
Merapikan penampilan ketika menjadi objek hidup untuk beberapa pasang mata, hingga ia yang berdiri di depan sana berusaha untuk memperlihatkan senyum termanisnya.
"Hayy semua... perkenalkan nama saya Jiana Quenza Azalia, biasa di panggil Jiana dan saya pindahan dari SMA ERLANGGA, salam kenal ya... terimakasih!!!" ucapnya ramah, hingga seulas senyum tidak pernah lepas dari wajah gadis berkulit putih itu.
"Gileee putih bener tuh cewek! isian Tipe-X gue aja kalah!" bisik seorang siswi.
"Kayak kapur njiiiir!"
"Dengar ya anak-anak Ibu harap kalian bisa menerima kehadiran Jiana di kelas ini, dan sebelum Ibu mulai proses pembelajarannya, mungkin ada yang ingin kalian tanyakan pada Jiana? ayooo..., jangan malu-malu untuk bertanya, tak kenal maka tak dekat loh!" gurau Buk Siska, yang memang sering menyelipkan kata jenaka di setiap kali ia mengajar, tampaknya Guru itu juga berbakat menjadi seorang pelawak.
"Ru..., Baru! lo nanya gih buat ngulur waktu... gue gak bikin pr nih! kata si Santi ada banyak tugas!" seru seorang siswi bernama Nita.
Dan dengan isyarat jempol ia mengangguk patuh, "Buk... Buk!"
"Iya silahkan bertanya!"
"Bukan Buk, saya cuma mau izin permisi ke toilet," elaknya.
Sontak gemuruh tawa langsung menggema di dalam ruangan tersebut, Buk Siska yang mengerti akan kenakalan siswanya hanya mampu menggelengkan kepala.
"Buk saya Buk... saya beneran mau bertanya Buk!"
"Iya langsung saja Dariel."
"Jiana... kulit putih kamu itu ada campuran produk luar apa memang original hasil SDM kita?" pertanyaan begitu nyeleneh keluar dari mulut seorang Dariel Sinanta Marvis.
Gadis itu cukup terkejut dilihat dari pupil matanya yang membesar, namun sedetik kemudian ia juga ikut tertawa, "Terimakasih atas pertanyaannya yang sangat bermutu itu, dan saya ini merupakan produk campuran tiga Negara." Jawaban tidak kalah nyeleneh juga ia perdengarkan, hingga orang-orang di dalam ruangan seperti sedang menonton sebuah hiburan.
"Buk! Buk! gimana nih Buk? isi kelas kita kebanyakan campuran produk luar, apa ini yang di namakan penjajahan secara halus?" dengan mimik wajah jenaka Dino bertanya, ia terus menggerak-gerakkan alisnya seakan itu merupakan keahlian yang bisa ia banggakan.
Seketika Buk Siska memijat pangkal hidungnya, pertanyaan demi pertanyaan dari anak didiknya sungguh di luar dugaan.
"Sudah-sudah kalian mulai ngawur saja! dan untuk kamu Jiana silahkan langsung duduk di bangku sebelah sana... tapi ingat! jangan sampai melamun ya!"
"Mending ngelamun aja, kalau dia kesurupan kan seru... Kita jadinya gak belajar..." batin salah satu siswa.
"Baik Buk, terimakasih."
"Waduh-waduh!!! kenapa gak ada yang nanya lagi sih!" bisik halus seorang Nita pada teman sebangkunya.
"Lo itu ya... dari tadi sibuk maksa orang buat nanya tapi sendirinya malah diam!" sentak Ririn.
"Oh iya anak-anak, pertemuan terakhir kita ada yang belum kalian mengerti mhhh? jika ada maka tanyakan, kita akan diskusikan bersama, kalau tidak... maka Ibu akan lanjut ke matari selanjutnya."
"Tidak Buk...!" jawab serentak para siswa-siswi kelas XI IPA 1 terkecuali Nevan, karena laki-laki itu hanya diam.
Dan kelihatannya Buk Siska juga lupa akan tugas rumah yang ia berikan, begitupula tak ada satupun murid yang mengingatkannya.
"Wah tahun ini gue benar-benar bersyukur banget sekelas sama orang-orang kayak gini, PR jarang di bahas, kompak serempak selalu yaaa!" komando seorang siswa dari arah belakang.
.
.
.
Butuh dua jam untuk mengikuti pembelajaran Buk siska sampai akhirnya suara bel pergantian jam pelajaran terdengar.
Dan di depan sana sang ketua kelas tengah memberikan informasi jika Guru kali ini sedang izin, hingga beberapa siswa terlihat meninggalkan kelas.
"Van, lo nitip apa mau ikut?" tanya Eron.
"Nitip."
"Oke, seperti biasakan?" tanya Dariel yang langsung di balas anggukan kepala.
Di sisi lainnya menjadi murid baru bukan berarti akan berawal sendirian, sama halnya seperti yang Jiana rasakan saat ini, di hari pertamanya belajar ia sudah dihampiri dua orang siswi, yang terlihat begitu nyentrik dengan penampilan mereka.
"Hay Jiana... kenalin, nama gue Rissa dan dia Megan."
"Oh yaa... salam kenal juga, tapi permisi sebentar, gue mau nyari Nevan," sahut Jiana, ia pun melangkahkan kakinya kearah laki-laki yang terlihat sibuk dengan smartphone dalam genggaman tangan.
"Wah seakrab apa mereka berdua yaaa?" bisik Megan
"Terkesan sombong ya? tapi wajar sih dari penampilannya aja udah kelihatan kaya! Pantas bisa dekat sama Geonevan."
----------------
Beralih ke dua anak remaja yang tengah berjalan bersisian melewati koridor sekolah untuk menuju kearah kantin, "Riel lo langsung beraksi apa nunggu besok nih?" tanya Eron.
Dariel menyisir rambutnya menggunakan jari tangan, lalu menghela nafasnya gusar, "Aaahh... apa yang salah ya? padahal dia cantik tapi... entah kenapa rasanya ada yang beda ck!" jelasnya yang terlihat kurang bersemangat.
"Yaelaaahh jangan banyak alasan lo, kalau udah merasa gagal sini kasih gundam lo!" sergah Eron.
"Ck! gue gak bilang nyerah ya! cuma ngerasa ada yang beda aja, biasanya kan kalau gue ketemu cewek cantik langsung sikat! Satsetsatset gituuuu!"
"Ohhh gue tahu... gue tahu! ini pasti karena dia gabungan tiga Negara kan? makanya lo berasa kena pressure? lo langsung minder? Lo kan lokal pride! ya jelaslah langsung keder! Hahaha!!! belum lagi kendala bahasa, ae...ae...ae! Mencret lo!" ejek Eron, yang membuat beberapa orang memperhatikan tingkah mereka berdua.
"Ba.gsat! Lo kira pa.tat gue kayak ****.* lo yang bolong gak tahu aturan itu?"
"Njirrr pelanin suara lo! eeetssss tunggu-tunggu jadi pa.tat lo gak bolong nih? Wahahaha...."
Saat tengah asik bergurau, tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat, hingga membuat mereka menghentikan aksi saling beradu pukulan tersebut.
"Hay Yeron...." Sapa seorang siswi kelas XI IPA 2.
Eron langsung tersenyum dengan pandangan mata menatap gadis di hadapannya, "Ohh, hay..." sahutnya ramah.
"Ini undangan buat lo ya, gue harap lo bisa datang," ucapnya sembari menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga, gadis itu berharap agar keinginannya terkabul.
"Gue usaha__,"
Ucapan Eron terpotong, ketika Dariel bergerak cepat merampas kartu undangan berwarna biru dari tangannya, "Wah..wah...wah!!! gak adil nih! lo cuma ngundang Yeron? terus gue sama Nevan gimana?" hardiknya, dengan nada tidak terima.
Mendengar itu membuat Natasya memutar bola matanya malas, lalu mengambil balik undangan tersebut dan memberi pada seseorang yang memang pantas untuk menerimanya, "Gue gak ngundang lo sama Geonevan karena ada alasannya tahuuu! Untuk lo... gue gak mau cari masalah sama yang namanya Alice, sosialita kelas IPS, tau sendiri kalau dia sensi banget sama orang-orang yang sok akrab sama lo!" selorohnya, "dan untuk Geonevan, gue gak mau yaa kartu undangan gue ini dibuang percuma, karena gue tahu dan sadar diri... dia gak bakal datang! paling mentok undangan gue masuk tong sampah!" sambungnya.
"Tunggu... bentar! lo pacaran sama Alice?" sambar Eron penasaran.
"Enggak!"
"Cih! Gak pacaran tapi sering mojok di pojokan warung! Uppsss... tapi gue gak perduli sih, dosa kalian juga yang tanggung!" ucap Natasya, "dan ya... kalian berdua ini mau ke kantin kan? bareng dong...," pintanya.
"Enggaklah..., kelas gue sama kayak kelas kalian, gak ada Guru!" jawab Natasya, seraya menguncir rambutnya ke belakang, bermaksud memperlihatkan tengkuk lehernya yang jenjang.
Dariel yang notabenenya kelewat jahil mulai melancarkan aksinya, ketika ia melihat peluang, "Wah lo mau goda Yeron nih? gak mempan sumpah... daki leher lo kelihatan tuh!" setelah membuat situasi terasa canggung, ia malah dengan santainya langsung berlari meninggalkan Eron dan juga Natasya.
"Daki? Memalukan! Sial, mau di taruh di mana ini muka gue!" sepanjang perjalanan Natasya hanya membatin, ingin rasanya ia memutar waktu dan memilih untuk tidak menghampiri Eron.
Karena dari bahasa tubuh jelas jika gadis itu memang tertarik pada seorang Freyeron Azigar Osmond, sikapnya yang begitu ramah membuat Natasya merasa nyaman.
Dan siapa siswi SMA GUARDIANS yang tidak baper jika diperhatikan oleh cowok seperti Yeron, sudah tampan sopan pula! siapapun bisa luluh, terkecuali para wanita garis keras Geonevan.
Yaa Geonevan memang lebih tampan namun Yeron lebih ramah lingkungan.
------------------
"Permisi... gue boleh duduk, kan?" tanya Jiana ketika ia hendak mendekati Nevan, "yaaah... kebiasaan banget sih ngacangin orang. Van, lo masih ingat gue kan? kita pernah ketemu di bandara loh! Dan pesawat yang kita tumpangi juga sama," jelasnya.
Nevan acuh tak acuh dan masih setia menatap layar ponselnya, hingga ucapan Jiana semakin membuatnya terganggu, "Pergi!"
"Jangan gitu dong Nevan! lo kan di suruh bantuin gue dalam pengenalan lingkungan sekolah. Lo juga satu-satunya yang gue kenal! Jangan bilang lo lupa sama gue hmm?"
"Ck! jadi cuma karena itu lo ngaku kenal sama gue? Sinting!" cela nya tajam.
Seperti tertimpa batu, Jiana begitu kaget mendengar ucapan laki-laki di hadapannya. Namun itu malah semakin membuatnya tertantang.
"Kita udah kenalan kok, dan waktu itu gue juga gak sengaja denger lo lagi ngobrol sama dua orang cowok, bahkan kita satu pesawat! enggak nyangka ya, ternyata lo sepopuler itu... baru browsing nama aja udah langsung ketemu!" puji Jiana yang masih terus berusaha menarik simpati Nevan.
"Pergi! selagi omongan gue masih enak di dengar!" ancamnya.
Jiana juga tak mau mengundang masalah di hari pertamanya masuk sekolah, hingga ia terpaksa beranjak menjauh seperti perintah laki-laki itu, akal sehatnya masih jalan untuk tidak merusak citra diri yang sedang ia bangun.
Jiana pikir akan mudah baginya mendekati seorang Geonevan, namun jangankan dekat, baru memulai saja sudah di banting.
Yang gadis itu harapkan Nevan namun yang mendekat justru orang lain. Apes!
"Hay Jiana," sapa dua orang siswa.
"Hay!"
"Gak ke kantin nih? makanan di sini enak-enak loh, apalagi Mie ayamnya, the best!" ucap laki-laki bernama Baru.
"Bener banget! dan lo mesti nyobain... tapi lidah lo biasa kan makan begituan?" kali ini Dino yang bertanya.
"Biasa kok, malahan jadi makanan Favorit," jawab Jiana dengan penuh antusias.
"Yasudah kalau gitu kantin bareng yok," ajak Baru.
Dan dari kejauhan dua orang siswi juga ikut mendekat, "Oh jadi gitu, baru ada yang baru... yang lama dilupain nih?" sindir Rissa.
"Gak gitu juga Riss, yasudah... kita bareng-bareng aja ke kantinnya!" sahut Dino.
Saat berada di depan pintu kelas Dariel dan Eron berpapasan dengan Jiana. Eron teringat akan tingkah jahil Dariel, hingga ia mulai membalas perbuatan sahabatnya itu dengan menyiku lengan Dariel.
Seperti tersetrum listrik, hingga Dariel langsung bersuara.
"Mau kemana Jiana?" celetuk Dariel seketika, "oh kenalin... nama gue Dariel," lanjutnya.
"Salam kenal Dariel, ini lagi mau ke kantin, yuk bareng?"
"Wah sayang banget nih, gue baru aja dari kantin... mmhh mungkin lain kali aja kali ya!"
Eron yang menyaksikan drama telenovela dadakan tersebut mulai kembali tertawa, hingga tanpa terasa Dariel sudah terlihat mendekat kearah tempat duduknya, "Sial.n lo Ron! gue kelabakan tadi!" kesalnya.
"Sumpah... kali ini muka lo kaku banget! mana nih sang Playboy narsis?"
"Gue terpaksa sekarang!"
"Demi gundam ya?" goda Eron.
"Tertawa lah sepuas yang lo bisa! sampai nanti gundam lo jadi milik gue!"
"Woi pesanan gue mana nih? nunggu kalian bisa mati kelaparan gue!" sentak Nevan.
"Emang lo gak sarapan? ehh... tangan lo kenapa tuh?"
"Habis mukul orang!"
"Mukul orang tapi lo yang luka? kayak amatiran aja!" ejek Dariel.
"Ngomong-ngomong mainan baru lo man__,"
"Ya betul mana? udah penasaran kita!" sela Dariel.
"Sabar!" jawabnya singkat, hal itu memancing kekesalan Dariel dan juga Eron, namun ketika hendak menanyakan lebih jauh lagi bel tiba-tiba berbunyi.
"Rin! ada Guru gak?" tanya Eron.
"Ada, Pak Gunar masuk tuh!"
"Ada PR ga__,"
Ucapan itu terpotong karena sang Guru sudah terlihat memasuki kelas, hingga para murid berhamburan menuju tempat duduk masing-masing.
"Selamat siang anak-anak, silahkan kalian buka Bab empat halaman dua bel__," ucap Pak Gunar terpotong, karena ketukan pintu.
Tok!
.
.
Tok!
Tok!
Dari arah luar seorang petugas tata usaha tengah meminta izin untuk memasuki ruangan kelas, pria berseragam itu melangkahkan kakinya mendekat, hingga memberi informasi kepada Pak Gunar.
"Baiklah! suruh langsung masuk!" suara Pak Gunar cukup keras, sampai mampu di dengar oleh para murid.
"Ada apa lagi nih?"