Mine ?

Mine ?
53 : Pertemuan



27 menit sebelumnya...


"Lo bisa taruh barang itu di jok belakang," ucap Gemmi, ketika kornea matanya melihat kantong kresek yang di bawa Shasyania, "tenang aja! gak bakal gue rebut kok, jadi gak usah di dekap gitu banget!"


"Oma sakit apa?" tanya Shasyania, yang terkesan mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya.


"Gak tahu, yang jelas tadi Rara nelpon gue!" Berselang beberapa detik dari ucapan itu, tiba-tiba dari arah samping sebuah mobil hitam memberi isyarat agar Gemmi menepi ke sisi jalan.


Raut kesal Gemmi seketika memudar, saat laki-laki itu melihat plat mobil yang menghadang perjalanannya. Ia tahu betul siapa orang itu, dan dengan perasaan terpaksa ia menurut.


Berbeda dengan Gemmi, Shasyania justru mengernyit bingung, ia pikir Gemmi telah melakukan kesalahan sampai mereka di minta untuk menepi, pandangan matanya mengarah lurus menatap seorang wanita yang terasa tak asing baginya, yang tengah turun dari dalam mobil dan terlihat melangkah semakin mendekat, hingga mengetok jendela mobil Gemmi.


"Selamat sore," sapa nya ramah, sembari menunduk hormat ke arah Gemmi dan Shasyania, "harap Den Gemmi dan Nona Shasya pindah ke mobil depan, saya akan mengantar kalian ke tempat Nyonya Raimar."


Mendengar itu membuat Gemmi beraksi malas, ia sampai melengos kepala, "Jalan aja Ra, gue ikutin dari belakang!"


"Maaf Den, tapi ini semua atas perintah Nyonya Raimar!"


Tidak bisa menolak lagi akhirnya mereka berdua bergegas turun, mengikuti langkah kaki Rara yang selangkah lebih di depan.


.....


Dan saat mereka memasuki kawasan tersebut, ternyata bukan rumah sakit yang mereka tuju, melainkan sebuah restoran bernuansa klasik modern yang terletak di batas Kota J.


Sekilas Gemmi tersenyum, ia menyadari jika Oma nya tengah bermain sandiwara, hingga membuatnya berpikir jika wanita paruh baya itu sedang sakit, namun saat ini justru tempat seperti ini yang mereka datangi.


Ketika mobil itu berhenti, ada dua orang pelayan yang langsung membukakan pintu, mereka mempersilahkan Gemmi dan Shasyania untuk masuk ke dalam restoran.


Saat pintu terbuka penyambutan ramah mereka terima dari beberapa pelayan, dan salah satu di antara mereka menuntun Gemmi dan Shasyania menuju satu ruangan khusus yang tampak sengaja di persiapan untuk mereka.


"Silahkan masuk Tuan, Nona," ujar pelayan itu, sembari membukakan pintu ruangan, hingga menampakkan seorang wanita berambut putih tengah tersenyum di dalam sana.


Raimar langsung berdiri, dengan penuh semangat ia merentangkan tangan untuk menyambut kedua tamu yang sedari tadi memang sudah ia tunggu-tunggu.


"Selamat Shasyania, Oma sudah mendengar jika kamu menang kompetisi. Kamu memang layak, dan ini untukmu!" tangan Raimar memberi perintah agar Shasyania lebih mendekat, dan ketika tubuh itu sudah berada dalam radius yang mudah ia gapai, tangan itupun menariknya ke dalam pelukan.


"Kamu hebat, kamu selalu membuat Oma bangga! dan Oma bersyukur bisa dipertemukan dengan gadis sepertimu!"


"Terimakasih Oma, tapi kenapa Oma __,"


"Ini kejutan gadis kecil! Apa kamu marah?"


"Tentu saja dia marah Oma! liat saja dari ekspresinya!" celetuk Gemmi.


"Benarkan?"


"Bukan seperti itu Oma, tapi sebaiknya lain kali Oma tidak mengulangi hal seperti ini lagi, apalagi mengatakan sakit sebagai alasan."


"Baiklah tidak akan Oma ulangi! tapi ambillah ini, dan Oma akan lebih suka jika kamu mau memakainya!"


Sebuah kotak berwarna silver dengan ukiran logo emas terpampang jelas, Shasyania sadar betul barang pemberian itu tidaklah murah, harganya mampu membuatnya menggeleng-gelengkan kepala.


"Jangan menolaknya! itu pantas kamu dapatkan. Terimalah!" tegasnya, bisa Raimar lihat jika raut wajah dan gestur tubuh Shasyania masih ingin menolak barang pemberiannya, namun ia juga tidak ingin menyerah, hingga sebuah ide terlintas begitu saja, "yasudah, kalau kamu merasa itu terlalu berlebihan, maka kamu bisa menguranginya dengan membantu Oma, jadi anggaplah itu sepadan dengan usahamu Shasya!"


"Hadiah untuk Gemmi mana Oma?"


"Ck! memangnya kamu melakukan apa Geime, hingga Oma harus menghadiahi mu sesuatu!"


"Wah Oma gak tahu! dukungan Gemmi juga mempengaruhi kemenangan Shasyania! jadi bisa di anggap perananku juga penting!" pungkasnya, namun semua itu hanyalah gurauan semata.


"Bagaimana gadis kecil apa kamu mau membantu wanita tua renta ini?"


"Iya renta sekali! hingga berdiri saja lututnya sampai bergetar!" timpal Gemmi dengan mulut tertawa.


"Diam Geime! Oma tidak sedang berbicara denganmu!" tegur Raimar, sembari memelototi cucunya itu.


"Jika Oma menginginkan sesuatu yang rasanya tidak bisa Shasya lakukan, maka maaf Oma, Shasya pasti akan menolaknya."


Sebenarnya Shasyania tidak tersinggung dengan ucapan Raimar, karena ia juga tipe orang realistis. Semua yang dikerjakan perlu imbalan, apalagi jika kegiatan itu tidak terjadi sekali atau dua kali saja.


"Baik Oma, Shasya setuju!"


Raimar terlihat begitu bahagia, namun saat melihat ekspresi cucunya ia kembali menatap sinis.


"Kenapa Gemmi? apa kamu keberatan. Dengar suka tidak suka kamu tetap harus belajar!"


"Keberatan? tentu saja tidak Oma!" elak Gemmi, dan di dalam pikirannya ia sudah yakin jika Shasyania akan mudah di atur dan pembelajaran tidak akan seserius biasanya.


Tiga orang pelayan memasuki ruangan dengan beberapa menu yang sudah di pesan sebelumnya. Aroma dari masakan itu menyeruak masuk ke dalam indra penciuman, hingga beberapa jenis makanan Savory food tertata rapi di atas meja. Raimar yang sudah mengetahui selera cucunya sengaja memilih makanan dengan cita rasa gurih, yang kental akan rasa rempah-rempah tersebut.


"Mari kita makan!" ajak Raimar.


Hanya suara sendok bertautan, tanpa adanya obrolan di antara mereka. Sesekali Raimar melirik ke arah dua remaja itu sambil tersenyum simpul. Sampai akhirnya ia selesai menyantap makanannya dan tampak Shasyania juga sama.


"Suka makanannya Shasya?"


"Suka Oma, ini enak!"


"Ini semua kesukaan Geime, lihatlah dia, sudah berapa menu yang ia habiskan sendiri!"


"Oma...," nadanya sengaja ia tekan, dan itu membuat Raimar menatap penuh jenaka.


Hampir satu jam mereka habiskan di sana, hingga akhrinya memutuskan untuk beranjak pergi, dan saat beriringan menuju pintu keluar, terlihat dari arah berbeda dua orang wanita juga akan keluar dari dalam restoran tersebut.


"Mrs Raimar!"


Sang pemilik nama pun menoleh, dan mendapati orang yang tengah memanggilnya.


"Benar! ternyata saya tidak salah orang, ini benar-benar anda. Sudah lama semenjak hari terakhir saya melihat anda, jadi bagaimana kabar anda Mrs Raimar?"


"Di usia saya saat ini, tentu sangat rentan dengan yang namanya sakit, namun saya terus berusaha agar tetap terlihat seperti sekarang," sahutnya santai, sembari menerima jabatan tangan dari wanita di hadapannya itu, "lalu bagaimana dengan anda Mrs Zivana?"


Dengan ujung bibir terangkat ke atas Zivana terlihat tersenyum, dan tak lupa juga ia menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya, "Seperti yang anda lihat sekarang, saya juga selalu menjaga kondisi agar terlihat selalu vit!" sahutnya diselingi tawa.


Tiga orang yang berada di antara mereka hanya terdiam menyaksikan dua pertemuan yang tak disengaja tersebut, dan di sisi Zivana, Freya terlihat kurang nyaman dengan kehadiran Shasyania, gadis itu masih tidak terima atas kekalahan yang ia alami, terlebih lagi ketika ia juga menyadari jika Shasyania lah orang yang ditarik Nevan saat pesta beberapa hari yang lalu.


Getaran dari dalam tas Freya membuat pandangannya teralihkan sejenak, dan dengan senyum tipis ia mulai mengeluarkan suara, "Tan, Freya permisi dulu ya, Nevan nelpon," pamitnya, sekilas ia juga terlihat melirik Shasyania.


Zivana mengangguk sebagai jawaban, dan gadis itupun berlalu begitu saja tanpa permisi ke orang-orang lainnya yang masih berdiri di sana.


"Kalau begitu saya permisi dulu Mrs Zivana," ujar Raimar.


"Ohh silahkan Mrs Raimar, dan lain kali jika anda berkenan saya akan mengundang anda untuk berbincang santai sambil menikmati secangkir kopi."


Raimar tersenyum, "Baiklah saya tunggu undangan dari anda Mrs Zivana."


Ketika langkah kaki Raimar menjauh, kini posisi Shasyania lah yang berhadapan dengan Zivana, ia yang menyadari jika wanita itu adalah bos di tempatnya bekerja langsung menunduk hormat, saat pandangan mereka saling beradu.


Mendapat reaksi tersebut Zivana hanya terdiam, ada berbagai macam hal yang ia pikirkan namun belum bisa ia simpulkan begitu saja.


Dan di area luar restoran, Rara sudah bersiap menyambut kedatangan majikannya, dengan penuh cekatan ia langsung membukakan pintu mobil, namun ketika Raimar dan Gemmi sudah berada di dalam, Shasyania justru masih berdiri.


"Kenapa masih di sana, ayo masuk Shasya!"


"Maaf Oma, tapi Shasya bisa pulang sendiri."


Terlihat Raimar sedikit menimang-nimang, namun pada akhirnya ia setuju.


"Yasudah kalau begitu Oma jalan dulu ya, dan jika terjadi sesuatu hubungi Oma, oke?"


"Siap Oma!"