Mine ?

Mine ?
83 : (POV NEVAN) Kesan dan getaran yang sama



(Mode flashback)


Aku kehilangan kontrol atas diriku sendiri, kesedihan ini semakin menjadi-jadi setiap kali Zia masuk ke dalam mimpiku, mempertanyakan di mana aku, dengan raut wajahnya yang sendu, teriakan-teriakannya memenuhi otakku, hingga acap kali aku terbangun di malam hari.


Dan selepas hari itu entah kenapa keluargaku mulai sering mengadakan acara bersama keluarganya Zia, keadaan di antara kami tetap sama, tidak pernah bertegur sapa. Aku merindukannya jelas, tapi bukan sosoknya yang sekarang, bahkan anehnya aku bisa memikirkannya saat dia berada di sampingku.


.


.


.


"Sayang...sayang bangun! jangan seperti ini Nevan!"


"Mommy...."


Lagi-lagi aku terbangun di tengah malam, dan Mommy pasti kembali mendengar teriakan ku hingga ia memelukku erat, sembari menyeka keringan yang mulai bercucuran di bagian wajahku.


"Hiks...hiks...Mommy...aku ingin bertemu dengannya...Nevan merindukannya...! Mommy ini salah Nevan... Mommy..."


"Iyaa...iya Mommy akan panggilkan Zia untukmu...."


"Bukan...bukan, Nevan tidak ingin dia...."


Dan seperti sudah tahu akan keinginanku, Mommy langsung bergegas menelpon Daddy, dan mengerahkan beberapa pengawal untuk mengantar kami ke suatu tempat, ya tempat dimana aku bertemu Zia, tempat di mana kami menghabiskan waktu bersama.


...****************...


"Krik...krik...krik!"


Suara-suara binatang mulai menyambut kedatangan kami, dan hembusan angin menjadi lantunan lagu ketika kami sampai di area hutan.


"Sayang...."


"Mommy, aku tidak memerlukan ini, aku akan tidur di sana, dan kalian tetap di sini!"


Mommy dan Daddy tidur di bawah tenda, sedangkan aku tidur beralas daun, mengulang kembali kenangan itu, setidaknya ini membuatku nyaman.


Saat aku mulai menutup mata, aku merasa pergerakan di sampingku, dengan gerakan cepat ku gunakan kedua tanganku untuk menutupi wajah, "Zia apa itu kamu? ...Zia tolong jawab! ...Zia? aku harap semua kembali saat kamu masih di sampingku..., Ziaa?"


Aku mengangkat tangan perlahan, saat mataku kian terbuka, tapi bukannya Zia yang kulihat, malah justru, "Nyitnyit? ternyata itu kamu! ...mmhh apa kamu merindukan Zia? iya aku juga sama! tapi Zia berubah Nyitnyit, dia bukan lagi Zia yang kita kenal, dia melupakanku dan tentunya juga kamu, dia tidak menepati janjinya!"


Nyitnyit diam seperti mengerti dengan apa yang aku ceritakan, hingga malam semakin larut dan aku terlelap.


.


.


.


Seperti biasa di pagi hari tidak ada yang berani menggangguku, kedua orangtuaku juga mengawasi dari jarak jauh, mereka memberiku tempat untuk bermain seharian.


Kini ku susun rumah-rumahan persis seperti yang pernah Zia buat dulu.


"Tok...tok! Zia ini aku Vanvan, aku berkunjung Zia, tolong bukakan pintu...Zia?" ku lirik kesamping dan tidak ada sosoknya, bayangan dulu kembali terulang, saat dia masih berada di sampingku, "padahal aku sudah mengetuk pintu Zia, persis seperti yang kamu minta, tapi kenapa kamu menghilang? apa kamu melupakanku Zia? aku minta maaf Zia, aku minta maaf...."


Tangisanku tak bisa ku bendung lagi, hingga keseimbangan dalam diriku mulai goyah, aku merebahkan diri cukup keras hingga beberapa pengawal berlarian mendekat.


"Tuan...Tuan Muda...."


Entah dari mana aku mulai berpikir jika mereka adalah komplotan penjahat, bermodalkan tangan kosong aku mengerahkan tenaga untuk memukul-mukuli mereka.


Mereka menerima begitu saja, mungkin karena efek yang kuberi tidak menghasilkan rasa sakit, dan saat itu juga aku menyadari sesuatu, jika aku ini masihlah lemah.


Aku berlari menjauh, hingga tiba di bibir jurang, aku melihat kebawah, ini adalah tempat di mana Zia terjatuh.


"Tuan Muda jangan lakukan itu!"


Semua berteriak histeris, namun ku tanggapi biasa, karena niatku hanya sekedar melihat.


Greb!


Sepasang tangan langsung menarik ku menjauh, dan setelah itu Mommy menghampiri ku dengan wajah ketakutan.


...****************...


Kami pulang dan sampai rumah Mommy terlihat berdebat dengan Daddy, sudah pasti ini tentang perilakuku yang mulai mereka anggap aneh, hingga Dokter Jenni datang berkunjung, aku lega melihat sosok itu, meskipun kesan pertama dulu saat mengenalnya aku sempat kesal.


Bagaimana tidak, keluargaku justru memanggilnya khusus, mengatakan padaku jika Dokter Jenni merupakan orang yang menyenangkan dan seru, apa mereka pikir aku tidak memiliki sahabat sampai harus menyuruhnya.


Lalu semenjak hari itu dia selalu menemui ku, menanyakan kabarku, dan dia juga bisa berjam-jam di kamarku hanya untuk menanyakan berbagai hal, aku risih, jelas risih, dia terlalu kepo, namun perlahan-lahan aku justru mulai terbiasa bercerita padanya. Menurutku dia pendengar yang baik, dan dia juga selalu memberiku solusi.


Sampai di saat aku merasa dia seperti penolong, berkatnya kedua orangtuaku mau mengikuti segala keinginanku yang awalnya mereka pikir aneh, termasuk tidur di hutan. Dan itu adalah beberapa bulan yang lalu, karena sekarang Mommy justru memperlihatkan wajah kesalnya pada Dokter Jenni, gelengan kepalanya menandakan hal yang tidak bisa ia terima lagi.


"Nevan! Mommy dan Daddy sudah memutuskan jika kamu akan pindah ke kota J, tinggal bersama Kakek di sana, kami juga akan segera menyusul setelah menyelesaikan urusan di sini!"


Keputusan sudah dibuat, meskipun berat untukku tapi tidak ada lagi pilihan, hingga aku harus meninggalkan kenangan ku di sini.


...****************...


Tiba di rumah Kakek aku disambut dengan sangat meriah, kamarku dilantai paling atas dan begitu takjubnya aku melihat interior di dalam sana. Sebuah kamar bernuansa alam, dan tak lupa juga atapnya yang bisa terbuka hingga di malam hari akan memperlihatkan taburan bintang. Aku suka, sangat suka, dia tahu kenyamanan ku, setidaknya ini seperti hutan yang di kemas layaknya kamar, aku bisa tenang, dan sangat nyaman.


.


.


.


"Tuan Muda...."


Mataku menatap pria berpakaian rapi, ia menunduk hormat lalu mendongakkan kepala sembari tersenyum hangat.


"Seperti tidak asing," batinku


"Perkenalkan nama saya Daneshav, Tuan Muda bisa memanggil saya dengan panggilan Danes... saya supir baru di rumah ini."


"Ohh baiklah, aku Nevan. Tolong antar ke daerah ini, aku mau latihan."


Ku habiskan hari dengan berlatih bela diri, hingga mengasah skill dalam dunia kuliner, Dan kini tibalah hari di mana aku mengenakan seragam SMP, dan ternyata dua sahabatku juga masuk di sekolah yang sama, kebetulan atau tidak? entahlah, karena ketika di tanya mereka hanya menjawab jika keluarganya pindah karena urusan pekerjaan.


.


.


.


"Geonevan... gue cinta sama lo!"


"Geonevan, hati gue hanya untuk lo!"


"Geonevan, selamat ulang tahun yaa!"


Menjadi pusat perhatian adalah hal yang biasa untukku, meskipun dikelilingi banyak wanita tidak sedikitpun aku tertarik pada mereka, bukan berarti aku menyimpang, ini murni karena dalam diriku masih ada rasa yang tersisa untuk sosok di masa kecilku, rasa bersalah yang membuatku tidak pantas merasa bahagia, atau rasa cinta yang begitu dalam, hingga sepenuhnya hatiku hanya teruntuk padanya.


Kembali waktu berjalan begitu cepat, dan kini adalah tahun terakhirku menjadi siswa SMP, di usiaku yang semakin remaja aku semakin mengerti apa itu cinta.



Dan diwaktu yang sama aku telah menyadari jika aku sudah tergila-gila padanya, kian hari kian bertambah, bahkan sekarang hanya memikirkan kenangan itu hatiku mampu berdegup kencang.


"Yaahh..., barengan lagi kita satu sekolah!"


"Udah kayak kembar tiga tahu gak!"


"Van, lo gak masalah nih kalau kita jadi saingan lo lagi?"


"Kampret! lo kira Nevan perduli?"


"Mending kita masuk, dan buat suasana SMA GUARDIANS gempar akan ketampanan kita!"


"Yoiii..bro! WOII PARA PENGHUNI LAMA SIAP-SIAPIN JANTUNG KALIAN YAAA! KAMI DATANG!!!"


Begitulah kedua sahabatku, selalu ribut membicarakan hal tak penting dan membuatku malu, tapi meskipun begitu mereka memiliki andil yang besar dalam hidupku, hingga membuatku bisa kembali menatap dunia luar, seperti bermain atau sekedar liburan ke luar Negeri.


"Nama lo Geonevan kan? kenalin gue Yesi, wakil Osis."


Aku hanya mengangguk kepala, kurasa tidak perlu membuang-buang waktu untuk berbasa-basi dengannya.


Greb!


Plak!


"Jangan sikap lo!" bentak ku, sembari menatapnya sinis dan berlalu begitu saja.


Satu tahun ku lewati dengan raihan prestasi, hingga namaku kian dikenal dan semakin digilai tentunya, tapi semua tetap sama, aku tidak tertarik pada mereka.


"Woii..., semesteran ini kita liburan kemana nih?"


"Gimana kalau ke Jepang?"


"Mau nyari cewek lo?"


"Nyoba-nyoba, lagian umur kita udah cukuplah untuk seneng-seneng!"


"Gue gak ikut."


"Tumben Van, lo ada acara lain?"


.


.


.


.


.


"Heiiii my bro...Nevan!"


"Guilio...."


"Yaa... gue Guilio dan lo sepupu gue yang paling tampan! ahh semakin iriii..., meskipun lo bisa aja rebut hati para gadis gue, tapi... gue bakalan tetep ngajak lo keluar! jadi ayooo... my bro!"


"Kemana?"


"Udah ikut aja! Have fun bro!"


Guilio, dia adalah sepupuku yang tinggal diluar Negeri, setiap kembali dia selalu mengajakku untuk bersenang-senang, dan kini semakin dewasa maka tahap kesenangannya berbeda.


"Minum bro!"


Ini sudah kelima kali ia menawarkan minuman padaku, tapi aku selalu menolaknya, bukan tanpa alasan karena terakhir kali kami ke tempat seperti ini, dia membuatku setengah sadar hingga aku mencurahkan sakit hatiku.


"Hayyy..., jangan mengeluarkan tatapan lapar pada sepupu gue! Dia kelasnya beda! gak doyan sama lo!"


"Ganteng banget sih, kenalan dong...."


"Van...," Guilio memberi isyarat agar aku menatap gadis dengan tampilan kurang bahan itu.


"Suruh dia pergi atau gue yang pergi!"


"Wow...wow tenang Nevan, tenang! tipe lo yang ini kan?" ujarnya, sembari menyodorkan smartphone miliknya hingga memperlihatkan sosok yang aku kenal.


"Gue tahu, gue tahu Nevan... dan gue juga tahu perusahaan Kakek Toreno bekerja sama dengan perusahaan keluarganya kan? jadi tenang aja bro... besok lo juga bakal ketemu d___,"


"Gue gak tertarik! gue cabut!"


"Loh---loh kemana? baru juga sebentar gu__,"


"Lo udah besarkan? jadi gak perlu gue temenin!"


Aku berlalu begitu saja, meninggalkan orang-orang yang memperlihatkan raut kecewanya padaku, Mood ku seketika hancur saat membicarakan Zia, aku masih kesal mengingat sikapnya yang angkuh, namun aku juga memiliki rindu yang teramat dalam saat mengingat sosoknya yang dulu.


Bertemu dengan Zia bukanlah hal yang susah untukku, sering kali kami bersama dalam satu acara, entah di sini ataupun diluar Negeri.


Dan pada suatu ketika kami juga pernah dipasangkan untuk berdansa, aku dan dia sama-sama terkesan terpaksa, hingga lantunan musik mengiringi langkah kami, tiba-tiba saja aku menarik diri menjauh, aku tidak bisa melanjutkannya, karena bayangannya yang dulu selalu menghantui pikiranku.


"Andai saja kamu tidak melupakanku Zia...."


Rasa ini kembali menyelimuti hatiku, seketika aku merasa tercekat, dan hanya satu tempat yang bisa membuatku nyaman.


Aku sampai sebelum matahari terbenam, dan kedatanganku mulai di sambut oleh sosok berbulu yang terlihat menunjukkan deretan giginya.


"Heii Nyitnyit! Yaaa...yaa, aku juga merindukanmu...! ini buah-buahan untukmu! Ohh iya apa dia pernah ke sini Nyitnyit? mmhh tentu saja tidak kan? dia melupakan kita! dan sialnya aku masih mengingatnya dengan jelas!"


Aku dan Nyitnyit kembali menelusuri hutan, kami bermain bersama hingga tidur dengan alas seadanya.


.


.


.


Drrrrrrrrrtttt!


Matahari bersinar terik, sinarnya yang menyilaukan dan deringan smartphone di kantong celanaku membuatku tersandar.


"Hallo?"


"Van, lo dimana?"


"Kenapa?"


"Jangan bilang lo lupa kalau hari ini kita tanding bas___,"


Tut!


Panggilan terputus karena koneksi, dan aku bergegas menuju mobil.


Mengendarai dalam kondisi lelah, untungnya sekarang aku sudah memasuki wilayah kota J, tapi sialnya tanda-tanda kemacetan seperti menyambut di depan sana.


"Haaaahhh...." rasa kantuk juga menyerang, tidak hanya mata bahkan punggung bagian belakang ku juga terasa perih. Aku memutar haluan dan mencari alternatif jalan lainnya.


Sekitar lima detik lagi maka lampu merah akan menghentikan laju mobilku, niat hati ingin menggerutu terhenti saat beberapa remaja turun ke jalan untuk membagikan sebuah brosur.


Ku raih topi dan masker, aku tidak ingin ada tatapan menganga untukku lagi, tapi justru yang terjadi.


Pandanganku yang malah terkunci ketika satu orang mengetuk-ngetuk kaca mobilku.


Crrrrrrtttt!


.


.


.


"Selamat siang, saya himpunan SMA MERPATI, dan kami akan mengadakan pagelaran, bila berkenan datang ya, info lebih lanjut ada di brosur ini, terimakasih...."


Seperti tidak memiliki kata-kata untuk diutarakan, aku hanya diam hingga sosok itu menjauh.


Ku rasakan sesuatu telah menusuk hatiku, hingga memaksa jantungku untuk berpacu lebih cepat, dia membuatku membeku, hingga mataku tidak bisa lepas darinya.


Tin!


Tiiin!


.


.


.


Tiiiiiiiiiin!


Klakson mobil belakang membuatku tersadar lalu kembali menginjak tuas gas, mataku masih mencari sosoknya dari kaca spion, ku liat ia menyeka keringat di dahinya, dan seperti tersetrum listrik getaran semu itu menjalar ke tubuhku.


Aku ingin turun dan memberinya payung, memastikan agar dia tidak kelelahan.


Namun keinginan tetaplah keinginan tanpa di barengi aksi, logikaku masih mendominasi agar aku tidak gegabah lagi, dan memilih untuk pergi.


"Kenapa tiba-tiba jadi begini?"