Mine ?

Mine ?
77 : Masih tentangnya



Dengan kepala menunduk seorang pelayan menyuguhkan makanan, ia seperti takut untuk menatap, bahkan berucap selayaknya seorang pramusaji saja rasanya seperti enggan, hingga rekannya yang lain menatap heran.


Raut ketegangan itu disadari oleh Guilio, lalu ia dengan sengaja mengetuk-ngetuk meja.


"Pelayanan yang bagus...," pujinya dengan maksud terselubung, "Van, sepertinya kita perlu memberi tip lebih untuk gadis ini!" imbuhnya, namun Nevan seperti tak perduli, bagaikan raga dengan pikiran entah ke mana.


Dan seperti tak kehabisan akal, Guilio kembali berusaha agar Nevan menyadari kehadiran sosok tersebut.


"Di muka lo itu tompel ya?" tebaknya yang terkesan mengada-ada, seraya menunjuk wajah gadis yang langsung menatapnya jengah.


Gadis itu terlihat kesal, namun Guilio malah mengalihkan pandangannya pada Nevan, yang terlihat sudah menatap sasaran yang ia inginkan.


"Yeeesssss!" tanpa suara Guilio berseru, hanya tangannya yang terlihat mengepal senang.


Namun tidak seperti reaksi yang diinginkan Guilio, Nevan justru kembali tenang menatap Smartphonenya.


"Selamat menikmati makanannya...," secara serempak dua orang pelayan berucap ramah, namun tidak dengan gadis itu, karena ia masih terpaku membisu dengan mata berkedip-kedip.


Hingga sepeninggal para pelayan, Guilio tetap kekeh dengan misinya, yang ia yakini sebentar lagi mencapai *******, "Wooow..., apa ini sebuah kebetulan?"


"Gue gak punya banyak waktu, jadi cepat makan!" ketus Nevan.


Masih di tempat yang sama, namun berbeda ruangan dari tempat Nevan dan Guilio berada, seorang gadis terlihat buru-buru menuju lokernya.


Bahkan teriakan-teriakan dari rekan kerjanya ia hiraukan dan tetap berlari-lari kecil.


Ceklik!


Suara tersebut berasal dari sebuah kotak besar yang berhasil dimasuki lubangnya, hingga pintu pun terbuka, lalu dengan gerakan gesit tangannya mencapai benda pipih yang terselip diantara tumpukan pakaian.


Di kejar waktu dan tanggungjawab, membuat jari-jemarinya bergerak cepat untuk mendial kontak seseorang, yang sekiranya bisa menghilangkan rasa penasaran yang sudah berhari-hari bertengger di benaknya.


Tut...tut!


Panggilan pertama gagal, mungkin karena orang yang bersangkutan tengah sibuk, namun pikiran tersebut tidak dapat menyurutkan keinginannya, hingga tanpa pikir panjang ia kembali mencoba dan terus-menerus mencoba, sampai di panggilan kelima barulah tersambung.


"Iyaa hallo A__,"


Belum selesai orang diseberang sana berucap, ia langsung menyambar dengan sebuah pertanyaan.


"Shaa, kamu beneran gak pernah liat Geonevan sebelumnya?"


"Maksudnya?"


"Ck! itu maksud aku..., kamu ingatkan waktu aku bilang kayaknya pernah liat dia, dan ternyata emang bener Sha, aku pernah ketemu Geonevan! Bahkan saat itu kamu juga ada di sana! Masak kamu lupa? dia laki-laki yang udah bantu kita! Yaa meskipun waktu itu dia pakek jas hujan tapi aku yakin betul itu dia, dari mata dan suaranya juga sama, dan terlebih lagi saat aku lihat muka temannya yang waktu itu juga sama dia, dan sekarang pas ketemu kembali aku jadi ingat semua!" dengan kecepatan penuh Anggi menuturkan segala keluh-kesahnya.


"Stop ngurusin hidup gue!"


"Kisah cinta lo terlalu menarik untuk gue lewatkan! Mmhh jika sekarang lo di posisi sulit untuk memilih, maka ambil keduanya! Cinta datang dan pergi itu biasa, selama lo merasa tertarik ya jalanin."


"Gue bukan lo, yang terlihat murahan dengan berganti-ganti pasangan! Lo anggap biasa bukan berarti gue juga sama!"


"Hidup lo kaku Van! Tapi gue yakin setelah lo nyoba, lo juga bakal ketagihan! Jangan mengikat diri dengan satu hubungan, karena bosan kapan saja bisa datang!" tandas Guilio, "dan yaa..., bahkan dengan kejadian itu lo masiiiiih... aja menyimpulkan sesuatu berdasarkan pemikiran yang lo anggap benar! Saat itu juga sama, lo begitu yakin jika dia bakal jadi milik lo tapi sekarang apa? Nothing! Dia matre kan?"


"Jaga ucapan lo!" bentak Nevan dengan nafas memburu.


Bukannya ciut, Guilio malah semakin tertantang, "Terus alasan lo mundur apa? Bener karena Kakek? Wahh parah! ini bisa dibilang kemakan omongan sendiri gak? Atau rasa percaya diri yang terlalu berlebihan hingga sekarang lo sendiri jadi menghindar bahkan pura-pura lupa? Nyeraaaah...?" ucapnya yang semakin menyulut emosi, "Maaf untuk perkataan ini Van, tapi lo cemen! Meskipun gue suka gonta-ganti cewek, tapi seenggaknya gue gak pernah menutupi diri untuk menyatakan cinta, dan bahkan gue gak segan-segan untuk memberontak!"


Nevan menelan ludah, sambil menahan amarah, ini bukan waktunya ia marah-marah, pikirnya lebih baik ia segera memperbaiki semua, hingga berjalan sesuai rencana, "Terkadang pemikiran gue memang seperti bumerang, dan terakhir kali gue terhasut, bahkan sampai sekarang gue menyesali itu!" tegasnya, "cinta seperti apa yang lo rasakan hingga dengan mudahnya lo bisa menyatakannya? Bahkan dengan siapapun? Ck! Gue tidak sesampah itu untuk menyakiti perasaan wanita! Karena sekali gue meyakini cinta, maka sampai mati-matian pun akan gue perjuangkan!"


Guilio memperlihatkan senyuman mengejeknya, "Terus..., sekarang lo anggap diri lo paling benar? Heiii Nevan... jika lo mencintai tunangan lo, terus reaksi tadi itu apa? Lo juga masih mencintai wanita itu kan? Wanita yang dengan sembunyi-sembunyi selalu lo temui di akhir pekan? Jika ia maka apa bedanya lo sama gue? Sini situ mau! Yang katanya menjaga tapi malah serakah juga! Mata lo gak bisa bohong Van, lo menginginkan mereka sama besarnya!"


"Gak perlu banyak omong! cukup jadi penonton dan lihat hasil akhirnya!" sergah Nevan.


"Ohhh..., berakhir lo nikahi keduanya?"


"Satu ba.gsat!"


"Mending gak usah nikah lo, kalau perasaan aja masih bimbang!"


"Gak usah sok tahu lo!"


"Udahlah jaman sekarang hubungan terbuka itu biasa! Lo bisa ambil keduanya, gak perlu pernikahan! Lagian ngapain percaya sama hubungan kayak gitu! Mengekang seseorang! Gue percaya cinta tapi tidak dengan mengikatnya dalam hubungan pernikahan! Berpikirlah seperti gue Van! orang kayak kita perlu kebebasan dan itu mudah di dapatkan!" seakan tak lelah, Guilio terus mencecar Nevan dengan keyakinannya.


"Simpan keyakinan lo untuk diri lo sendiri!" Pungkas Nevan lalu beranjak pergi tanpa mencicipi makanan yang sudah tersuguh memenuhi meja.


"Woiii ini makanan sebanyak ini lo tinggalin gitu aja? Woii Nevan..., setidaknya bantuin gue! wooiiiiii...."


Dengan perasaan kesal Nevan memasuki mobil, ia sampai memukul-mukul stir kemudi, "Sial!Sial! Sial! andai saja gue gak menyimpulkan semuanya begitu cepat! Maka semua gak akan seperti ini! Gue gak akan menyakiti Shasyania dengan kebodohan gue! Sial!" sekelebat ingatan tentang omongan-omongan saat ia baru datang dari Paris mulai terngiang-ngiang kembali.


"Tahu gak, sepertinya ini skenario yang udah mereka rencanakan deh! kalian ingat kan pertamakali supir itu datang, bahkan kita yang udah berpuluh-puluh tahun kerja di sini gak pernah tuh dapet kepercayaan dari Tuan besar, tapi dia baru juga beberapa tahun udah jadi kesayangan, dan sekarang setelah mati, bahkan kita harus menyambut keluarganya yang sebentar lagi di jamu makan malam. OKB mereka, apalagi katanya ya..., istri si sopir minta setengah harta keluarga Eldione, dan karena Tuan besar merasa bersalah jadi menerimanya gitu aja, dan yang paling parah Tuan Deron pun sampai di coret dari harta waris, karena haknya udah berganti jadi milik istri si sopir! Bener-bener tipu daya ini!"


Dan sekarang Nevan menyesali perkataannya yang sempat ia lontarkan pada Zivana, saat dirinya mengatakan jika takut Kakeknya juga ikut tertipu paras Shasyania, yang artinya sebelumnya dia juga pernah menaruh hati, namun sayangnya kata tertipu itu malah semakin ia sesali saat ini, ketika sadar jika itu hanya sebuah kesalahpahaman yang kali ini berujung penyesalan. (ada di akhir eps14)


"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Gue terlalu larut dengan kekecewaan, takut akan dimanfaatkan sampai gue terhasut hingga berpikir yang tidak-tidak tentangnya! Tapi...tapi gue akan perbaiki semua ini..., Gue akan kembali memberikan kisah cinta seperti yang lo inginkan Shasya! Tempat, cara, dan semuanya, gue akan lakukan seperti yang lo impi-impikan, dan sampai musim dingin di kota Paris tiba, tetaplah di sisi gue!" Nevan asik bermonolog, dengan beribu-ribu penyesalan.


Kisah cinta pertama Nevan memang hilang dan hanya menyisakan luka yang masih terkenang, namun untuk yang kedua ia bertekad untuk mempertahannya, dengan usaha yang akan ia lakukan untuk memperbaiki segala sesuatu yang sempat retak.