Mine ?

Mine ?
110 : Salah memilih target



Perputaran waktu berjalan sesuai porosnya, namun entah kenapa siang dan malam terasa begitu cepat berlalu, hingga tibalah di akhir pekan pada sore hari, di mana sudah ditentukan jika kemah bakti dilangsungkan hari ini.



Dan kini deretan bus sudah memenuhi area parkir SMA GUARDIANS, dan terlihat para sopir telah bergegas menyalakan mesin kendaraan mereka, lalu bersiap menyambut para murid, untuk mereka antar menuju ke kota B.


"Sha, lo sendirian kan? Duduk sama gue aja gimana? Ririn sama si Andri tuh!"


Shasyania yang sedang memasukkan sebuah senter kedalam tasnya pun menoleh, mengarahkan pandangannya ke sumber suara, "Iyaa Nit, kamu sama aku aja! Aku ngerti kok, memang enggak enak kalau jadi obat nyamuk, kasian hati kamu ahahaha!"


Nita merasa tersindir, hingga menyipitkan matanya, seraya menyenggol pinggang Shasyania, "Ohhh... jadi mainnya gitu nih? Tahu-tahu yang udah gak jomblo!" tekannya di kata terakhir, saat ia masih menjadi bahan tertawaan Shasyania.


"Hehe maaf-maaf, tapi bener kan? sakitnya itu menusuk ahaha!"


"Ihhhh Shasya! gue nggak akan maafin lo! sebelum lo cariin gue pasangan! Titik gak pakek koma, tapi kalau tanda seru, yaaa... bolehlah karena itukan artinya perintah ahaha...," guraunya, "ehh iyaa, Geonevan beneran lagi di luar Negeri kan Sha?"


"Iyaa Nit."


"Berarti lo kesepian dong uwaahaha! BTW enak yaa.. jadi orang kaya yang berpengaruh di sekolahan, libur pun gak masalah! Tapi Geonevan anak yang pintar sih, jadi gak mungkin juga dia bakal ketinggalan pelajaran!"


"Umhh itu pujian berkedok sindiran ya?" selidik Shasyania yang langsung memancing keringat dingin dari dahi seorang Nita.


"Husssst, enggaklah! Tadi itu cu...cuma."


"Santai Nitaaa, santai... tarik nafas lalu keluar perlahan, aku bercanda kok! Serius banget muka tegangnya!"


"Issssst, gitu yaa sekarang? Candaannya bikin orang tegang! Dasar calon nyonya Eldione!"


Gelak tawa mengiringi perjalanan tersebut, hingga tak terasa arah jarum jam terus berputar kearah kanan, dan kini senja menyambut kedatangan mereka di balik celah-celah pepohonan rindang yang terdapat di kawasan kaki gunung X, tempat para anggota Pramuka bermalam.


Dan berjarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri sekarang, terlihat seorang panitia telah memberi instruksi agar semua berbaris sesuai gugus yang sudah ditentukan sebelumnya, dan di team merah, Ririn lah yang menjadi ketua.


Hingga rangkaian acara telah diumumkan, kini semua anggota kembali dengan tugas awal mereka, yakni membangun tenda.


"Sha, handphone lo bunyi nih!" teriak Nita yang kebetulan berada di dalam tenda, lalu gadis itupun keluar seraya membawa smartphone milik Shasyania.


"Oh, Makasi ya Nit, mhh.. aku permisi sebentar yaa," pamitnya, sambil menggeser tombol berwarna hijau.


Akibat akses jaringan yang kurang memadai, hingga membuat Shasyania harus berjalan menjauh untuk mendapat sinyal yang lebih baik, maka dari itu kakinya terus berayun menyisir daerah tersebut.


"Hallo kak Ningrum?"


"Hallo Sha, kamu sudah sampai kan?"


"Iyaa kak, sekitar tiga puluh menit yang lalu, kenapa kak?"


"Shasya, mobil kakak tiba-tiba mengalami masalah di jalan, kemungkinan kakak sampai di sana sekitar setengah jam lagi, kamu jaga diri ya! jangan sampai berpencar dari temen-temen kamu!! Dan yang paling penting jangan sendirian!"


"Kakak ngikutin aku?"


"Iyaa Shaa, karena itu sudah menjadi tugas kakak, tapi sekarang kakak sedang mengalami kendala, kamu jaga diri yaa?"


"Iyaa kak, tentu!"


Panggilan itu masih berlangsung, dan tanpa disadari jika beberapa meter dari tempat Shasyania berdiri, telah terdapat sepuluh orang anak remaja yang tengah mengintai keadaannya, dan menunggu gadis itu untuk lengah.


"Wow... tampaknya dewi Fortuna tengah memihak pada kita Jav!" seru Lucky.


Javier mengangguk sinis, dengan netra mata masih mengunci kearah Shasyania, "Lucky!"


"Yaps?"


"Nanti lo harus rekam... sampai mukanya kelihatan! lalu kirim ke Gemmi, gue mau liat reaksi dia kek gimana! Dan untuk lo... lo... lo dan lo, awasi keadaan sekitar, jangan sampai ada yang memergoki aksi kita! Terus selebihnya lagi.. kalian bekap cewek itu dari belakang! Mengerti?"


Semua anggota geng Trigger mengangguk paham, dan bersiap untuk memulai eksekusinya, "Tentu saja ketua!" seru mereka bersamaan diselingi gelak tawa, hingga empat orang lainnya sudah melancarkan aksi mereka dengan mengendap-endap kearah Shasyania, hingga gadis itu berbalik badan dan.


"Hppppptssss!"


Javier menyeringai senang bersama kepalan tangan berayun keatas, lalu ia mengintruksikan sesuatu pada anggotanya, "Jalan! bawa dia ketengah hutan!"


"Eeemmts...emmmmttsss!"


Mendapat serangan dadakan tersebut membuat Shasyania memberontak, namun apa daya, empat laki-laki sudah mengepungnya dari segala sisi, hingga dengan sangat mudah mereka menarik tubuh itu menjauh.


"Jav! handphone tuh cewek jatuh!"


"Bawa sini!"


"Ini kita jalan terus... apa gimana nih Jav? Depan kita udah tanjakan tuh!"


Javier memicingkan matanya mencari tempat yang dirasanya strategis, hingga berkata, "Sampai pohon besar itu aja! Cepetan!" titahnya.



Di saat suara gelak tawa mulai membengkakkan telinga, di saat itu pula Shasyania merasa kembali pada masa-masa mencekam yang pernah hadir dalam hidupnya, rasa gelisah, dan juga takut menjadi satu, arah jarum jam seakan ditarik mudur, hingga membuat posisinya kembali berada pada titik itu.


"Jav...Jav! ini gimana nih?"


"Kenapa Jav? cantik banget ya? gue juga terhipnotis tadi. Habis ini foto bareng boleh kali...," ucap Roy.


"Diem lo!" sergah Javier, lalu pandangannya kembali melirik kearah Shasyania, "heeii..., jangan takut gitu dong cantik! kami gak ada niatan jahat kok!! Nama lo Shasyania kan? iya kan? Cantik banget sih lo! buat gue seketika jatuh hati! Dan gue serius tadi... bahkan seribu riusss! kami gak bakal ngapa-ngapain lo, janji!! betul kan teman-teman?" ia bertanya pada anggotanya yang lain, untuk mendapatkan pembenaran.


"Shasyania... kita itu cuma mau main petak umpet, dan bergabungnya lo di sini akan membuat suasana tambah seronok!!! Seperti yang sering dikatakan dua bocah gundul di kartun kesukaan gue, yakni... betul,betul,betul!!!"


"Tuh.. lo denger sendiri kan? Jadi jangan takut! Kita ini cinta damaaaai.... Peace love and... sloooow motion!!! tapi kadang-kadang kita emang sedikit ekstrim sih ahaha!! Etssss, kembali lagi ke topik! yang mau gue lakuin sekarang adalah.. gue hanya mau merekam kejadian ini.... Dan biar tambah menyakinkan lagi maka, BOOOOMMM! kita perlu bukti untuk itu semua.. jadi di sini lo akan bereaksi seolah-olah lo tengah di culik oleh komplotan laki-laki terkuat di muka bumi! Biar pahlawan kesiangan lo si Gemmi...  Si sok kuat itu, akan kenapasan hingga tanpa pikir panjang langsung menyerahkan wilayah kekuasaannya pada geng gue! TRIGGER!!! Sampek situ lo ngerti kan.. sama tujuan kami?"


Shasyania tidak mau percaya begitu saja, apapun bisa terjadi di keadaan seperti ini, hingga membuatnya harus tetap waspada dan terus berpikir jernih untuk menunggu celah meloloskan diri, sampai.


"Jav, ada kendala nih! penyimpanan di handphone gue penuh! gak bisa ngerekam!!!"


Javier melengos sebal, "Sial.n lo, di keadaan seperti ini bisa-bisanya handphone butut lo kumat lagi! Apa semua harus punya gue hah? Br.ngs.k!" umpatnya, "heh Maxi! handphone gue ada di lo kan? Sini bawa!"


"Enggak ada Jav, bukannya tadi pas di mobil udah gue serahin ke lo!"


Di saat mereka berdebat, maka di saat itu pula empat orang yang tengah menjaga Shasyania ikut lengah, mereka sibuk merogoh kantong celana untuk mencari dimana gerangan handphone milik ketuanya berada, sampai tidak ada satupun diantara mereka yang menyadari jika gadis itu telah bangun, dan bersiap menjauh dari jangkauan geng Trigger.


"Weehh, dia di mana wehh, kok gak ada?" sentak Roy.


"DASAR GAK BECUS KALIAN SEMUA! Apa yang kalian lakukan hah? Kenapa dia bisa kabur?"


Mereka panik bukan kepalang, ditambah lagi ini adalah kawasan hutan, karena sejauh mata memandang hanya ada pepohonan lebat dengan ranting-ranting menjuntai, dan sialnya lagi hari menjadi semakin gelap, hingga jejak Shasyania lenyap begitu saja.


Dan hilangnya Shasyania sudah mulai disadari oleh rekan setimnya, mereka berpencar mencari gadis itu, sampai dipertengahan jalan mereka bertemu dengan geng Trigger.


"WOI JAVIER! LO NGAPAIN DI SINI?" sungut Nita, sembari menunjuk-nunjuk kearah laki-laki itu, dan kecurigaannya semakin menjadi-jadi tatkala melihat handphone Shasyania yang berada di genggaman tangan Javier.


"LO BAWA KEMANA SHASYANIA HAH? BURUAN JAWAB! JIKA LO MASIH DIAM AJA, MAKA SEKARANG JUGA GUE LAPORIN LO BERSAMA GENG BUSUK LO KE POLISI!"


"Jaga ucapan lo!"


"APA HAH APA? JANGAN PIKIR GUE TAKUT SAMA LO! LO PASTI KENAL KAN SAMA KETUA GENG VENOM? DARWIS QIOLIN? DIA ITU ABANG GUE! MAKA DARI ITU GUE TAHU BETUL TRACK RECORD GENG-GENG AN MACAM KALIAN! DAN ANCAMAN GUE YANG TADI GAK MAIN-MAIN! MENDEKAM LAH KALIAN DIBALIK JERUJI BESI!"


"Iyaa benar, awalnya cewek itu memang ada sama kita! Tapi sekarang dia pergi entah kemana! Hilang! ini kami juga lagi nyariin, sat!"


"Apa... Shasyania hilang?" tekan Ririn, "Nit, gimana nih? apa kita harus laporin kejadian ini sama Geonevan?"


Geng Trigger seketika tercekat mendengar nama itu disebutkan, terlebih lagi Javier, matanya langsung terbelalak kaget, dengan nafas memburu, "Jangan... jangan sampai ada yang berani sangkut-pautkan masalah ini sama Geonevan! Gue akan cari gadis itu sekarang juga, sampai ketemu!"


Nita membaca raut ketakutan dari anggota geng itu, hingga langsung memperlihatkan tatapan mencela, seraya berjalan mendekat kearah Javier, "Ohhh, jadi lo gak berani sama Geonevan? Lo takut berurusan sama dia? apa karena... lo udah pernah merasakan keganasannya kayak apa? Iyakan?"


"Jangan sebut nama itu lagi bre.gs.k! Sekarang juga, gue akan cari tuh pacarnya si Gemmi!"


"Wah... wah pacar Gemmi lo bilang? Heh! ck..ck..ck!" Nita berdecak bibir, sembari menepuk bahu Javier.


Puk!


.


.


Puk!


Dua tepukan itu membuat Javier semakin kelabakan untuk menunggu ucapan Nita selanjutnya, "Bersiaplah kalian menerima amukan seorang Geonevan, karena asal kalian tahu... Shasyania itu adalah tunangannya, gadis yang sangat ia cintai! Dan terakhir kali ada orang yang menyebutkan jika Shasyania itu milik Gemmi, Geonevan langsung murka dan mengancam akan meratakan mereka, jadi... bisa kalian bayangkan sendiri kan? Seperti apa nasib kalian kedepannya!"


Bak raga tanpa tulang, Javier langsung terperosok menyentuh tanah, gelengan di kepalanya menandakan betapa hebatnya guncangan yang tengah ia rasakan saat ini, tubuhnya pun mulai bergetar hebat, ketika membayangkan kemungkinan terburuk yang akan menimpa dirinya dan juga keluarganya.


"CARI DIA! CARI DIA!!! CARI DIA SEKARANG!!!"


"Woi gak bisa Jav! sekarang itu situasinya udah semakin gelap, kita hubungi bala bantuan! Lo gak boleh gegabah! lo juga pasti gak mau kan.. kalau sampai kita mati mengenaskan di dalam hutan?"



"HEEEH TOLOL!!! APA BEDANYA MATI DI HUTAN, SAMA MATI DI TANGAN GEONEVAN? ITU SAMA AJA MENGERIKANNYA BAN.SAT!"


Pertikaian menjadi semakin memanas dengan berbagai asumsi yang saling beradu, hingga tanpa mereka sadari jika orang yang mereka takuti ternyata sudah berada di tempat yang sama.


Yaa Geonevan, laki-laki itu telah mendengar berita hilangnya Shasyania, sampai lantas membuatnya bergegas menuju ketengah hutan, niat hati ingin memberi kejutan namun siapa sangka justru dirinyalah yang dikejutkan, hingga urat-urat di tubuhnya terlihat ketika amarahnya semakin memuncak.


Langkah kaki itu terdengar mengintimidasi, bagi setiap mata yang memandangnya segan, "Gue baru saja turun dari mobil, dan panitia bilang katanya Shasyania belum balik-balik juga ke tenda, terus di sini kalian asik berdebat tanpa bergerak mencari tunangan gue! APA KALIAN BERCANDA HAAAH?"


Javier gemetar, ia mulai merangkak untuk menyentuh kaki Nevan, "Tu..tu..tunggu ...gu..gu..gue bi...bi..bisa je__,"


PRAAAAK!


Tendangan begitu keras langsung mendarat tepat di bagian pinggang Javier, lalu tangan Nevan bergerak cepat untuk mencengkram kerah baju laki-laki yang sudah mengeluarkan darah dari dalam mulutnya itu, "Ke mana arah larinya?"


"Gu..gu...gue gak tahu...."


Nevan berdiri tegap, lantas bergegas merampas senter dari dalam genggaman tangan Ririn, ia memperhatikan sekelilingnya dengan cermat, membuatnya langsung menyadari ketika melihat tanah lembab dan semak-semak belukar yang terlihat baru saja di pijak menuju kearah puncak, hingga kakinya berayun cepat, sambil menelpon BLACK AS pasukan elit milik keluarganya.


"HUGO! kerahkan helikopter dan semua pasukan untuk menyisir daerah gunung X! SEKARANG!!!"