Mine ?

Mine ?
63 : Selangkah lebih dekat



Gemerlap gemintang menghiasi langit, bersamaan dengan satelit Bumi yang tengah menampakkan cahayanya yang teramat sempurna. Begitu terang, hingga setiap deburan ombak di depan sana tampak begitu jelas di pandangan mata.


Sunyi, meskipun ombak menggulung menggerus jutaan pasir, namun deburan-deburan itu tidak akan mampu menyusup celah mobil Nevan. hingga dua remaja itu semakin terdiam menikmati keheningan malam.


Cukup lama kesunyian menjadi tembok pemisah, sampai akhirnya Nevan kembali tersadar, dan tidak ingin lagi mengais setiap tindakannya di masa lalu.


Telunjuk ia arahkan ke samping, dan secara perlahan mulai mengetuk-ngetuk bahu Shasyania, "Pelukan gratis?" ucapnya lembut, seakan sengaja mengundang reaksi dari gadis yang masih menatapnya dengan ekspresi sulit di baca.


Nevan tahu situasi ini lebih membutuhkan kesabaran dan tentunya ucapan manis, "Tidak ada penawaran kedua, jadi ambil atau hangus begitu saja!" tekan Nevan. Sepertinya ia mulai memainkan emosi Shasyania, "pelukan adalah hal paling mujarab untuk menjaga suasana hati, apalagi di kondisi seperti ini. Dan satu hal lagi, bersandar di pundak ku adalah keistimewaan yang hanya di miliki orang-orang tertentu, jadi rugi jika di sia-siakan!" imbuhnya dengan nada menggoda.


Pandangan mereka bertemu, Nevan dengan senyum di ujung bibir mulai bergerak merubah posisi, lalu bergegas menepuk-nepuk paha, "Sini, duduk di sini yank!" pintanya.


Shasyania ragu, ia tidak mungkin duduk di sana, apalagi dengan keadaan mereka yang tengah berada di dalam mobil, "Enggak," tolaknya sambil melengos ke arah lain.


"Kenapa? lagian ya, akan lebih nyaman jika kamu duduk di sini sambil meluk aku yank!"


"Gimana kalau ada yang liat? nanti di kira kita ngapa-ngapain lagi!" jujurnya dengan keadaan pipi merah padam. Shasyania begitu gamblang mengungkapkan apa yang ia pikirkan, namun setelah itu ia malah malu dengan ucapannya sendiri.


Nevan tahu akan maksud Shasyania, namun ia lebih memilih untuk berlagak polos, "Memangnya orang bakal mikirin apa?"


Bukannya menjawab Shasyania justru tertunduk menutup wajah.


Dan lagi-lagi Nevan memperlihatkan pesonanya, apalagi dibarengi dengan tenaga, hingga hasilnya sekarang Shasyania sudah duduk di pangkuannya.


Begitu malu sampai membuat Shasyania enggan untuk melepas telapak tangan yang masih setia menutup wajahnya.


"Kenapa ditutup sih yank? masih malu? Yaelah sayang ini kan bukan kali pertama kamu duduk di sini!"


Ingin rasanya Shasyania menggumpal mulut Nevan, laki-laki itu benar-benar mengusik urat malunya.


"Nah kalau kelihatan gini kan cantik! Masak wajah cantik-cantik gini disembunyiin!" kelakar Nevan, ketika ia berhasil mengunci pergelangan Shasyania hingga wajahnya kelihatan jelas.


Salah tingkah, mungkin itu yang sedang melanda Shasyania, kejahilan Nevan mampu membuatnya mencondongkan wajah ke depan, dan menggunakan dada Nevan sebagai perisai pelindung wajah.


"Yahh malu-malu gemes lagi!" kata Nevan sembari cekikikan. Pergelangan tangan Shasyania ia lepas, lalu menyarankan gadis itu untuk meletakkan tangannya di leher Nevan.


"Nyaman?"


"Gimana kalau ada yang liat?"


"Tenang sayang, gak bakal ada yang liat kok, karena dari luar kaca mobil ini kelihatan gelap," jelasnya, lalu mulai menimang-nimang pertanyaan Shasyania, "tapi kenapa harus malu, toh juga kita cuma pelukan. Bener kan yank? Aku mikirnya sih gitu, kalau kamu gimana? cobak kasih tahu yank."


"Geonevan...," cicit Shasyania sembari meninju pelan dada laki-laki itu.


"Iyaa...ya ampun..., jangan di pukul lagi, kalau tulang rusukku hilang lagi gimana?"


"Ihh gimana caranya hilang cobak!"


"Cuma istilah sayang."


Perlahan tawa menggelitik di perut Nevan berangsur-angsur mereda, tatapannya kembali serius dan ia juga mulai menggerakkan tangan untuk memeluk erat, hingga menenggelamkan kepalanya di pundak Shasyania.


"Yank, menurut kamu apa itu cinta?"


"Sesuatu yang menyenangkan mungkin."


"Mungkin?"


"Iya mungkin."


"Belum pernah merasakan cinta?"


"Cinta? aku ragu, tapi jika ketertarikan bisa di artikan cinta, maka aku pernah merasakannya."


"Ke siapa?"


"Banyak."


Nevan melotot kaget, "Whaaaattt?"


"Maaf-maaf sayang, aku gak sengaja, ta...tapi a... apa-apaan itu banyak? kamu suka sama banyak orang gitu?"


"Bukannya rasa tertarik itu wajar? Kan ada tertarik karena sikap, penampilan atau bahkan karena prestasi, semua itu hal yang lumrah kan?"


"Iyaa tapi tetap saja seharusnya tidak seperti itu!" sergah nevan, "karena ketertarikan adalah awal dari cinta. Pertama suka liat, besok-besok nya suka ngajak jalan! Mencuri-curi kesempatan sampai akhirnya sama-sama nyaman!" imbuhnya dengan nada kesal.


"Apa kamu seperti itu Geonevan?"


"Tidak! tentu saja tidak!"


"Jadi kamu tidak pernah tertarik dengan lawan jenis?"


Nevan refleks menarik Shasyania dari pelukannya, hingga posisi wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa ruas jari, "Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Bukan..., bukan seperti itu! Maksudku adalah apa kamu tidak pernah menyukai seseorang?"


Perlahan tatapan Nevan menerawang, jelas ia tengah memikirkan sesuatu sebelum ia mulai berucap, "Bukan lagi suka, tapi aku rasa itu sudah cinta!" tegasnya penuh percaya diri.


Manik matanya kembali terarah menatap Shasyania, "Rasa itu timbul, saat aku merasa ingin selalu melindunginya, menjalani hari-hari bersamanya, bahkan sebelum aku mengenalnya lebih jauh, aku sudah sangat yakin jika hidupku akan lebih berwarna dengan adanya dia disisi ku...,"


"Lalu apa yang terjadi?" begitu penasarannya Shasyania, sampai ia memotong penjelasan yang sebenarnya belum usai.


Nevan tersenyum tipis, sembari sekilas menunduk kepala, "Sebelum menjawab itu, lebih baik kamu tanya dulu berapa kali aku jatuh cinta."


"Memangnya berapa?"


"Dua kali."


"Ahh..., kenapa bisa dua kali?" tanyanya kaget, dan reaksi itu membuat Nevan mengernyit bingung, "aku mempertanyakan bukan karena salah, tapi dari penjelasan mu tadi, sepertinya kamu tidak mungkin melupakan orang itu dengan mudah, apalagi sampai menggantikannya."


"Mhhh benar, tapi itu terjadi begitu saja. Orangnya berbeda, namun masih dengan rasa yang sama. Perasaan ingin melindungi sampai berakhir cinta. Dan kenapa bisa dua kali karena yang pertama, gadis itu meruntuhkan kepercayaan diriku, membuatku merasa tak ternilai dan terbuang. Kecewa..., benar-benar sangat kecewa!" Nevan sampai menghembuskan nafas berat, ketika ia mengorek luka lama, "dia melupakanku begitu saja. Padahal saat itu bahkan hanya dengan memikirkan kita akan bertemu, itu saja sudah cukup untukku terbangun dari masa-masa kritis. Sungguh ironis bukan?"


Shasyania berdehem sebagai tanda setuju.


"Dan parahnya setiap aku menceritakan cerita ini pada orang lain, maka mereka akan mengatakan jika itu hanya cinta monyet. Apa cinta monyet sedalam itu? aku rasa tidak! aku yakin cinta monyet tidak pernah berlaku di masa kecilku."


"Masih kecil main cinta-cintaan," seloroh Shasyania.


"Itu perasaan alami sayang, aku tidak bisa menolak ataupun menghindar!"


"Terus bagaimana dengan yang kedua?"


Terlebih dahulu Nevan mengeratkan pelukannya yang mulai mengendur di pinggang Shasyania, "Hasil dari kisah pertamaku membuat egoku terluka, hingga saat aku merasakan cinta kembali, saat itu aku terlalu gegabah. Aku tidak sanggup menerima penolakan, tapi justru kenyataan yang ku pikir benar malah menghancurkan segalanya. Dan yang kedua aku akui itu sepenuhnya salahku!"


"Itu kamu masih kecil juga?"


"Tidak, saat itu aku sudah sangat remaja. Cukup rumit, tapi kali ini tidak akan aku biarkan seperti itu lagi," pungkasnya.


"Aku baru tahu seorang Geonevan pernah di tolak," gurau Shasyania.


"Itu karena aku masih kecil, lagian hanya segelintir orang yang ngeh akan rasa cinta di usia muda, dan sialnya aku termasuk salah satunya."


"Mhhh kalau di pikir-pikir bagaimana ya nasib orang yang pernah menolak kamu dulu, apalagi jika dia tahu kamu tumbuh seperti sekarang."


"Aku tidak perduli! jika mengingat orang itu, yang tersisa hanya kenangan lama, dan untuknya sekarang aku seperti tidak mengenalnya. Benar-benar seperti dua orang asing yang tak pernah saling bertemu sebelumnya. Dan ya, memang kenapa dengan Geonevan sekarang? memang aku tumbuh seperti apa?" kembali lagi terbesit tingkah jahil Nevan, hingga Shasyania menghela nafas panjang.


.


.


.


.


.


*heyy menurut kalian Geonevan seperti apa? kasih keluh kesah kalian yaa biar nanti kita bisa tuntun dia ke jalan yang benar🤣 terimakasih*