Mine ?

Mine ?
102 : Ketertarikan



Ujung kain yang ia kenakan kini berkibar-kibar terkena terpaan angin, ketika Nevan dengan sengaja melepas kaitan kancing yang berada di bagian depan jasnya. Laki-laki itu berjalan penuh wibawa, meskipun sesekali terlihat ia meregangkan otot lehernya yang terasa kaku.



"Iyaa gue gak boleh gegabah, jika langsung bertanya ke intinya... bisa saja mereka akan langsung curiga, apalagi jika mengingat reaksi Tuan Jazlan tadi, mhhh patut dicurigai!" Nevan bergumam sepanjang jalan, sampai akhirnya ia tiba di ruangan di mana pertemuan kedua belah keluarga itu berlangsung.


"Loh, Nevan... Zia mana?" tanya Jazlan, saat ia mendapati remaja itu hanya seorang diri tanpa didampingi oleh putrinya.


"Zia? ohh iyaa, dia masih dibelakang, sembelit katanya!" kilah Nevan, lalu pandangannya menatap kedua orang tuanya, "aku rasa.. kode alam juga memanggilku, jadi... Mom, Dad! kita harus pulang sekarang, karena aku tidak bisa mengeluarkan nya kecuali di rumah!" sambungnya yang kembali berdusta, agar ia segera terbebas dari rasa bosan yang membelenggunya sepanjang jamuan makan.


.


.


.


Namun saat mereka akan meninggalkan ruangan, Nevan justru kembali membalikkan badannya, "Ohh iya aunty Meiriam dan uncle Jazlan, jika kalian berkenan.. maka dalam waktu dekat ini Nevan ingin berkunjung ke kediaman Zeiqueen, Nevan harap kalian tidak keberatan dengan hal itu...."


Meiriam tersenyum sumringah, bahkan ia sampai menepuk tangannya, menandakan betapa senangnya ia sekarang, "Ohhh... tentu!! tentu saja sayang!!! kami akan menyambut kedatangan mu! Aunty harap secepatnya!"


Seakan tidak mau kalah Jazlan juga ikut bersuara, ia bermaksud untuk mempererat hubungan antar keluarga tersebut, "Nevan, pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu, jadi kau tak perlu meminta izin segala!"


"Terimakasih," dengan segala hormat Nevan berucap lembut, seraya sejenak membungkukkan badannya, lalu ia tersenyum hangat kearah dua orang yang semakin terkesima melihat tingkahnya itu.


Dan sepeninggal keluarga Eldione, Jazlan langsung membriefing chef yang bertanggung jawab atas dihidangkan malam ini, Jazlan mempertanyakan seberapa higienis dan kompetennya kinerja mereka, hingga mengakibatkan putrinya dan juga Nevan bermasalah dengan perut mereka.


...----------------...


"Heiii... remaja tampan! kebohongan mu terbaca radar Daddy... dan apa yang kamu bilang tadi? heeh kode alam? ck! tidak ada lagi alasan yang lebih elegan dari itu Nevan? ahahaa."


"Aku bosan Dad! lagipula.. jamuan makannya kan sudah selesai, jadi untuk apa lagi kita berdiam diri di sana?"


"Nevan..Nevan..., apa mengobrol dengan Zia juga membuat mu bosan sayang? come on babe... meskipun Zia masih melupakanmu! tapi jangan jadikan itu sebagai patokan rasa kesal mu sayang! Daripada mengenang masa lalu, lebih baik kalian buat kenangan baru! Mommy rasa itu lebih menarik!"


"No... Mommy no! bahkan tadi.. sedikitpun kami tidak membahas hal itu! Dan yaaaa, ingat atau tidaknya ia sekarang bukan lagi hal penting untuk Nevan!"


"Benarkan?"


"Tentu! dan apa Mommy tahu? rasanya setiap detik, menit, aku seperti dihantui rasa bersalah, karena dengan sengaja memulai obrolan bersama gadis lain! Bayangan tunangan ku selalu berputar-putar di pikiranku Mom, dan aku tidak mau membuatnya kecewa!"


Deron terkekeh dengan jawaban Nevan, yang ia rasa kembali mengada-ada tersebut, "Wah..waahh, alasan apalagi itu Nevan?" godanya, "tunangan? kenapa tidak sekalian saja kamu mengatakan istri, agar lebih menyeramkan lagi ahaha...."


"Aku serius Dad! apa Daddy lupa dengan hubungan yang sudah diputuskan oleh Kakek?"


"Hubungan? Kakek?" Deron kembali mengulang kalimat tersebut dengan manik mata bergerak ke sudut matanya, dan telunjuknya juga mengetuk-ngetuk dagu, tampaknya pria itu berusaha untuk mengingat sesuatu, "ohh... jadi sekarang kamu menggunakan itu sebagai alasan Nevan? hahahaha baik-baiklah Daddy paham.. remaja tampan!" sambungnya, yang tetap merasa jika ucapan putranya itu hanya sebatas gurauan.


Dan setelah mengantar Nevan ke kediaman utama Eldione, kini di jok penumpang hanya menyisakan Deron dan juga Zivana untuk kembali menuju rumah mereka.


"Putra kita Nevan seperti tambang emas saja iyaa kan?"


"Aku serius honey!" tegas Zivana.


Deron mengelus-elus punggung tangan Zivana, dan mengangkatnya sebatas bibir, hingga mengecupnya penuh perasaan, "Lalu, apa yang kau inginkan istriku?"


"Sama halnya dengan mereka, aku menginginkan Nevan dan Zia benar-benar menjalin hubungan!"


Deron tersentak dengan ucapan tersebut, hingga ia menaikkan kedua alisnya, lalu sekilas ia juga tersenyum manis sembari menggeser posisi duduk agar lebih mendekat kearah sang istri, "Aku pun tidak masalah, tapi honey... bukankah hal yang lebih penting dari keinginan tersebut adalah persetujuan dari Nevan sendiri? Jelas dan pasti, aku juga menginginkan hal terbaik untuk Nevan! Apapun itu! tapi dalam hal mencari pasangan... bukannya setiap orang mempunyai nalurinya sendiri?" tutur Deron, yang kini lekat mengunci pandangan Zivana, "honey... Nevan memang putra kita, tapi bukan berarti dengan status itu, kita bisa semena-mena untuk memutuskan semua hal dalam hidupnya! Dia berhak atas pilihannya sendiri, dan dia juga harus berusaha untuk mendapatkan apapun itu dengan usahanya sendiri! Tugas kita hanya membimbingnya honey, bukan memaksanya! mhhh?"


"Iyaa, tapi apa kau lupa honey? bagaimana Nevan dulu? putra kita sampai mengalami trauma hanya karena Zia melupakannya! ia terus menyalahkan dirinya sendiri! Setiap kali bangun ia selalu meneriaki nama Zia, dan mengatakan jika Zia mencarinya! bahkan kita.. selaku orang tua tidak bisa mengatasinya, sampai harus memanggil psikiater untuk menyembuhkan keadaan Nevan! Liat tanganku sekarang! ini sama, masih selalu bergetar setiap kali aku mengingat masa-masa itu! Dulu hampir setiap hari Nevan kehutan, ingin mencari ingatan Zia yang ia pikir telah hilang di sana, mengulang kembali kenangan mereka, selalu diulang-ulang! apa itu wajar? Kita hampir kehilangan Nevan honey... jika saja kita lengah!" sendu Zivana dengan tangisannya yang mulai pecah.


"Heei-hie honey, kejadian itu sudah lewat, sekarang keadaan Nevan baik-baik saja.... Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi!"


"Aku takut! dan mungkin saja penolakan Nevan terhadap Zia sekarang, itu hanya bentuk dari rasa tidak terimanya karena telah dilupakan begitu saja! Luka itu tidak mungkin sembuh begitu saja honey! Aku tidak mau jika nantinya saat Nevan kembali menyadari perasaannya pada Zia, ia malah terlambat. Dan itu tidaklah baik honey!"


Deron mengerti dengan kecemasan yang kini melanda istrinya, hingga sebisa mungkin ia berusaha untuk menenangkan wanita yang begitu ia cintai tersebut.


Tanpa kata Deron menjelma sebagai pendengar yang baik, karena ia sadar di keadaan seperti ini, mengemukakan pendapat yang bersebrangan hanya akan mematik situasi kian memanas, maka dari itu Deron memilih untuk diam tanpa sanggahan, seraya menepuk-nepuk pundak Zivana.


"Maaf honey... maaf tentang reaksi ku tadi...."


"Tidak masalah, itu wajar, karena kau seorang Ibu! Apalagi kau ibunya Geonevan, anak remaja tampan yang terkenal dengan emosinya yang meluap-luap!"


"Ahahah... dan kau seorang Ayah! Ayahnya Geonevan yang putranya terkenal kurang sabaran!"


Deron tertawa lepas menanggapi ucapan Zivana, sembari mencium kening istrinya, "Tentu... tentu! Putra kita Nevan memang sangat cerdas, tapi kadangkala kecerdasan itu yang membuatnya susah di atur, apalagi emosi dan ketidaksabaran Nevan adalah kelemahannya. Papa pun mengatakan hal sama, maka dari itu kami berencana untuk lebih melatihnya, agar nanti kelemahan tersebut tidak menjadi bumerang untuk Nevan sendiri!"


"Kalian harus berkerja keras untuk hal itu," canda Zivana, "ohh iya honey, bicara tentang Zia, jujur... tadi saat aku melihatnya secara langsung, aku sedikit kaget, dalam artian... uhmm, ehh tunggu dulu, apa kamu percaya jika di dunia ini kita memiliki seseorang yang mirip dengan kita?"


"Mirip? mmmmh, tentu! bahkan menurut sains hal itu memang sangat mungkin terjadi, karena kemiripan susunan genetik yang dimiliki setiap manusia. Memangnya kenapa honey?"


"Umhh... beberapa hari yang lalu, saat aku mengadakan meeting produk NJL, Dofa merekomendasikan salah satu model yang dirasanya pas untuk menjadi model utama style terbaru kita, dan ketika aku melihat wajahnya, Wowwww... awalnya aku pikir itu Zia, sampai akhirnya Dofa menjelaskan semua. Dan aku rasa... aku juga pernah bertemu dengannya, tapi aku lupa entah di mana...."


"Semirip itu?"


"Iyaa... semirip itu honey!"


"Wow berarti dia akan cepat viral ahaha...."


"Tentu, tapi sayangnya gadis itu malah menolaknya, dia masih kekeh tidak mau jadi model utama!"


"Kenapa? bukannya itu kesempatan bagus untuk jenjang karirnya?" tanya Deron yang mulai ikut penasaran, "honey... kau menggaji karyawan mu dengan upah yang tinggikan? ahahaha," gurau Deron.


"Isssss! tentu!!! Aku sendiri juga heran... kenapa dia menolaknya, padahal dari segi manapun ia terlihat sangat memmumpuni! Aku tertarik dengan penolakannya! dan aku berniat untuk mengajaknya makan bersama!"