaf Pak...ini murni musibah."


"Alasan! Pokoknya kalian tetap di sini jangan kemana-mana!"


"Pak ini KTP saya, nama saya Anggi, Bapak bisa menyita ini, tapi biarkan dulu teman saya diobati...."


"Tid__,"


Aku tak tahan mendengar perdebatan itu dan dengan teriakan keras aku memanggil nama sepupuku, "Guilio bayar semuanya! bila perlu beli mobil bututnya itu!"


.


.


.


.


.


Aku menggendong gadis itu dari arah depan, bahkan dengan keadaan yang masih mengenakan helm full face yang hanya terbuka kacanya, dan tidak lupa juga dengan jas hujan yang masih melekat di tubuhku.


Ku cari tempat teduh dan menurunkannya perlahan.


"Tunggu sebentar, gue beliin obat dulu...."


"Ini...ini aku udah beli kok...," ku ambil obat merah dan beberapa tisu dari gadis yang terlihat sama paniknya denganku.


"Anggii...."


"Iyaa Sha...."


"Uangnya Ngi...."


"Memang berapa uang kalian yang hilang?" sambar ku, tapi mereka berdua malah diam seakan malu untuk mengatakan.


"Tenang saja, gue ini tergabung dalam kelompok yang sering berdonatur kok, jadi kalian gak perlu ragu, kalian cukup tuliskan nama dan nomer rekening. Lagian kalau menolaknya memang ada jalan keluar lain? tidak kan? jadi, jangan lewatkan kesempatan ini! catat nomer rekening lalu masalah selesai!" bujuk ku, dan setelah berdiskusi panjang akhirnya mereka setuju.


"Terus uang ganti rugi mobilnya?"


"Itu juga termasuk donatur," ku lihat Guilio mendekat, dan segera kuberi isyarat agar dia diam, lalu secara perlahan aku kembali mengobati luka gadis yang memakai gantungan name tag bertulisan, Dinesclara Shasyania.


"Makasih yaa...." ujarnya lembut.


Jika saja mukaku tidak tertutup helm, maka sudah di pastikan dia akan melihat senyumku yang tak pernah lepas darinya.


"Auntie, nelpon nih!" suara Guilio melenyapkan keceriaan ku, dan aku kembali mengingat jamuan makan yang sebentar lagi harus kita hadiri.


Namun sebelum berpamitan tangannya terlebih dahulu menahan laju ku, "Ini brosur acara kami, beberapa hari lagi kami akan mengadakan pentas seni, dan mulai besok kami akan selalu di sini untuk mempersiapkannya. Akan menjadi suatu kehormatan jika kalian bisa hadir, sekali lagi terimakasih...."


"Iyaa, sama-sama."


...----------------...


Hujan pertanda keberuntungan, aku senang bukan kepalang, selain besok akan sering bertemu dengannya, kini aku juga sudah mengetahui namanya, melekat hingga terus membuatku bergumam, "Dinesclara Shasyania...."


"Van, lo mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk dua orang yang belum lo kenal? bahkan secara gratis? Iya gue tahu lo kaya, tapi gak gini-gini juga, katanya lo gak suka di manfaatkan, tapi ini termasuk loh!"


"Woiii...Nevan woiii! Gue lagi ngomong Van, setidaknya respon napa! eetssss tunggu-tunggu, apa ini modus? wahahaa, kalau ya berarti? wajar-wajar ini sangat wajar! dapetin cewek memang harus keluar duit dulu Van! biar dia bertekuk lutut! Hebat juga lo ya! dan..., ohhh tidak-tidak! apa yang gue pikirkan ini juga benar? kala__,"


"Berisik!"


"Wahh reaksi lo buat gue semakin yakin jika tebakan gue benar! Sial, bisa-bisanya gue salah mengira orang.... Gue kira selera lo Zia, tau-tau nya orang yang mirip dengannya ya! Sekali lagi lo hebat Van!"


"Mirip Zia? siapa? gadis itu? tapi kenapa aku tidak sadar! Bukan-bukan ini jelas bukan karena itu!" batinku, sambil terus membelah jalanan yang masih basah oleh genangan hujan.


"Ohh..., dan gue jadi tahu kenapa lo sering nunggu di pinggir jalan sana, lo berharap ketemu dia kan? Ck! tapi gue akui lo pintar, nunggu momen jadi superhero baru lo keluar, kesan yang bagus, sangat bagus! apalagi dengan bantuan uang, wahh dia pasti jadi milik lo Van! Harusnya gue kenal dia sebelum lo, gila... dia benar-benar berkelas! duplikat my angel and my queen Ziaa..."


"Jaga ucapan lo!"


"Iya...ya maaf, gue gak bakal melirik dia, dia sepenuhnya milik lo Van! uang jadi saksinya!"


"Sekali lagi lo bilang uang---uang---uang, gue turunin lo di jalan!"


"Lah apa salahnya?"


"Gue bisa dapetin dia dengan hati!"


"Eeettssss....tampang lo memang menjamin Van, tapi lo juga harus sadar siapa yang lo incar! dia berkilau Van! jadi gue yakin selain lo juga udah banyak yang ngantri. Kalau lo hanya bergerak modal visual, lo bakal kalah start! Percaya sama gue!"


"Di sini yang lebih pintar itu gue! gak usah bacot lo! Gue lebih pintar dalam menganalisa orang! Gue jamin dia bukan tipe seperti yang lo pikirkan!"


"Kalau salah, lo berani taruhan apa?"


"Apa yang lo inginkan?"


"Mobil antik lo!"


"Oke!"


"Jangan sampai lo menjilat ludah sendiri Nevan! lo pintar ya gue akui, tapi dalam urusan cinta dan karakter gue lebih tahu, pengalaman gue lebih banyak, ingat jangan sampai tertipu dengan pikiran yang selalu lo anggap benar! Tapi yaa..., besok pun jika lo datang, dan ketika dia sadar jika lo orang yang sama yang udah dengan gampangnya memberi uang, gadis itu juga bakal langsung nempel kayak parasit!"


"Insting gue lebih akurat! lo liat aja. Besok gue buktikan!"


...****************...


Pagi harinya aku begitu bersemangat, dan sudah sangat siap untuk menjalani misi pendekatan.


"Selamat pagi Tuan Muda...."


"Pagi Paman, dan ya siapkan mobil untukku!"


"Siap Tuan."


"Paman, ini merupakan hari mendebarkan untukku, jadi doakan aku...."


"Tentu saja Tuan, apapun yang Tuan lakukan semoga berjalan lancar, restu Paman bersama Tuan Muda...."


Aku sering bergurau dengannya, hingga pembicaraan seperti ini sudah menjadi hal biasa diantara kami berdua.


.


.


.


Belum banyak kendaraan berlalu-lalang, namun mobilku sudah terparkir di sisi jalan, sampai perlahan-lahan mulai ada yang datang memenuhi taman.


Dan sekarang dalam jarak kurang lebih dari sepuluh meter aku sudah melihatnya, begitu mencolok diantara yang lain, aku terpaku hingga seseorang merusak lamunanku.


"Hey tampan, boleh minta nomernya gak?" aku menatap sinis beberapa kelompok remaja yang terlihat centil, dan tanpa rasa iba aku langsung meninggalkan mereka.


"Saya beli kostum sama topengnya!"


"Wah gak bisa nak! ini mata pencaharian saya, kalau mau...maka sewa jasa saya untuk menghibur orang!"


"Saya bayar satu juta! masih kurang? yasudah dua juta! Cepat deal, kalau enggak saya cari yang lain!"


"Baik-baik saya setuju!"


"Sekarang Bapak ikut saya!"


.


.


.


Kostum ini membuatku gerah, tapi ini demi perjuangan, jadi aku harus tetap bertahan.


"Wahh ada badut..., tapi maaf ya kami tidak menyewa anda, jadi mohon untuk tidak memasuki area ini...silahkan cari lapak lainnya."


"Sial kenapa gue merasa di rendahkan sekali!" batinku kesal.


"Biarin aja Win, sepertinya kita membutuhkan jasanya untuk menarik orang-orang agar mendekat ke sini!"


"Baiklah, tapi bayarannya gimana Nan? Oh ya...kamu mau di bayar berapa Badut?"


"Haruskah gue bersuara? Ohh tidak---tidak!" tanpa permisi aku langsung mengambil buku dan pulpen yang tengah di pegang gadis di depanku.


"AAHHH SEPULUH RIBU?" sentak nya kaget, hingga membuatku berpikir apa itu terlalu mahal? bahkan aku bisa memberinya jasa gratis, asalkan aku tetap di sini.


"Sepuluh ribu sehari? berarti, jika kami menggunakan jasamu seminggu full itu artinya tujuh puluh ribu dong? Murah banget!"


"Yaaa, kita ambil! dan tenang saja...kami akan menambah bayaran mu menjadi seratus ribu dalam seminggu! Gak perlu terharu kita bagi-bagi rezeki!"


"Terharu kata lo? bahkan dalam semenit gue bisa menghasilkan jutaan rupiah!" batas kesabaran ku di uji, namun aku kembali mengingat misi, sampai angin segar yang menjadi alasanku mulai terlihat.


"Kita nyewa badut ya?"


"Iyaa Sha..., lagian murah dan menguntungkan lohh! Seratus ribu seminggu, mantapkan?"


Ku lihat ia menautkan alis dan berjalan semakin mendekat, dan sialnya jantungku menjadi tak karuan dibuatnya.


"Apa gak terlalu murah?" bukannya menjawab aku justru sibuk mencari asupan oksigen, berharap tubuh ini masih kuat di kala gempuran yang terus-menerus menyerang hati.


"Dia gak bisa ngomong Sha..., kalau lo tanya nunggu dia nulis dulu!"


Ku angkat jempol ke atas, dan bersamaan dengan itu ia tersenyum ramah.


Ingin rasanya aku melangkah mendekat dan memegang tangannya.


.


.


.


Kini sudah beberapa jam aku dipisahkan darinya, dan aku benar-benar bekerja, bergerak-gerak begitu kakunya untuk menarik perhatian orang-orang yang menatapku kasian.


Namun setiap kali ada kesempatan maka akan aku gunakan untuk mengedarkan pandangan ke segala sisi, aku mencarinya, benar-benar ingin melihatnya.


"Heii..., minum dulu!"


Dan tanpa di duga Shasyania sudah berada di sampingku dengan sebotol minuman dingin. Tampilannya yang menawan membuatku terpukau, rambut tergerai dengan ikatan-ikatan kecil di atasnya, sungguh cantik sekali.


"Duduk di sana dulu ya? jangan memaksa diri lagian cuaca kali ini panas sekali. Jangan sampai pingsan hehe...."


Senyumnya begitu manis apalagi tawanya yang juga terdengar nyaring. Aku ingin menarik dan memeluknya erat.


"Sial kenapa gue jadi cabul begini!" aku membatin, hingga mendiami tangannya yang sedari tadi menjulurkan air.


"Inii minum dulu...."


"I..." hampir saja aku bersuara, tak ingin ia curiga hingga aku berpura-pura gagu, "i...iii...aaa..aaaa...aaaaa," aku menahan batuk saat rasa menggelitik itu sampai di tenggorokan, ini tidak bisa terjadi aku takut terlihat amatir.


"Iyaa...ya aku mengerti kok...."


Baru juga berpikir akan menghabiskan waktu berdua tapi nyatanya akan segera dirusak, oleh pergerakan teman-temannya yang semakin mendekat.


"Hei, kalau mau minum lepas dulu topengnya Badut! oh ya Shasya, kita neduh di sana yuk sambil makan."


Ajak laki-laki bernama Nanda, tidak terlalu tampan jika dibandingkan denganku yang kelewat sempurna.


"Duluan aja Nan, dan ya...," Shasyania kembali melihatku, "kamu juga belum makan kan?"


Aku menganggukkan kepala.


"Yasudah kamu ikut sama Nanda, biar aku yang jaga di sini...."


No! ini tidak seperti yang aku inginkan, aku ingin bersamamu bahkan tidak masalah jika aku harus menahan lapar.


"Ajak dia Nan! ohh ya, nama kamu siapa ya?"


Sebenarnya aku bingung, tapi gerakan tanganku membuatnya menebak.


"A? nama kamu A, ohh nama kamu Aa?"


Aku mengangguk, dan bersamaan dengan itu aku juga memberi gerakan tangan, kalau aku mau makan hanya jika bersamanya. Dan begitu baiknya Shasyania hingga menyetujui permintaan ku.


......................


"Heh buka topengnya dong! bila perlu kostumnya juga! emang gak gerah apa?"


"Bentul tuh! padahal dari tadi udah aku suruh tapi dianya tetep kekeh dan gak mau lepas, entah gimana caranya makan, gak ngerti deh!"


"Sini-sini biar aku bantu!"


Seseorang berusaha melepas topengku, dan dengan gerakan cepat aku menangkis tangan itu, dan membuatnya kesakitan.


"Aduuhhh!"


"Yoga kamu enggak kenapa-kenapa?"


"Kamu ini apa-apaan sih? di bantu malah kayak gitu!"


"Jangan di paksa! kalau dianya gak mau maka jangan di paksa!" Shasyania kembali bersuara, ia membelaku, "kamu mau makan di sana, Aa?"


"Shaa, kenapa kamu ladeni sih? dia itu modus tau! Dari tadi aku perhatiin selalu aja ngintilin kamu! Udah buka aja topengnya! jangan-jangan orang jahat nih!"


"Jangan!"


"Kenapa Sha?"


"Jangan pernah memaksa jika seseorang tidak mau, semua hal memiliki alasan! maka hargai itu! dan aku yakin dia ini orang baik! Ayooo Aa sini...."


Aku terenyuh mendengar perkataan Shasyania, instingku tidak akan salah mengenainya.


"Makan di sini aja ya? sepi kok. Yasudah kamu hadap sana dan aku hadap situ, kita makan sekarang yaa?"


Perasaanku benar-benar menghangat saat dia berada di sampingku, rasanya seperti menemukan jalan untuk pulang, rasa nyaman yang membuatku semakin senang hingga rasanya aku ingin menghentikan waktu.


Tapi lagi-lagi aku harus berjuang untuk mendapatkannya, karena begitu banyak lalat yang mendekatinya, bahkan ada yang sampai terang-terangan mengatakan cinta lalu memberi bingkisan hadiah.


...****************...


Dan kini sudah tiga hari aku terjebak dengan kostum badut, tapi tidak apa-apa karena rasa lelahku terbayar tuntas ketika melihatnya, dan sudah beberapa hari juga Guilio menjadi pendengar setiaku.


Kadang ia memasang wajah bosan saat aku terus-menerus bercerita, ia bilang aku berubah menjadi orang yang berbeda ketika aku begitu antusias menceritakan sosok Shasyania.


"Lo lanjut ceritanya di telpon, gue mau pulang! Panas nih kuping! Tapi ingat Van, gue emang yakin dia bakal nerima lo, tapi bukan berarti sepenuhnya cinta yaaa..., melainkan karena campur tangan harta...hahaha!"


"Sialan! lo gak tahu dia, gue lebih kenal!"


"Ya...ya...si bucin NEVAN!


"Bucin ya! tapi itu bukti cinta!"


.


.


.


Dan seperti biasa, semangatku selalu meluap-luap ketika memikirkan Shasyania, ini akan kembali menjadi hari yang indah.


Aku menemukannya, dan kini ia tengah memberi arahan pada anggota lainnya, begitu tegas dan berwibawa, cantik dan elegan, dan tentunya bagiku dia benar-benar miss independent.


"Wiwin, ini kerjaan kamu tiap hari nontonin orang makaaaaaan... mulu!"


"Diem kamu Ga, lagian gak minta hotspot juga!"


"Ya, karena gak bakal aku kasih juga!"


"Diem-diem, jangan ganggu!"


"Makan di mana tuh Win?"


"Ini Sha, di restoran terkenal milik keluarga Eldione, wah benar-benar enak banget sampai ngiler!"


"Bahaya kalau di tontonin mulu...hahaha!" ucapan Shasyania membuatku berpikir, mungkin saja ia ingin mencoba makanan itu.


"Jadi orang kaya enak banget ya, bisa makan enak terus!"


"Benar Ngi, apalagi tajir kayak keluarga Eldione!"


"Ehh---eehh gimana kalau kita nyari sumbangan makanan di sana?"


"Jangan!"


"Kenapa sha?"


"Yang ada kita bakalan di usir tahu! mana main datang segala lagi!"


"Iya juga sih! tapi coba aja, lagian daerah sini kan ada tuh! Ayo coba!"


Setelah mendengar ide gila itu, hingga berakhir lah seperti sekarang, aku berdiri di pinggir jalan dengan tulisan meminta sumbangan makanan.


Ingin rasanya aku tertawa melihat aksiku kini, aku berdiri seperti pengemis di depan bangunan yang sudah jelas-jelas adalah milik keluargaku.


Ini tidak akan berhasil, malah kemungkinan besarnya kita akan diusir, hingga aku mulai menulis kalimat ingin ke kamar mandi, lalu bergegas menyelinap melalui tempat parkir, sampai seseorang karyawan menangkap dan membawaku ke dalam ruangan untuk diinterogasi.


"Buka topeng mu!"


Aku membukanya, dan begitu terkejutnya ia menyadari siapa diriku.


"Maa___,"


"Sudah tidak usah! kau lihat anak remaja yang berada di sisi jalan sana kan? katakan pada mereka jika restoran ini akan memberi makanan gratis, kirim ke alun-alun Kota! dan aku mau langsung bayar di sini!"


Ya, meskipun ini milik keluargaku tapi bukan berarti semua gratis, aku tetap membayar, karena bagaimana pun juga pembukuan di akhir bulan harus tetap stabil kan.


Dan setelah urusan selesai aku kembali mendekati mereka, dan betapa senangnya aku ketika melihat Shasyania menghampiri kami.


"Heii....kalian ini benar-benar ya! ayo kembali ke alun-alun, anggota lainnya kewalahan tahu!"


"Tunggu sebentar lagi Sha! kalau gak ada yang datang maka kita langsung balik!"


.


.


.


"Tuh kan usaha kita benar-benar berhasil, lihat makanan seenak ini bisa kita nikmati secara gratis! Keluarga Eldione benar-benar TOP BGT! jadi pengan sungkeman!"


"Mereka tiap hari makan enak begini gak bosen apa ya? mungkin aja gitu sekali-kali pengen ngerasain jengkol...hahaha!"


"Selera beda, makan pagi sama malam aja bisa beda Negara kali...hahaha!"


"Ngomongin tentang Negara nih, kalian kalau di kasih liburan keluar Negeri maunya ke mana?"


"Kalau aku maunya ke Korea Nan!"


"Kalau aku Ke Swiss!"


"Terus kalau kamu mau ke mana Sha?"


"Aku, Paris...."


Jawaban Shasyania selalu berputar-putar di otakku, hingga saat kami berdua aku mulai menulis sesuatu, lalu mengarahkan padanya.


"Kamu bertanya kenapa aku ingin ke Paris? mmmh..., karena setau ku Paris itu kota romantis, banyak cinta yang tumbuh di sana. Dan dulu juga aku sempat berpikir akan sangat menyenangkan bila seseorang tiba-tiba menyatakan cintanya padaku di sana, membawa ratusan mawar, bahkan lebih konyolnya lagi sambil menunggangi kuda putih...hahaha, itu hanya khayalan masa kecil, tapi kini, cukup dengan menjadikan kota itu sebagai tempat yang ingin aku singgahi saja sudah cukup, dan semoga terkabul hehe jadi, semangat menabung!!!"


Aku terus memperhatikannya, rasanya ingin lebih dekat, lalu memegang tangannya erat, aku ingin ia bersandar di bahu ku, aku ingin ia merasa nyaman, aku ingin ia merasa dilindungi, aku ingin menjadi seseorang yang berarti dalam hidupnya. Ya, aku ingin semua itu terjadi.