Mine ?

Mine ?
10 : Berkat atau Petaka?



Aura yang terpancar dari dalam diri Shasyania mampu membuat seisi kelas menatap takjub dan sejauh mata memandang semua perhatian hanya tertuju pada gadis menawan yang sedang berdiri di depan kelas tersebut.


"Si...silahkan perkenalkan diri!" Bahkan Pak Gunar pun seakan terhipnotis, hingga nada bicaranya sedikit terbata-bata.


Shasyania mengangguk patuh seraya tersenyum hangat, "Haiii perke__"


Ucapannya terpotong, ketika riuh suara mulai bergema berlomba-lomba untuk menyapanya.


"Haiiiii!"


"Haiii..? iya kamu! sosok menawan yang mampu mencuri sadar ku..., Pokoknya i love you full!!!"


"Haii jugaa cantiiiik!"


"Mari kita berteman!"


"Udah boleh bilang cinta belum?"


"Haii... untuk kamu yang sedang berdiri di depan sana!"


"Haii... masa depanku!"


"Curang nih kamu! buat kejutan gak bilang-bilang!"


"Cerminan Ibu dari anak-anakku!"


"Itu Zia ya?"


"Kenapa kamu sekolah? bukannya jagain anak-anak kita!"


Tidak lagi sunyi, sekarang semua bergerak aktif berusaha mencuri perhatian Shasyania.


"Murid-murid tenang! biarkan dia memperkenalkan diri! jika kalian masih ribut maka Bapak tidak akan segan-segan untuk membawa kalian ke ruang BK!" ancam Pak Gunar, namun tetap saja suasana ricuh itu seakan tidak dapat dibendung.


"Anj.rrr cantik banget!"


"Dewi sedang memperlihatkan rupanya!"


"Kelas kita terberkati!"


"Indahnyaaaa...."


"Terpesona... ku pada pandangan pertama...."


"Ini nihhh! yang namanya malaikat tanpa sayap!"


"I n g a t k a h engkau kepada__,"


"Dia my angel and my queen?"


"Iya bener dia my angel and my queen!"


"Bralinzhea!!!"


"Gak...gak! Gak kuat! gak...gak! Gak kuat! Aku gak kuat!"


"Rela tiyang relaaaaa!!!"


"Sumpah gue bakal semangat banget sekolah! terimakasih Tuhan! Engkau telah menurunkan dia untuk mengisi hari-hariku yang kelabu!"


"Akhirnya ada dewi di kelas kita! biarkan dia membungkam cabe-cabean yang sok cantik di ruangan ini!"


"Ini baru namanya luar biasaaah!"


Bisikan-bisikan itu terdengar seperti suara lalat yang mengitari telinga. Tidak jelas namun memberi efek mendengung di indra pendengaran manusia, khususnya bagi orang-orang yang merasa terganggu, hingga Pak Gunar tiada henti memukul papan tulis untuk memperingati anak-anak kelas XI IPA 1.


"Yasudah-sudah kalau begitu kamu saja yang keluar Nak! Bapak akan mengurus kepindahan mu dari kelas ini!" ujar Pak Gunar.


Tampaknya ancaman kali ini sedikit berhasil meredam suara berisik tersebut, namun baru saja akan bernafas lega, tiba-tiba kembali ada gempuran suara tidak terima.


"Lah! enggak bisa gitu dong Pak! dia itukan udah masuk kelas kita, enggak bisa keluar begitu saja dong! Di kira ini kelas persinggahan apa!"


"Iya...! kita tidak terima jika dia sampai pindah kelas!"


"Jangan usir malaikat kelas ini!"


"Betul Pak! betul! kelas ini akan gerhana jika dia pindah!"


"Turunkan petisi!"


"Boikot si Gunar...." ini adalah bisikan yang berasal dari mulut Dino.


Kebisingan mulai semakin ricuh menggelegar, hingga Pak Gunar berdecak pinggang, "Ya... dia akan pindah jika kalian tidak berhenti ribut! makanya diam! Atau mau tidak mau Bapak akan tetap memindahkannya dari kelas ini!" ancamnya sekali lagi.


Kelas pun seketika sunyi, tidak ada lagi suara ataupun bisikan halus.


Bahkan Guru itu sampai menurunkan kaca matanya, untuk menelisik barang kali ada siswanya yang kembali berulah, sampai di rasa situasi mulai terkendali, ia langsung berkata, "Silahkan lanjutkan Nak," pinta Pak Gunar kepada Shasyania.


"Perkenalkan nama saya Dinesclara Shasyania, sa__," tangan Pak Gunar kembali mengisyaratkan agar gadis itu sejenak diam, karena ia menyadari beberapa siswa ingin kembali bersuara.


Kini tatapan matanya menyelidik tajam, sampai kondisi kembali kondusif barulah ia bersuara, "Lanjut!" titahnya.


"Saya biasa di panggil Shasya, saya pindahan dari SMA MERPATI, dan semoga kehadiran saya bisa diterima di kelas ini, Terimakasih."


Suara tepuk tangan bergema layaknya sebuah konser megah. Antusiasme tinggi di perlihatkan oleh sejumlah siswa di dalam ruangan tersebut.


"Nahh... sekarang silahkan bertanya jika kalian memiliki pertanyaan untuk Shasyania," ujar Pak Gunar memberi izin.


"Shasya kamu tinggal di mana?"


"Tidak usah khawatir Shasya... kamu selalu di terima di hati abang!"


"Tresna ganti mati! Don't worry be happy Shasyania!"


"Udah punya ayang belum?"


"Nomor telepon berapa Shasya?"


"BE CAREFUL SHASYANIA, DI SINI BANYAK BUAYA BUNTING..., EHHH BUNTUNG!" Teriakan dari siswi bernama Nita itu langsung membuatnya menjadi objek kekesalan bagi sejumlah siswa.


"Shasya, jadi temanku ya?"


"Shasya lihat aku!"


"Warna kesukaan kamu apa Shasya?"


"Tanggal lahir?"


"Shasya jangan sering PMS kayak perempuan lain yaaa!"


"Shasya... apa kamu tulang rusukku?"


"Kok baru kelihatan? dari dulu nyasar ke mana aja Shasya?"


"Aku tidak tahu apa yang kamu suka, tapi percayalah yang aku suka itu kamu!"


"Ehh...eh lo pindah gih! gue mau duduk sama Shasya, lo pindah ke belakang buruan!" bahkan seorang siswa terlihat mengusir teman sebangkunya, untuk menjalankan misi berdekatan dengan Shasyania


Dan tidak hanya para siswa, para siswi pun tidak mau kalah untuk ikut berbisik-bisik.


"Dia pasti orang kaya nih! masak masuk kelas bisa selambat gini dan gak di hukum pula!"


"Iya...ya gue rasa juga gitu! dan mukanya aja bersinar banget... mmhh jadi insecure deh!"


Hampir satu jam bagi Shasyania untuk menjawab segala macam pertanyaan, dan semua tidak akan ada habisnya jika Pak Gunar tidak segera memberi peringatan.


"Lah...lah kok bareng Geonevan?"


"Pak Gunar tahu aja di mana letak barang bagus!"


Murid yang lain sibuk berbisik, namun lain halnya dengan dua orang manusia yang terlihat saling mengunci pandangan dengan isi pikiran masing-masing.


Tatapan mereka kembali bertemu. Sejujurnya sangat sulit untuk Shasyania melangkah, namun sebisa mungkin ia bersikap biasa saja, karena ia tidak mungkin membantah apalagi yang memberi perintah adalah seorang Guru.


Tanpa basa-basi Shasyania langsung mendaratkan bokongnya di sebelah Geonevan, ia tak ingin menyapa begitupula dengan laki-laki di sampingnya yang tetap memasang wajah acuh tak acuh.


Berbeda dengan murid lainnya, mereka langsung memperlihatkan raut kecewa kerena jelas mereka merasa tersaingi akan situasi tersebut, namun ada juga yang mengatakan jika Geonevan dan juga Shasyania begitu serasi dan layak untuk bersanding.


Dan di sini, seorang Dariel termasuk dalam golongan kecewa, ia sampai memukul-mukul paha menandakan rasa tidak terima. Eron yang menyaksikan dari samping paham betul, jika sahabatnya tengah diliputi rasa kesal.


"Ron! gue jadi semakin yakin buat nerusin taruhan kita!" bisik Dariel sembari menatap Eron penuh keyakinan.


"Iya... gue tahu semangat lo makin bertambah tapi gue juga jadi semakin yakin jika lo akan kalah!" Sindiran Eron itu langsung mendapat tatapan mendelik dari pancaran mata Dariel.


"Maksud lo apa?"


Eron tersenyum tipis, "Obyek yang lo incar sekarang kelasnya beda Riel! auranya begitu bersinar dan lo harus liat tuh...," Eron menggunakan dagunya untuk mengisyaratkan agar Dariel melihat kearah yang ia maksud, "saingan lo si Nevan!" pungkasnya.


"Tahu darimana lo? Memangnya si Nevan tertarik?"


Eron diam dengan senyum yang terlihat menjengkelkan di mata Dariel, hingga laki-laki itu kembali melayangkan kekesalannya, "Lo kira semua cewek mandang fisik? dan lo harus sadar gue juga gak sejelek itu sampai harus di pandang sebelah mata!" cetusnya kesal.


Niat Eron bercanda namun kali ini Dariel ternyata tersulut emosinya, hingga menanggapi guraunya begitu serius.


"Baiklah kita lihat saja nanti!" tegasnya.


.


.


.


"Asik nih jam pelajaran tinggal bentar lagi! semua berkat murid baru itu... dia seperti malaikat penyelamat dikala siksaan Pak Gunar!" puji syukur selalu dipanjatkan oleh seorang gadis yang memang terkenal akan kemalasannya.


"Ayo waktu berputar lah lebih cepat!" dan ini merupakan harapan yang terlontar dari mulut si Baru.


Beberapa murid mungkin berpikir sama seperti Nita dan Baru, namun sayangnya Pak Gunar memiliki rencana terselubung. Ia tidak ingin semua berjalan mudah apalagi untuk mata pelajarannya.


"Sekarang juga tutup buku paket kalian! Dan keluarkan kertas lampiran! kita ulangan!!!"


Seperti raga tersambar petir,  beberapa murid tersentak kaget dan mulai meluncurkan protes dengan berbagai macam alasan.


"Loh...loh kok ulangan sih Pak?"


"Saya belum belajar Pak!"


"Saya belum minta restu orang tua Pak!"


"Jangan Pak! lagian waktunya gak akan cukup!"


Pak Gunar melipat tangan di depan dada, lalu dengan sengaja ia berjalan ke arah papan tulis dan berkata, "Kenapa tidak Dino? di sini yang jadi Guru itu siapa? Bapak atau kamu? dan dengar! Bapak hanya memberi lima buah soal, jadi waktunya akan sangat cukup untuk kalian mengerjakan soal!"


Hanya lima soal? Dengan entengnya seseorang yang di sebut sebagai pelita dalam kegelapan itu berucap, tapi di dalam Matematika satu buah soal bisa beranak-pinak menjadi tujuh keturunan, dan semua murid SMA GUARDIANS tahu bagaimana Pak Gunar membuat soal.


Terlebih lagi, semua akan terlihat jauh lebih baik-baik saja ketika hanya mereka yang tahu hasilnya, namun lagi-lagi Pak Gunar lebih cerdik memanfaatkan situasi, agar anak didiknya mau belajar, karena dia akan memberikan hasil ulangan itu kepada orang tua atau wali dari anak-anak didiknya tersebut.


Sempurna bukan? caranya begitu cerdas untuk membuat para murid ketar-ketir setiap kali mendengar kata ulangan darinya.


"Dan ya... untuk kamu Shasyania, apa di sekolah lamamu sudah sampai materi ini? jika belum maka Bapak akan memberikanmu kemudahan... kamu bisa menjawab sebisa yang kamu mampu, dan hasilnya tidak akan mempengaruhi nilai mingguan mu. Tapi ingat... cuma hari ini! selanjutnya kamu harus SKS! (sistem kebut semalam) paham?"


"Permisi Pak... Maaf sebelumnya, perkenalkan nama saya Jiana, dan saya juga murid baru di kelas ini, tapi saya tidak terlambat Pak!" jelas Jiana yang terdengar juga menyindir Shasyania.


"Ohh begitu... rupanya ada dua murid baru toh! baiklah, kalian berdua mendapat pengecualian!" ujar Pak Gunar seraya menganggukkan kepala, "dan untuk kalian para murid lama... silahkan kerjakan soalnya SEKARANG!!!"


.


.


.


"Sial...sial! pala gue tiba-tiba migren! beku kampret!!! Nih apaan lagi angka semua... gak ngerti gue!" keluh Nita yang terlihat berbisik ke teman sebangkunya, "Rin! kasih gue nyontek dong!" imbuhnya dengan nada memaksa.


"Ehhh... lo pikir otak gue encer? sampai bisa ngasih lo nyontek!"


"Terus, dari tadi gue liat lo nulis, itu ngapain cobak!"


"Gue nyalin materi kemarin somplak! Udah lo diem... Gue gampang emosian sekarang!"


"Emang soalnya sama? Mana-mana gue juga mau nyalin!"


"Anj.rrr! selain soal dari Pak Gunar lo juga bikin gue enek Nit! Gue nyalin ini biar kelihatan sibuk aja!"


"Gak guna lo!" sentak Nita, namun ia masih mengontrol suaranya.


Di sisi lainnya siswa yang bernama Dino juga tidak kalah kalang kabutnya. Mulutnya seperti ikan arwana dan kepalanya seperti burung hantu.


"Fffsssstt...ffsssssttt! Kasih nyontek dong! Gue sumpahin tuli beneran lo!"


"Riss lo ngitung?" tanya Megan. Ia semakin panik ketika pertanyaannya itu tidak di jawab oleh rekan sebangkunya, "Riss! Rissaa!!!" imbuhnya sembari membentur ujung siku Rissa.


Jrrrttttt!


"Awww!" Seperti tersetrum listrik, Rissa meringis kesakitan saat sikunya berdenyut-denyut kesemutan, "Apa-apaan sih lo Me!" kesalnya, "pala gue blank nih! gue gak tahu harus gimana lagi... Makanya gue sok-sokan ngitung!"


"Bener-bener dah nih si Pak Gunar! dia selalu bisa buat gue terancam dari KK!" keluh Megan.


Dari arah depan Pak Gunar yang melihat anak didiknya semakin bingung mulai usil untuk melancarkan aksi selanjutnya, "Wahh...wah! tiba-tiba suasana kelas ini jadi panas ya? banyak banget kepala yang mulai lepek karena keringat! lap gih... sebelum makin asin!" sindirnya, seraya mengitari setiap bangku.


"Ron kasih gue nyontek!" pinta Dariel.


"Sabar Riel... sabar, ini gue masih ngerjain!"


Berbeda dengan yang lainnya, Nevan justru terlihat lebih santai. Dan tampaknya ia juga sudah selesai hingga kepalanya otomatis melirik ke sisi kiri.


"Ck! baru di kasih kemudahan langsung diem aja... miris!" sindirnya ketus kepada Shasyania, namun gadis itu malah diam dengan mata menyelidik ke arah lembar jawaban Geonevan.


"Ehh.. mau nyontek lo? Big no!" sarkas Nevan.


Shasyania memutar bola matanya malas lalu, "Itu keliru tuh!"


"Heh!" sergah Nevan.


Seandainya ini adalah hari belajar biasa maka ketika waktu berjalan cepat pastinya itu merupakan hal paling digemari oleh para murid, namun lain halnya sekarang, mereka justru mengulur-ulur waktu, karena sosok Pak Gunar benar-benar seperti mimpi buruk bagi mereka yang tak mengerti akan segala bentuk uraian angka.


Hingga jam istirahat pun tiba, tapi tidak ada satupun murid yang meninggalkan kelas, kini semua berbeda, rasa lapar, haus, dan kangen ayang telah lenyap bersamaan dengan tatapan kosong dari sebagian besar penghuni kelas.


Syok terapi hari ini sungguh sukses menghancurkan mood mereka.


.


.


.


.


.


*Mhhhh sampai sini ada yang baca gak? kalau ada tolong tinggalkan jejaknya okeee😊*