Mine ?

Mine ?
06 : Belenggu



Cahaya matahari mulai menyusup masuk, lalu terpantul ke lapisan kaca yang menjadi tembok kamar berdesain interior seolah-olah menyatu dengan alam, hingga nuansa menenangkan tersebut mampu menciptakan kesan alami yang dituangkan dari setiap celah sudut ruangan.


Begitu tenang dan nyaman sampai seorang remaja laki-laki masih betah bergulung nyenyak di dalam hangatnya selimut tebal berwarna putih, bahkan bisingnya suara alarm yang bergetar tidak mampu membangunkannya.


Namun sayang, kenyamanan tersebut akan segera sirna, saat terdengar suara pintu terbuka, lalu di susul dengan derap kaki mendekat, "Van bangun! Woii Nevan bangun!!! bangun lo... mau sampai kapan lo tidur mulu?" ucap lantang seorang Dariel, seraya mengguncang bahu Nevan.


Tidak hanya satu, bahkan ternyata ada dua sosok manusia yang siap mengusik ketentraman seorang Geonevan, ia tersenyum jahil lalu ikut memulai aksinya, "Yah... kelihatannya tadi malam dia habis ngitung bintang lagi tuh!" ujar Eron, sembari menunjuk atap plafon yang berada dia atas tempat tidur Nevan.


Dua laki-laki itu memang sering berkunjung, hingga masuk ke kamar tanpa izin sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Apalagi di kamar Nevan, yang mereka hapal kata sandinya.


"Wah iyaa!!! buruan tutup Ron! silau nih mata gue!" pinta Dariel, lalu pandangannya kembali terarah pada sosok yang masih terlentang di atas kasur, "weh Nevan bangun woiiii! kerjaan lo tiap malam ngitung bintang mulu ya? bangun napa, kita udah balik nih! mau oleh-oleh gak?" imbuhnya, yang masih berusaha membangunkan Nevan.


Dua sahabatnya juga tahu kesukaan yang sering dilakukan oleh Nevan, diam memandangi rasi bintang adalah kegiatan rutin yang sering Nevan lakukan, kadang mereka juga bertanya apa yang sebetulnya tengah laki-laki itu pikirkan, ketika ia begitu syahdu mengedarkan pandangan ke atas langit tanpa sepatah katapun.


Dan kembali lagi ke aksinya Dariel, yang kini usahanya mulai membuahkan hasil, Nevan terlihat menggeliat hingga mengerjapkan mata, "Berisik! pagi-pagi udah ribut! gak punya rumah lo pada?" ketus Nevan, yang mulai terganggu atas kehadiran kedua sahabatnya itu.


Lalu dengan sarkasnya ia bergerak merangkak ke sisi kasur, dan menyisir rambut tebalnya menggunakan jari, sambil mengumpulkan partikel-partikel nyawanya yang masih berkeliaran.


"Yaelah... Van! kita berdua ini udah sampai dari tadi malam kali! Dan apa... lo bilang ini pagi? Woiiii lihat tuh jam! ini udah jam sebelas KEBO!" tandas Eron.


"Sh.ttttt! gue kesiangan kampret!" pekik Nevan, yang langsung berlari menuju kamar mandi.


"Asik ngitung bintang sih!!! tapi ya... gue juga pengen sih bikin kamar kayak gini... adem banget sumpah!!! apalagi sambil bawa cewek! buuuiiihh mantap!"


"Dasar! pikiran lo itu ya... enggak pernah jauh-jauh dari yang namanya cewek!" tandas Eron.


Dariel menyunggingkan senyuman dan menanggapi ucapan sahabatnya dengan tawa renyah, "Ahahaha... wajar kali Ron, gue inikan normal! lo nya aja yang belum pernah pacaran! Jadi gak tau rasanya kek gimana...," sindirnya, yang sudah pasti menusuk mental seorang Freyeron, "lo tahu? ngobrol sama cewek secara eksklusif itu seru kali! makanya lo buruan cari pacar!!! mukak cakep itu di manfaatin... bukan sekedar di pajang doang CUPU!" imbuhnya kembali mengejek.


"Iya... di manfaatin biar kayak lo gitu? yang udah gak ori lagi!" gurau Eron, hingga langsung mendapat lemparan benda pipih yang mendarat tepat mengenai bahunya.


Pletak!


Nevan yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung dibuat kesal, ketika melihat tingkah laku kedua sahabatnya itu, "Woiiii! kalau mau lempar-lemparan jangan di kamar gue KAMPRET! awas aja yaa kalau tuh handphone buat lantai kayu gue sampai lecet! gue kulitin kalian berdua!!!" ancam Nevan.


"Iihh... babang Nevan sukanya marah-marah mulu deh!!! jadi atuuutt! Ceeereeem!" goda Dariel.


"Anj.r!!! cocok banget lo Riel gantiin si Marline!" ujar Eron, hingga membuat Nevan ikut terbahak-bahak dibuatnya.


"Mmmhh... Tunggu-tunggu mumpung ngomongin tentang Marline, sampai sekarang gue masih nunggu nih, kapan sih dia nyebar undangan sama Atom?" tanya usil Dariel.


"Bangs.t!!! lo kira Atom lengkong!" seru Nevan.


Eron menanggapi ucapan itu sedikit serius, alisnya mengernyit lalu tangannya meraih buah anggur yang sedari tadi nganggur di atas meja Nevan, "Emang lo pernah liat si Atom jalan sama cewek? enggak kan? Gue yakin seribu persen! waktu buat sekedar PDKT aja dia pasti gak punya!!!"


"Yaaaiyalaaah... orang dia tahunya cuma... iya Tuan! siap Tuan! baik Tuan!!!" kelakar Dariel, ia begitu senang membicarakan Atom, bahkan sikap tegap Atom tak luput dari ejekannya.


"Benar banget tuh!!! Gue jadi kasian sama si Marline pasti jablay dia!" gurau Eron, ia terus tertawa bahkan makanan di dalam mulutnya sampai muncrat ke luar.


"Nah... karena lo udah di tahap kasian sama tuh manusia setengah jadi! Gimana kalau lo aja yang apelin si Marline, lumayan tuh... masih ori dia," goda Nevan.


"Sial!!! lo pikir gue apaan njirrr?" jerit Eron, dan kini bantal di sisi kirinya menjadi senjata empuk untuknya menyerang Nevan.


Blak!


Blak!


"Sudah-sudah jangan bahas si be.cong lagi! takut kebawa mimpi gue!" canda Dariel, "oh yaa Van..., lo bilang punya mainan bar__,"


"Yaaa...yaa bener banget! buruan kasih tahu kita Van!" sela Eron, yang terlihat lebih bersemangat, "lo tahu... kita bela-belain balik awal juga karena itu!" imbuhnya.


"Sabar.... nanti juga kalian bakalan tahu sendiri, tunggu aja!" ujar Nevan, dengan senyum penuh arti menghiasi wajahnya.


"Kita enggak berhak atas ini Shasya, nanti biar Ibu aja yang balikin ke sana!" ucap Liliana pada putrinya.


Shasyania menatap sendu raut wajah Ibunya, ia pun setuju akan keputusan itu tapi ia tidak menyangka dengan reaksi Ibunya, "Iya buk, kemarin juga Shasya udah nolak kok... tapi Kakek terus maksa, katanya suruh simpan Buk."


"Kakek?" tanya Liliana, ia terkejut mendengar panggilan putrinya kepada Tuan besar di Kota itu.


Shasyania menggigit bibir bagian bawahnya, sebelum ia menjelaskan semua, "Mmhh... jadi gini Buk... kemarin Kakek maksa Shasya buat manggil dengan sebutan Kakek, katanya beliau sudah menganggap Shasya ini sebagai cucunya Buk."


Sejenak Liliana menghela nafas, lalu mengikis jaraknya dengan Shasyania, "Apa Shasya sudah menerima perjodohan itu nak?"


"Enggak Buk!"


"Lalu?" selidik Liliana, "Sha..., semua yang Tuan lakukan itu pasti karena dia menginginkan kamu untuk menjadi pendamping cucunya, mmhhh... siapa ya namanya? Oh iya nak Nevan, tapi jika kamu tidak bersedia maka jangan lagi menerima apapun dari keluarga Eldione Shaaa. Tuan bersedia membiayai pendidikan kamu saja itu sudah lebih dari cukup Nak! Ibu tidak mau melihat kamu menjalani sesuatu karena keterpaksaan Sha! Ibuk tidak suka itu, jangan mengulangi hal seperti dulu lagi! Dan jangan mengorek luka lama Shaa," tutur Liliana.


Ada goresan luka yang masih membekas saat Ibunya mengatakan hal tersebut, dan itu jelas tertangkap dalam pandangan mata Shasyania, ia tidak ingin menambah beban, hingga menyimpannya sendiri, "Buk, bahkan hanya dengan membiayai pendidikan saja, Shasya juga harus membalasnya dengan perjodohan itu...." Shasyania membatin, karena ia belum cukup berani untuk berkata jujur, takut semua itu malah akan membebankan perasaan Ibunya.


"Kartu ini, biar Shasya aja yang mengembalikannya Buk, Ibu di rumah saja."


"Shasya gak apa-apa sendiri ke sana nak?"


"Iyaa Buk, lagian Ibu kan ada pesanan kue yang harus Ibu buat, jadi biarkan ini Shasya yang ngurus, terus nanti pas Shasya balik, Shasya jadi bisa langsung bantuin Ibuk deh nganterin pesanan ke pelanggan lain, oke?" ujarnya.


Liliana tersenyum seraya mengelus kepala putrinya, "Semangat ya Sha! kita berjuang bersama dan kita harus percaya semua akan berjalan lancar jika kita berani melangkah!"


"Iyaaa Buk, pasti!"


Ketika waktu menunjukkan tepat pukul dua sore, Shasyania sudah menuju ke kediaman Eldione, dan di sepanjang perjalanan ada begitu banyak kejadian yang ia pikirkan, namun satu hal yang pasti, jika ia terus larut dalam kegelisahan, maka ujungnya ia akan menunda.


Karena semakin sering kita menunda, maka semakin besar tekanan yang akan di timbulkan, dan pastinya hal tersebut tidak diinginkan oleh Shasyania.


Gerbang megah di hadapannya langsung terbuka, ketika layar monitor memperlihatkan wajah Shasyania.


Kini tepat dibangunan utama ia sudah di sambut ramah oleh beberapa pelayan, yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Tuan besar sedang tidak ada di rumah Non, beliau masih di kantor," ucap ramah seorang pelayan, "silahkan duduk dulu Non, saya akan siapkan minuman, oh ya... kalau boleh tahu Nona sukanya minuman apa ya?" sambungnya.


Bagaikan seorang majikan di keluarga Eldione, begitulah para pelayan di rumah tersebut memperlakukan Shasyania.


"Air putih saja Bik, terimakasih."


"Ini Non, silahkan diminum," ujar pelayan tersebut, sembari menurunkan gelas berisi air putih dan beberapa makanan ringan.


"Oh.. ya Bik, Shasya mau nitip ini... tolong nanti di kasih ke Kakek ya?"


"Ng..., sebelumnya maaf yaa Non, maaf sekali... bibik tidak berani," ucap pelayan itu sambil menunduk takut.


Shasyania merasa bingung namun ia juga tidak tega ketika melihat reaksi orang di hadapannya, ia pun sedikit paham mungkin pelayanan tersebut tahu tentang benda pipih yang ingin Shasyania titipkan, "Kalau gitu... baiknya gimana ya Bik?"


"Gini aja Non, Bibik panggilkan Tuan Muda saja yaa... biar nanti dia yang memutuskannya Non. Kebetulan Tuan Muda lagi di kamarnya...." saran pelayan yang bernama Murti tersebut.


"Geonevan?" cicit Shasyania, ia sebetulnya sangat tidak siap untuk berhadapan dengan sosok itu lagi, tapi jika ia kabur maka sama saja masalahnya tidak akan pernah selesai.


Kini siap tidak siap ia telah menyetujui saran dari Murti, dan tangannya juga tak berhenti untuk *******-***** bajunya sendiri. Hal yang menandakan betapa gelisah nya ia saat ini.


Tok!


Tok!


Nevan mengayunkan kaki mendekati pintu, hingga memperlihatkan seorang pelayan yang berdiri di sisi luar.


"Kenapa?"


Pandangannya langsung melebar, ketika pelayan itu memberikan sebuah informasi.


"Jangan ada diantara kalian yang turun ke bawah!" ucap Nevan penuh penekanan, hingga membuat Eron dan Dariel seketika mengangguk sambil meneguk ludahnya sendiri.


Tap!


Tap!


Derap langkah menuruni anak tangga, hingga suara itu mampu mengintimidasi gadis yang tengah berada di ruang bawah.


"Ck! ada urusan apa lagi lo ke sini?" ketus Nevan saat ia mulai mendekati Shasyania.


"Aku hanya mengembalikan ini," jawab Shasyania, seraya menyodorkan sebuah kartu ATM pada laki-laki yang terus saja menatapnya tidak suka, "tolong serahkan ini pada Kakek," sambungnya.


Nevan berdecak kesal dengan kedua tangan yang ia lipat di bagian dada, "Udah habis makanya lo balikin?" tanpa basa-basi ia langsung menuduh tanpa bukti.


"Tidak! bahkan sepeserpun tidak aku gunakan."


Masih dengan tatapan mencela, Nevan semakin mendekat, "Ohh... gue ngerti! lo ngembaliin ini dengan niatan mendapat kartu hitam kan? lo mau sok nolak biar di kasih yang lebih gede kan? BASI TAHU GAK! muak gue liat sikap sok lugu lo itu! karena gue paham isi kepala lo! PARASIT!" bentaknya dengan suara meninggi.


"Ini!!!" tanpa menjawab satupun tuduhan Nevan, Shasyania dengan santainya menaruh kartu itu di atas meja, ia tidak tahan lagi dengan tuduhan-tuduhan menyakitkan tersebut.


Namun saat ia akan pergi, Nevan dengan gerakan cepat mengambil benda pipih itu, dan langsung membelahnya menjadi dua bagian.


Seringai menakutkan terlihat di sudut bibir Nevan, "Kenapa? lo kecewa? udah segitu aja lo bisa nahan sandiwara? cemen!!!" cibirnya pedas, "jangan harap lo bisa memanfaatkan kebaikan Kakek gue! dan ingat... sekali lagi lo berani macam-macam sama keluarga gue, maka gue hancurin hidup lo! dan yaa..., Ibu lo juga! bahkan dia akan lebih menderita dari apa yang lo rasakan!"


Kali ini tepat mengenai sasaran, kalimat Nevan yang terakhir seketika menghujam jantung Shasyania, hingga membuatnya bersimpuh di kaki Nevan.


"Aku mohon Geonevan... aku mohon jangan libatkan Ibuku..., jangan!" pintanya penuh pengharapan.


"Bangun lo!"


"Aku mohon Geonevan...."


Nevan mencengkram pundak Shasyania, memaksanya agar berdiri tegak, lalu tangannya beralih memegang rahang Shasyania, hingga tatapan mereka bertemu dan hal itu sukses membuat Nevan kelabakan.


"Pergi lo!" bentaknya, hingga membuat Shasyania berdiri cepat dan langsung melangkahkan kaki keluar.


Sepeninggal gadis itu Nevan menendang apapun dihadapannya, ia begitu marah akan semua peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.


"HAAAAAHH!" teriakan Nevan menggema di seluruh ruangan, begitu putus asa sampai ia mengacak-acak rambutnya sendiri.