
Benda pipih itu masih bergetar, dan kini matanya melirik tampilan layar yang menyala dengan tulisan 'Mommy', namun tetap saja rasanya enggan bagi Nevan untuk mengangkatnya, dan ia malah lebih memilih untuk mematikan panggilan tersebut.
Dan kembali ke dalam mobil, kedua remaja itu masih saling terdiam, beberapakali Nevan menghela nafasnya gusar, sedangkan Shasyania terus mengalihkan pandangan menatap kearah luar.
Sunyi tanpa obrolan, ketika ego menyelinap masuk diantara mereka berdua dan berhasil mengambil alih keadaan, hingga tak ada satupun yang mau mengalah untuk memulai mendinginkan suasana.
Sampai mesin di mobil Nevan kembali menyala, dan si pengemudi bergegas untuk menginjak gas kemudi, dan melenggang pergi.
"Aku mau turun!"
Ucapan Shasyania tidak digubris sedikitpun, bahkan untuk melirik pun tidak, karena pandangan Nevan masih terkunci lurus, dengan kecepatan di atas rata-rata Nevan memacu kendaraan tersebut, dan baru berhenti di pesisir pantai.
"Kita perlu bicara Shasyania! Aku mohon selesaikan masalah ini sekarang juga!! dan jangan pergi sebelum ini selesai, tolong!" tekan Nevan.
Sejenak Shasyania menatap Nevan, sembari menggelengkan kepalanya pelan, "Harus beberapakali lagi aku menjelaskannya Geonevan? aku perlu waktu! Aku perlu waktu untuk sendiri!!! jadi tolonglah, aku mohon jangan memaksaku seperti ini!"
"Ta__,"
"Keadaan bisa memburuk, jika kamu terus memaksa kehendak mu sendiri Geonevan!"
"Tidak! justru ini sudah buruk! dan akan lebih buruk lagi ketika kamu menghindar Shasyania!"
"Aku mau pulang Geonevan!"
Sekitar lima detik Nevan menghempaskan mukanya ke samping, ia menggigit-gigit kecil bibirnya seraya memijat pangkal hidungnya.
Karena tidak juga menemukan titik temu, hingga Nevan berusaha untuk meredam kekesalannya, "Sayang jangan seperti ini...," pintanya, dengan suara yang hampir terdengar berbisik.
Namun yang di ajak bicara justru diam seribu bahasa, sampai sejurus kemudian tangannya terlihat mengetik pesan.
Entah kepada siapa dan isi pesannya seperti apa Nevan juga tidak tahu, Nevan memilih untuk membiarkannya saja, dan berharap setelah itu Shasyania mau diajak bicara, namun sampai menit berganti menit gadis itu masih diam, hingga suara ketukan di kaca mobil membuat Nevan mengernyit heran, dan keluar dari mobilnya.
"Ningrum?"
"Selamat sore Tuan Muda, maaf karena saya telah menganggu waktu anda, tapi kedatangan saya kesini untuk menjemput Nona Shasyania."
"Menjemput?"
"Iya Tuan."
Ceklek!
Shasyania tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi, ia membuka pintu dan langsung mendekat kearah Ningrum, "Kak, tolong antar aku pulang...."
Dengan pandangan tak percaya Nevan menatap Shasyania, tangannya bahkan menjulur, berusaha untuk menggapai lengan gadis itu, "Tidak! kamu tidak bisa pergi begitu saja! kita harus bicara Shasyania!!!"
"Kak ayoo, antar aku pulang!" ulang Shasyania tanpa menatap Nevan, dan melihat diamnya Ningrum membuat ia kembali bersuara, "baiklah! kalau kakak tidak bisa, aku pulang sendiri!" tegasnya.
"Tu...tuan Muda, maaf atas sikap saya ini, tapi membiarkan Nona Shasya pulang sendirian dalam keadaan seperti itu tidaklah baik Tuan! saya memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi ketika Nona Shasya memberi perintah untuk menjemputnya, maka saya harus mematuhinya kan Tuan?"
Nevan mendesis menundukkan kepala, lalu kembali mendongak melihat Shasyania, "Jika itu yang kamu inginkan maka baiklah Shasyania! lakukan... lakukan apapun yang kamu inginkan!!!" cetus Nevan, sebenarnya berat untuknya menerima keputusan Shasyania, namun ia juga tidak bisa memaksa untuk membuat gadis itu tetap bertahan.
Kini, jarak pemisah diantara mereka semakin meluas, hingga mobil yang dikendarai Ningrum perlahan menghilang, lalu di saat itu pula Nevan kembali membuka pintu mobil dan menghempaskan diri di jok pengemudi.
Bruuuuug!
"Arrrrgghh sial-sial! kenapa jadi seperti ini!!!"
Braak!
Braaak!
.
Braaaaak!
Stir kemudi menjadi sasaran empuk untuknya meluapkan kekesalan, bahkan luka yang awalnya mengering kembali terbuka, dan mengeluarkan darah segarnya.
Drrrrrt!
Tak ada yang bisa membuatnya tenang, bahkan sekarang deringan telepon juga ikut membuat Nevan bertambah kesal.
"Aaarrghhh!" dengan malasnya ia melirik si penelpon, hingga sejurus kemudian menggeser tombol berwarna hijau.
"Ada apa Mom?" jawabnya, dengan nada kesal.
"Why? are you okay dear?"
"Iyaaa Mom, maaf...."
"No! Mommy rasa tidak!! kenapa sayang? kamu baik-baik saja kan Nevan?"
"Iyaa Mom, Nevan baik-baik saja."
"Umhhh baguslah.... Mommy senang mendengarnya! Oh iyaa sayang, Mommy ingin memberi tahukan kamu sesuatu, nanti kita diundang makan malam oleh keluarga Zeiqueen, yaaa lebih tepatnya lagi ini dikhususkan untukmu sayang... karena Maminya Zia menginginkan kehadiranmu, Mommy juga sudah siapkan semua ja__,"
"Mom...."
"Iyaa sayang?"
"Tolong katakan permintaan maaf ku, aku tidak bisa hadir!"
"Nevan?"
"Aku baik-baik saja Mom, please...."
"Baiklah sayang."
Tut!
"Baiklah! satu-persatu harus aku selesaikan!!!" tegasnya, yang langsung menyalakan mesin mobil, hingga membelah jalanan yang masih lenggang akan kendaraan tersebut.
.
.
.
Mobil sport itupun terlihat memasuki area parkir restoran. Nevan turun dan langsung memesan ruangan pribadi, dan jika dilihat dari mimik wajahnya, laki-laki itu terlihat tengah menunggu kedatangan seseorang, bahkan tangannya tak berhenti untuk mengetuk-ngetuk meja, rasanya tenggorokannya pun mengering, perasaan tak sabar membuatnya sedikit gelisah hingga ia memutuskan untuk mememesan minuman.
Glek!
Glek!
Glek!
Setengah orange juice ia teguk habis, dan bersamaan dengan itu dari arah belakang suara yang ia tunggu akhirnya terdengar.
"Selamat sore Tuan Muda...."
"Duduk, dan jelaskan!"
"Baik Tuan, jadi begini... sesuai perintah yang anda berikan tadi siang, maka saya langsung mencari informasi tentang Nona Dinesclara Shasyania, tetapi... ini cukup sulit Tua__,"
"Maksudmu apa haah? sebegitu tidak becusnya kah kinerja mu aaah? Aku mempercayai mu untuk tugas ini... karena aku yakin kau mampu! bahkan nanti aku berniat menjadikan mu seperti Hugo! kau akan ku jadikan andalanku! Ck! apa penilaian ku keliru? apa-apaan ini? bahkan tugas seperti ini saja kau tidak mampu! apa memang harus memerintahkan Hugo? cih! jika itu terjadi maka sama saja masalah ini akan diketahui Kakek ku! Aku tidak ingin privasi Shasyania sampai diketahui keluarga ku yang lain, Aku ingin menyelesaikan ini sendiri! Sial!! kenapa semua membuatku kesal!" Nevan berbicara panjang lebar, tampaknya ia menyalurkan kekesalannya atas setiap hal.
Raut kekecewaan pun tergambar jelas dari wajah Nevan, awalnya ia kira akan mendengar berita yang sekiranya merubah suasana hatinya sedikit membaik, namun ternyata ini justru menambah denyutan rasa sakit di bagian kepalanya.
"Maaf Tuan Muda, tapi sebelumnya, izinkan saya untuk menjelaskan lebih lanjut lagi...."
"Baik!"
"Sesuai yang Tuan Muda minta, agar saya mencari informasi tentang masa kecil Nona Shasyania, tapi sejauh riset yang saya lakukan Tuan, maka saya akan menyampaikan ini, saya merasa Nona Shasyania ada kaitannya dengan keluarga Zeiqueen, kenapa saya berani berkata seperti itu? karena keluarga Nona Shasyania merupakan pendatang, dan sebelumnya mereka tinggal di Kota B, dan alasan lainnya kenapa saya yakin ada hubungannya dengan keluarga Zeiqueen karena saya tidak bisa mengakses informasi apapun tentang mereka Tuan, selain kepindahannya ke Kota J, dan saya juga mempunyai informasi tentang nama Nona Shasyania yang sempat diubah dan itu terjadi tidak lama setelah mereka memutuskan untuk tinggal di Kota ini," jelas Ciro, ia menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Nevan.
"Lanjutkan!"
"Dan sama seperti keluarga Eldione, yang menutup rapat identitas karyawan yang bekerja di kediaman mereka, begitupun untuk keluarga Zeiqueen, jadi saya yakin seratus persen jika Nona Shasyania ada hubungannya dengan keluarga Zeiqueen Tuan Muda!"
"Keluarga Zeiqueen?" ulang Nevan, "jika itu benar, berarti Shasyania mengenal Zia, tapi kenapa setiap kali orang membahas tentang Zia, Shasyania hanya diam saja? tidak pernah sekalipun aku liat ia ikut menanggapi! Ohh iyaa... Paman Danes, iyaa... dia pasti bekerja di sana!" batin Nevan.
"Iyaa Tuan, maka dari itu saya mengirimkan anda pesan, agar kita bisa bertemu sesegera mungkin, saya perlu menyampaikan informasi penting ini secara langsung! saya menunggu perintah selanjutan dari anda, karena saya tidak mungkin langsung menyelidikinya, ini sangat beresiko Tuan."
"Iyaa... aku paham sekarang! jika benar seperti itu, ini jelas beresiko! apabila kau langsung menyelidikinya, maka sudah dipastikan kau akan gagal! Sangat berbahaya jika kau sampai tertangkap, mereka bisa saja mengira ini adalah bentuk dari pencurian data hingga akan berimbas pada perselisihan perusahan. Ini sangat beresiko... aku tidak bisa gegabah!"
"Betul Tuan, karena sistem mereka sama seperti keluarga Eldione, sangat sulit... perlu waktu yang lama, dan jujur saja... peluang untuk berhasil membobol informasi pun sangat minim!"
"Tidak-tidak! aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!" resah Nevan, "tadi... kau mengatakan jika nama Shasyania pernah diubah kan?"
"Iyaa Tuan, dulu namanya adalah Dinesshena Shasyaliona, bukan Dinesclara Shasyania!"
Nevan menggerakkan otot lehernya yang sedikit menengang, kini ia semakin penasaran dibuatnya, "Kenapa mesti diubah? ini pasti ada alasannya kan! tetapi apa?"
"Saya yakin... sebelum Daneshav bekerja di kediaman Eldione, dipastikan dia pernah bekerja di kediaman Zeiqueen, maka dari itu informasi tentang keluarganya tertutup rapat, dan ini sangat menarik Tuan, karena bagi orang-orang yang sudah bekerja untuk keluarga seperti itu, maka sangat-sangat tidak mungkin bagi mereka untuk keluar! ditambah lagi dalam kasus ini perubahan nama dan juga kepindahan mereka juga cukup mencurigakan!"
"Kau benar! perubahan nama Shasyania seperti di sengaja, aku rasa ada alasan kuat dibalik itu semua! apalagi mereka memilih untuk bekerja di keluargaku, bukankah itu sama saja seperti ingin menghapus jejak agar mereka tidak terdeteksi oleh orang-orang yang tidak mereka inginkan?"
"Betul Tuan! saya berpikiran seperti itu!"
"Ohh ya... waktu Paman Danes diterima bekerja di rumahku, apa tidak ada berkas-berkas tentang indentitasnya? mustahil kan dia diterima begitu saja?"
"Seharusnya memang seperti itu Tuan Muda, tapi kenyataannya Daneshav memang langsung diterima saat dirinya berjasa membantu Tuan besar!"
"Membantu?"
"Iyaa, itu terjadi saat Tuan Besar meninjau lokasi strategis untuk cabang baru, tiba-tiba saja badai datang, hingga mengakibatkan Tuan besar kehilangan tasnya yang terseret arus banjir, dan tanpa di duga tas tersebut ditemukan oleh Daneshav. Karena isi dari tas tersebut sampai akhirnya membuat Tuan Besar merasa begitu berterimakasih atas jasa Daneshav, hingga menawarkannya perkerjaan yang sesuai dengan kemampuan Daneshav."
"Wah kebetulan sekali ya?" pikir Nevan, "Sial! apa yang barusan aku katakan? apa aku mulai mencurigainya lagi? sadar Nevan!! bahkan kau bermasalah dengan Shasyania karena pikiranmu tentang Ayahnya! jangan lagi Nevan! Paman Danes mempertaruhkan nyawanya untuk Kakek mu! Ingat itu!" batinnya, yang tengah memerangi dirinya sendiri.
"Iyaa Tuan, dan sekarang saya menunggu perintah dari anda...."
Nevan tampak menimang-nimang, sampai sejurus kemudian, "Mommy!" sentak nya, yang membuat Ciro sedikit terkejut.
"Kenapa Tuan?"
"Tidak-tidak, nanti kau akan aku hubungi lagi! Untuk saat ini aku akan bertindak dengan rencana ku sendiri! Terimakasih!" ucap Nevan, sembari meninggalkan Ciro yang masih duduk di kursinya.
Nevan menuju kearah parkir dengan tangan merogoh kantong celana, lalu laki-laki itu bergegas mencari kotak yang membuatnya tidak sabaran, hingga panggilan pun tersambung.
"Hallo sayang... kenapa? Apa Mommy perlu ke sana? Mommy akan berangkat sekarang!"
"Tidak-tidak Mom! tidak perlu! ummhhh... Nevan cuma mau bertanya tentang jamuan makan malam itu! mhhh jam berapa Mom?"
"Waoo, akhirnya kamu berubah pikiran sayang? bagus-bagus! Mommy yakin kamu tidak mungkin menolaknya! masalah yang terjadi antara kamu dan Zia... itu sudah lama berlalu sayang, sekarang kalian sudah besar, dan mungkin saja Zia telah mengingatmu! makanya Maminya mengundang kita secara khusus! Ohh My God, Mommy jadi berbicara panjang lebar, acaranya jam sembilan sayang, Mommy akan menjemputmu bersama Daddy! dan untuk setelan yang kamu pakai, nanti Mommy kirim!"
"Baiklah Mom, terimakasih...."
Tut!
Nevan telah berada di dalam mobilnya, dan pandangannya tertuju pada dasboard di sisi kiri, matanya kian melebar saat menyadari dua benda pemberiannya yang diletakkan di sana.
Ia tersenyum getir, seraya menggenggam erat kalung dan juga cincin tersebut, "Apa harus seperti ini Shasyania? wahhhh, aku bahkan.... Arrrrgghh! tidak-tidak... kau harus tenang Nevan, iyaaa... kau harus lebih tenang lagi!! sekarang kau hanya perlu menyelesaikan satu-persatu benang kusut di kepalamu! Baiklah!" gumamnya, "dan untukmu Shasyania, carilah waktu sepuas yang kau mau! sedangkan aku akan menyibukkan diriku dengan hal seperti ini!!!" pungkasnya.