Mine ?

Mine ?
74 : Di bawah taburan bintang



"SEPERTI TEMA ACARA KITA KALI INI, MAKA LAGU SELANJUTNYA AKAN LEBIH MENYENTUH HATI, DAN KEBETULAN JUGA PARA PENYANYINYA MERUPAKAN SEPASANG KEKASIH, JADI LANTUNAN LIRIKNYA AKAN LEBIH TERASA, BAGI KALIAN YANG BERSEDIA IKUT BERDANSA. DAN TANPA MEMBUANG-BUANG WAKTU LAGI, MARI IKUT BERGABUNG DI TENGAH-TENGAH KAMI, TUANGKAN RASA KALIAN DALAM NUANSA SOUNDTRACK LAGU ALADDIN, YANG BERJUDUL A WHOLE NEW WORLD!" Seorang pemandu acara bergelora mengajak para remaja untuk memeriahkan suasana, bahkan ia sampai turun dari atas panggung, untuk menghampiri siapa saja yang bersedia ikut bergabung.


"WAH-WAH, MALAM INI JUGA LEBIH SPESIAL, KARENA KAPTEN KITA JUGA DATANG BERSAMA PASANGANNYA, AKAN SERU JIKA MEREKA MAU MEMPERLIHATKAN KE UWU-UWU ANNNYA! SETUJU TIDAK?"


Suara-suara bergemuruh menyambut pertanyaan tersebut, mereka nampak lebih antusias apalagi kedua pasangan itu memang terlihat begitu memukau.


"Mau?" Tanya Nevan, seraya mengernyitkan alis.


"Tentu, karena kita menolak pun juga tidak bisa," sahut Shasyania, sambil memperhatikan tatapan-tatapan yang terus saja tertuju pada gerak-gerik mereka.


"INI DIA PRINCESS JASMINE, DAN THE ONE AND ONLY..., ALADDIN!" guraunya, menyambut kehadiran Geonevan dan juga Shasyania.


Berpegangan tangan dengan tatapan Nevan menghunus mengunci penglihatan Shasyania, ia mulai berbicara, "Saat pesta Dariel, aku cuma bisa menyaksikan mu berdansa, tapi kali ini...kau dan aku menjadi kita, dalam lantunan lagu yang akan membuatnya menjadi satu!" bisik Nevan tepat di telinga Shasyania.


Kletak!


Bergerak menjentikkan jari, hingga musik pun dimulai dengan harmoni yang begitu indah. Tangan kirinya bergerak merangkul pinggang ramping itu, dan tangannya yang lain memegang sebelah tangan Shasyania. Mereka bergerak menyempurnakan langkah, sesuai intro lagu yang menggema.


...I can show you the world...


...(Aku bisa menunjukkan padamu sebuah dunia)...


...Shining, shimmering, splendid...


...(Yang bersinar, berkilau, indah)...


...Tell me, princess, now when did...


...(Katakan, tuan putri, kapan)...


...You last let your heart decide?...


...(Terakhir kali hatimu memutuskan sesuatu?)...


Nevan menaikkan tangan kanannya, lalu melepas rangkulan di sisi kiri, dan gerakan tersebut membuat Shasyania mengerti bahwa ia akan segera memutar badan. Serasi, mereka begitu menikmati lagu diselingi canda tawa, sebelum Nevan kembali mengaitkan tangannya agar tubuh Shasyania semakin mendekat.


"Seperti waktu itu, bahkan mataku tidak bisa lepas darimu, tapi maaf, egoku terlalu tinggi untuk bereaksi jujur."


...I whole new world...


...(Sebuah dunia baru)...


...A dazzling place I never knew...


...(Tempat mempesona yang tak pernah kuketahui)...


...But when I'm way up here...


...(Tapi ketika aku berada di atas sini)...


...It's crystal clear...


...(Jelas sekali)...


...That now I'm in a whole new world with you...


...(Kalau sekarang aku berada di dunia yang baru bersamamu)...


Saat di pengujung lagu, di saat itu juga Nevan meletakkan kedua tangan Shasyania ke lehernya, dengan tangannya yang masih merangkul erat pinggang Shasyania, dahi mereka menyatu, sambil terus bergerak ke kanan dan ke kiri.


Beberapa orang sampai menggigit jari, menyaksikan sebuah drama percintaan yang menimbulkan rasa iri, dari hati sebagian kaum wanita yang turut hadir memeriahkan acara.


"Gila sih! gak nyangka gue Geonevan bisa seromantis itu. Astagaaa makin gemesss deh jadi pengan noel-noel pipinya uwaaaaaaaaaa!"


Tanpa berbicara, Nevan masih terus menatap dengan matanya yang menyiratkan sebuah arti, hingga Shasyania mulai bersuara, "Saat acara Dariel, kamu dansa sama siapa?"


"Enggak ada."


"Kenapa?"


"Gak minat."


"Kenapa bisa gak minat, pastinya banyak yang ngajak kan?"


"Kamunya enggak tuh!"


"Aku? mana mungkin!"


"Nah itu tahu!"


"Iya..., tapikan waktu itu kamu..., mmhh pokoknya emosian, kalau aku tiba-tiba dateng nawarin dansa, emang kamu mau?"


"Enggak sih."


"Isssss!"


"Aku kan jujur sayang..., kok ekspresinya cemberut gitu? yaa..., dulu memang enggak tapi sekarang iya...iya mau! Apapun aku mau asal itu kamu!"


Melihat Nevan terus mengerak-gerakkan kepala dengan mata berseri-seri membuat Shasyania malu, ingin ia tersenyum lebar namun terus ia tahan, dan Shasyania memilih untuk memeluk tubuh Nevan, agar dapat menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah.


Lalu seseorang yang sedari tadi membawa microphone mulai bersiap mengumumkan rentetan acara selanjutnya, "TIDAK TERASA YA SEKARANG KITA SUDAH TIBA DI PENGUJUNG ACARA, DAN MARI KITA HITUNG BERSAMA, SATU...DUA...TIGA!"


Lampu-lampu seketika padam, berselang beberapa menit dari kejadian itu, gemuruh suara kembang api meluncur ke atas langit, hingga menyita perhatian dari setiap mata yang memandangnya dengan binar kebahagiaan.


Cuuuuuuuuiiiiiiiiiiit!


.


.


.


DUAAARRRR!


DUAAARRRR!


Shasyania mendongakkan pandanganya ke atas, dan hal itu justru dimanfaatkan Nevan untuk mencium bibirnya sekilas.


CUP!


"Indahkan?"


"Iyaa...."


Gelapnya malam ini menambah kesan tersendiri, dari setiap warna kembang api yang terlihat berkejar-kejaran untuk menampakkan keindahannya yang tengah menghiasi langit.


"Sayang ayo...."


Nevan menuntun Shasyania menuju tempat yang sudah ia siapkan.


Rebahan di atas tikar dengan posisi sedikit condong ke bawah, dan Nevan menggunakan lengannya sebagai bantal empuk untuk dirinya dan juga Shasyania.


"Terus sekarang liatin ini aja?"


"Mmmh iya, ingin pulang?"


"Enggak-enggak, aku cuma nanya karena sekarang suasana lebih sunyi padahal di sekeliling kita masih banyak orang," jelas Shasyania, "tapi ini sangat tenang, sangat cocok untuk merenungkan diri," sambungnya yang mulai merasa nyaman.


"Mmmh..., yang lain ke sini membawa pasangannya, terus kamu sendirian? apa gak risih atau semacamnya? maksudku dulu,"


"Tidak, aku tidak memikirkan mereka. Aku ke sini dengan tujuanku sendiri, meskipun sepi, namun itu lebih baik ketimbang didampingi oleh seseorang yang malah membuatku semakin terganggu."


"Ia sih, dan...."


"Apa sayang? kamu bisa menanyakan apapun, jangan ragu," ucapnya, sembari mencium dahi Shasyania.


"Kenapa kamu enggak tertarik sama orang-orang yang mengejar kamu? apa karena standarmu yang terlalu tinggi? atau ini buah dari kisah cintamu yang rumit itu?" seloroh Shasyania.


Nevan mencubit pelan pipi Shasyania, sebelum menjawabnya, "Mmmh kenapa aku menolaknya, yang pertama jelas karena aku tidak suka! terus alasan lainnya seperti ini..., kamu tahu dari kecil aku selalu mendengar bahwa aku pasti akan mendapat sesuatu yang terbaik, entah dari segi materi, kecakapan, ataupun pendamping, semua seperti mengkotak-kotakkan seakan mereka tahu porsiku seperti apa, bahkan para sahabatku juga mengatakan hal sama, dan secara tidak langsung aku mulai melihat sesuatu dengan perbandingan, ini harus ini, dan itu harus itu." Nevan menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dan sebagai penerus, aku selalu diajarkan untuk berpikir kritis, sampai ada masa di mana aku menyimpulkan hidup itu perjuangan, perjuangan untuk mempertahankan atau mengejar sesuatu yang menguntungkan kita, dan itu membuatku egois hingga egoku semakin tinggi. Aku tahu tapi tetap saja sulit untukku merubahnya, bahkan sampai sekarang aku pun tidak mudah untuk percaya siapapun, terlebih lagi ketika aku ingat siapa keluargaku!"


"Dan kamu benar, kisahku sebelumnya juga mempengaruhiku, mmhh yang pertama rasa percaya diriku dibuat runtuh, dan yang kedua malah aku sendiri yang menghancurkannya," Shasyania tidak dapat melihat jelas ekspresi Nevan, karena minimnya pencahayaan di sana.


"Jika orang lain mendapat kesempatan untuk lebih dekat denganmu, apa itu juga bisa membuatmu seperti ini Geonevan?"


"Seperti ini bagaimana?"


"Yaa..., menawarkan jangka waktu, lalu perlahan-lahan sikapmu mulai berubah," suara Shasyania semakin rendah, bahkan di ujung kata nyaris terdengar berbisik.


Nevan setengah bangun, lalu bertumpu pada kedua siku untuk menahan bobotnya hingga berada tepat di atas Shasyania, "Tidak sayang..., tidak! untukmu berbeda, aku akan memperbaiki kesalahanku!" tangannya membelai lembut wajah Shasyania, lalu saat ia memegang rahang gadis itu, tiba-tiba saja sekelebat ingatan membuatnya kembali menghempaskan diri ke samping.


"Haaah!" Nevan membuang nafas gusar. Bahkan helaan nafasnya ini masih sama seperti saat ia mencengkram rahang Shasyania, meskipun tidak dengan teriakan ataupun mengacak-acak rambut (ada di eps 6)


Kedua tangan kokoh itu menarik Shasyania, agar berada dalam dekapannya, "Maaf, maaf..., karena aku pernah membuatmu takut."


"Iyaa..., kamu benar-benar menakutkan, mata ini, mulut ini, semua mengerikan."


"Bentuk pertahanan sayang, agar orang-orang berpikir dua kali untuk mendekatiku."


"Ohh... menarik juga!"


"Tentu!"


"Menarik untuk dicoba," gurau Shasyania.


"Apaa?" pekik Geonevan, dengan gerakan tangannya kembali bertumpu.


Bukannya menjawab Shasyania justru menutup wajah, lalu beberapa saat kemudian ia terdengar tertawa.


Melihat reaksi tersebut Geonevan dengan sengaja menggelitik Shasyania, hingga korbannya meminta ampun.


"Stop Geonevan, stop...hahaha, berhenti!"


"Masih berniat mencoba?"


Ujung mata Shasyania bahkan sampai berair akibat ulah tangan Nevan yang terlalu aktif, "Tida...ak...ti...tidak hahaha!"


"Katakan kamu milik siapa?"


"Mi...milik...Ibuku...hahaha!"


"Waahhh benar-benar yaa...."


"Sss...stop...haha," dengan sisa-sisa tenaga Shasyania berusaha menahan laju tangan Nevan, "cu...kup, pe...perutku seperti mati rasa hahaha!"


"Katakan dulu milik siapa?"


"Iyaa...iyaa mi...milik Geonevan!"


"Benarkah?"


"Iyaa...," Shasyania mulai bernafas lega, seraya mengelap-elap mata menggunakan punggung ibu jari, sebelum akhirnya mencubit pinggang Nevan.


Ia tahu Shasyania akan membalas, maka dari itu Nevan sudah mempersiapkan diri, lalu membalasnya dengan cara lain.


Cup!


"Aku juga sepenuhnya milikmu sayang..., jadi kedepannya jangan ragu untuk menanyakan apapun, atau menginginkan sesuatu, karena aku akan berusaha!"


"Ucapanmu terlalu manis."


"Apapun itu yang jelas aku serius sayang."


"Mmm baiklah, tapi Geonevan sepertinya akan turun hujan," ucapnya, di sela-sela pelukan yang semakin erat tersebut.


Nevan mengarahkan pandangan ke atas, dan benar saja bintang tak lagi bertaburan, malah sekarang gumpalan awan yang mengambil peranan untuk menyelimuti langit.


Sebelum tetesan hujan menyentuh tubuh, Nevan bergegas mengajak Shasyania untuk menuju mobil, namun saat berada di area parkir seseorang sudah menunggu mereka.


"Selamat malam Tuan Muda, Nona!" dua orang pengawal berucap sembari membungkuk badan.


"Kenapa kalian di sini?"


"Kami ditugaskan untuk menjemput Tuan Muda dan Nona."


"Aku bawa kendaraan."


"Iya Tuan Muda, tapi cuaca kali ini sangat berbahaya, terlebih lagi besok sekolah, Tuan Besar tidak ingin jika Tuan Muda dan Nona di hukum kembali."


"Baiklah-baiklah," atas dasar keselamatan Nevan mengikuti peraturan, dan mulai mengayunkan kaki menuju mobil lainnya.


Hingga kendaran roda empat itu berjejeran menyusuri jalanan, Nevan yang kali ini tidak memegang stir kemudi beralih menuju tangan Shasyania.


Asik menyaksikan pemandangan yang sempat ia lewatkan karena tertidur saat menuju puncak, kali ini Shasyania mengedarkan pandangannya menyaksikan hamparan kebun dari balik jendela kaca, "Bahkan Kakek tahu kamu suka ke sini Geonevan."


"Karena dia tahu ketenanganku, dan apa yang aku suka."


"Melihat taburan bintang."


"Betul sekali...."


"Ada sesuatu yang membuatmu menyukai ini? semacam alasan."


"Mhhh iyaa sebuah kenangan, tapi sekarang semua itu sudah berganti, dan saat aku melihat bintang maka kenangan bersamamu lah yang akan terlintas di pikiranku!" sahutnya, sembari mengangkat tubuh Shasyania untuk kembali berada dalam pangkuannya dengan posisi menyamping, "sayang, saat kita berdua, aku mau kamu selalu duduk seperti ini, aku senang jika bersentuhan denganmu!"


Bukannya menjawab Shasyania malah menunduk seketika, akibat kejujuran Nevan yang begitu menggelitik dalam indera pendengarannya.


"Oh yaa..., aku juga mau dengar cerita tentang orang-orang yang mendekatimu...."


.


.


.


.


.


*Kondisi drop, semangat drop, hingga berimbas pada imajinasi, maaf yaa upnya telat*